
Dimas langsung mengempaskan tubuhnya ke sofa begitu sampai di rumah sore itu. Ia menghela napas lelah sebelum kemudian menanggalkan jas dan melonggarkan dasi yang terasa menyesakkan lehernya.
Amara yang saat itu tengah menata hidangan di meja makan dan mengetahui kedatangan Dimas langsung bergegas berniat untuk menghampiri. Namun, ketika sampai di ambang pintu yang menghubungkan langsung antara ruang makan dengan ruang tengah, ia mendadak ragu dan memilih berhenti di sana.
Dari tempatnya berdiri, Amara bisa menangkap dengan jelas bagaimana wajah Dimas yang terlihat lelah. Pria itu menyandarkan kepalanya, sementara matanya terpejam rapat.
Melihat itu membuat Amara bingung harus melakukan apa. Hendak menghampiri dan memberi perhatian seperti biasanya, tapi ia ragu Dimas akan menerima itu dengan sikap hangat seperti biasanya pula. Namun, jika pun ia bersikap abai dan pura-pura tak peduli, ia yang akan merasa tersiksa melihat pria itu kelimpungan sendirian.
Amara menghela napas panjang untuk menetralkan perasaan. Ia menimbang-nimbang sejenak, sebelum kemudian memutuskan untuk benar-benar menghampiri Dimas. Masa bodoh dengan tanggapan pria itu nantinya seperti apa, yang penting dia sudah berusaha, bukan?
"Mas, mau aku bikinkan kopi?" tanya Amara begitu posisinya sudah dekat dengan Dimas. Kini ia berdiri dengan jarak tiga langkah, dan tengah menatap Dimas yang langsung membuka mata begitu mendengar suaranya.
"Boleh, deh. Yang kayak biasa, ya."
Amara mengangguk, kemudian gegas beranjak ke dapur. Sementara Dimas yang kini sendirian kembali memejamkan mata dan baru membuka ketika Amara datang dan menaruh cangkir kopi beserta toples berisi camilan ke hadapannya.
"Ini kopinya, Mas. Ada kripik kentang juga buat camilan. Atau mungkin Mas Dimas mau aku bikinkan popcorn?" tanya Amara menawarkan.
Dimas menggelengkan kepalanya sembari mengubah posisi duduk. "Nggak usah, Mar. Ini aja udah cukup, kok."
"Okay." Amara mengangguk paham. Ia lantas diam sejenak. Melihat Dimas yang diam sembari memainkan ponselnya, ia berpikir pria itu tak membutuhkan keberadaannya lagi. Terang saja ia memutuskan untuk pergi meninggalkan dari pada tetap di sana tapi tak dianggap ada.
"Mar, mau ke mana?"
Amara sontak menghentikan langkah ketika mendengar Dimas memanggilnya.
"Mau ke dapur, Mas. Cuci piring," jawabnya jujur dengan jari telunjuk menunjuk ke arah dapur.
"Sini dulu, dong ... temenin gue." Dimas memukul pelan sofa kosong di sampingnya, mengisyaratkan agar Amara segera menempatinya.
Amara sontak terperangah. Perlakuan Dimas terhadapnya kali ini benar-benar di luar dugaan. Tadinya ia berpikir Dimas akan marah-marah sebab masih terbawa oleh kejadian tadi. Namun, nyatanya pria itu justru merengek minta untuk ditemani. Akan tetapi meskipun demikian, Amara tetap bersikap patuh dengan mengikuti keinginan Dimas dengan perasaan ikhlas dan senang hati.
Dimas memperhatikan gerak-gerik Amara mulai dari gadis itu berjalan mendekat, duduk di sampingnya hingga bagaimana perubahan sikapnya yang mendadak canggung tak seperti biasanya. Seulas senyum pun tergambar di bibir Dimas selagi dirinya melayangkan kalimat tanya.
"Ngapain lo jadi kaku gitu?"
"Hah?" Amara sontak terperangah. Ia menatap Dimas dengan wajah polos dan bibir sedikit ternganga. Namun, melihat bagaimana ekspresi Dimas yang terlihat santai sembari tersenyum padanya membuat ia mau tak mau ikut tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. "Nggak pa-pa, kok Mas."
