
"Udah, ah. Aku mau berangkat dulu." Masih memasang mimik sebal, Amara berlalu pergi begitu saja meninggalkan Dimas. Ia tak ingin berlama-lama di sana dan mendengarkan ledekan pasien absurd itu.
Sedangkan Dimas justru terbahak melihat sikap malu-malu yang berusaha keras Amara sembunyikan. Jelas-jelas wajah gadis itu bersemu merah tapi masih saja menyangkal juga.
"Cie cie ...!" goda Dimas lagi dengan nada lebih tinggi. Ia masih menatap punggung ramping yang bergerak menjauh itu.
Saat mencapai ambang pintu, Amara menoleh sejenak. Saat mendapati Dimas masih memperhatikannya dengan tawa yang mengejek ia lantas mendengkus sebal.
"Malu nih, ye! Suit, suit." Dimas bersiul-siul.
"Mas Dimas ini ngetawain opo, to?"
Dimas sontak menoleh saat mendengar suara Ely. Wanita itu muncul dengan tergopoh dan memasang wajah penasaran. Ia yang sedang sibuk di dapur dibuat bertanya-tanya oleh tawa menggelegar Dimas. Demi mengetahui hal itu ia bahkan sampai mematikan kompornya agar bisa ditinggalkan.
"Ngetawain Amara, Bi," jawab Dimas sambil menunjuk ke arah pintu
Jelas saja pandangan Ely langsung mengikuti arah yang Dimas tunjuk. Namun, wanita itu justru mengerutkan keningnya.
"Memang Amara kenapa, to? Terus bocahnya mana?" tanyanya sambil celingukan.
Sontak Dimas langsung mengalihkan pandangan ke arah pintu, dan tak mendapati gadis itu di sana.
"Loh, udah ngilang bocahnya. Bibi sih, telat datang," celetuk Dimas sambil berlalu.
"Loh, Mas Dimas juga mau ke mana?" Ely yang kembali penasaran memutuskan mengikuti langkah Dimas selagi bertanya.
"Mau kerja, lah Bi."
"Kerja? Memangnya Mas Dimas sudah benar-benar sehat?"
Dimas menghentikan langkah, lalu memutar badan menghadap Ely. Ia tersenyum ceria sambil merentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Apa aku kelihatan seperti orang sakit?"
Ely memperhatikan penampilan Dimas, kemudian geleng kepala.
"Ya enggak, sih. Tapi kan semalam Mas Dimas seperti kambuh gitu," celetuk Ely.
"Lain semalam lain sekarang, Bi. Aku bahkan merasa kondisiku saat ini lebih baik dari sebelumnya. Udah, ah. Nggak usah khawatir berlebihan. Aku bisa jaga diri, kok."
Di tengah pembicaraan keduanya, tiba-tiba Mamad muncul dan berhasil menarik perhatian Dimas dan Ely. Keduanya menoleh bersamaan saat pria paruh baya itu melayangkan tanya.
"Mas Dimas sudah siap? Mari saya antar."
"Loh, Pak Mamad kok di sini. Amara mana?" Dimas yang melihat Mamad masih berada di rumah tak bisa menahan diri untuk bertanya. Seharusnya pria itu mengantar Amara ke rumah sakit seperti biasanya.
"Mbak Amara sudah jalan duluan, Mas," jelas Mamad.
"Lah, kok dibiarin jalan duluan? Harusnya Pak Mamad ngantar dia ke rumah sakit, kan!" Wajah Dimas yang semula ceria kini mendadak berubah tegang. Tampak sekali ia tengah direjam kecemasan.
"Amara, Amara. Tuh bocah susah banget sih dibilanginnya," desahnya sambil geleng kepala. Sedangkan Mamad dan Ely hanya bisa saling tatap diam diam.
Diam sejenak, Dimas terlihat memikirkan sesuatu. Sejurus kemudian, ia pun mengangguk-angguk tipis saat menemukan ide brilian.
"Pak, kunci mobil mana?" tanyanya sambil menunjukkan telapak tangan.
"Mas Dimas jangan nyetir sendiri, Mas. Bahaya. Biar Bapak antar, ya. Toh Mbak Amara mau pesan taksi online, kok," tolak Mamad sambil berusaha membujuknya.
