
Setelah sekitar lima belas menit Amara menunggu, akhirnya ia melihat Dimas muncul dengan paper bag berisi kotak kalung Naura di dalamnya.
Dimas tampak berjalan santai sembari menunduk menatap layar ponsel. Ketika sudah dekat dengan mobil, pria berkaca mata hitam itu tersenyum pada Amara yang berdiri menyandar pada body mobil bagian depan.
"Loh, kok malah berdiri di luar? Kenapa nggak masuk aja?" tanya Dimas sembari berjalan mendekat, tentunya dengan pasang mimik serius dan nada meyakinkan.
Terang saja, pertanyaan retoris Dimas itu dibalas dengkusan oleh Amara. Sambil menatap pria itu sinis, ia kemudian menggerutu pada suaminya.
"Gimana mau masuk, orang kunci mobilnya aja nggak dikasih!"
Sontak saja Dimas tertawa menyadarinya tingkah bodohnya. Lebih-lebih melihat Amara mencebik padanya.
"Hahaha iya, gue lupa! Sorry, ya."
"Lupa, apa sengaja?" sindir Amara.
"Beneran lupa, Mar. Lo kan tadi lihat sendiri gue lagi angkat telepon," jelas Dimas. Ia lantas mengambil posisi di samping Amara dan menyandarkan tubuhnya pada body mobil, persis seperti yang Amara lakukan.
Entah mengapa, gaya cool Dimas itu selalu berhasil membuat Amara terpana. Buktinya, jantung gadis itu berdebar-debar setiap kali berdekatan dengan pria itu. Saat pandangan mereka bersirobok, Amara tak bisa berlama-lama memandangnya sebab rasa kikuk selalu menguasai. Alhasil, buru-buru ia membuang pandangan demi menghalau rasa tak wajar yang bersemayam.
Melirik Amara yang tengah merengut sambil memainkan sedotan es boba, Dimas lalu mencolek pipi Amara dengan gemas.
"Ngapain cemberut gitu? Ngambek, ya?" godanya nakal.
Amara tertawa mencemooh.
"Ngambek? Emangnya aku ini siapa, sampai harus ngambek segala! Yuk ah, pulang. Udah gerah banget ini." Tanpa menunggu balasan Dimas, Amara langsung beranjak menuju pintu penumpang bagian depan. Sampai di sana ia berhenti, lalu menatap Dimas dengan sorot penuh tuntutan.
"Apa? Kenapa ngelihatin gue kayak gitu?" tanya Dimas dengan dagu mengedik.
"Pintunya buka!" titah Amara.
Sekali lagi Dimas tertawa. Entah disengaja atau tidak, sikap bodohnya itu berhasil membuat istrinya kesal. Gegas saja ia bangkit dan menyusul Amara di sisi kiri mobil.
"Iya, iya ... gue buka." Dimas menekan remote kontak lantas membukakan pintu untuk Amara. "Silahkan masuk, Tuan Putri ...," ucapnya mempersilahkan dengan tubuh setengah membungkuk ala-ala pangeran pada sang putri.
Amara sengaja tak menanggapi sikap manis Dimas demi menghindari kebaperan. Ia memasang wajah datar, lalu masuk dan duduk di kursi penumpang. Setelah memasang seatbelt dengan baik, Amara dibuat penasaran oleh sikap Dimas yang hanya mematung sambil menatapnya.
"Kenapa ngelihatin akunya gitu banget?" tanyanya sambil menatap wajah Dimas dengan heran.
"Minta es bobanya. Gue haus."
"Nggak ada. Aku cuma beli ini." Amara mencebik, lantas meraih gelas boba yang semula diletakkannya.
"Cuma beli satu?" Dimas membelalak dengan gaya lebay nya. "Ya ampun, Mar ... masa iya cuma beli satu!"
__ADS_1
"Ya kan aku sendirian, Mas. Masa iya beli lima! Yang mau minum siapa?"
"Ya kan paling nggak lo beli dua, lah. Buat gue satu. Buat lo satu."
"Ya maaf. Aku nggak tau kalau Mas Dimas haus," ucap Amara pura-pura menyesal.
"Kalau gitu yang ini aja, lah." Dimas merebut es boba Amara yang tinggal setengahnya tanpa peringatan. Bahkan tepat ketika Amara hendak menyedotnya. Jelas saja Amara mendelik karena tangannya kehilangan boba, dan secepat kilat mengulurkan tangannya hendak menggapai meski sebenarnya ia tak sampai.
"Mas, jangan!"
Baru juga hendak menahan, tapi Dimas sudah terlanjur menyedotnya.
"Ah ... segar," desah Dimas penuh kenikmatan tanpa memedulikan Amara yang menutup wajahnya dengan telapak tangan karena gusar. Melihat Ekspresi Amara yang menurutnya nggak jelas itu terang saja membuatnya tergelitik untuk bertanya.
"Lo ngapain meringis gitu?"
Amara menggeram sambil melemparkan pandangan. "Ngapain diminum, sih Mas ...! Itu tuh sisa aku!"
"Memangnya kenapa kalau ini sisa lo?" Dimas menanggapi santai perkataan Amara, lalu melempar gelas boba yang kosong tadi tepat ke dalam bak sampah. "Yeyyy, berhasil!" soraknya bangga, lalu menutup pintu mobil dan berjalan menuju pintu bagian kemudi.
Setelah memasang sabuk pengaman, ia kembali menatap Amara yang tampaknya masih sangat kesal.
"Kenapa lo? Masih kesel?"
Amara hanya menanggapi pertanyaan Dimas dengan dengkusan lirih.
"What!" Amara tercengang. Gadis itu sontak menatap Dimas dengan mata mendelik.
"Iya!"
"Nggak salah, tuh?"
