
"Bangun!"
Dua manusia yang sedang terlelap itu sontak terjaga bersamaan. Amara dan Dimas berjingkat karena saking terkejutnya. Suara teriakan diiringi gedoran pada pintu mobil itu berhasil mengusik mereka dari hangatnya buaian mimpi.
Amara mengerjap-kerjap untuk mengumpulkan kesadaran. Mengedarkan pandangan ke sekeliling, barulah ia menyadari jika semalaman ia tidur di dalam mobil. Jemarinya bergerak mengucek mata demi memastikan kebenaran apa yang dilihatnya barusan.
Amara tergemap. Suasana gelap semalam telah berganti cerahnya pagi. Namun, ada yang agak aneh kali ini. Ada begitu banyak orang seperti kompak mengerumuni mobil Dimas. Amara menebak jika beberapa orang yang terdiri dari pria dan wanita itu adalah penduduk lokal daerah ini. Gadis itu lantas melirik ke sisi kanan, di mana di situ Dimas juga tampak kebingungan.
"Kok ada banyak orang, Mas? Ada apa ya?" tanya Amara bingung.
"Enggak tau. Eh, jangan-jangan mereka mau bantuin kita menyingkirkan pohon yang tumbang itu?" tebak Dimas begitu antusias. Mata pria itu seketika berbinar senang.
Ekspresi berbeda justru ditunjukkan oleh Amara. Yang dipikirkannya berbeda dengan jalan pikiran Dimas. Gadis itu merasa ada yang janggal, melihat bagaimana ekspresi wajah warga yang terkesan seperti tengah mengepung mereka.
"Turun, yuk," ajak Dimas kemudian. Tanpa pikir panjang, pria itu segera membuka pintu mobil dan turun berniat menyapa warga.
Meski sebenarnya enggan karena merasa ada yang salah, tetapi pada akhirnya Amara pun menyusul turun dari mobil.
Benar saja. Saat hendak menyapa, tiba-tiba orang-orang itu mencekal Dimas dan Amara tanpa peringatan. Mereka diperlakukan layaknya orang yang bersalah.
"Eh Pak! Apa-apaan ini!" Dimas yang kebingungan mencoba berontak.
"Jangan coba-coba kabur!" Seorang pria bertubuh tegap dengan pakaian dinas perangkat desa memberi peringatan tegas.
"Kabur bagaimana, Pak? Justru kami ini mau minta tolong karena semalaman terjebak di sini!" Demi menghindari kesalahpahaman, Dimas berusaha menjelaskan. Namun, entah apa yang telah terjadi hingga orang-orang ini tak mau mempercayai.
"Saya mendapatkan laporan dari warga jika kalian telah berbuat mesum di tempat ini."
"Mesum?" Dimas dan Amara sama-sama terkejutnya. Keduanya saling pandang, lantas menggeleng bersamaan.
"Itu tidak benar, Pak, semua ini hanya salah paham!" Amara angkat bicara memberikan penjelasan, berharap kesalahpahaman ini bisa diluruskan.
__ADS_1
"Bisa tunjukkan kartu identitas?"
Tanpa pikir panjang, Amara dan Dimas memberikan kartu identitas mereka. Pria yang disinyalir adalah seorang kepala desa itu memperhatikan kartu identitas Amara dan Dimas dengan cermat. Setelah beberapa saat, ia menggelengkan kepalanya seperti tak habis pikir.
"Jelas-jelas sudah tertangkap basah, masih mau mengelak juga!" Kepala desa itu membentak sembari menatap Dimas dan Amara bergantian. "Kalian ini bukanlah pasangan, tapi berani-beraninya berbuat mesum di kampung orang!"
"Ini tidak benar, Pak. Ini tidak benar!" Amara berteriak setengah histeris. "Semua ini terjadi di luar kendali kami. Saat dalam perjalanan pulang, pohon itu tiba-tiba tumbang. Otomatis perjalanan kami jadi terhambat. Satu-satunya akses menuju jalan raya terputus. Hujan turun juga sangat deras, petir juga menggelegar. Karena kelelahan dan hari semakin larut, lalu tanpa sadar kami ketiduran. Percayalah Pak, kami tidak melakukan apa-apa sekalipun berada dalam satu mobil yang sama."
"Kalian bisa jelaskan di kantor desa." Pria berwajah datar itu berbalik badan setelah berucap demikian.
"Apa!"
Dimas dan Amara saling pandang. Kepanikan semakin menjalar. Mereka sama sekali tak menyangka kejadian ini akan berbuntut panjang. Penjelasannya tadi bahkan sama sekali tak mengubah keadaan.
Tak terima dirinya difitnah sembarangan, Dimas berusaha melepaskan diri untuk melakukan pembelaan. "Tapi, Pak–"
"Cepat! Giring mereka!"
***
"Bagaimana para saksi?"
"Sah!"
"Alhamdulillah ...."
Satu kalimat yang Dimas ucapkan meski dengan hati terpaksa, nyatanya telah mengubah status hubungan dia dengan Amara. Sebuah kantor desa berukuran kecil menjadi saksi bisu pernikahan itu. Juga orang-orang asing yang baru sekali ditemui turut andil menyiapkan acara. Mulai dari menjodohkan sepihak, menyediakan tempat, menyiapkan saksi, bahkan mengundang seorang penghulu untuk menikahkan.
