
"Jangan sentuh istri saya."
Bola mata Kalina langsung membulat begitu mendengar Dimas mengucapkan itu penuh penekanan. Kata 'istri' yang diungkapkan Dimas jelas-jelas menegaskan jika keduanya telah terikat tali pernikahan.
Ia lantas mengalihkan pandangannya kepada Amara untuk memastikan. Ia meneliti bagaimana reaksi Amara. Tampaknya gadis itu sama terkejutnya dengan dia oleh kedatangan Dimas yang tanpa diduga. Namun, dari sikap yang Amara tunjukkan, gadis itu sama sekali tidak menyangkal perkataan Dimas. Amara bahkan terlihat pasrah ketika Dimas memperlakukannya penuh kasih sayang.
Dari sini Kalina kian sadar, ia telah melakukan kesalahan besar.
Dimas mengempeskan tangan Kalina dengan kasar, lalu mengalihkan pandangan ke arah Amara di dekapannya.
"Kamu nggak pa-pa, Sayang?" tanyanya sambil meneliti gadis itu dengan seksama, seolah-olah ingin memastikan bagaimana keadaan istrinya.
Kalina bisa melihat dengan jelas raut cemas di wajah Dimas. Melihat itu ia hanya bisa menggigit bibir bawah.
Amara langsung menggeleng demi menenangkan hati suaminya. "Aku baik-baik aja. Kamu nggak usah khawatir, ya."
Kalina yang sempat bernapas lega kembali terlihat tegang ketika tatapan tajam lagi-lagi Dimas hunjamkan.
"Kamu nggak usah takut lagi, Sayang. Ada aku di sini. Aku bisa memenjarakan dia dan semuanya yang ada di sini sekarang juga. Saya memiliki videonya sebagai bukti kuat untuk memperkarakan kalian semua. Atau paling tidak, kalian akan dipecat dan nama kalian akan di-black list dari rumah sakit dan klinik mana pun." Tangan Dimas menunjuk tegas ke arah Kalina ketika kalimat berbau ancaman itu ia lontarkan.
Terang saja, semua yang Dimas sebut langsung bergidik takut. Termasuk teman-teman Kalina yang berada di ruangan yang sama. Meskipun tak separah Kalina, mereka tak bisa menampik turut andil dalam pembulian ini.
"Pak Dimas tolong jangan lakukan itu, Pak. Saya mohon jangan penjarakan kami." Kalina yang merasa sebagai ketua, memberanikan diri angkat bicara. Ia maju mendekati Dimas, memohon dengan segala kerendahan hatinya. Menebalkan muka dari rasa malu yang menjalar, berharap mendapatkan keajaiban Dimas masih memiliki belas kasihan.
"Tolong, Pak, saya bisa jelaskan jika semua ini hanya salah paham."
"Salah paham?" Dimas menyahuti Kalina mengutip sepeninggal kata-kata gadis itu dengan penuh penekanan. Giginya yang menggemertak itu menegaskan jika dirinya tengah geram. Matanya menatap Kalina dengan kilatan kemarahan.
Mata berkaca-kaca Kalina bahkan tidak mampu membuatnya terpengaruh. Meski wanita itu bersikeras melakukan pembelaan, tetapi matanya sudah cukup jeli menilai dari apa yang telah disaksikan.
"A-li-bi." Satu kata Dimas itu sukses membuat Kalina putus asa.
Seumur hidupnya, mungkin Kalina tak pernah menyangka akan berada pada posisi seperti sekarang ini. Ancaman penjara sangat-sangat mengerikan baginya. Belum lagi reputasi yang yang selama ini dia bangun dengan susah payah terancam hancur dan berantakan. Jadi pengangguran meski telah menyandang gelar sungguh-sungguh menyedihkan.
"Jelas-jelas ini bukanlah salah paham. Ini adalah akibat orang yang selalu ingin tahu urusan orang!" imbuh Dimas setelahnya.
