
Suasana sebuah hotel bintang lima terlihat sangat ramai malam itu. Banyak orang berdatangan dengan penampilan terbaik mereka. Namun, karena terlalu sibuk dengan pikirannya, Amara bahkan lupa untuk membaca siapa pemilik acara dari karangan bunga ucapan selamat yang berjejer rapi di depan.
Selagi berjalan, Dimas tersenyum menatap Amara yang tampak terpana oleh indahnya tempat pesta. Gadis itu sama sekali tak mengeluarkan sepatah kata, hanya pandangannya yang sibuk berkelana ke mana-mana.
Saat memasuki ballroom hotel, mendadak Amara menghentikan langkah dan menarik lengan Dimas yang berjalan di sisinya agar ikut berhenti.
"Apaan sih Mar narik-narik?" sungut Dimas tak mengerti.
Tak langsung menjawab, mata Amara justru celingukan ke area sekeliling, lantas menarik lengan Dimas hingga pria itu setengah membungkuk untuk mempermudahnya berbisik.
"Ini acara pernikahan apa bukan sih, Mas? Kok nggak ada pelaminannya?"
Mendengar itu Dimas sontak menatap Amara dengan heran kemudian berdecak.
"Astaga, Amara ...!" Dimas menggemertakkan giginya. "Ada tulisan gede gitu masih juga nggak kebaca!" Ia menggeleng tak habis pikir dan saking geramnya.
"Hehehe, enggak. Aoww!" Amara sontak mengaduh ketika tangan Dimas tiba-tiba menjitak dahinya. Terang saja ia kesakitan lalu lekas-lekas mengusap bagian yang terasa nyeri.
"Mas Dimas sakit ...!" keluhnya kesal.
"Bodo! "
Amara mencebik, lalu menundukkan kepala tanpa sepatah kata. Dalam diamnya ia menyadari jika ketidak tahuannya ini karena salahnya sendiri. Namun, salahkan jika ia bertanya? Tidak salah memang. Salahnya adalah Dimas yang jadi tempat bertanya.
Menghela napas dalam, Dimas kembali menetralkan perasaan. Berusaha meredam kesal dan gemas pada perawatnya. Ia memutuskan melupakan perihal ini demi tidak merusak situasi. Bagaimanapun juga, saat ini mereka berada di tempat pesta. Ia perlu menahan diri agar tak ingin menimbulkan perkara.
"Dah yuk, entar juga tau yang punya acara siapa." Tak mempedulikan ekspresi Amara, Dimas meraih pergelangan tangan gadis itu lalu menggandengnya untuk masuk.
Amara hanya pasrah mengikuti Dimas. Matanya memandangi tangan mereka yang saling bertautan, lalu berpindah menatap Dimas dengan ekspresi heran.
Entah apa yang ada di benak pria itu. Sekian waktu membersamai sebagai perawat, Dimas tak jarang menunjukkan sikap yang berubah-ubah. Sudah tak terhitung lagi berapa kali pria itu berbuat kasar. Layaknya manusia tak berperasaan, ia bahkan seperti tak menunjukkan sejejak sesal usai melukai hati melalui lisan. Dan ketika ceria mulai melingkupi hatinya, justru sikap jahil yang ia tunjukkan.
Namun, terlepas dari rasa sakit tak terperi yang membuatnya bersikap demikian, Dimas juga pintar memberi kejutan tanpa diduga-duga dengan sikap lembutnya. Pria itu begitu lihai menciptakan huru-hara di hatinya.
__ADS_1
Dari semua tingkah laku yang Dimas itu, satu hal yang pada akhirnya melekat di benar Amara. Pria itu sebenarnya memiliki hati yang mulia. Hanya saja keadaan lah yang memaksa.
Amara sontak ikut berhenti ketika Dimas mendadak menghentikan langkah. Dimas yang menyunggingkan senyum sambil melambaikan tangan mau tak mau memaksanya untuk turut mengarahkan pandangannya ke sana, dan ia pun tercekat.
"Tuh, orang yang punya pesta."
Tanpa Dimas ketahui, kata-katanya barusan layaknya sembilu berkarat yang menyayat-sayat. Padahal hanya menatap wajah Juan, tetapi Amara merasakan perih di dalam sana. Dadanya juga terasa sesak. Bahkan matanya juga memanas seperti ingin menumpahkan lahar tak berwarna.
Dimas menatap Amara heran saat merasakan remasan di tangannya. Bahkan tangan Tangan gadis itu mendadak dingin dan basah. Sejurus kemudian, kata-kata lirih pun tak ayal lolos dari bibir Amara dengan nada parau.
"Mas, aku ingin pulang sekarang."
"What?"
Tak ada waktu lagi. Saat Amara hendak berbalik badan, Dimas justru mengeratkan cekalan. Ketika itu sosok Juan pun sudah berada di hadapan, dengan seulas senyum yang sangat menawan. Senyum bahagia yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Hai. Thanks, sudah mau datang dan ... bawa Amara kemari." Juan menyapa Dimas dengan ramah, lalu mengalihkan pandangan pada Amara dengan tatapan penuh puja. "Mar," sapanya kemudian pada gadis itu.
