
Sarapan bersama keluarga Sanjaya itu telah usai. Masing-masing anggota keluarga meninggalkan ruang makan guna melanjutkan aktivitas mereka seperti biasanya.
Dimas melihat Amara tampak memaksakan senyumnya dihadapan sang mama, lantas pamit undur diri dan melangkah dengan tergesa-gesa. Karena merasa penasaran, ia pun segera menyusul istrinya guna mencari jawaban.
Sampai di pintu penghubung ruang tengah dan home teather, Dimas sontak menghentikan langkah sebab melihat pemandangan yang menggelitik urat tawanya. Di ujung sana, terlihat Amara tengah berdiri dengan posisi membelakangi. Mengerang tidak jelas, lantas membentur-benturkan kepalanya pada tembok sambil menggentakkan kaki ke lantai. Di mata Dimas, Amara sudah seperti anak kecil yang ngambek sama mamanya lantaran nggak diajak jalan. Uring-uringan nggak jelas lah pokoknya.
Berniat ingin menenangkan, tanpa ragu ia pun menghampiri dan menyapa seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya.
"Mar. Lo ngapain di situ? Lagi main petak umpet sama si Mpus, ya?" Dimas bertanya sembari celingukan, seolah-olah tengah mencari sosok si Mpus di sekitar sana. Si Mpus adalah kucing peliharaan Amel yang dirawat oleh Amara.
Amara yang dahinya nempel dengan tembok sontak mematung. Ia yang semula terpejam sontak membuka matanya lebar-lebar. Sejurus kemudian, ia arahkan tatapan menusuknya pada sang suami yang nggak ada akhlak ini, yang rela mengumpankan istri demi memuluskan keinginannya.
Sontak saja Dimas berjingkat dengan gaya lebay yang dibuat-buat, seolah-olah benar-benar terkejut dengan reaksi Amara terhadapnya.
"Dasar laki-laki lemes. Akan kubunuh, kamu Mas!"
Tanpa peringatan, Amara menghunjamkan bertubi-tubi pukulan ke lengan Dimas. Jelas saja Dimas mengaduh dan berteriak-teriak minta penjelasan. Namun, anehnya pria itu justru pasrah menerima amukan istrinya. Hanya kedua belah tangannya saja yang diarahkan ke depan dengan maksud melindungi wajah. Serta kaki yang bergerak mundur perlahan saat Amara melampiaskan kekesalan.
Pekikan Dimas bahkan tak dihiraukan oleh Amara. Sakit yang dirasakan akibat menyerang tulang kokoh Dimas bahkan diabaikan demi kepuasan batinnya.
Hingga saat punggung Dimas membentur tembok, barulah pria itu menangkap tangan istrinya dan memegangi dengan kuat untuk menghentikan.
"Diam!" sentak Dimas.
Seketika Amara mematung dengan mata beradu tatap dengan Dimas. Dadanya naik turun akibat deru napas yang tak beraturan. Wajahnya merah padam lantaran geram. Dan matanya berkilat penuh kemarahan.
Keduanya masih sama-sama bungkam sampai akhirnya Dimas bertanya dan memecah keheningan.
__ADS_1
"Maksud lo apa ngamuk-ngamuk nggak jelas kayak gitu?"
"Masih nanya! Mas Dimas masih nanya aku ngamuk karena apa!" sentak Amara dengan wajah terangkat seperti sedang menantang.
"Orang lonya nggak ngomong, nggak kasih tau, gimana gue mau ngerti, Amara?" Dimas berucap sambil pasang wajah polosnya.
"Yassalam." Amara menepuk dahinya sendiri sambil menggemertakkan gigi. Tepatnya merasa geram terhadap si suami siri.
Gadis itu mengembuskan napas dalam berulang-ulang berusaha menetralkan perasaan. Kemudian, ia kembali menatap Dimas yang masih pasang tampang bego, dan lalu menjelaskan.
"Tau nggak, Mas?"
"Enggak." Dimas menggeleng cepat, dan hal itu kian membuat Amara jengkel.
"Ih, belum!" pekik Amara geram.
"Hehe, maaf maaf." Dimas sontak nyengir sambil mengacungkan dua jarinya.
Sedangkan Dimas yang awalnya pasang tampang bengong, langsung mengatupkan bibir berusaha menahan tawa. Bisa berabe kalau sampai meledak di depan istrinya. Bisa-bisa ia patah tulang karena dapat hajaran ronde kedua.
"Uluh-uluh kenapa malu?" Dimas memasang wajah gemas selagi membujuk Amara. "Mereka kan mama papa lo juga. Cup, cup, cup, Sayang. Diam, ya. Nanti gue beliin es krim yang banyak biar lo suka."
