Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Kan ada aku


__ADS_3

Dengan tangan saling meremas dan gigi mengapit bibir bawah, Amara berjalan mondar-mandir di depan hotel tempat pesta. Gadis itu tak bisa menutupi kekhawatiran di wajahnya. Sesaat kemudian, Juan muncul dari arah dalam dan menghampiri gadis itu dengan wajah cemas pula.


"Gimana? Dimas sama sekali tak menghubungi ataupun mengangkat telepon kamu?" tanya pemuda itu dengan ekspresi serius.


"Belum," jawab Amara dengan kepala menggeleng. Wajahnya juga terlihat masih cemas.


"Dasar nggak waras. Ngilang gini ngapain nggak bilang-bilang!" gerutu Juan. Ia kembali merogoh ponselnya. Membuka kunci layar dan mencoba menghubungi nomor Dimas. Semenit kemudian, pria itu menurunkan ponselnya dari telinga sambil menggelengkan kepala. "Nggak diangkat juga," tukasnya.


"Haduh."


Juan yang awalnya menunduk sembari memandangi layar ponselnya tiba-tiba mendongak demi melihat ekspresi Amara. Gadis itu terlihat kian gelisah. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling sembari memijat pelipis seperti sedang pusing.


Juan mendesah pelan. Kegelisahan Amara adalah gelisahnya juga. Melihat ekspresi tak tenang sahabatnya, bisakah ia menutup mata? Jelas tidak. Ia tak mungkin bisa membiarkan gadis itu tenggelam dalam sedih sendirian. Usai menyimpan kembali ponselnya di saku celana, ia kemudian menyentuh bahu Amara dan menyunggingkan senyum ketika gadis itu memandangnya.


"Kita masuk dulu, yuk. Kita omongin ini di dalam. Dimas udah dewasa, aku yakin dia baik-baik aja," ujarnya menenangkan.


"Tapi Ju, Mas Dimas baru aja sembuh ...."


"Mar ... aku tau. Tapi Mama aku nyariin kamu, loh."


Amara sontak mengatupkan bibirnya usai mendengar kata-kata Juan. Pikirannya tentang Dimas seketika itu musnah sudah. Ia mengerjap kecil, lalu menatap Juan dengan mata sedikit membulat.


"Tante nyariin aku?" tanya gadis itu memastikan.


"Iya." Juan mengangguk mantap.


Ekspresi Amara berubah kelam. Gadis itu menundukkan kepala, lalu menatap Juan dengan mimik penuh sesal hingga mengundang tanya sahabatnya.

__ADS_1


"Mar, kamu kenapa? Kamu nggak keberatan ketemu sama Mama, kan? Kamu udah jauh-jauh datang ke sini, loh. Masa iya nggak kasih selamat buat mereka?" Juan berusaha membujuk, sebab ia berpikir Amara keberatan menemui orang tuanya karena sesuatu hal.


"Tapi Ju, aku nggak bawa kado untuk orang tua kamu." Amara menggigit bibirnya.


Sontak saja Dimas terkekeh oleh sesuatu hal yang nyaris membuatnya salah paham. Sebelumnya ia sempat menyangka jika Amara enggan bertemu mamanya sebab gadis itu masih merasa kesal. Namun, ternyata hal sepelelah yang menjadi penyebabnya.


"Ya ampun, Mar ... aku pikir kamu murung gitu karena apa, rupanya karena nggak bawa kado? Astaga, Amara. Nggak pa-pa kali. Bukan itu kok yang orang tuaku harapkan."


"Benarkah?" Amara bertanya dengan sangat antusias.


"Hu'um." Dimas mengangguk.


"Lalu?"


Juan mengedikkan bahunya. "Ya, tentu saja karena ingin bertemu kamu."


