Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Perlakuan Manis


__ADS_3

"Ayolah, Sayang. Sekali ini saja," pinta Naura lagi. Gadis itu terus membujuk meski Dimas telah berulang kali menolaknya.


Dimas sendiri masih belum memberi keputusan. Dengan tangan kiri berkacak pinggang dan tangan kanan mengurut keningnya, ia terlihat berpikir keras. Ia bimbang, tapi pada Naura ia sangat sayang. Sama sekali tak pernah terlintas di benaknya untuk buat gadis itu terluka.


"Okay." Pada akhirnya Dimas menerima ajakan, dan itu membuat mata Naura berbinar senang. Namun, rupanya pria itu belum selesai dengan ucapannya. "Tapi, kita pesan dua kamar, ya."


Senyum ceria di wajah Naura seketika lenyap, berganti ekspresi kecewa.


"Kenapa harus dua? Itu pemborosan namanya!" protes gadis itu tak terima.


"Karena kita belum sah, Sayang."


Naura langsung mencebik. "Makanya. Buruan dong di-sah-in. Biar kita halal. Aku nggak masalah kok, biarpun cuma nikah siri."


"Belum waktunya, Sayang. Sabar ya. Jika memang sudah menjadi jalan takdir, jodoh nggak akan ke mana, kok." Dimas mengulas senyum, lalu kembali mendekap Naura penuh sayang. Pada gadis itu, ia selalu bersikap dewasa agar bisa mengayomi Naura yang egois dan manja. Berbeda dengan terhadap Amara, Dimas justru jahil dan cenderung lebih manja.


Hal itu pasti ia lakukan bukanlah tanpa sebab. Sejak awal, ia bisa melihat sikap dewasa yang melekat pada diri Amara. Gadis itu memiliki jiwa keibuan dan begitu welas asih. Apabila sedang marah, bukannya terlihat mengerikan, Amara justru terlihat menggemaskan, dan itulah yang membuatnya suka menggoda.


"Hari semakin malam. Gimana kalau kita ke hotel sekarang?" ajak Dimas setelah jam di pergelangan tangan kirinya menunjukkan pukul sebelas.


"Hemm, kau sudah tidak sabar, ya ...," goda Naura sambil menggamit ujung hidung Dimas. Sedangkan Dimas hanya tertawa kecil sebelum kemudian melabuhkan kecupan hangatnya pada pipi kanan Naura.


"Tentu saja," timpal Dimas sembari tertawa.


Keduanya lantas berkendaraan menuju hotel yang ditunjuk Naura. Sebuah hotel dengan konsep luxury yang menyediakan pelayanan premium sebagai keunggulan.


Mereka langsung masuk dan menghampiri petugas resepsionis untuk melakukan check in.


"Selamat datang," sapa resepsionis berparas cantik itu dengan sopan sambil menyunggingkan senyum ramah. "Ada yang bisa kami bantu?"


"Kami ingin memesan dua ka–" Dimas menghentikan ucapannya ketika tiba-tiba ponsel di sakunya berdering. Ia segera mengambil benda itu dan melihat siapa si penelpon. Mengalihkan pandangan pada Naura, ia lantas berkata, "Dari Amara, Sayang. Sebentar aku angkat dulu, ya."


"Tapi, Sayang." Naura berusaha menahan Dimas, tetapi pria itu mengisyaratkan melalui tangan untuk meminta pengertiannya. Terang saja Naura menggeram kesal. Amara selalu berhasil merusak momen mereka. Kini ia hanya bisa memandang sang kekasih yang tengah berbicara sendiri itu dari kejauhan.


"Bagaimana, kau sudah memesan kamar?" tanya Dimas saat kembali sembari menyimpan ponselnya dalam saku celana.


"Apa yang wanita itu katakan?" Alih-alih menjawab tanya Dimas, Naura justru balik bertanya. Dari air muka Dimas yang terlihat tak biasa, ia bisa menerka sesuatu tak menyenangkan telah terjadi pada Amara.

