Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Berdarah


__ADS_3

"Oh God, jadi lo mikirin sepatu?" Dimas menggelengkan kepalanya dan menatap Amara seolah-olah tak habis pikir. Sedang Amara hanya mengangguk lemah sambil menggigit bibir bawahnya.


"Udah, nggak usah dipikirin. Entar kita beli sebelahnya lagi di toko antik. Pasti banyak di sana."


"Ih ...! Masa beliin sepatu cuma sebelahnya doang, udah gitu di toko antik, lagi. Memangnya Mas Dimas mau beliin aku sepatu dari zaman purba?" Amara mendengkus kesal, menyebikkan bibirnya lalu menatap Dimas dengan raut wajah sebal. Bukannya prihatin ia sedang sedih, pria itu justru malah menggodanya.


"Ya, udah. Kalo gitu di tukang loak aja."


"Ih ...! Kok malah di tukang loak?"


"Lagian, elo. Ngapain juga pake ninggalin sebelah sepatu lo di sana? Pasti sengaja, kan?" Dimas menyondongkan tubuhnya pada Amara sambil menuding hidung gadis itu dengan telunjuknya. "Biar diambil sama tuh burung Juan dan nyariin sebelahnya ke mana-mana sampai ketemu. Biar kaya Cinderella. Ya kan, ya kan! Cih, gue tau akal busuk, lo!" Dimas lantas menyebik meremehkan sambil bersedekap dada.


"Ih, Mas Dimas!" geram Amara sambil memukul lengan Dimas begitu kerasnya.


"Aow! Sakit tau." Sambil memegangi lengannya, Dimas melotot pada Amara. "Salah gue apa pake dipukul segala?"


"Masih nggak merasa?" Amara balas melotot.


"Enggak," balas Dimas dengan mimik wajah polos dan sok lugu.


"Ih ...!" Lagi Amara menggeram sambil mengepalkan tangannya menahan kesal. Kalau saja balas dendam pada seseorang itu tidaklah berdosa, ingin rasanya gadis itu menjejalkan sebelah sepatunya ke mulut Dimas. Biar lelaki itu tau rasa dan diam berhenti menggodanya.


"Bukannya tadi Mas Dimas yang narik-narik aku! Bahkan nggak kasih kesempatan buat aku untuk ngambil sebelahnya lagi. Hu-hu ... padahal sepatu itu masih baru .... Aku bahkan baru dua kali memakainya ...." Amara menyebikkan bibir bertingkah seperti anak kecil sedang menangis. Sedangkan tangannya bergerak mengucek-kucek mata yang sebenarnya kering. Hehe, modus ya.


"Uluh-uluh ... pakai nangis .... Cup-cup-cup," Dimas menarik kepala Amara lalu membenamkannya di dada. Tangannya pun bergerak mengusap-usap puncak kepala si gadis, bersikap seolah-olah tengah menenangkan anak kecil yang sedang menangis.


"Dah, diem. Entar gue beliin sepatu yang banyak. Lo mau berapa? Tiga? Lima? Atau lima belas sekalian?" ucap Dimas masih dengan posisi mengusap lembut jilbab perawatnya.


"Kok ganjil, Mas?" Amara yang kepalanya masih dalam dekapan Dimas bertanya tak mengerti.


"Kan lo udah punya satu ...."


"Aaa ... mana bisa gitu! Jadinya sebelahan, dong! Iya kalau sama, lah kalau beda? Pasti Mas Dimas mau ngerjain aku lagi, kan? Menurut Mas lucu kalau aku pakai sepatu beda warna, nomor nggak sama atau merk yang berbeda. Iya, kan!"

__ADS_1


Dimas tergelak kencang. "Mana, ada! Pikiran lo negatif melulu sama gue." Tersenyum, Dimas menunduk menatap kepala perawatnya. Sedang Amara hanya mendengkus di sana.


"Mas," panggil gadis itu kemudian.


"Hemm. Apa?" tanya Dimas.


"Lepasin kepala aku dong," Amara menggerakkan kepalanya setengah memberontak, sebab tangan Dimas masih menahannya.


"Aku nggak bisa napas. Udah gitu badan Mas Dimas basah keringetan. Hidung aku ikutan basah ...."


Baru menyadari jika masih mendekap kepala perawatnya, Dimas sontak melepaskan gadis itu, dan tertawa melihat Amara menyebik sambil mengusap-usap hidungnya.


