
"Ayo dong, buruan! Lambat banget, sih."
Dimas berkacak pinggang menatap Amara yang jauh tertinggal di belakangnya. Usai berjemur tadi pria itu memang memutuskan untuk lari santai mengelilingi kompleks sesuai anjuran Amara. Tentu saja beserta perawatnya itu juga.
Dengan kakinya yang panjang, tentu saja kecepatan lari Dimas tak bisa diremehkan oleh Amara yang satu jengkal lebih rendah dari dia. Lelaki itu bahkan tetap fit meski telah berlari sejauh satu kilometer tanpa beristirahat, sedangkan hal sebaliknya justru terlihat dari Amara yang nampak kepayahan mengejar pasiennya.
"Dasar siput," ledek Dimas begitu Amara berhasil menyusulnya.
Pria itu bersedekap dada menatap perawatnya yang tengah membungkuk dengan tangan memegangi lutut. Napas Amara terengah-engah dengan peluh keringat membanjiri seluruh badan hingga baju dinasnya ikut basah.
"Lagian, mana ada orang joging pakai baju dinas! Bukannya nyerap keringat, yang ada malah bikin berkeringat, gerah. Harusnya pakai tank top. Atau paling nggak, kaos lah! Kayak gue, dong ...!" Dimas membanggakan penampilannya yang terlihat begitu keren dengan pakaian olah raga serba hitam beserta topi dan sepatunya. Pria itu lantas menyeringai pada Amara sambil memainkan alisnya naik dan turun.
"Sudah ...?"
Dimas menautkan alisnya, bingung dengan pertanyaan Amara barusan. Pria itu kemudian mendekati Amara dan berdiri tepat di sisinya sebelum kemudian melayangkan pertanyaan bernada penasaran. "Apanya yang sudah?"
Menegakkan punggungnya, Amara yang kini sudah tak nampak kelelahan lagi melirik sinis pada Dimas. Namun ia terlihat mengambil ancang-ancang sebelum akhirnya memberikan jawaban.
"Ngomel-ngomelnya!"
Dimas hanya menyebik saat Amara berteriak di dekat telinganya. Pria itu bahkan tak terkejut melihat tindakan Amara yang seperti sedang mengerjainya.
Tak merasa curiga sedikitpun, Amara sudah mantap akan menjalankan rencana diam-diamnya yang akan melesat kabur usai berhasil membuat telinga Dimas pengang.
Namun nahas, gadis yang sudah tersenyum bangga itu justru membelalak ketika merasakan kakinya begitu berat, seolah-olah seseorang sedang menariknya dari belakang.
Benar saja, rupanya Dimas dengan sengaja menginjak tali sepatunya yang terlepas. Pantas saja pria itu begitu santai menanggapi tindakan nakal Amara tadi. Ternyata dia sudah menyusun rencana dengan matang!
Sial. Amara bahkan tak tahu kalau tali sepatunya lepas.
Tak bisa menyeimbangkan diri lagi, tubuh Amara akhirnya limbung dengan posisi tengkurap di pinggir jalan. Gadis itu memekik merasakan sakit pada seluruh tubuh bagian depan.
__ADS_1
Bukannya iba, Dimas justru tertawa. Pria itu bukannya langsung menolong Amara untuk bangun, tapi malah berjongkok di sisi tubuh Amara yang sedang telungkup itu sambil mengusap puncak kepala si gadis.
Mungkin dia pikir ini adalah hiburan yang begitu menyenangkan hingga lelaki itu sulit mengentikan tawa.
Sebal, Amara mendorong tubuh Dimas sebagai pembalasan hingga pria itu terjungkal ke belakang. Kini gantian Amara yang terpingkal seraya bangkit. Tak ingin membuang kesempatan, diapun segera lari untuk kabur.
Namun sepatunya yang tertinggal akibat ikatannya longgar memaksa gadis itu kembali untuk mengambilnya sebelum kemudian kembali berlari dengan kaki tanpa alas. Ia bahkan menyempatkan diri memberikan kecupan jauh sambil tertawa pada Dimas yang masih terperangah di posisinya.
"Lo ngerjain gue?" gumam Dimas setelah menyadarinya. Lelaki itu berdecak lalu bangun. "Woy, tunggu! Awas lo ya, gue kejar sampai dapat!"
Adegan kejar-kejaran pun terjadi. Namun, meskipun Amara telah jauh meninggalkan Dimas, siapa sangka dengan kaki panjangnya Dimas berhasil menyusul Amara tanpa waktu lama. Terlebih dengan kondisi Amara yang berlari tanpa alas kaki, gadis itu pun menyerah dan memilih untuk berhenti.