__ADS_1


"Sayang ... maaf aku harus segera pulang."


Naura sontak mendengkus. Ia sudah mengira ini akan terjadi.


"Apa Amara sakit perut? Sakit jantung? Atau sedang sekarat hingga dia mengharuskanmu pulang sekarang?" Naura mendesis penuh amarah.


"Bukan. Bukan itu." Dimas langsung menyangkalnya.


"Lalu?"


"Mama dan Papa." Dimas menyebut dua nama itu penuh isyarat yang seketika membuat bola mata Naura berputar dengan ekspresi malas. "Entah bagaimana ceritanya mereka bisa datang ke rumah dan berniat untuk menginap. Sayang ... mereka akan curiga jika aku tidak pulang." Dimas menggenggam jemari Naura dengan mimik begitu memohon.


"Pulanglah. Pulang sana. Jangan buat mereka marah."


Wajah Dimas langsung semringah begitu mendengar itu. Terlepas dari iklhas atau tidaknya Naura melepas dirinya, yang penting gadis itu sudah memberi lampu hijau.


"Terima kasih, Sayang. Aku janji akan menggantikan momen ini dengan sesuatu yang lebih berkesan berlipat ganda." Dimas langsung mengalihkan pandangannya pada dua resepsionis tadi. "Mbak, tolong jaga dan layani dia dengan baik. Turuti semua keinginan dia," titahnya.


Dimas lantas pergi dengan terburu-buru usai resepsionis itu mengiayakan.


"Pulang, dan jangan hiraukan perasaanku, Dimas!" Naura berseru tatkala Dimas menghilang dari pandangan. Ia masih berdiri terpaku, memandangi pintu keluar yang tak ada siapa pun dengan mata berkaca-kaca. Hatinya remuk redam dan hanya bisa menelan kekecewaan.


Sementara itu di tempat lain, Amara yang baru menutup telepon langsung menyimpan kembali ponselnya pada saku piyama yang dipakai. Gadis itu lantas celingukan menatap pintu, dan sesaat kemudian menghela napas lega saat tak menemukan sesiapa pun di sana. Buru-buru saja ia mengangkat nampan berisi kue dan minuman untuk di bawa ke ruang tengah.


Ia memang sengaja pamit ke belakang dengan alasan menyiapkan minum beserta kudapan. Namun, saat itu diam-diam dia menghubungi Dimas yang sudah berencana untuk tidak pulang.


Dalam hati, ia merasa senang mertuanya datang. Sebab dengan begitu, kemungkinan buruk Dimas akan melakukan perbuatan maksiat dengan Naura juga gagal. Namun, di sisi lain ia juga merasa kasihan. Mereka itu adalah sepasang kekasih. Rasanya benar-benar tidak adil jika untuk bisa bersama harus dengan cara sembunyi-sembunyi.


"Silahkan diminum Ma, Pa," kata Amara seraya memindahkan isi nampan ke atas meja. Orang tua Dimas pun kompak tersenyum menanggapi sikap baik menantunya.


"Jadi memang Dimas sering banget pulang malam gini?" Amel bertanya penasaran pada Amara yang kini sudah duduk di sofa. Ia menatap gadis itu lekat-lekat dan menunggunya untuk menjawab.


"Nggak juga, kok Ma. Malahan biasanya pulang pergi bareng sama Amara kerja. Sekalian ngantar sama jemput gitu. Tapi ini tadi memang Mas Dimas udah kasih kabar kalau bakal pulang telat," terang Amara.


"Beneran?" tanya Amel seperti meragukan.


"Beneran, Ma."

__ADS_1


"Sini Mama lihat buktinya–"


"Ma." Handoko memanggil Amel dengan penuh penekanan. Mengisyaratkan agar tidak berbuat kejauhan. "Masa sama menantu sendiri nggak percaya, sih."