"Pak, kunci mobil mana?" Meski diucapkan dengan intonasi pelan, namun nada penuh tuntutan Dimas itu mau tak mau membuat Mamad menyerah dan memberikan kunci mobil Dimas.
Sementara di jalan komplek perumahan rumah Dimas, Amara tampak berjalan di sisi kiri. Sesekali ia menatap ke depan dan terkadang di belakang. Bukan karena ingin menyeberang, tetapi taksi online yang dipesannya tadi belum menunjukkan tanda-tanda kehadiran. Ia sudah mulai gelisah. Waktu terus bergulir, sedangkan ia belum juga bertolak pergi. Maka, demi menghemat waktu, ia memutuskan untuk berjalan sembari menunggu taksinya datang.
Tin ... tin ...!
__ADS_1
Amara yang semula melamun langsung berjingkat mendengar bunyi klakson sangat nyaring dari arah belakang. Gegas ia menoleh dan mendapati sebuah mobil yang sangat familiar di matanya. Bukannya senang, ia justru mendesah sebal. Saat mobil benar-benar berada tepat di sisinya, ia justru malah membuang muka.
"Cewek ... temenin Abang, yuk," ajak Dimas setelah menurunkan kaca pintu. Senyuman menggoda juga masih terpatri jelas di wajahnya.
Melihat Amara hanya bergeming, Dimas kembali melancarkan aksi membujuknya.
"Mar, gue anter, yuk."
"Nggak usah. Makasih." Amara menjawab ketus.
"Eh, jadi cewek nggak boleh jutek-jutek. Lihat tuh, mukanya jadi jelek," goda pria berkaca mata hitam itu dengan ekspresi serius sambil menunjuk wajah Amara.
Namun, Amara tak terpancing begitu saja. Gadis dengan balutan pakaian khas perawat itu hanya memasang ekspresi datar dan acuh. Sedangkan Dimas sendiri bukanlah tipe pria yang pantang menyerah. Pria itu memutar otak dan berusaha membujuk Amara dengan cara lain.
"Lo lupa ya kalau gerbang kompleks ini penjagaannya sangat ketat. Semua orang asing yang mau masuk ke sini harus melewati pemeriksaan lengkap. Pastinya itu memakan waktu, kan. Kayaknya gitu juga deh sama sopir-sopir taksi online. Makanya taksi pesanan kamu nggak datang-datang."
Dimas diam sejenak demi melihat reaksi Amara. Ia sengaja menaikkan kaca mata yang bertengger di atas hidung bangirnya.
Ah, sepertinya usahanya masih belum membuahkan hasil. Sebab gadis itu masih saja betah bergeming.
Tak habis akal, ia kembali memakai jurus lain.
"Oh iya, gue denger-denger Dokter Khanza jam sebelas nanti mau ada kunjungan ke luar kota untuk penyuluhan, ya. Kebayang nggak, kalau lo baru nyampai rumah sakit jam setengah dua belasnya. Hahaha, auto nyengir dah tuh. Silahkan aja kalau lo betah nunggu Dokter Khanza sampai besok lusa! Gue jalan dulu, ya ...!" Dimas mengenakan kembali kaca matanya, lalu bersiap-siap menjalankan mobil.
Menyadari jika omongan Dimas ada benarnya, Amara jadi bimbang untuk mengambil keputusan. Sejenak ia merasa bingung, antara mempertahankan harga diri atau mengabaikan rasa malu dan berpura-pura tuli agar tak mendengarkan celotehan pria itu.
Baru hendak mengambil keputusan, mobil Dimas tiba-tiba sudah melesat dari sisinya. Mobil itu dengan kencang. Terang saja Amara Panik bukan kepalang. Rupanya kata-kata Dimas tadi ampuh membuatnya kepikiran. Gegas gadis itu berteriak kencang memanggil Dimas agar berhenti saat itu juga.
Sialnya, deru mobil mahal Dimas terlalu nyaring memekakkan telinga, hingga pria itu tak mendengar suaranya.
Tak patah arang, Amara melepas sepatunya demi bisa berlari mengejar Dimas.
__ADS_1
"Mas Dimas ikuuuuut!" teriaknya sambil berlari dengan tangan mengacungkan sepatu. Namun, sayangnya itu tetap tak berhasil. Mobil Dimas justru semakin bergerak menjauh.