"Ya nggak, lah. Secara, gue tadi udah minum es boba sisa, lo."
"Tapi kan aku udah berusaha ngelarang kamu, Mas! Mas Dimasnya aja tuh yang ngeyel. Dan lagi ...." Amara menghentikan ucapannya seketika. Sontak membulatkan matanya seolah-olah baru menyadari sesuatu hal. "Eh, aku tuh sehat wal'afiat, ya! Kalaupun Mas terkena penyakit menular, itu jelas-jelas bukan dari aku!"
"Terus dari siapa?"
"Ya mana kutau! Bisa aja dari orang lain. Seperti ... dari pacarmu, misalnya," celetuk Amara sambil melipat tangannya di depan dada, tentunya dengan wajah masih menunjukkan ekspresi kesal. Sesungguhnya ia hanya bicara asal tanpa sedikitpun terselip maksud. Namun, rupanya Dimas menanggapi hal itu dengan ejekan khas dia.
"Ngapain jadi merembet ke Naura? Hayoooo, lo cemburu, kan sama Naura? Ngaku," goda Dimas sambil tertawa. Jari telunjuknya juga menuding ke arah Amara. Dan di detik itu pun Amara baru menyadari jika ada yang salah dengan ucapannya. Namun, alih-alih marah, pria itu bahkan sama sekali tak tersinggung oleh perkataan Amara barusan.
"Ih, siapa yang cemburu!" protes Amara demi menghalau kecurigaan Dimas.
"Lo!"
__ADS_1
"Nggak!"
"Bohong."
"Terserah," pungkas Amara malas. Ia benar-benar malas menanggapi gurauan Dimas.
Entah apa yang ada di benak Dimas saat ini, yang jelas, ia hanya mengulum senyum dan mulai menjalankan kuda besinya.
Tak ada obrolan yang terjadi hingga mobil berhenti di depan rumah. Amara langsung turun guna membuka pagar, sementara Dimas menunggu pagar terbuka lebar demi bisa memasukkan mobilnya.
Hingga keduanya selesai membersihkan diri pun Amara masih tampak pasang wajah kesal. Ralat. Lebih tepatnya gusar, sebab Dimas nyaris menangkap basah bagaimana perasan dia yang sebenarnya.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dimas sudah menerima telepon dari Naura agar segera menjemputnya. Namun, sebelum ia berangkat, Dimas yang sudah rapi dengan stelan jas warna navy itu berniat menemui Amara yang saat itu berada di dapur sekadar untuk berpamitan.
"Mar," panggilnya pelan.
Amara yang saat itu tengah mencuci piring gegas mematikan kran air begitu mendengar namanya di panggil.
"Ya," sahut Amara.
Gadis itu langsung menoleh ke belakang dan seketika menyunggingkan senyum mendapati Dimas sudah berdiri di sana dengan berpenampilan rapi. Tak ada raut kesal ataupun marah seperti yang ia tunjukkan tadi.
"Mau jemput Mbak Naura, ya?" tebaknya dengan mimik polos. Sejurus kemudian ia tersenyum tulus sebelum akhirnya menambahkan. "Have fun, ya Mas. Titip salam buat Mbak Naura, semoga dia panjang umur dan sehat selalu di hari ulang tahunnya ini."
"Makasih." Dimas tersenyum.
"Sama-sama," balas Amara tulus. Tanpa menunggu pria itu beranjak, ia kembali berbalik badan dan melanjutkan aktivitasnya. Menyalakan kran air dan membilas piring demi piring yang berbusa.
Ketika menaruh piring bersih pada rak di sisi kanan, tiba-tiba ia merasakan sebuah sentuhan dari arah belakang. Untuk sejenak ia bahkan terbuai oleh rasa hangat dan aroma harum yang berasal dari parfum.
Namun, sejurus kemudian ia dibuat terbelalak oleh sebuah tangan yang tiba-tiba bercokol di depan wajahnya. Lengan dengan balutan jas warna navy itu menggenggam kalung yang menjuntai dengan batu berlian warna putih menjadi liontinnya. Lengan berkulit putih yang terulur dari belakang itu benar-benar sukses membuatnya terkejut.
Tubuh Amara sontak membeku. Ia mengenal tangan itu. Namun, apa maksud dari tindakannya itu?
Demi menghalau rasa penasaran, buru-buru saja ia menoleh sebab merasa ini tak wajar. Benar saja, sosok Dimas yang tengah tersenyum langsung menyambutnya kala Amara berbalik badan. Sontak saja gadis itu tergemap. Tak bisa berkata-kata antara bingung dan tak percaya.
"Buat, lo," kata Dimas, seolah-olah tahu pertanyaan apa yang tengah berputar-putar di benak istrinya.
Dimas tersenyum tipis menanggapi Amara yang membisu. Tanpa menunggu reaksi gadis itu, ia lantas memasangkan kalung di tangannya pada leher sang istri.
Amara yang tengah berusaha keras menelaah, hanya bisa terdiam saat Dimas mencoba mengaitkan dua ujung kalung di lehernya bagian belakang. Dengan jarak sedekat itu ia bahkan bisa merasakan sejuknya napas Dimas, lembutnya sentuhan pria itu, serta betapa hangat suhu tubuhnya. Astaga, Amara bahkan membayangkan seperti apa rasanya bersandar di dada kokoh itu.
Ah, tiba-tiba ia merasakan deguban jantungnya bertalu-talu di dalam sana. Saat itu ia hanya bisa memejamkan mata sembari berharap agar Dimas tak mendengarkan debaran jantungnya yang bekerja dua kali lebih cepat.
Seperti tersadar dari suatu hal, seketika Amara membuka mata dan refleks memegang tangan Dimas yang saat itu tengah berusaha mengaitkan.
__ADS_1
"Mas Dimas."