"Bukannya nggak percaya, Pa. Mama cuma mau memastikan. Nggak masalah kan, Mar?" tanyanya pada sang menantu untuk meminta dukungan.


Sontak saja Amara tersenyum sambil mengangguk. "Nggak pa-pa kok, Ma. Ini, nggak ada bukti chat, soalnya Mas Dimas selalu telepon." Amara memberikan ponselnya pada Amelia, yang tentu saja sudah lebih dulu menghapus panggilan terakhirnya.


Amel menerima ponsel menantunya. Dan setelah melihat isinya, barulah ia tersenyum puas.


"Jadi gimana, Ma, Mas Dimas aku telpon aja biar pulang cepat?" tanya Amara minta pendapat, tentu saja demi untuk meyakinkan Amelia.


"Nggak usah. Kalau memang kerja ya nggak usah diganggu. Kamu sudah ngantuk? Udah mau tidur?"


"Belum kok, Ma. Amara biasa tidur larut."


"Kalau ngantuk tidur gih. Nggak pa-pa. Mama sama Papa mau begadang nungguin Dimas. Udah kangen, akhir-akhir ini kalian jarang main ke rumah Mama."


Ah, tiba-tiba Amara jadi melow. Sejak kembali bekerja ia memang belum sekalipun bertandang ke rumah mertuanya. Begitu pula dengan Dimas.


Beringsut, Amara menatap mertuanya dengan penuh rasa bersalah. "Maafkan Amara, Ma. Sejak kembali bekerja, Amara belum pernah datang ke rumah Mama. Kebetulan juga akhir-akhir ini Mas Dimas terlalu sibuk. Jadinya–"


"Sudah, nggak perlu merasa bersalah gitu. Mama ngerti, kok." Amelia mengusap punggung tangan Amara sebagai bentuk pengertian, yang kian membuat Amara merasa bersalah. Benar-benar merasa bersalah.


"Assalamualaikum ...."


Ketiga orang itu kompak menoleh ke arah ruang tamu begitu mendengar ucapan salam itu. Lalu kemudian, sosok Dimas dengan senyuman mengembang muncul dengan langkah ringan.


"Mama, Papa, sejak kapan kalian datang. Aku kaget loh pas lihat mobil kalian terparkir di halaman," ujar Dimas ceria sambil salim dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya takzim. "Apa kabar, Ma?" tanyanya tulus saat kini tengah mencium pipi Amel dengan penuh sayang.


"Mama sama Papa baik. Cuma kami lagi kangen aja sama anak-anak Mama yang nggak pernah mau lagi main ke rumah," jawab Amel dengan nada menyindir.


Terang saja hati Dimas merasa tersentil. Namun, meski demikian ia juga membenarkan sebab memang itu kenyataan. Alhasil, ia hanya bisa nyengir menanggapi sindiran sang Mama.


Menggeser pandangan ke samping Amelia, ia melihat Amara tengah tersenyum menanggapi perkataan sang Mama. Rupanya gadis itu tak bohong mengenai keberadaan mama dan papanya seperti yang sempat ia pikirkan sewaktu dalam perjalanan pulang. Alhasil, sebagai bentuk rasa terima kasih sekaligus menunjang akting mereka di depan orang tuanya, Dimas pun mendekati sang istri seraya menyapa selayaknya suami yang baik terhadap istrinya.


"Hai Manis. Belum ngantuk?"

__ADS_1


Untuk sejenak, Amara hanya bisa terbengong saat tiba-tiba Dimas mendekapnya dari arah belakang dengan posisi badan setengah membungkuk. Perlakuan manis yang tak biasa itu terang saja membuatnya seperti terhipnotis. Dan bagian yang membuat jantungnya kian berdebar-debar adalah ketika Dimas melabuhkan kecupan hangat tepat di pipi kanannya.


Ini bukan mimpi, kan?


__ADS_2