Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Kecewa


__ADS_3

Suasana remang sebuah kamar yang minim pencahayaan menunjukkan pergerakan seorang gadis yang terjaga dari tidurnya. Amara menutup mulutnya yang ternganga saat menguap menggunakan telapak tangan, lantas melihat layar ponselnya untuk memastikan pukul berapa.


Rupanya waktu menunjukkan pukul satu dini hari, dan entah mengapa tenggorokan Amara terasa kering sekali. Gadis itu mendengkus lirih lantaran sadar jika semalam ia lupa membawa air putih untuk persediaan saat ia kehausan. Kalau sudah begini mau bagaimana lagi, terpaksa ia harus ke dapur untuk mengobati dahaganya.


Menyibak selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya, pergerakan tangan Amara sontak terhenti saat ia merasakan sesuatu yang janggal. Gadis itu langsung menggeser pandangan ke arah kiri dan benar saja, ia tak mendapati Naura di sisinya.


"Loh, Mbak Naura kok nggak ada. Kemana dia?"


Akibat pikiran yang berkecamuk tak menentu, Amara lantas bangkit guna mencari keberadaan gadis itu. Di benaknya, tak ada pikiran apa pun selain kekhawatiran. Kalau-kalau Naura tengah kesakitan dan membutuhkan bantuannya.


"Mbak Naura?" panggilnya dengan lirih sembari mengetuk pintu kamar mandi. Bisa saja Naura tengah buang air kecil di dalam. Namun, hingga beberapa saat menunggu, ia tak kunjung mendapatkan sahutan. Benar saja, ketika pintu itu ia buka, rupanya tak ada siapa pun di sana.


Semakin merasa khawatir, Amara bergegas keluar kamar. Bahkan rasa hausnya tadi sengaja ia abaikan. Saat tak menemukan Naura di lantai bawah, ia bergegas naik ke lantai dua dengan niat memberitahukan hal ini kepada Dimas.


Kebetulan sekali, Amara yang melihat kamar Dimas dalam keadaan terbuka lebar, maka tanpa pikir panjang ia langsung masuk ke dalam. Namun, seketika langkahnya tercekat saat menyaksikan sesuatu yang tak disangka-sangka terjadi di depan mata. Dimas yang tengah dalam posisi terlentang di bibir ranjang itu tampak pasrah saat ditindih oleh tubuh Naura.


Terang saja Amara berang. Gadis itu mengepalkan tangan dan memanggil Dimas dengan mata menatap nyalang.

__ADS_1


"Mas Dimas!"


Terkejut, Dimas dan Naura yang saat itu tengah saling pandang langsung menoleh bersamaanan. Dimas sontak membulatkan bola mata, lantas mendorong tubuh Naura yang juga terlihat sama terkejutnya.


"Mar, ini nggak seperti yang lo lihat." Dimas berusaha menjelaskan sembari bangkit dari pembaringan.


"Apa! Mas mau bilang kalau mataku ini rabun dekat? Iya! Atau aku cuma salah paham karena kalian berdua cuma lagi main pandang-pandangan di tengah malam buta! Anak di bawah umur juga bisa menerka-nerka kali, Mas, jika lihat posisi kalian seperti tadi itu niatnya mau apa!"


"Cukup, Amara!" bentak Dimas tak terima yang sontak membuat Amara mengatupkan bibirnya.


Keheningan menyelimuti kamar itu ketika untuk sesaat keduanya hanya diam dengan mata saling pandang. Netra bening Amara menunjukkan kilatan kemarahan yang selama ini tak pernah ia tunjukkan.


"Aku tau kalian ini adalah sepasang kekasih yang saling cinta. Tapi, bisakah hargai aku sebagai istri kamu sedikit saja, Mas?" Amara berucap dengan nada pelan dan suara yang bergetar. Tentu saja karena ia menahan diri untuk tidak menangis dengan sekuat tenaga. "Aku hanya tidak ingin kau mengotori rumah ini dengan perbuatan maksiat. Salahkah jika aku sebagai umat muslim yang juga adalah istri sahmu mengingatkan hal itu?"


"Mar, sekali lagi gue tegaskan, lo cuma salah paham!"


"Owh, jadi gitu." Amara menggigit bibirnya, lantas mengangguk-angguk dengan sikap kecewa. "Baik. Kalau begitu aku minta maaf." Tanpa kata lagi, Amara lantas berlalu pergi dari sana. Ia hanya bisa menelan rasa kecewa walau sebenarnya batin meronta-ronta. Ia hanya bisa menahan isak walau sebenarnya ingin menangis sesenggukan. Dan ia hanya bisa menahan kemarahan walau sebenarnya ingin meluapkan.

__ADS_1


Lagi-lagi kalimat 'Aku bukan siapa-siapa' kembali berdengung di telinga dan meneriakkan alarm untuk menyadarkan dirinya. Walau sebenarnya ia ingin pergi sejauh-jauhnya, tetapi kenyataan ia tetap berada di sana, kembali naik ke ranjang dan mengadukannya pada selimut tebal dalam kegelapan.


Pintu kamar terdengar terbuka ketika Amara sudah berhasil mengendalikan perasaannya. Sebuah tangan lembut terasa menyentuh lengannya yang tertutup selimut, sebelum kemudian sebuah suara lembut terdengar bersuara menyebutkan namanya.


"Amara ...."


Rupanya Naura-lah yang kini berjongkok di samping ranjang. Gadis itu sengaja mendekatinya untuk memberikan penjelasan.


"Mar, aku benar-benar minta maaf sama kamu. Semuanya ini salah aku. Aku yang datang menemui Dimas karena dia memanggilku. Aku nggak punya daya nolak keinginan dia karena–"


"Mbak!" potong Amara penuh penekanan.


Entah Naura tahu atau tidak saat ini dirinya tengah mengepalkan tangan dan mengetatkan rahang penuh kemarahan. Gadis itu datang bukan malah membuatnya menjadi tenang, tetapi malah membuatnya naik pitam.


"Aku capek, Mbak. Aku ngantuk. Plis, aku nggak mau bicarain ini lagi. Mudahan Mbak Naura nggak salah paham dan mengartikan lain maksud baikku."


"Iya, Mar aku ngerti. Sekali lagi aku minta maaf."

__ADS_1


Amara hanya bergeming, tanpa berniat menanggapi atau menimpali. Entah mana yang harus dipercaya, yang jelas kini ia merasa sangat kecewa. Dimas sudah meyakinkannya bahwa ia tak akan berbuat buruk dengan Naura, tapi nyatanya apa?


Karena melihat sikap diam Amara yang tampaknya enggan menanggapi pernyataan maafnya, Naura pun bangkit dan berjalan mengitari ranjang. Ia kemudian naik dan merebahkan tubuh, lantas tidur seperti biasa, seolah-olah tak terjadi apa-apa sebelumnya.


__ADS_2