Dengan cepat Dimas menangkap tubuh Amara saat sudah dekat. Tak bisa menghindar lagi, tubuh Amara pun terperangkap pada dekapan Dimas dari belakang.
Kejadian itu terekam jelas oleh sepasang mata yang sejak tadi mengawasi gerak-gerik keduanya. Mulai dari start lari tadi, hingga berada di detik ini. Semuanya tak terlewatkan, bagaimana Dimas mengerjai Amara hingga gadis itu terjatuh, dan sekarang, malah memaksa memeluknya dari belakang.
Dengan jemari tangan mengepal serta rahang yang mengetat, orang itu tak bisa menahan diri, lantas keluar dari mobilnya. Dengan postur tubuhnya yang menjulang, langkahnya terayun begitu lebar mengarah ke tempat Amara.
Dimas terkejut saat sebuah tangan tiba-tiba mencekal pergelangannya begitu kuat. Sontak ia menatap sosok yang datangnya dari arah kanan lalu memasang wajah sangar.
Namun rupanya bukan hanya Dimas yang terkejut oleh kehadiran orang itu. Mendengar suara yang terdengar tak asing itu, ia sontak berbalik badan untuk melihat siapa di sana.
"Juan?" Amara membelalakkan matanya tak percaya melihat sosok pria di depannya. Ia bahkan tanpa sadar menjatuhkan satu sepatu di tangannya.
"Amara," lirih Juan. Keduanya lantas saling memandang dalam diam. Namun mata mereka mengisyaratkan kerinduan yang dalam. Hal itu bahkan tertangkap oleh pengamatan Dimas dan bisa menyimpulkan jika keduanya saling cinta meski tak mampu mengatakannya.
"Lepasin gue!" Dimas menarik tangan Juan yang mencengkeram pergelangan kanannya menggunakan tangan kiri sebelum kemudian mengentakkan.
Gerakan Dimas itu begitu kuat hingga memaksa Juan untuk menoleh padanya, begitu pula Amara.
"Ayo pulang." Dimas menarik tangan Amara setengah memaksa dengan ekspresi dingin dan datar.
__ADS_1
"Nggak bisa! Amara ikut gue." Juan menarik tangan Amara satunya lagi.
Dimas menatap tangan Juan yang memegangi Amara penuh peringatan.
"Lepasin, nggak! Dia perawat gue, jadi dia akan pulang bersama gue." Dimas berucap penuh penekanan.
"Dia sahabat gue, dan dia akan pulang bersama gue."
Dimas berdecih lalu membuang muka sesaat sebelum kemudian mengembalikan tatapan sinisnya pada Juan.
"Dia sudah terikat kontrak. Jadi jangan harap pergi dari gue sebelum kontrak itu berakhir."
"Gue akan bayar berapapun besar dendanya." Juan pun tak mau kalah.
Amara yang masih belum bisa menguasai diri masih terjebak dalam keterkejutan. Namun tarik-menarik antara Dimas dan Juan yang berusaha memperebutkan tak ayal membuat tangannya kesakitan hingga ia perlu untuk mengakhiri ini semua.
"Berhenti!"
Dimas dan Juan sontak mengentikan tarik ulurnya sambil menatap bingung pada Amara.
"Stop bertingkah kekanak-kanakan! Apa masih tidak sadar juga kalau tindakan kalian itu membuat tanganku sakit?"
Mendengar itu, Dimas dan Juan sontak melepaskan tangan Amara bersamaan dengan wajah penuh sesal. Sungguh, mereka sama sekali tak berniat untuk menyakiti. Tapi rasa sayang yang besar mendorong keduanya begitu ingin melindungi Amara.
Secepat kilat Juan meraih dua tangan Amara dan menggenggamnya. Matanya pun terarah begitu lekat penuh harap, dan itu membuat wajah Dimas sontak terlihat tak bersahabat.
"Mar, aku kangen sama kamu. Aku mohon batalkan kontrak kerjamu dengan dia, toh pria gila ini tidak akan sembuh dari gilanya." Juan berucap sambil tangannya menunjuk Dimas, yang sontak membuat Dimas langsung membelalak tak suka.
Apa tadi dia bilang? Gila? Maksud dia gue gitu yang gila? Sialan. Minta dibantai nih orang." Dimas membatin sambil memelototkan mata, dan menggemertakkan giginya.
Bersambung
__ADS_1