
"Dengan Pak Dimas Sanjaya?" Teguran seorang Nakes dari bagian administrasi itu seakan jadi penolong Dimas di waktu yang sangat tepat. Perhatiannya dan Amara beralih pada wanita itu secara bersamaan.
"Iya, Sus," balas Dimas dengan senyuman ramah dan anggukan kepala.
"Kamar yang Bapak pesan di kelas Suite VIP room sudah siap digunakan seminggu ke depan. Begitu pula dengan tenaga perawat primer yang Anda inginkan."
Amara langsung mendelik dan menatap Dimas dengan tatapan menuntut penjelasan. Namun, alih-alih memberikan penjelasan, Dimas justru mengabaikan tatapan Amara dan memilih menanggapi pegawai bagian administrasi itu.
"Terima kasih atas responnya yang sangat cepat, Suster. Saya sangat puas."
"Baik. Kalau begitu saya permisi dulu, Pak. Amara." Wanita itu berpamitan, tersenyum pada Dimas dan Amara bergantian.
"Apa-apaan ini, Mas?" Amara bertanya penasaran sepeninggalnya wanita tadi dari sana. Ia bukan tak mendengar wanita itu berbicara. Namun, ia perlu mendengarnya sendiri penjelasannya dari bibir Dimas Sanjaya.
"Lo udah denger sendiri, kan tadi? Jadi apa yang perlu gue jelasin lagi?"
Wajah Amara masih terlihat tegang penuh pertanyaan, tetapi itu justru membuat Dimas melontarkan sebuah tanya bernada curiga.
"Kenapa? Lo nggak suka gue nginep di sini selama seminggu ke depan?"
"Bukan." Amara menggeleng tanpa mengubah air muka di wajahnya. Ada banyak pikiran yang berkecamuk di kepalanya. Namun, motif pria itulah yang menjadi sebuah tanya besar.
"Lalu?" Dimas bertanya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kamu nggak sakit, Mas, buat apa hambur-hamburkan banyak uang untuk sesuatu yang tidak penting?"
Wajar Amara bertanya demikian. Sebagai pegawai di rumah sakit itu, ia tentunya tahu berapa sewa kamar nomor satu di tempat itu.
"Dan untuk tenaga perawat metode primer ... kamu mau sewa siapa, Mas?"
Salahkah bila Amara menaruh curiga pada suaminya? Ia tadi sempat melihat kedekatan Dimas dengan Kalina dan teman-temannya. Entah mengapa ia berpikir Dimas menginginkan salah satu dari mereka. Sebagai ajang balas dendam, mungkin. Bisa saja begitu, kan?
Bukan tanpa alasan Amara berpikir demikian. Ia melihat sendiri bagaimana Dimas marah-marah ketika dia menyentuh pasiennya. Bukan tidak mungkin Dimas akan melakukan perbuatan yang sama terhadapnya nanti.
"Dasar kepo."
Seperti biasa, Dimas akan menjawab asal lalu ngeloyor pergi meninggalkan. Sementara Amara? Hanya bisa menahan kesal dan menatap punggung lebar itu dari belakang.
Amara yang merasa jengkel itu sedikit menaruh harapan saat tiba-tiba Dimas menghentikan langkah lalu menoleh ke belakang, menatap dirinya. Namun, rupanya kata-kata yang kemudian meluncur dari bibir pria bermata tegas itu membuatnya resah dan khawatir.
"Sana! Urus tuh pasien bernama Aldo kalau lo pengen gue beneran acak-acak dia dan rumah sakit ini!"
"Mas tunggu!" Amara berlari menyusul Dimas yang telah berlalu. "Mas, dengar dulu penjelasanku." Ia memohon kepada Dimas sambil terus membuntuti pria itu berjalan. Namun, tiba-tiba ponsel di sakunya berdering dan ia terpaksa menghentikan langkahnya untuk menerima panggilan tersebut.
Benar-benar keadaan yang tidak tepat. Kalina menelponnya di saat-saat begini. Sementara dilihatnya Dimas sudah berjalan menjauh menuju ke arah yang Amara yakini adalah kamar suite VIP yang disewanya.
__ADS_1
Untuk sekarang ini tak ada pilihan lain bagi Amara selain menghampiri Kalina di ruang perawat. Wanita itu tak mungkin menghubunginya jika tak ada masalah penting.
Sampai di ruang perawat, Amara mendapati Kalina dan beberapa teman perawatnya duduk di sana dengan wajah yang tak bersahabat.
"Iya, Mbak. Ada apa manggil saya?"
