
Sebenarnya Amara masih tak rela meninggalkan tempat itu. Ralat. Lebih tepatnya Dimas, suaminya. Ia masih tetap ingin berada di sana untuk melihat sampai sejauh apa perbuatan suaminya.
Apa maksudnya coba, tiba-tiba datang ke tempatnya bekerja. Mungkinkah pria itu benar-benar sakit? Ataukah hanya ingin memamerkan pesonanya di depan wanita lajang. Atau mungkin ingin menggoda teman-temannya yang tak tahu apa-apa?
Sejujurnya Amara merasa geram dengan perilaku teman-temannya yang mendadak oleng hanya karena seorang pria. Mereka seperti bersaing ingin menarik perhatian suaminya.
Cemburukah dia? Entahlah. Yang jelas, saat itu ingin rasanya ia berteriak jika dirinyalah istri pria itu, tapi sayangnya ia tak punya cukup nyali. Karena baginya ini seperti sebuah judi, yang mana dirinya harus mempertaruhkan diri. Sementara hasilnya hanya ada dua pilihan. Dirinya akan malu sendiri karena tidak diakui, atau merasa bangga karena diakui istri oleh Dimas Sanjaya.
Akhirnya beginilah sekarang. Ia hanya bisa menahan kesal lantaran Kalina tiba-tiba menunjuknya mengurus keluhan pasien. Pantas saja Vira sering sekali menggerutu. Sebagai ketua tim, Kalina terkesan asal menunjuk bawahan.
Sampai di depan pintu kamar VIP yang terletak di lantai enam, Amara menghentikan langkah. Ia mengambil napas dalam dan mengembuskannya perlahan untuk sekadar menetralkan perasaan.
Ia lantas memasang senyum secerah mentari saat hendak memasuki ruangan itu. Bagaimanapun juga, keadaan emosionalnya tak boleh sampai mempengaruhi pelayanan pada pasien.
"Selamat malam, Mas Aldo." Amara menyapa dengan suara riang selagi berjalan menghampiri. Sementara pria yang sedang berbaring di ranjang sana tampak mendengkus kesal sebelum kemudian memalingkan wajahnya.
"Suster kenapa lama sekali, sih?" Pria bertubuh tinggi dan berkulit putih itu kemudian menggerutu sembari menatap Amara dengan ekspresi kesal.
"Maaf, Mas Aldo, bukannya ini disengaja. Saya tadi berada di lantai dasar, jadi butuh sedikit waktu untuk sampai kemari. Oh iya, ada keluhan apa, Mas? Apa yang bisa saya bantu?" Amara yang berdiri di sisi ranjang akhirnya bertanya ramah sembari memperhatikan pasiennya. Ia sedikit lega setelah melihat keadaan pria itu baik-baik saja. Tidak seperti perkiraan sebelumnya yang memaksanya harus berlari saat hendak kemari tadi.
__ADS_1
"Selang infus saya, Sus," keluh Aldo sambil pasang ekspresi gelisah. "Masa iya nggak habis-habis dari tadi. Jangan-jangan mampet, tuh. Kalau selangnya mampet, gimana bisa air infusnya masuk ke tubuh saya? Kalau nggak masuk ke tubuh saya, gimana saya bisa sembuh! Kalau nggak sembuh juga, gimana saya bisa pulang, Suster!"
"Sebentar saya cek, ya Mas." Amara berusaha menenangkan setelah sejenak mendengarkan keluhan Aldo. Usai memeriksa botol serta selang infusnya, ia mengembuskan napas kesal walau bibirnya tetap menyunggingkan senyuman.
Aldo adalah pasien yang spesial menurut beberapa perawat dan dokter di rumah sakit itu. Pria itu menghuni salah satu kamar perawatan VIP itu tiga hari yang lalu setelah didiagnosa mengalami radang pada tenggorokannya. Hanya sendirian. Tak terlihat orang tua atau atau sanak saudara yang menjaganya. Mungkin karena itulah ia sering sekali memanggil perawat untuk datang dengan keluhan sepele, bahkan terkesan mengada-ada.
"Selang infusnya aman kok, Mas. Masih menetes sesuai takarannya. Mas Aldo bisa lihat sendiri, kan?"
Aldo memutar bola mata malas setelah melihat botol infus miliknya yang ditunjukkan oleh Amara.
"Itu kan sekarang, setelah Suster memperbaikinya," ucapnya berkilah.
"Enggak, Mas. Dari tadi juga begitu kok. Beneran." Amara berusaha meyakinkan.
"Oh ya?" Amara mengerutkan keningnya. Entah mengapa ia tak yakin dengan penuturan Aldo itu.
"Beneran Sus. Periksa aja kalau nggak percaya."
Amara mengembuskan napas sebelum kemudian menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Coba saya periksa, ya. Tapi sebenarnya kalau memang ada kotoran di mata itu sangat terasa loh. Terasa mengganjal dan itu sangat menggangu sekali bagi pandangan. Apa mata Mas Aldo benar-benar merasakannya?"
"Iya Sus, beneran. Makanya saya minta diperiksa. Apa Suster masih nggak percaya?" Aldo menaikkan intonasi bicaranya demi menyembunyikan rasa gugup. Perawat di depannya itu menatapnya seperti menyelidik. Ia tak ingin kebohongannya tentang kelilipan itu diketahui sang perawat cantik.
"Bukannya nggak percaya, Mas. Saya sedikit ragu sebab tadi Mas Aldo terlihat baik-baik saja. Oke, saya akan periksa, ya." Amara akhirnya menyerah walau hatinya menyimpan keraguan. Namun, demi kepuasan pasien, apa pun akan ia lakukan.
Sebelumnya ia mengisyaratkan pada Aldo untuk memperbaiki posisinya berbaring, lalu kemudian meminta izin untuk memeriksa sepasang mata yang dikeluhkan pria itu. Ia menggunakan senter kecil untuk mendukung pencahayaan. Hasilnya, ia sama sekali tak ditemukan benda asing yang menggangu di sana.
"Sudah ya Mas, tapi setelah saya periksa tidak ada kotoran apa pun di mata Mas Aldo, tuh."
"Ah masa sih, Sus." Nada bicara Aldo terdengar menyangsikan perkataan Amara. "Jangan-jangan Suster tuh yang belum maksimal saat memeriksa. Bisa ulangi lagi tidak? Sekali saja." Kini Aldo berucap dengan nada seperti memohon sambil menunjukkan satu jarinya.
Sementara Amara sendiri, apa lagi yang bisa dilakukannya selain menganggukkan kepala dan kembali memeriksanya dan mendesah pelan setelah melihat hasilnya. Pria ini benar-benar sedang menguji kesabarannya.
"Hasilnya tetap sama, Mas. Nggak ada kotoran setitik pun di mata Mas Aldo."
"Suster yakin?" tanya Aldo lagi. Pria itu kini menatap Amara sangat lekat dengan jarak yang cukup dekat. Amara sendiri sampai terlupa untuk menarik tubuhnya setelah barusan memeriksa pria itu.
"Sangat yakin, Mas."
__ADS_1
"Tidak ada sesuatu apa pun di sana? Emmm ... misalnya, bayangan wajah Suster sendiri, mungkin."
Amara sontak menarik tubuhnya sedikit mundur. Entah mengapa ia merasa nada bicara Aldo agak berbeda dari biasanya kali ini. Terdengar sangat lembut dan nyaris ... sensual. Terlebih lagi tatapan mata pria itu. Begitu intens dan cenderung seperti mendamba pada dirinya. Amara berharap itu hanya perasaannya saja sebab kini ia mulai merasa takut membalas tatapan pria itu.