
Siang telah berganti malam, dan pastinya matahari telah berganti bulan. Usai mengurus makan malam Dimas, Amara tengah berada di dapur untuk membuatkan minuman panas untuk pria itu.
Seperti biasa, setelahnya Amara menyuguhkannya pada pasien paling menyebalkannya itu di tempat yang diinginkan.
"Silahkan, Mas," ucapnya seraya menaruh cangkir yang terbuat dari keramik di atas meja tepat di sisi kiri Dimas.
"Hem," Dimas hanya menjawab dengan gumaman, sedangkan tangan serta pandangannya tetap fokus menatap layar laptop.
Merasa tidak dibutuhkan lagi, Amara lantas melangkah hendak menuju pintu untuk mengembalikan nampan ke dapur. Namun belum sempat tangannya menyentuh tuas pintu, langkahnya harus terhenti saat tiba-tiba Dimas memanggil. Ia pun segera berbalik badan dan menghadap ke arah Dimas yang sedang menatapnya.
"Mau ke mana, lo?"
"Mau ke dapur. Balikin nampan."
"Nanti aja balikin nampannya. Lo duduk dulu, ada yang mau gue omongin habis ini." Dimas mengedikkan dagu ke arah sofa, untuk mengisyaratkan agar Amara menempatinya, lalu mengembalikan fokusnya pada laptop.
Untuk beberapa saat, hanya keheningan yang membentang di ruangan itu. Berada di lantai dua, ruang kerja milik Dimas ini berukuran sedang dengan desain mewah dan elegan. Dimas sengaja memilih warna pitch orange yang lembut dengan sentuhan sedikit coklat pada bingkai-bingkainya. Ruangan itu sendiri tak terlalu terang namun juga tidak nampak suram.
Suasananya pun nyaman, tenang, dan penuh privasi. Dengan situasi dan tatanan sekeren ini, bisa dipastikan penghuninya dapat betah berlama-lama bekerja dengan bergairah sekaligus memperoleh inspirasi kapan pun ia mau.
Kursi yang sedang diduduki Dimas pun tampaknya empuk dan sangat nyaman, tentu saja dilengkapi perangkat hidrolik demi fleksibilitas posisi ketinggiannya.
Amara sendiri masih tampak sibuk mengamati ruangan yang baru kali ini ia masuki. Di diding bagian depan, tampak menempel beberapa foto keluarga dalam bingkai berukuran sedang, berikut dengan foto wisuda Dimas serta beberapa piagam penghargaan yang pernah didapatnya.
Furnitur utama, yaitu kursi dan meja kerja terletak di sisi kiri. Sementara di kanannya terdapat kabinet penyimpanan lengkap dengan rak buku untuk perpustakaan mini. Juga ceruk dengan wallpaper bermotif klasik untuk menempatkan perangkat elektronik.
Sedangkan kini Amara tengah duduk di sebuah sofa putih berlapis kulit sintetis yang begitu nyaman dan elegan. Letaknya berada di sisi kiri, lurus dengan posisi Dimas.
Sebuah jendela kaca berukuran besar yang menyajikan pemandangan taman tampaknya sengaja ditempatkan di belakang kursi kerja. Mungkin bertujuan untuk menyegarkan ruangan, atau barangkali menyegarkan pandangan si pemilik saat rasa penat dan bosan mulai melanda.
"Ngapain lo diam aja? Masih kesel sama gue?" pertanyaan Dimas memecah keheningan. Namun lelaki itu sama sekali tak menatap lawan yang di tanya.
__ADS_1
"Enggak, kok."
"Ya, iya lah! Ngapain juga kesel sama gue. Yang ada juga, harusnya berterima kasih karena udah gue selamatin. Tapi kayaknya nggak ada tuh yang bilang terima kasih."
Huh, dasar perhitungan. Amara membatin kesal. Tapi apa boleh buat, hanya ucapan terima kasih, bukan? Daripada dia ngomel-ngomel. Awas saja kalau sampai minta upah.
Tersenyum sangat manis, Amara lantas berucap. "Terima kasih sudah menyelamatkan saya, Mas. Sampai dua kali, lagi. Mas Dimas keren," pujinya seraya mengacungkan jempolnya.
Dimas menatap Amara sesaat dan berdecih, kemudian berucap namun tetap menatap layar laptopnya. "Baru tau kalau gue keren?"
