
Menyadari Naura sudah tak ada lagi di sana, Dimas yang awalnya menindih Amara langsung melepaskan pagutan mereka dan berguling di sisi istrinya.
Namun, meski demikian ia tidak benar-benar melepaskan Amara. Sebab, setelah beberapa saat terjebak dalam kebisuan dan suasana tidak nyaman, ia kembali merapat. Memiringkan tubuh Amara dan memeluk wanita itu dengan erat. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Amara dan diam di sana dengan posisi seperti itu untuk beberapa lama.
Amara yang tak tahu menahu maksud Dimas apa, hanya bisa tertegun bingung sambil sesekali mengerjapkan mata. Bermacam spekulasi muncul di benaknya lantaran sikap diam Dimas ini.
Mungkinkah dia menyesal telah menyentuhnya? Ataukah menyesal karena telah menyakiti hati Naura? Namun, jika benar demikian, kenapa Dimas masih juga belum melepasnya?
Ah, daripada berpikiran yang tidak-tidak, lebih baik Amara bicara pada Dimas agar tahu kejelasannya bagaimana.
"Mas, Mbak Naura sudah nggak ada," ujarnya setengah mengingatkan sembari menepuk bahu Dimas pelan seperti menyadarkan.
"Gue tau." Hanya itu jawaban Dimas, tetapi ia sama sekali tak mengubah posisinya. Setelah diam agak lama, barulah ia berucap pada istrinya tanpa memandang muka. "Mar, izinin gue tidur dengan posisi seperti ini sampai gue bangun, ya. Gue lagi kalut. Gue butuh ketenangan."
Secara tidak langsung, Dimas menyatakan jika dirinya merasa tenang dan nyaman dalam pelukan Amara. Bagaimana mungkin Amara tak bahagia sekalipun perubahan cara bicara Dimas yang kembali seperti awal itu membuatnya sadar jika sandiwara ini telah berakhir sepenuhnya dan semua kembali pada titik awal. Ia sudah merasa puas, hingga tak ada kata penolakan yang terlontar dari mulutnya selain anggukan kepala mengiyakan.
***
Meski tangan sibuk mengaduk kopi yang baru saja diseduh dengan air panas, tetapi pikiran Amara melanglang buana entah ke mana. Tanpa sadar senyumnya mengembang. Wajahnya merona. Dan sedetik kemudian merasakan malu yang tak terkira.
Ia buru-buru mengerjapkan mata sambil menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir angan liar yang hinggap di benaknya.
Terlepas dari apa pun alasan Dimas, hatinya benar-benar menghangat oleh perlakuan pria itu kepadanya. Kejadian pamer kemesraan pada Naura waktu itu menjadi titik balik perubahan sikap Dimas dalam hubungan mereka.
Walau cara bicaranya masih datar dan kadang juga ketus, tetapi Dimas menjadi manja dan kian bergantung kepadanya dalam hal apa pun. Bukan hanya saat makan yang selalu minta disuapi. Perkara tidur saja Dimas harus dalam pelukan Amara agar bisa terlelap hingga pagi.
Selain senang, Amara kadang juga merasa kesal. Kadang ia berpikir jika alasan butuh ketenangan yang Dimas lontarkan itu hanya alibi saja. Jangan-jangan pria itu memang suka dipeluknya?
Aaa ... kenapa aku jadi besar kepala begini? Dasar tidak tahu diri. Tanpa sadar Amara menjitak kepalanya sendiri. Ia benar-benar merasa lancang karena berpikiran demikian. Lagi-lagi nalurinya mengingatkan jika dia tidak ada apa-apanya di mata Dimas. Dimas hanya memanfaatkannya saja. Tapi anehnya kenapa dia suka?
Tanpa Amara sadari, Eli yang baru muncul di dapur itu diam-diam tersenyum melihat tingkah lakunya yang tak biasa akhir-akhir ini. Sering melamun saat sendiri, tiba-tiba senyum dengan wajah bersemu, dan kadang juga bertingkah tidak jelas sambil menjitak kepalanya sendiri.
__ADS_1
Walau Amara sama sekali tidak bercerita, tetapi Eli tahu betul dengan apa yang dirasakan gadis itu saat ini. Sebagai saksi mata bagaimana Dimas menciumnya waktu itu, tentunya Eli memiliki harapan besar agar pasangan suami istri itu segera bersatu.
Eli memang melihat kejadian itu. Ia yang saat itu hendak mengantarkan minuman Naura ke kamar Dimas sangat terkejut melihat Naura keluar dari sana dengan linangan air mata. Karena merasa penasaran, ia bergegas menuju pintu untuk melihat apa yang terjadi. Tara ... ia melihat Dimas dan Amara tengah berciuman panas. Dan sejak itulah ia merasakan ada peningkatan antara hubungan Dimas dan Amara. Memang belum signifikan, tetapi secara bertahap Dimas sudah menunjukkan rasa cintanya meskipun dengan cara yang berbeda.
"Amara," panggilnya pelan sembari mendekat. Tanpa disangkanya, ternyata Amara terkejut hingga menjawabnya dengan tergagap.
"I–iya Bi Eli, ada apa?" tanya Amara sembari berbalik badan. Ia setengah melongo menatap Eli yang sudah di belakangnya sambil tersenyum. Entah sejak kapan dia ada di sana. Amara bahkan tak menyadarinya.
"Nggak pa-pa, Amara. Bibi cuma khawatir kalau kopinya merasa pusing sebab kelamaan diaduk-aduk," jawab Eli setengah menyindir.
