Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
High heels versus pantofel


__ADS_3

Ekspresi Dimas yang marah langsung berubah cerah ketika melihat sosok sang mama datang ke tempat kerjanya. Namun, ada yang lebih membuatnya bahagia hari ini. Ialah sosok yang berdiri di belakang mamanya, Amara.


Pilihannya mengenakan long coat warna pastel untuk menutupi outfit warna senada benar-benar tepat. Dimas semakin terkagum oleh kecantikan serta gaya berbusana Amara yang elegan. Gadis itu terlihat berkelas.


Siapa lagi yang telah memberikan hadiah semacam ini kepada istrinya jika bukan sang Mama? Maka dari itu ia tak henti menyanjung pengertian mamanya akan pilihan wanita yang ia cinta.


Dimas tak menampik jika gaya berpakaian Amara sangat sopan serta modis sebelum ini. Tentunya ia menyesuaikan dengan budget-nya sebagai perawat. Namun, pesona gadis itu sedikit tertutupi lantaran Amara lebih banyak mengenakan pakaian dinasnya yang itu-itu saja.


Terlepas dari itu semua, apa pun penampilan Amara bukanlah sebuah masalah untuk Dimas. Toh ia sudah mencintai Amara sejak lama, hanya saja Dimas terlambat menyadarinya. Bukannya menampik perasaan yang dianugerahkan oleh Tuhan. Ia hanya berusaha tetap setia lantaran waktu itu ia masih menjalin kasih dengan Naura. Dan kini Dimas menganggap itu semua sebagai proses pembelajaran agar kedepannya ia bisa lebih menghargai anugerah Yang Kuasa.


Setelah Dimas selesai menyapa Amelia dan berterima kasih atas kejutannya, perhatiannya pun beralih pada Amara yang masih berdiri mematung di sana.


Entah apa yang tengah dipikirkan gadis itu. Amara hanya memandangnya saat Dimas berjalan mendekat. Wajahnya juga tampak memucat.


Ah, masa iya Amara gugup? Dimas membatin.


Lantaran bingung harus menyambut kedatangan istrinya dengan cara apa, Dimas hanya bisa menyunggingkan senyum saat sudah berdiri berhadapan. Mungkin ia tak menyadari jika ternyata senyumannya itu mampu merontokkan jantung Amara seketika.

__ADS_1


Ia sengaja menatap istrinya dengan kepala miring sambil bersedekap dada, seolah-olah tengah menilai penampilannya untuk menarik perhatian Amara agar gadis itu bicara. Namun, yang ada malah Amara makin salah tingkah.


"Hai."


Itulah kata pertama yang terlontar dari bibir Dimas Sanjaya. Sangat singkat meski dengan nada ceria. Memang sangat tidak etis jika dia yang dingin mendadak jadi bucin hanya karena wanita itu mengubah penampilan. Apa tanggapan Amara nanti, coba? Bisa-bisa gadis itu menilainya jatuh cinta hanya karena rupa. Dimas sangat tidak suka. Ia tak ingin Amara salah paham.


Satu-satunya cara agar Amara tetap bersikap seperti biasa adalah sikapnya yang wajar pula saat berbicara dan bertindak. Setidaknya bisa membuat Amara lebih santai sebab ia bisa menangkap ketegangan pada ekspresi istrinya saat ini walau belum bisa memastikan penyebabnya apa. Entah karena ada mamanya atau karena tempat ini masih terasa asing bagi Amara.


"Tumben dandan kayak gini? Baju perawat lo mana, hah?"


Amara mengangkat alisnya saat Dimas tergelak setelah bertanya. Dasar. Dianya merasa tegang malah pria itu menertawakan. Memangnya apa yang lucu? Ia malah sempat berpikir Dimas akan terpesona, tetapi nyatanya? Tak ada yang bisa ia lakukan selain mencebik, pura-pura kesal karena Dimas menertawakannya.


Tak banyak yang bisa Amara lakukan selain diam dan patuh mengikuti langkah Dimas dengan sepasang mata memandangi dua tangan yang bergandengan ... mesra. Rupanya di balik rasa bahagia terselip pula rasa sesal di benak Amara.


Bagaimana tidak? Karena gandengan tangan inilah Dimas jadi tahu telapak tangannya yang sedingin salju. Hal itu terlihat jelas ketika Dimas mengisyaratkan Amara untuk duduk di sofa berdampingan dengan dia.


Bukannya mengurai gandengan, Dimas justru kian mengeratkan sembari menggosok punggung tangan Amara menggunakan tangan yang lain seolah-olah tengah menyalurkan kehangatan. Pria itu juga menatapnya dengan senyum penuh perhatian.

__ADS_1


Ya Tuhan, bukannya merasa tenang, Amara justru semakin tegang.


"Kalian sudah makan siang?" Tiba-tiba Amelia bertanya dan mengalihkan perhatian keduanya.


"Belum, Tante." Baskoro yang angkat bicara menjawab pertanyaan Amelia.


"Hari ini kalian mau makan apa? Biar Mama yang carikan. Bas, kamu temani Tante cari makan di luar, ya," ajak Amelia pada Baskoro yang berdiri di sisi kirinya. Pria itu memang sengaja mempersilahkan Amelia menempati kursi kerjanya.


"Ngapain harus repot-repot, Tante? Sekretaris Dimas setiap hari menyiapkan makanan untuk kami ke ruangan ini, kok. Tinggal bilang mau menu apa, entar dia bergerak siapkan semua. Santai aja." Baskoro yang tak tahu apa-apa, berceloteh dengan percaya dirinya. Ia tak menyadari tatapan penuh isyarat yang Amelia hunjamkan.


"Tapi Tante kan baru datang, Bas. Tante mau siapkan yang enak-enak buat Dimas. Nggak pa-pa, kan?" Amel berucap penuh penekanan pada kalimat terakhirnya.


Sementara Baskoro yang semula tampak biasa saja mendadak meringis lantaran menahan nyeri di bawah sana. Apa lagi jika bukan karena kaki yang tertimpa high heels mahal yang membalut kaki Amelia.


Amelia memang sengaja menginjak kaki Baskoro lantaran merasa gemas. Rupanya pemuda itu benar-benar tidak peka.


"Nggak pa-pa dong, Tante ... nggak pa-pa. Dimas pasti suka ini." Akhirnya Baskoro berucap demikian setelah memahami arti tatapan penuh isyarat Amelia. Kini ia juga bisa bernapas lega lantaran sepatu hak tinggi yang menimpa sepatu pantofel mahalnya itu berpindah tempat. Ia pun berinisiatif untuk mengajak Amelia segera berangkat.

__ADS_1


"Yuk, Tante. Aku tunjukkin restoran yang menyajikan makanan paling enak kesukaan Dimas."


__ADS_2