"Yakin?"
"Hu'um." Amara mengangguk meyakinkan.
"Gue pikir lo masih kepikiran soal tadi," tebak Dimas yang seketika diiyakan oleh Amara.
"Hehe, iya. Tapi sedikit, sih. Aku takut Mas Dimas frustasi."
Dimas sontak terbahak mendengar itu. Tadinya ia sempat berpikir jika Amara akan marah sebab dituduh sembarangan. Namun, ternyata gadis itu justru malah mengkhawatirkannya.
"Lo ada-ada aja, Mar," ujar Dimas di sela tawa. "Lo takut gue bakalan gantung diri, heum?"
"Ih, Mas Dimas apaan sih? Ya nggak segitunya juga, kali," sangkal Amara sambil memutar bola mata.
__ADS_1
"Ya, kali aja." Dimas menimpali dengan nada santai dan senyum yang mengembang. Namun, Amara tahu jika pria itu tengah mencemoohnya.
Tak berniat menimpali, Amara memilih diam demi menghindari perdebatan.
untuk s5esaat, suasana ruang tengah itu terasa hening ketika sepasang suami istri itu sama-sama terdiam. Masih dengan ekspresi canggung, Dimas dan Amara sama-sama sedang memikirkan topik pembicaraan yang tepat untuk mencairkan suasana.
"Mar, si Juan apa kabar?"
"Uhuk!" Amara yang tengah menyeruput kopinya sontak terbatuk lantaran mendengar nama Juan Dimas sebut. Ia buru-buru meletakkan cangkirnya, kemudian menepuk-nepuk dada berharap bisa membuat tenggorokannya lega.
Dimas yang melihat Amara merasa tersiksa bergerak cepat menepuk punggung gadis itu untuk memberi pertolongan. Sambil mengerutkan keningnya ia pun berbicara dengan nada mengingatkan.
"Kalau minum hati-hati, kali Mar .... Gosah buru-buru kayak dikejar hantu. Gosah khawatir juga bakal ada yang minta. Toh, gue juga punya kopi sendiri, kok."
"Yang buru-buru juga siapa, sih Mas? Namanya juga tersedak. Ya pasti nggak disengaja."
Dimas lagi-lagi terkekeh melihat Amara tampak bersungut kesal saat menanggapi perkataannya. Padahal niatnya hanya bercanda untuk mencairkan suasana, eh ternyata Amara malah tersinggung. Buru-buru saja Dimas mengklarifikasi maksudnya apa.
"Iya, iya, gue ngerti. Gosah marah-marah juga, kali. Kan gue cuma nanyain Juan. Udah lama banget lo nggak nyeritain tentang dia. Dia baik-baik aja, 'kan?"
Amara terdiam selagi ia menatap wajah Dimas. Pria itu juga tengah menatapnya dengan penuh harap, seolah-olah menantikan jawabannya. Buru-buru saja Amara berdeham, pura-pura terbatuk sambil melempar pandangan ke arah lain demi menghindari bersitatap dengan Dimas.
"Iya. Dia baik-baik aja." Dengan nada pelan Amara menjawab pertanyaan Dimas. Gadis itu juga pura-pura sibuk menepuk-nepuk dada, bersikap seperti tengah berusaha membuat nyaman kerongkongannya yang tersiksa akibat tersedak tadi.
Dimas yang duduk disampingnya hanya bisa mengerutkan kening melihat sikap tak biasa istrinya itu. Namun, ia memilih mengabaikan hal itu dan percaya begitu saja. Ia malah memfokuskan pada ketidaknyamanan istrinya.
Terkejut, Amara berjingkat dan menoleh ke arah Dimas saat merasakan sebuah sentuhan. Benar saja, rupanya tangan pria itu mengusap punggungnya penuh kelembutan.
Amara tercengang melihat sikap perhatian yang Dimas tunjukkan. Jantungnya berdebar-debar dan nyaris bawa perasaan. Gegas saja menghalau perasaan tak wajar ini dengan menggeser tubuh sedikit menjauh dan berusaha bersikap biasa.
