
Dengan tangan memegangi gawai, bibir Dimas pun menyunggingkan senyum penuh haru dengan sendirinya. Matanya juga berkaca-kaca akibat luapan perasaan bahagia yang tak bisa diungkapkan. Meski tak bisa berkata-kata, tetapi ekspresinya sudah menunjukkan kini hatinya sebahagia apa.
Inikah rasanya cinta? Dimas bahkan tak pernah serindu ini terhadap wanita.
Demi meyakinkan Dimas akan kebenaran kata-katanya, Baskoro memang menunjukkan foto-foto Amara kepada Dimas. Usahanya itu berhasil. Ia melihat kebahagiaan di mata Dimas meskipun tampak pula kesedihan akibat rasa bersalah yang sangat dalam. Pria itu bahkan tak henti memandangi foto candid Amara hingga beberapa lama. Larut dengan perasaannya sendiri hingga Dimas seperti terlupa akan keberadaan dirinya juga di sana.
"Dim, lo percaya, kan?"
Pertanyaan Baskoro itu sukses membuyarkan kebahagiaan Dimas yang tengah hanyut dalam kenangan. Pria itu sontak menoleh pada Baskoro sebelum kemudian berdeham pelan.
"Dasar asisten nggak berguna." Dimas mendengkus kesal usai memaki asistennya.
__ADS_1
"Sorry, Dim. Gue bener-bener lupa nggak bawa dompet." Baskoro mengerucutkan bibirnya.
Dimas mendesah pelan sebelum berbicara. "Karena lo nggak bisa diandalin, jadi terpaksa gue pake opsi lain."
"Hah?" Baskoro membulatkan matanya. Ia hanya bisa ternganga ketika Dimas mengembalikan ponselnya lalu bangkit dan berdiri. "Eh Dim, tunggu!" Bangkit dari duduknya pula, ia lantas tergopoh-gopoh menyusul Dimas untuk menghentikan pria itu.
"Apa lagi sih, Bas ...! Lo mau minta supaya gue sabar nungguin usaha lo yang nggak ada hasilnya?" Dimas mendengkus. "Sorry, Bas. Gue udah nggak bisa. Gue udah nggak sabar mau sama-sama Amara lagi."
Dimas hendak melangkah lagi tetapi Baskoro buru-buru menahannya. Pria itu bahkan tak segan menarik lengannya hingga ia merasa malu sebab untuk kesekian kalinya menjadi pusat perhatian. Terang saja Dimas kesal bukan kepalang sebab menilai Baskoro sengaja mencari masalah dengan dia.
"Dim, lo boleh pergi dari sini, tapi plis ... bayarin kopi gue dulu."
__ADS_1
"Hah?" Dimas membulatkan bola mata, sedangkan Baskoro mengangguk untuk meyakinkan.
"Bayarin, ya. Gue nggak mau cuci piring di sini ...." Sambil meringis, Baskoro pasang wajah miris.
"Yassalam." Dimas menepuk dahinya sendiri. Sahabatnya ini benar-benar menguji kesabarannya. Demi bisa cepat-cepat pergi dari sana, ia lantas mengambil sebuah kartu dari dompetnya dan menyerahkan itu pada Baskoro sembari berkata. "Bas, cariin gue tempat pegadaian di sekitar sini, dong."
Baskoro menerima kartu dari Dimas lantas mengangguk paham. "Oke," katanya sambil mengacungkan ibu jari. Ia buru-buru merogoh ponselnya dari saku dan berniat membuka aplikasi google map. Namun, ketika itu tiba-tiba ia menyadari sesuatu hal yang terasa mengganjal dan memutuskan untuk menghentikan.
Benar saja, wajah Dimas terlihat berang ketika ia menatapnya. Akan tetapi, karena ia menanggapi serius setiap ucapan Dimas layaknya sebuah perintah, ia pun memutuskan lebih dulu bertanya hanya untuk memastikan.
"Eh Dim, tapi buat apaan lo nyari pegadaian?"
__ADS_1
Dimas yang sejak tadi menahan geram, pada akhirnya menumpahkan kekesalan. "Buat gadein lo!" pungkasnya sembari berlalu dari sana. Ia terus melangkah tanpa menoleh ke belakang meski telinganya mendengar Baskoro berteriak.
"Eh buset. Lo tega bener jadi orang, sih Dim? Masa iya sahabat sendiri mau digadaikan! Dimas!"