"Kamu dapat tugas baru, Mar." Kalina menjawab pertanyaan Amara tanpa basa-basi. "Kamu tau kan laki-laki tampan yang datang tadi?"
Amara mengangguk.
"Namanya Dimas Sanjaya. Dia ingin kamu menjadi perawatnya selama seminggu ke depan."
"Kok saya, Mbak?" Amara merasa perlu bertanya demikian pada Kalina. Selain karena dirinya tak menyangka, sikap langsung mengiyakan tugas itu dengan cepat sepertinya akan mengundang kecurigaan teman-temannya nantinya.
"Ya mana saya tau. Dia mintanya begitu." Kalina menjawab dengan ketus. "Sana gih. Datangi dia ke kamarnya. Lagian aneh, ya. Orang jelas-jelas nggak sakit kok minta dirawat. Jangan-jangan dia sakit jiwa? Untung aja orangnya ganteng."
Tanpa sadar Amara mengepalkan tangannya ketika Kalina menggerutu setengah bergumam. Wanita itu jelas-jelas mengatai suaminya. Terang saja ia tak rela. Tapi ia bisa berbuat apa?
Sedang sibuk memikirkan hal itu tiba-tiba Kalina menegurnya untuk mengingatkan.
"Mar, ngapain masih bengong di situ?"
"Iya, Mbak. Aku ke kamar suite VIP sekarang."
Amara mengetuk pintu setelah memantapkan hati untuk menemui Dimas di dalam sana. Tidak ada sahutan yang terdengar, tetapi ia tetap membuka pintu itu kemudian masuk ke dalamnya.
Di atas ranjang sana, ia melihat Dimas tengah duduk santai dengan kaki yang diluruskan. Punggungnya bersandar pada sandaran ranjang yang sepertinya oleh Dimas diatur dengan posisi agak tegak.
Seperti biasanya, pria itu memasang ekspresi dingin setiap kali merasa kesal. Pria itu bahkan tak menyambut kedatangannya dan memilih asyik bermain dengan ponselnya.
"Mas." Amara menegur pria itu dengan suara pelan. "Maksud Mas Dimas ngelakuin ini semua itu apa? Bukankah Mas Dimas trauma masuk rumah sakit? Lalu untuk apa repot-repot menyewa kamar untuk seminggu ke depan? Kenapa tidak menginap di hotel saja yang jelas-jelas lebih nyaman?"
Dimas tak mengindahkan perkataan Amara. Pria itu malah bersikap abai seolah-olah istrinya tidak ada di sana.
"Maaaas!" Amara berseru setengah merengek sambil pasang wajah gelisah. "Kenapa aku didiemin kayak gini sih? Salah aku apa? Mas Dimas masih kesal gara-gara kejadian tadi?"
Tak juga dihiraukan oleh Dimas, Amara mengerang lalu mendekati Dimas dan mengguncang-guncang lengan kirinya.
"Maaas! Jawab dong. Aku ini bukannya patung! Kenapa kamu diemin gini, sih? Oke, oke, aku ngaku salah dan aku minta maaf. Tapi kamu jangan membisu gini dan bikin aku kebingungan dong, Mas! Paling nggak ngomong gitu. Mau marah juga nggak pa-pa aku terima. Tapi jangan diemin aku!"
Dalam hati Dimas ingin terbahak melihat kegelisahan Amara. Ia benar-benar merasa puas lantaran berhasil membuat gadis itu memohon dan meminta maaf tanpa memandang kesalahan terletak pada siapa. Dan sepertinya gadis itu tidak main-main dengan ucapannya. Amara masih menatapnya dengan wajah mengiba.
Tiba-tiba Dimas melepaskan pegangan tangan Amara dan beranjak dari tempat tidurnya untuk kemudian berdiri. Tanpa sepatah kata ia membuka jaket di susul kaos yang warna putih yang melekat di badan. Ia hanya bisa tersenyum kala melihat keterkejutan Amara hingga gadis itu menutup matanya menggunakan telapak tangan.
"Ih, Mas Dimas mau apa sih?" gerutu Gadis itu sambil berbalik badan tanpa sedikitpun membuka matanya.
__ADS_1
"Apaan sih? Itu pikiran bisa dikondisikan, nggak? Jangan ngeres mulu, napa? Orang gue cuma mau ganti baju ini dengan pakaian khas pasien rumah sakit ini, kok."