Kalina tertunduk malu. Sindiran Dimas memukulnya sangat telak. Akan tetapi, kemudian ia sadar jika yang Dimas katakan itu adalah benar. Harusnya ia fokus pada urusannya sendiri, bukannya malah menyelidiki urusan orang lain. Rasa irinya pada Amara memicu penasaran yang luar biasa. Ia telah bertindak gegabah sebelum menyelidiki lebih dalam mengenai kebenarannya. Jadinya begini kan, sekarang.
__ADS_1
"Ayo Sayang. Kita urus kasus ini sekarang juga agar tidak ada lagi korban selanjutnya." Dimas menarik tangan Amara, tetapi gadis itu malah menahannya sehingga Dimas merasa bingung dan menatap istrinya dengan kening yang berkerut.
"Sayang dengar aku. Lihat aku." Amara menangkub wajah Dimas dan memaksa pria itu menatapnya dalam-dalam. "Kamu lihat sendiri aku nggak pa-pa, kan. Aku baik-baik aja. Aku minta, lupakan semuanya karena ini murni kesalahpahaman saja."
Dimas terdiam sejenak, sebelum kemudian berucap dengan nada tegas.
"Enggak bisa."
"Bisa!" balas Amara pula tak mau kalah. "Mereka semua temanku. Mereka hanya ingin yang terbaik untuk rumah sakit ini. Aku yang salah, Mas. Aku yang merahasiakan pernikahan kita hingga memicu salah paham. Mereka tidak tahu apa-apa, tetapi yang mereka lakukan ini sudah benar."
Dimas mendengkus mendengar pembelaan istrinya. Amara, Amara. Mulia benar hati dia. Padahal Dimas sudah bela-belain berbohong demi membelanya. Bahkan video yang ia gunakan sebagai ancaman itu sebenarnya tidak ada. Memang benar kata Amara. Amara yang salah karena memicu kesalahpahaman. Mungkin jika sejak awal mengakui status mereka sebagai suami istri, kejadiannya tidak akan begini.
Akan tetapi, yang menyulut emosinya adalah perlakuan para perawat itu yang tidak mencerminkan wanita terpelajar. Ia tidak terima istrinya ditindas. Dimas sungguh tidak rela.
"Benar bagaimana!" Dimas memprotes dengan sinis. "Ini penindasan, Sayang. Ini nggak bisa dibiarkan."
Amara menghela napas. Ia sadar, berdebat dengan orang ini dia tidak akan bisa menang. Dipandanginya iris coklat suaminya itu dengan teduh, lalu digenggamnya pula jemari Dimas dengan penuh kelembutan. Seketika Dimas tampak menautkan alis tebalnya, membalas tatapan istrinya dengan ekspresi penasaran. Dan seketika drama membujuk pun dimulai.
"Sayang, aku tau kamu khawatir. Aku tau kamu cemas. Tapi aku beneran nggak papa. Ini cuma salah paham dan semuanya udah selesai."
"Belum selesai." Dimas menegaskan setelah beberapa saat terdiam. Ia berdeham kecil sebelum melanjutkan perkataan. "Okay, kita tidak akan memperkarakan hal ini. Tapi ... dengan satu syarat."
Penuturan Dimas ini tak pelak membuat semua yang ada di sana bernapas lega kendati belum mengerti persyaratannya apa. Toh cuma satu, kan.
"Apa itu persyaratannya Pak?"
***
Amara hanya pasrah mengikuti Dimas kala pria itu membawanya kembali ke kamar. Gadis itu tak mengeluarkan sepatah kata meski Dimas yang sejak tadi menggandengnya berceloteh terus-terusan. Entah apa yang pria itu katakan, ia bahkan tidak mendengar. Pikirannya hanya mendengungkan kata-kata Dimas beberapa saat lalu sebagai syarat untuk memaafkan teman perawatnya.
Sebelumnya ia tak menyangka jika persyaratan yang Dimas ajukan terlalu berat baginya. Bisa-bisanya pria itu memanfaatkan keadaan demi kepentingannya sendiri. Ia memang datang layaknya malaikat baik, tetapi akhirnya menjelma menjadi iblis yang hendak merampas haknya.