"Memangnya aku anak kecil!" pekik Amara dengan nada tak terima. Ia menatap Dimas sekilas, menepis tangan yang tengah mengusap punggung untuk menenangkan itu, lalu kembali meneruskan drama menangisnya.
"Huaaaa!"
"Sst, jangan keras-keras. Nanti mama dengar." Dimas berbisik dan memberi isyarat Amara untuk diam menggunakan jari telunjuknya.
__ADS_1
"Mas Dimas jahat," umpat Amara lirih sambil menyeka air matanya.
"Mana ada! Gue justru kebalikannya, tau," protes Dimas tak terima. Pria itu bahkan menyebikkan bibir demi meyakinkan jika tuduhan Amara tidaklah benar.
Menatap Amara yang tampaknya tidak setuju dengan pernyataannya, Dimas pun mengulas senyum dan kembali melancarkan aksi membujuknya. "Yang penting kita bisa beli rumah baru. Ya kan ya kan?"
"Iya, tapi 'kan nggak gini juga caranya!" sentak Amara masih dengan nada tak terima. "Percuma aja semalam kita debat sampe makan waktu berjam-jam. Tapi ujung-ujungnya aku juga yang jadi alasan."
"Kalau nggak gitu Mama nggak bakalan kasih izin, Amara." Dimas setengah membungkuk demi menyejajari tingginya dengan istrinya.
Dipandanginya gadis yang tengah memberengut itu dengan tatapan lembut, lantas menggerakkan tangan dan mengusap pipi basah itu menggunakan ibu jari.
Amara hanya terdiam merasakan sensasi hangat yang diberikan Dimas. Pria itu memang penuh kejutan. Adakalanya bersikap dingin dan acuh. Tak jarang menggoda dengan sikap nakal dan menjengkelkan, tetapi setelah itu selalu berhasil membuatnya nyaman dengan sikap penuh perhatian. Sungguh, pria itu selalu sukses memporak-porandakan perasaan. Dan jika sudah begini, kemarahan Amara langsung lenyap begitu saja.
"Kenapa lo harus malu?" Dimas berucap pelan dan penuh perasaan. "Sama sekali nggak ada yang mempermalukan lo, kok. Justru mama malah antusias banget, kan? Halah, lo tadi juga lihat itu. Beliau dukung kita seratus persen untuk hidup mandiri. Sampai-sampai mau kasih satu rumah beliau yang ada di Pulo Mangga. Yang tiga lantai, ada kolam renang, dan punya lima kamar. Lo sih, yang nggak mau. Tapi gue kasihan juga kalau lo harus bersihin rumah segede itu sendirian. Nggak kelar-kelar, entar."
"Tapi ...."
"Udah," potong Dimas sebelum Amara selesai melayangkan protesnya. "Yang penting kita fokus pada rencana demi masa depan kita yang bahagia. Bahagia dengan pasangan kita masing-masing, maksudnya," ralat Dimas yang membuat hati Amara berdesir nyeri. Entah karena apa. Yang jelas, gadis itu hanya tersenyum getir sembari menganggukkan kepalanya lemah.
"Nah, gitu dong." Dimas tersenyum senang dan berdiri tegak sambil menangkub dua bahu istri sirinya. "Untuk step selanjutnya, kita pilih rumah yang sesuai. Lo maunya yang kayak gimana?"
Amara mendesah pelan. Kini ia terlihat lebih tenang, lalu menjawab dengan sikap pasrah. "Kalau aku terserah gimana kamu aja, Mas."
"Ya nggak bisa gitu, dong." Dimas yang tak sependapat langsung menaikkan nada bicaranya. "Pasalnya, ini rumah bakal jadi milik lo setelah kita nggak sama-sama lagi. Jadi pastikan lo suka dan nyaman tinggal di sana. Ya, walaupun itu cuma dipakai sementara sebab kelak lo bakal hidup bahagia bersama Juan yang tajir, kan?"
Amara sontak tertegun. Entah mengapa, mendengar nama Juan tiba-tiba Dimas sebut membuat pikirannya jadi kalut. Tak ingin membahas ini lebih lama, ia lantas memutuskan berpamitan pada Dimas untuk kembali ke kamar.
__ADS_1
"Kita omongin ini nanti aja ya, Mas. Kepalaku pusing."
"Loh, kebiasaan banget main kabur-kaburan. Ini kita belum selesai debat, woy!" teriak Dimas sambil menatap punggung ramping Amara yang bergerak menjauh.