"Juan ... jujur ya, Mas Dimas lah yang mengatur semuanya sedemikian rupa. Dia yang permak aku. Aku bahkan tidak tau dia akan membawaku ke mana. Kurasa dia sengaja mengatur ini semua sebagai kejutan. Tapi sayangnya, dia terlupa dengan kado yang semestinya dibawa. Sungguh, aku benar-benar nggak enak banget sama mama kamu. Harusnya aku bisa kasih hadiah kecil sekadar untuk kenang-kenangan." Tanpa sadar tangan Amara merengkuh lengan Juan dan mengguncangnya dengan sedikit gerakan. Sementara matanya menatap Juan seperti tengah memohon pengertian.


Juan yang tahu betul bagaimana ketulusan Amara hanya bisa tersenyum dan balik memegang tangan sahabatnya. Mengangguk paham, ia pun berkata, "Iya, iya Mar. Tanpa kamu ngejelasin panjang lebar gini aku juga udah ngerti."


"Ngerti? Dari siapa?" Amara kembali bertanya dengan wajah polosnya. Sedangkan Juan sama sekali tak berniat untuk menjawab, melainkan menarik tangan gadis itu untuk mengajaknya masuk agar bisa lekas-lekas menemui orang tuanya. Ia paham betul bagaimana watak sahabatnya. Gadis itu pasti akan mengorek informasi sampai ke akarnya kendati itu bukanlah hal penting sekalipun.


Penampilan Amara malam itu benar-benar sukses menarik perhatian semua orang yang ada di pesta. Tak terkecuali orang tua Juan selaku pemilik acara. Amara terlihat berbeda dari biasanya. Gadis itu tampak berkelas, dan tahu bagaimana menempatkan diri di keramaian.


"Juan, kenapa semua orang melihat ke arah kita?" bisik Amara ketika pria itu menggandeng tangannya, melewati karpet merah dan berjalan ke arah orang tuanya. "Pasti mereka berpikiran yang bukan-bukan tentang kita," sambungnya tak nyaman dengan pandangan mengedar.


Alih-alih merasa terganggu, Juan justru sangat menikmati hal itu.

__ADS_1


"Biarin aja. Pasti mereka mikir yang baik-baik."


"Baik-baik apa?"


"Mana kutahu. Mereka kan nggak teriak-teriak, jadi mana bisa aku dengar," celetuk Juan, yang membuat bibir Amara seketika mencebik.


"Ish, kukira tau beneran," gerutu gadis itu.


Dimas hanya menyunggingkan senyum sebagai jawaban. Ia tak ingin merusak momen bahagia itu dengan perdebatan tidak penting. Sedangkan Amara hanya terdiam selagi mengamati pria di sampingnya. Senyum manis yang terkembang, binar bahagia saat memandang, ah mau tak mau kebahagiaan Juan itu menular pula kepadanya.


Tak bisa dipungkiri, Amara tak pernah sebahagia ini sebelumnya. Definisi bahagianya sangat sederhana. Cukup memandang senyum Juan tanpa ada beban. Jika bisa bersama dengan jarak sedekat ini, baginya itu merupakan bonus dari Tuhan.


Detik demi detik berlalu cepat. Semakin dekat jaraknya dari posisi orang tua Dimas kian membuat jantungnya berdetak cepat. Langkah Amara pun terasa semakin berat.


Juan yang menyadari perubahan sikap Amara segera mengeratkan genggaman tangannya sebagai bentuk dukungan. Gadis itu tampaknya grogi. Hal itu tampak dari wajahnya yang memucat, dan telapak tangannya yang dingin.


"Nggak usah takut. Mama aku nggak gigit, kok."


Amara sontak melirik Juan dengan tatapan sebal ketika pria itu menggodanya tanpa memandang.


"Siapa juga yang takut? Enggak kok."


Juan hanya menyimpul senyum ketika gadis itu terang-terangan melakukan penyangkalan. Namun, bahasa tubuh Amara sama sekali tak bisa menipu, hingga saat Juan menunjukkan aksi meragukan, ia hanya bisa mendengkus sebal.


"Iya, iya. Sebenarnya aku malu." Pada akhirnya Amara mengakui apa yang membuatnya menjadi grogi.


"Nggak usah malu. Kan ada aku."

__ADS_1


__ADS_2