"Aku nggak pa-pa kok, Mas. Oh iya, Mbak Naura gimana. Dia masih marah sama kamu?" Amara mengganti topik pembicaraan dengan menanyakan kabar Naura. Bukan hanya basa-basi, tapi ia benar-benar ingin tahu mengenai gadis itu.
Menjauhkan tangannya dari punggung Amara, Dimas lantas tersenyum senang.
"Alhamdulillah dia udah nggak marahagi setelah gue kasih pengertian, Mar."
"Alhamdulillah, aku ikut seneng, Mas." Amara tersenyum senang tanpa dibuat-buat.
"Makasih ya, Mar. Gue emang jelasin panjang lebar sama dia biar dia paham. Cinta boleh cinta, tapi jangan buta. Kami belum nikah, jadi nggak seharusnya hidup seatap. Asal lo tau, Mar, sebelum Mama datang kami juga lagi bahas masalah ini, kali. Tapi ya gitu lah, Naura itu orangnya kaku. Dia langsung salah paham aja nanggepin maksud baik gue. Ada bagusnya juga Mama datang, jadinya gue nggak perlu repot-repot mikirin ide buat ngeluarin Naura dari sini demi kebaikan bersama."
Amara mengangguk-anggukkan kepalanya tanda paham akan perkataan Dimas. Sedikitpun ia tak berniat ikut bicara, cukup memposisikan diri sebagai pendengar saja.
"Tapi ya gitu, Mar. Gara-gara ini hubungan gue sama Mama jadi menegang. Kira-kira Mama bakal kasih maaf sama gue nggak ya?"
Tersenyum lembut, tanpa sadar tangan Amara bergerak mengusap punggung tangan Dimas bermaksud ingin memberi dukungan.
"Mama adalah ibu yang baik. Beliau pasti kasih maaf asal Mas Dimas sendiri mau minta maaf. Mas Dimas beruntung masih memiliki orang tua yang lengkap dan sebegitu perhatiannya. Apalah aku yang yatim piatu ini, Mas."
Dimas terperangah mendengar perkataan Amara. Gadis itu menyatukan kedua tangan di atas paha, kemudian mengulas senyum sebelum akhirnya menundukkan kepala. Dimas tahu, itu bukanlah senyum bahagia, melainkan senyuman getir yang menyiratkan luka.
Ah, tiba-tiba saja Dimas merasa iba. Sedikitpun ia tak berniat mengingatkan Amara pada luka lamanya. Karena gadis itu begitu perhatian, ia jadi lepas kontrol dan mencurahkan perasaannya.
__ADS_1
"Mar ...." Dimas menggenggam tangan Amara. "Sorry, ya. Gue udah bikin lo sedih. Swear, gue nggak sengaja," ucapnya dengan nada penuh sesal.
"Nggak pa-pa, Mas. Aku nggak merasa sedih kok. Aku cuma terkenang sama perhatian mereka. Cuma kenangan yang aku punya, jadi sebisa mungkin nggak akan pernah kulupa. Dan buat kamu, hargai mereka selagi masih ada ya. Jangan sampai menyesal seperti aku sekarang."
Dimas hanya terdiam menanggapi perkataan Amara. Ia menatap gadis yang tengah tersenyum itu dengan seksama, kemudian membuang muka sembari mendengkus lirih.
"Andai aja sikap Naura sama kayak lo gini, Mar. Gue yakin mama nggak akan keberatan nikahi Naura," keluhnya kemudian.
"Berarti itu tugas Mas Dimas buat bimbing Mbak Naura sampai Mama mau terima. Kalau memang benar-benar cinta, Mas Dimas harus terima dia apa adanya sekaligus berusaha memperbaiki sikap buruknya."
"Tapi masalahnya Naura itu orangnya susah dikasih tau, Mar. Susah lah pokoknya. Naura itu ambisius. Dia bisa ngelakuin apa aja demi dapatin apa yang dimau. Asal lo tau aja, selama gue pacaran sama dia, Naura udah babat habis semua cewek yang berusaha deketin gue."