Wajah Amara seketika merona dan ia pun tampak salah tingkah. Benar-benar memalukan. Ia kedapatan sedang berangan hingga lupa sudah berapa lama mengaduk minumannya.
"Kamu melamun, ya ...," tuding Eli sembari tersenyum menggoda. Sementara Amara langsung menggelengkan kepala dan menjawab tanpa memandang muka.
"Ah, nggak kok Bi. Itu, tadi kopinya masih menggumpal."
"Masa?"
"Iya."
"Bi, aku antar ini ke kamar Mas Dimas dulu, ya. Takutnya dia kelamaan nunggu," pamitnya kemudian, lalu pergi dengan tergesa. Ia tak mau Eli nanti banyak bertanya dan menggoda, yang pastinya akan membuatnya semakin bertambah malu.
Sampai di depan pintu kamar Dimas, Amara berhenti di sana dan menghembuskan napas panjang. Perasaan yang awalnya masih tenang mendadak jadi tegang setiap akan berhadapan dengan pria itu.
Bagaimana tidak? Sejak kedatangan Naura waktu itu Dimas menjelma menjadi bayi besar yang menuntut seluruh perhatiannya.
Suka, sih. Tapi ngeri juga. Belum lagi ia merasa kewalahan oleh aktivitas jantungnya yang semakin tak terkendali. Ia takut jantung itu tidak berada di tempatnya lagi.
Akan tetapi, ia tidak mungkin tetap berdiri di sana sampai nanti, kan? Ia sudah lama meninggalkan Dimas di bawah saat menyiapkan sesuatu yang ia bawa itu. Ia sudah bisa membayangkan wajah kesal Dimas yang merasa diabaikan.
"Ke mana aja, sih?"
__ADS_1
Tuh, kan. Baru juga membuka pintu, Amara sudah Dimas sambut dengan pertanyaan seperti itu. Belum lagi tatapan tajam pria itu seperti menikam jantung, membuat Amara melangkahkan kakinya dengan ragu. Tampan sih. Tapi menakutkan.
Dimas mengalihkan pandangan dari laptop yang dipangkunya. Mata elang itu memperhatikan gerak-gerik Amara seperti sedang mengintimidasi.
"Harusnya Mas Dimas jangan ngopi dulu kalau lambungnya belum sembuh benar. Kopi itu mengandung kafein, Mas. Kafein yang terdapat dalam kandungan kopi dapat meningkatkan produksi asam dan peradangan pada lambung. Selain itu, kafein dapat membuat cincin otot kerongkongan rileks pada bagian bawah, sehingga asam lambung dapat naik sampai ke kerongkongan. Akibatnya, dada atau tenggorokan bisa terasa panas dan terbakar. Kondisi ini dinamakan heartburn." Amara menjelaskan panjang lebar selagi menyodorkan cangkir kopi yang dibawanya.
Selain karena benar-benar khawatir, komunikasi semacam itu sangat berguna untuk mengusir ketegangan setiap kali bertemu Dimas. Hasilnya seperti yang ia duga, Dimas selalu menanggapi dingin dan kadang juga dengkusan. Pria itu menganggap wejangannya hanya angin lalu belaka.
"Kata siapa gue belum sembuh?" Dimas menyeruput kopinya setelah menerima itu dari Amara. Ia lantas menatap wanita yang berdiri di sisi ranjang itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lo lihat sendiri kan, gue udah sembuh."
Amara menerima cangkir Dimas. Menaruhnya ke nakas sebelum kemudian menyerang Dimas dengan pertanyaan.
"Kalau udah sembuh ngapain setiap hari masih rebahan? Memangnya nggak bosen tiap hari cuma tiduran?"
"Yang cuma tiduran itu siapa?" balas Dimas dengan pertanyaan pula.
"Mas Dimas, kan." Amara menunjukan Dimas dengan ekspresi wajah lugunya.
"Lo nggak tau, tiduran ala gue juga ngasilin uang?" ucap Dimas dengan maksud tersirat.
Seketika itu Amara sadar dan menyunggingkan senyum malu-malu. Meski di atas ranjang, tetapi Dimas tak pernah melupakan laptopnya. Pria itu sibuk membuat beberapa desain yang sangat rumit dan bahkan tidak ia pahami. Tak jarang ia menemani Dimas selagi pria itu terjaga hingga larut malam. Ia juga pernah diminta membantu mengetik membuat laporan.
"Biar tiduran gini gue juga kerja, kali."
Tiba-tiba Dimas menatap Amara sembari menyipitkan mata, lalu kemudian bertanya dengan nada curiga.
"Atau jangan-jangan sebenarnya elo yang udah bosen ngerawat gue?"
Amara sontak mengangkat alisnya, lalu menggeleng cepat sebagai bentuk penyangkalan.
"Ah, nggak kok nggak. Siapa yang bilang bosan?"
__ADS_1
"Owh, nggak bosan ya." Dimas manggut-manggut seolah paham, lalu kemudian bertanya dengan nada menggoda untuk yang pertama kalinya. "Berarti suka, ya? Suka 'kan ngerawat gue?"
"Iya, Mas. Aku suka." Amara menjawab tanpa berpikir panjang. Namun, ketika melihat Dimas mengatupkan bibirnya menahan senyum, barulah ia sadar akan arah pertanyaan pria itu. Barulah ia meralat ucapan dengan menunjukkan mimik wajah gelisah. "Eh, maksudnya ini gimana, Mas? Suka dalam artian apa? Maksud aku tuh dengan senang loh, Mas. Bukan yang lainnya. Mohon Mas Dimas jangan salah paham, ya."