Meski hatinya terasa perih, tetapi Amara berusaha bersikap normal dengan membalas senyuman, meskipun itu terlalu dipaksakan.
Kening Dimas dan Juan mengerut bersamaan mendengar ucapan Amara barusan. Keduanya lantas saling pandang, dengan ekspresi kebingungan. Merasa ada yang tak beres, pada akhirnya membuat Juan memutuskan untuk menanyakannya sendiri pada Amara.
"Maksudnya, Mar?"
Belum sempat mendapatkan jawaban dari Amara, Juan terpaksa menahan rasa penasarannya sebab Dimas kembali menyela dengan tanya
"Oh iya, nyokap sama bokap lo mana? Gue mau kasih selamat sama mereka."
"Selamat?" Amara menatap Dimas dan Juan bergantian dengan ekspresi menuntut penjelasan.
Juan yang hendak menjawab dan sudah mengangkat tangan untuk menunjukkan tempat orang tuanya mendadak urung setelah Amara bertanya. Pria itu kemudian menatap sang sahabat dengan raut yang sulit dijelaskan.
"Iya, selamat," jawab Juan. Ia kemudian menyipitkan matanya, menatap Amara penuh selidik. "Jadi kamu nggak tau kalau hari ini adalah ulang tahun pernikahan orang tua aku? Kamu sudah lupa?"
__ADS_1
"Bu–bukan gitu, Ju." Amara mendadak kikuk. Karena terlalu fokus pada rasa sakit hatinya, ia bahkan lupa tanggal ulang tahun pernikahan orang tua Juan, yang bahkan selama ini ikut menjadi hari spesialnya. Jujur, Amara sempat mengira hari ini adalah hari pertunangan Dimas. Terang saja ia patah hati karenanya.
Amara mengalihkan pandangannya pada Dimas, bermaksud menuntut penjelasan sebab pria itu sama sekali tak memberi tahunya. Namun, alih-alih kata maaf yang dia dapat. Pria itu justru mendelikkan mata seolah-olah tengah berkata 'apa!" dengan bahasa isyarat. Amara bisa apa selain mencebik dan mendengkus kesal.
"Juan, maaf ...." Pada akhirnya Amara hanya bisa mengucapkan kata itu dengan lirih dan penuh sesal. Juan pun terlihat tak mempermasalahkan. Pria itu justru tersenyum sambil membelai bahunya.
"Nggak pa-pa, Mar. Aku ngerti kok, kamu sedang mikirin hal lain."
"Hah, apa?" Amara mengerjapkan mata. Senyuman Juan sontak saja membuatnya curiga. Jangan-jangan pria itu tahu kalau ia tadi sempat cemburu?
"Nanti aja kita bicarain."
Mendengar jawaban Juan yang begitu meyakinkan, Amara hanya bisa menganggukkan kepala dan tersenyum lega.
"Ehemm!" Dimas berdeham kecil yang pada akhirnya berhasil menarik perhatian Amara dan Juan untuk beralih menatap Dia. "Gue berasa jadi obat nyamuk, deh," sindirnya kemudian tanpa memandang muka. Ia justru sok menyibukkan diri memperhatikan area sekelilingnya.
"Maaf, Mas. Bukan gitu maksud aku." Amara yang mendadak merasa tak enak, bergerak mendekat untuk memberi penjelasan.
"Dah lah, gue ngerti kok. Lo pikir gue bawa lo ke sini buat apa? Ya buat Juan, lah."
Amara tersentak. Menatap Wajah Dimas yang menunjukkan seringainya, ia lantas menyipitkan mata. Pada akhirnya ia bisa menyimpulkan jika Dimas mempermak penampilannya hingga sebegini rupa semata-mata hanya untuk menyatukannya dengan Dimas. Sontak saja mata Amara berkaca-kaca karena saking harunya. Dimas memang pintar membolak-balikkan perasaan.
"Udah gak usah mewek. Gak perlu peluk-peluk gue juga. Gue tau lo mau bilang terima kasih, kan?" tebak Dimas sambil menuding Amara dengan telunjuknya.
Tentu saja Amara menyimpul senyum, dan tertunduk malu-malu. Ia kemudian melayangkan pukulan gemas di lengan Dimas.
"Mas Dimas nyebelin!" rutuknya kemudian.
Pada akhirnya mereka pun berpisah. Dimas meminta izin untuk menemui orang tua Juan sendirian. Tentunya dengan maksud agar Amara dan Juan bisa berbicara berdua.
Suasana pesta yang sangat ramai membuat kedua orang tua Juan disibukkan dengan menyapa para tamu undangan yang keseluruhannya adalah teman-teman dan kolega. Dimas melihat itu dari kejauhan, dan memutuskan untuk menunda menemui pemilik pesta untuk sebentar. Ia mengambil segelas jus dan melangkah menuju tempat duduk yang disediakan untuk sekadar duduk sebentar.
Namun, sebuah cekalan di tangannya berhasil membuatnya berhenti dan menoleh.
__ADS_1
"Naura?"
Bersambung