"Hahaha ... sesak, ya?" tanya Dimas kemudian walau sesungguhnya ia tahu jawaban gadis itu apa.


"Iya, lah. Masa kepala aku di tahan."


"Maaf, gue nggak sadar."


"Cih, ngapain gue modusin lo? Nggak banget." Dimas memutar bola mata malas saat mengatakan kalimat sanggahan.


Sungguh, saat itu ia hanya ingin menenangkan Amara tanpa embel-embel lain. Bahkan menganggap perawatnya itu seperti bocil yang perlu perlindungan dan masih harus dijaga.


"Dah yuk, kita pulang. Udah siang banget ini, panas kepala gue." Dimas meraih pergelangan Amara lalu membawanya melangkah bersama.


Kali ini Amara bahkan tak menolak ataupun menepisnya. Ia membiarkan pria itu menggandengnya dan bersama menyusuri jalan komplek perumahan elit yang lengang itu.


Hanya diam, pikiran Amara melayang entah ke mana. Ke mana lagi kalau bukan berkelana memikirkan Juan. Sejak pertemuan tanpa diduga tadi, jantungnya bahkan masih berdegup kencang hingga sekarang.


Jujur, ia tak tega melihat wajah Juan yang mengiba padanya, tapi mau bagaimana. Sepertinya jodoh masih belum berpihak pada mereka. Walau tak bisa dipungkiri, Amara begitu berbunga-bunga saat Juan bertekuk lutut dan memohon dengan sangat kepadanya.


Walau tak memiliki tubuh Juan, setidaknya ia merasa pria itu mengasihi, dan itu sudah cukup membuat Amara merasa tenang. Sepertinya gadis itu akan tidur tenang dan mimpi indah malam ini.


Karena melangkah tanpa melihat jalan dan sibuk melamun, tanpa sengaja kaki Amara menginjak suatu benda menonjol di jalan dan itu membuat gadis itu sontak memekik kesakitan.

__ADS_1


Dimas pun terkejut dan sontak membelalakkan mata melihat Amara yang meringis sambil mengangkat satu kakinya.


"Hey, kenapa sih lo?" tanya Dimas sambil menguatkan cengkeraman tangannya untuk menahan keseimbangan tubuh Amara.


"Enggak tau, Mas .... Tiba-tiba telapak kakiku terasa nyeri dan perih," jawab Amara masih dengan wajah meringis. Sepertinya gadis itu benar-benar merasa kesakitan.


"Sakit?" tanya Dimas, dan dibalas anggukan oleh Amara.


"Sakit banget?" tanya pria itu lagi untuk memastikan.


"Iya ...!" tegas Amara dengan ekspresi sedikit kesal.


Dimas mendesah pelan menanggapi jawaban Amara. "Enggak usah ngegas juga dong, gue kan cuma nanya."


"Lagian, udah dibilang sakit, masih juga ditanya-tanya."


"Jangan-jangan kena paku." Tiba-tiba Dimas menggumam mengira-ngira. Sontak Amara membelalak saking terkejutnya. Bahkan sekarang memasang mimik ngeri penuh ketakutan.


"Aaa ... aku nggak mau kena paku. Aku nggak mau kakiku infeksi." Gadis itu melonjak-lonjak dengan satu kakinya hingga membuat Dimas membelalak penuh waspada. Pria itu sontak menahan tubuh si gadis yang hampir limbung.


"Heh, apaan sih! Itu cuma perkiraan gue, belum tentu benar juga, kan! Udah langsung nangis aja. Dasar cengeng!" umpat Dimas dengan tatapan memperingatkan. Amara pun seketika terdiam dan menunduk dalam sambil memberengut.


"Tapi kan sakit," lirih gadis itu.


"Iya, gue tau," balas Dimas. Lelaki itu lantas melihat ke sekeliling dan menemukan sebuah kursi taman tak jauh dari sana.


"Sana yuk, biar gue periksa kaki lo," ajak Dimas sambil menunjuk ke arah kursi itu. Amara mengikuti ke mana arah telunjuk Dimas, lantas menganggukkan kepala usai melihat kursi itu untuk mengiyakan.


Dimas kemudian memapah Amara menuju kursi itu dan mendudukkan gadis itu di sana. Pria berkulit putih itu kemudian menekuk satu lututnya bertumpu pada jalan dan mulai memeriksa kaki perawatnya.


"Wah, berdarah," tutur Dimas setelahnya yang membuat Amara membelalakkan mata.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2