"Sekarang kalian telah sah menjadi suami istri!" tegas pria yang menjadi kepala desa itu pada Dimas dan Amara. Sedangkan kedua orang di depannya itu justru kompak diam tanpa kata.
Sejatinya, pernikahan adalah lambang cinta. Menjadi momen paling membahagiakan. Peristiwa sakral bersejarah yang tak akan dilupakan hingga akhir usia. Namun, semua itu tidak dirasakan oleh Dimas dan Amara. Sebuah pernikahan tanpa diduga-duga, tanpa rasa cinta, justru tiba-tiba terjadi pada mereka.
__ADS_1
Semuanya terjadi di luar kendali. Dimas dan Amara yang digiring ke kelurahan setempat tak berhasil meyakinkan seluruh warga. Kemudian mengatasnamakan pertanggungjawaban, keduanya dinikahkan begitu saja.
Dimas dan Amara bahkan tak tahu letak salah mereka di mana. Hanya alasan sepele dengan tidur bersama dalam satu mobil. Tanpa bersentuhan, apalagi berpelukan, tuduhan perbuatan mesum telah dengan kejam mereka layangkan. Tak ada yang bisa keduanya lakukan selain pasrah, demi menghindari amukan warga. Tak ada yang membela, sebab tiada seorang pun yang dikenal Amara. Tempat kejadian itu bukanlah kampung halaman orang tuanya.
Kepala desa dan warga melepas kepulangan Amara dan Dimas setelah pohon tumbang itu berhasil dikondisikan. Tak terjadi obrolan selama perjalanan panjang. Keduanya sibuk bergelut dengan kekalutan masing-masing. Hingga setelah tiba di rumah, Dimas bahkan mengurung diri di kamar hingga keesokan harinya.
Amara kian merasa bersalah. Gadis itu tak henti menitikkan air mata setiap teringat peristiwa itu. Tekanan batinnya kian berat kala Dimas selalu saja menghindar. Menggunakan banyak alasan untuk menghindari pertemuan.
"Euis, kamu merasa nggak sih, suasana rumah jadi nggak enak gini?" Eli yang mulai tak nyaman dengan suasana rumah, tak bisa menahan diri untuk tidak membicarakan. Sembari mengaduk masakannya, ia melirik Euis yang tengah sibuk mencuci piring.
"Ngerasa sih, Mak. Kerasa banget, malah," jawab gadis itu dengan mimik sedih.
"Takdir Tuhan memang penuh kejutan, ya. Kita nggak pernah nyangka Mas Dimas bakal nikah sama Amara. Kalau Emak sih setuju aja. Setuju banget, Malah. Tapi mereka berdua malah kelihatannya terpukul gitu, ya."
"Gimana nggak terpukul, Mak. Kan mereka berdua udah punya pasangan masing-masing." Euis menoleh Eli dan membalas tatapan wanita itu. "Dan lagi pula, bagaimana Mas Dimas dan Teh Amara bisa bersatu kalau pernikahan ini terjadi tanpa adanya rasa cinta?"
"Entahlah, Euis. Emak jadi bingung. Kita tunggu Bapak sama Ibu pulang saja ya. Biar jelas semuanya. Kalau sudah begini, Emak cuma bisa kasihan sama Mas Dimas dan Amara."
"Sama atuh, Mak."
***
Tenggorokan yang terasa kering kerontang, memaksa Dimas untuk keluar dari kamar. Pria dengan balutan piyama itu berjalan santai menuruni tangga. Ia berniat mengambil air putih di kulkas dapur sebab persediaan air putih di kulkas kamarnya kebetulan habis.
Jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam membuat rumah besar itu terasa hening. Ini adalah saat yang tepat baginya untuk melihat suasana selain keheningan kamarnya, tanpa harus memikirkan beribu alasan guna menghindari bertutur sapa dengan seseorang.
Dimas membuka pintu kulkas, mengambil sebotol air mineral dari sana, lantas meneguknya saat itu juga. Pria itu masih bersikap biasa saja karena menganggap ia hanya sendirian di sana. Namun, ketika usai menutup pintu kulkas dan berbalik badan, ekspresi wajahnya langsung berubah saat mendapati seseorang tengah berdiri di hadapannya.
Langkah Dimas tercekat. Ekspresinya tampak datar. Namun, tangannya meremas botol air mineral dalam genggaman. Ada gurat tidak suka dari pandangannya. Hal itu kian dikuatkan dengan kepala yang bergerak menoleh ke kanan, seolah-olah tengah sengaja menghindari adu pandang.
Sedangkan sosok yang berdiri di depannya justru bersikap sebaliknya. Tetap memandang dengan ekspresi tegar, meski hal itu dilakukan hanya untuk menutupi sisi rapuh dalam dirinya.
__ADS_1
Hanya beberapa saat keduanya berhadapan dalam senyap, sebab sesaat kemudian, Dimas memutuskan beranjak dan melewati gadis itu begitu saja. Namun, seketika ia terpaksa menghentikan langkah saat gadis itu menghentikan dengan paksa.
"Mas, aku ingin bicara!"