"Mar, kok diam aja, sih?" Dimas bertanya heran begitu keduanya sampai di kamar. Ia menjatuhkan diri di sofa, lalu memandangi istrinya yang berdiri mematung di hadapannya.
"Mas Dimas jahat," lirih Amara dengan wajah penuh kesedihan.
"Jahat gimana sih, Mar? Sini dulu deh, duduk sini. Kita omongin baik-baik ya." Dimas menarik pelan tangan Amara dan membawa gadis itu duduk di sisinya. Sebenarnya ia hendak membawa gadis itu ke pangkuan, tetapi ia berusaha menahan diri dan menjaga istrinya dari rasa tidak nyaman.
__ADS_1
"Kenapa harus surat pengunduran diriku sebagai persyaratannya sih, Mas! Lalu mata pencaharianku nanti bagaimana? Ilmu pengetahuan yang selama ini susah payah kudapatkan bakalan dipakai apa? Kamu mikir nggak sih Mas. Jangan suka asal kalau bicara!" Amara tak bisa menahan diri lagi. Ia menyembur Dimas dengan beberapa pertanyaan yang intinya memprotes tindakan Dimas.
Namun, Dimas justru tetap bersikap tenang sembari mengurai senyuman di bibirnya.
"Jadi lo masih nggak rela? Bukannya tadi udah menyanggupi?" tanyanya dengan nada mengingatkan.
"Itu terpaksa, Mas, sebab aku nggak ada pilihan lain. Mas ... aku mohon batalin persyaratan itu, ya. Atau paling tidak, beri aku waktu untuk memikirkannya."
"Gue bisa aja batalin syarat itu. Tapi, apa lo nggak malu sama mereka? Udah sok-sokan berkorban eh nyatanya masih masuk kerja."
"Tapi mereka juga nggak ingin aku resign, Mas."
"Oh ya?" tanya Dimas dengan nada meragukan yang seketika membuat Amara bungkam. Gadis itu menunduk sedih.
Dimas menggamit dagu Amara dan memaksa gadis itu menatapnya.
"Mar, gue ngelakuin itu bukannya tanpa alasan, kali. Gue cuma mau lihat gimana reaksi mereka. Lo udah keren banget rela ngorbanin karir demi mereka. Dan dengan cara begini pula lo bisa lihat sedalam apa mereka anggap lo teman."
Dimas menghentikan ucapannya sejenak dan memperhatikan Amara yang tertunduk sedih dan diam seribu bahasa. Ia menghela napas panjang, lalu membenamkan kepala Amara di dadanya.
"Udah, ga usah sedih-sedih gitu. Lo boleh kerja lagi seperti biasa kok. Tap jangan salahin gue kalau gue sampai nekat jadi pasien setiap kali lo giliran jaga malam."
Amara tersentak mendengar kata-kata Dimas yang mengandung ancaman itu. Ia mengangkat kepalanya, mendongak menatap Dimas. Ia hendak melayangkan protes keras, tetapi urung lantaran rupanya Dimas juga tengah menatapnya. Senyumannya begitu menawan. Ah, ia jadi tak ingin merusak momen manis ini dengan perdebatan yang tak berujung.
Pria itu, walaupun ketus dan pemaksa tetapi memiliki hati yang mulia. Amara tak akan melupakan jasa-jasa Dimas tadi. Entah apa yang terjadi padanya jika Dimas tak datang tepat waktu. Mungkin ia sudah dibuat malu tingkat dewa oleh teman-temannya.
"Mas ... makasih banyak karena Mas Dimas udah datang dan belain aku. Aku nggak tau apa yang akan terjadi kalau Mas Dimas nggak datang tadi."
"Santuy," jawab Dimas sambil mengusap kepala Amara.
"Emm ... Mas, besok aku udah ganti shift siang."
Mata Dimas langsung berbinar mendengarkan penuturan Amara. "Itu artinya kita bisa tidur di rumah?"
Amara mengangguk.
"Yeyyy!"
__ADS_1