Amara langsung merutuki kebodohannya sendiri. Bisa-bisanya dia berpikiran liar hanya karena Dimas membuka pakaiannya. Tapi dasar cowok itu juga sih! Masa iya ganti pakaian di depan wanita seperti itu! Apa nggak malu dia?
Amara baru membuka matanya setelah meyakini jika sesi ganti baju Dimas telah usai. Ia bisa mendengar pria itu membenamkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia pun berbalik badan dengan perasaan malu.
"Kunci pintu," titah Dimas sambil mengedikkan dagunya ke arah pintu itu.
"Maksudnya?" Amara malah melontarkan pertanyaan. Bukannya dia tidak mendengar. Namun, ia setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Bukankah ini di kamar rumah sakit? Mungkinkah Dimas akan melakukan hal yang sama seperti saat mereka di rumah? Di kamar mereka?
Tak perlu susah-susah mengeluarkan suara, Dimas hanya perlu membulatkan bola matanya penuh intimidasi maka Amara akan bersikap patuh terhadapnya. Gadis itu benar-benar mengunci pintu meski dengan wajah terpaksa.
Tak langsung kembali mendekati suaminya, Amara justru hanya berdiri terpaku di tempatnya dengan jantung berdebar kencang.
"Ngapain masih di sana? Buruan ke sini."
Amara layaknya kerbau yang dicucuk hidungnya oleh sang majikan. Ia benar-benar patuh menuruti segala keinginan Dimas Sanjaya. Ia sendiri bahkan tidak paham sikap patuhnya itu berlandaskan takut atau justru rasa hormat.
Dimas merentangkan tangannya untuk menyambut Amara demi meredakan ketegangan gadis itu. Sungguh, ia sama sekali tak memiliki niatan untuk menakuti. Ia hanya pria normal yang haus kasih sayang. Salahkah bila dia melakukan segala cara hanya untuk bisa dekat dengan istri tercintanya?
Dimas tersenyum senang saat Amara menyambut uluran tangannya. Ia lantas dengan ringan menarik gadis itu untuk mendekat.
"Buka jilbab lo," titahnya lagi pada gadis itu dengan nada serak dan pandangan berkabut.
"Tapi, Mas, ini di rumah sakit." Amara tak bisa menutupi kegelisahannya. Berkali-kali ia terlihat menatap pintu, meski baru saja dikuncinya.
"Memangnya yang bilang ini di rumah tuh siapa?"
Amara hanya menggeleng sambil menggigit bibir bawahnya. Sayangnya, ia tak tahu jika hal itu membuat angan liar Dimas semakin berkelana. Karena dia, Dimas jadi menatap bibir ranum itu dan berharap bisa merasakannya saat ini juga.
"Gue nggak butuh penolakan," tegas Dimas yang sukses membuat Amara jadi gentar.
Gadis itu mau tak mau akhirnya melepas jilbab meski dengan gerakan lambat. Banyak pikiran berkecamuk di kepalanya. Ia merasa tempat ini sangat tidak cocok dijadikan tempat berduaan meski hanya sebentar. Atau jangan-jangan Dimas akan mengurungnya semalaman?
Dimas terdengar menghela napas melihat gerakan istrinya yang lambat. Ia yang tidak sabaran pada akhirnya membantu gadis itu melepaskan jilbabnya meski dengan cara setengah memaksa.
Dan akhirnya, sesuatu yang ingin ia lihat malam ini terpampang jelas di depan mata. Ialah rambut hitam milik istrinya dengan panjang mencapai pinggang. Dimas bahkan membantu melepas ikatan rambut Amara agar mahkota istrinya itu tergerai dengan bebas.
Kini Amara hanya bisa pasrah setelah kalah telak oleh kuasa Dimas. Ia tahu pria itu tengah memandanginya habis-habisan dengan kedua tangan meremas jemarinya. Dengan posisi tubuh rapat begini, bagaimana jantungnya tidak berdebar-debar? Namun, ia berusaha untuk tetap tenang agar tubuhnya tidak limbung karena kakinya gemetaran. Ia yang awalnya hanya menunduk, akhirnya memberanikan diri mengangkat pandangan demi bisa memandang suaminya.
"Sekarang mau apa lagi? Aku harus gimana lagi biar kamu nggak marah?"
Dimas malah tergelak mendengar pertanyaan Amara. Wajah gadis itu terlihat pucat dan pasrah. Pada saat bertanya pun nadanya terdengar lemah.
"Lo yakin mau lakuin apa pun yang gue mau?" tanya Dimas dengan ekspresi tak biasa, yang membuat Amara sangat menyesal telah menanyakannya.
__ADS_1