"Hah! Dibabat habis–" Amara tak berani melanjutkan perkataannya. Ia hanya menutup mulutnya yang sedikit ternganga menggunakan telapak tangan, sementara matanya membulat saat memikirkan sesuatu hal.
Seolah-olah tahu apa yang saat ini tengah Amara pikirkan, Dimas buru-buru menjelaskan demi membunuh pikiran liar istri sirinya.
"Hey, mikir lo kejauhan. Maksud gue dengan dibabat, si Naura itu ngancam semua cewek-cewek itu biar jauhin gue. Lo jangan salah paham, ya. Dia nggak pernah berbuat lebih dari itu kok, tenang aja."
Amara sontak menghela napas lega. "Owalah, Mas, Mas. Kukira sampai ... hehehe, maaf." Amara nyengir sembari mengacungkan dua jarinya.
"Dia itu tipe cewek nekat. Tapi mau gimana lagi, orang gue cinta." Dimas mencebikkan bibir selagi menatap Amara. Sementara gadis itu hanya bisa tersenyum getir menanggapinya.
Patah hati terparah yang kualami adalah ketika orang yang kucintai justru berkata mencintai orang lain di depan mata. Lebih-lebih lagi dia telah sah berstatus menjadi suami. Bukan hanya sebagai pacar, apalagi hanya sekadar teman. Dan sakit hati paling dalam yang kurasa adalah ketika harus berpura-pura baik-baik saja sedangkan sejujurnya hati ini rapuh porak-poranda.
"Mar, gue mau mandi dulu ya. Udah gerah banget ini badan. Oh ya, thanks buat pengertian lo selama ini ya." Dimas menepuk bahu Amara dengan pelan, yang seketika menjadi penawar akan lara hati gadis itu.
"Sama-sama, Mas."
Dimas yang sudah bangkit sontak menghentikan langkah ketika mengingat sesuatu hal. Ia berbalik badan dan menatap Amara yang saat itu tengah menatapnya juga, tetapi gadis itu mengangkat alisnya sebagai ganti kata tanya.
"Kamar lo gimana?"
"Ya masih terkunci. Kan Mama sengaja bawa pulang kuncinya," jawab Amara jujur, lantas mengatupkan bibir dan menggembungkan pipinya.
Amel memang sengaja melakukan itu setelah memindahkan semua barang-barang Amara ke kamar Dimas. Ia melakukannya sendiri seolah-olah tak merasa lelah.
Dimas hanya bisa tersenyum kecut menyadari sikap absurd sang Mama. Karena merasa tak enak hati, ia pun kembali duduk dan meminta maaf pada Amara benar-benar dari hati.
"Maafin atas sikap nyokap gue selama ini, ya Mar. Gue tau, lo pasti ngerasa nggak nyaman."
Amara hanya tersenyum kaku menanggapinya. Andai pria itu tahu jika ia bahagia menjadi menantu mamanya ....
"Gini aja. Biar lo tidur di kamar gue, sedangkan gue tidur di luar."
"Mas, nggak bisa gitu, dong. Masa iya Mas Dimas terusir dari kamar sendiri! Aku aja yang tidur di sofa depan TV, ya. Aku suka kok."
"Nggak, nggak! Nggak bisa gitu. Lo tuh perempuan, harusnya tidur di kamar, bukan di luar. Kemana wibawa gue sebagai laki-laki kalau biarin lo tidur di luar! Udah jangan ngebantah!" ucap Dimas yang melihat Amara hendak berkata.
Mau tak mau Amara sontak mengunci rapat mulutnya. Percuma juga hal semacam ini harus diributkan.
"Mas Dimas nggak perlu tidur di luar, ya. Aku lupa sebentar lagi aku dapat tugas jaga malam. Jadi untuk seminggu ke depan, aku akan tidur di rumah sakit."
__ADS_1
"Hah?" Mulut Dimas tanpa sadar sedikit ternganga. Entah mengapa, mendengar pengakuan Amara tadi ia jadi merasa tidak rela.