Astaga, ini yang bikin sebel nih, virus narsisnya. Kalau dipuji sifat sombongnya langsung melejit ke langit.
Di tempatnya, diam-diam Dimas terseyum melihat Amara yang tengah menyebik sambil buang muka. Entah meremehkan atau bagaimana, sepertinya gadis itu tak menyukai sifat narsisnya. Bodo amat, yang penting gue suka.
Bangkit dari tempatnyanya, Dimas lantas duduk mengambil posisi di sofa seberang Amara dengan punggung yang bersandar, sementara kakinya menyilang. Keduanya lantas saling pandang dalam diam.
"Mas Dimas mau ngomong apa?"
Tak bisa menahan penasaran lebih lama, akhirnya Amara memutuskan untuk bertanya.
"Hah?" Amara terkesiap. Wajahnya langsung merona malu. Seharusnya lelaki itu tak perlu tahu sebab ia menerima pekerjaan mengurusnya. Bukankah memalukan jika ketahuan latar belakangnya menerima kerja karena terbelit hutang piutang?
Dimas melipat kedua tangannya di depan dada, lantas menyipitkan mata selagi menatap perawatannya.
"Lo dijanjiin gaji berapa sama mama?" tanya pria itu kemudian dengan wajah penasaran.
Amara yang semula menunduk, sontak mengangkat pandangan, lalu menggeleng pelan. Dimas sendiri langsung menautkan alis dan membuka lipatan tangannya, bersikap seolah-olah bingung. Pria itu menegakkan punggungnya dan menatap intens pada Amara.
"Hah? Yang bener? Masa iya lo mutusin kerja tapi nggak tau gajinya seberapa!"
"Sejak awal datang sampai sekarang, memang belum ada pembicaraan khusus mengenai gaji saya, Mas. Nyonya hanya mengatakan saya akan mendapat bonus besar andai bisa merawat Mas Dimas sampai sembuh."
__ADS_1
"Dan lo percaya!"
"Kenapa tidak? Saya yakin, Nyonya tidak mungkin berniat untuk menipu."
"Dari mana lo tau?"
"Dari keyakinan hati saya."
"Cih!" Dimas berdecih. "Semua perlu kejelasan, Amara. Termasuk juga gaji dari suatu pekerjaan. Lo mau beli kucing dalam karung?"
"Nggak papa, asalkan isinya tetep kucing."
"Kalau ternyata anjing?"
Amara terdiam. Entah mengapa ia merasa kemarahan Dimas itu seperti tengah menunjukkan simpatinya.
Memang benar apa yang dikatakan Dimas. Semuanya butuh kejelasan. Hal yang sebenarnya sangat penting tapi ia dengan sengaja mengabaikan. Amara bahkan tak pernah memperhitungkan berapa besar gajinya, selama itu cukup untuk membayar hutang serta bisa menghindar dari Juan.
"Jadi selama beberapa bulan ini mama belum pernah bayar lo sama sekali?"
"Pernah!" jawab Amara cepat sebelum Dimas naik pitam. "Saya hanya minta lima juta untuk membayar hutang saja, dan membiarkan sisanya tetap pada Nyonya sampai saatnya nanti saya minta. Karena kebutuhan saya di sini sudah ditanggung Nyonya sepenuhnya, jadi saya pikir lebih baik membiarkan sisanya pada Nyonya sebagai tabungan." Amara diam sejenak lalu menatap Dimas penuh curiga. "Mas Dimas sendiri kenapa tidak mempercayai Nyonya?"
"Bukannya gue nggak percaya sama Mama. Gue cuma mikirin kesejahteraan Lo!"
"Terima kasih atas perhatian Mas Dimas. Tapi saya terima kok, berapapun gaji yang akan diberikan nyonya pada saya."
Dimase mendesah pelan melihat sikap nerimo perawatnya.
"Oke, karena Mama lagi di Amrik dan belum balik, jadi masalah kontrak kerja lo biar gue yang urus."
Amara terkesiap dan menatap Dimas dengan ekspresi terkejut. "Kok, kontrak Mas?"
__ADS_1
"Ya, biar jelas." Dimas lantas bangkit usai menjawab. Amara sendiri hanya diam sembari memperhatikan pasiennya itu kembali menyibukkan diri di meja kerja. Beberapa lama kemudian Dimas bangkit dengan membawa dua lembar kertas di tangannya.
Bersambung