Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Salah paham


__ADS_3

Dimas yang malam itu harus lembur, baru sampai rumah setelah pukul sebelas malam. Naura yang rupanya masih terjaga bergerak cepat membukakan pintu untuknya. Terang saja Dimas merasa senang melihat gadis itu terlihat begitu sumringah saat menyambut dirinya pulang.


"Akhirnya kamu pulang juga, Sayang. Aku udah nungguin kamu dari tadi, lho. Capek ya?" Naura bertanya sambil merangkul lengan Dimas dengan mesra, dan kini keduanya berjalan ke arah ruang tengah.


"Lumayan capek, lumayan ngantuk juga, hehe." Dimas menjawab pertanyaan Naura diiringi senyuman yang menawan. Perasaan haru begitu nampak dari sorot mata, melihat gadis itu benar-benar ingin mengubah sifat buruknya. Diusapnya dengan lembut puncak kepala sang kekasih yang saat itu hanya mengurai rambut sebahunya.


"Jangan tidur dulu, ya ... aku masih kangen sama kamu." Naura merengek manja sambil memanyunkan bibir, lantas melabuhkan kepalanya pada dada Dimas yang berdiri di depannya.


Dimas hanya bisa tersenyum sambil menghela napas saat Naura merapatkan tubuh dan melingkarkan kedua tangan ke pinggangnya. Ia menyadari, akhir-akhir ini terlalu sibuk hingga waktu untuk membahagiakan sang kekasih jadi berkurang.


"Tapi ini sudah malam, Sayang. Tidur, ya ... besok aku harus bangun pagi-pagi sekali," ujar Dimas memberi alasan setelah melirik jam tangannya. Untuk membuktikan jika rasa sayangnya sedikit pun tak berkurang, dikecupnya pula kening sang kekasih itu dengan penuh cinta.


Kepala Naura sontak menggeleng demi menunjukkan sikap penolakan. Gadis itu bahkan sengaja bertingkah menggemaskan dengan menggembungkan pipinya.


"Tapi aku pengen ngobrol dulu sama kamu. Sebentar ... aja. Ya, ya. Plis ...." Naura mengeluarkan jurus memohon yang ampuh dengan menangkupkan kedua tangan di depan dada. Lebih-lebih dengan bola mata yang mengiba. Ah, jelas saja hal itu membuat Dimas tidak tega.


"Okay, Sayang ... tapi, sebentar aja ya." Dimas menyanggupi dengan sebuah syarat yang rupanya diterima baik oleh Naura. Membuat gadis itu tersenyum girang sembari berhambur memeluk dirinya.


Keduanya lantas memutuskan menjalin kebersamaan sembari nonton film. Duduk pada sofa yang sama, Naura menyadarkan kepalanya pada bahu kiri Dimas dengan manja.


Seolah tak ingin menyiakan momen kebersamaan, Dimas pun merentangkan tangan kirinya sebelum kemudian merengkuh bahu Naura dan membawanya ke dalam dekapan.


Keduanya saling pandang, sama-sama tersenyum, lalu kembali mengikis jarak dalam pelukan meski mata terarah pada televisi yang menyala.


"Dimas," lirih Naura setelah beberapa saat keduanya terdiam.


Dimas langsung merespon dengan menjawab panggilan kekasihnya dan mengangkat wajah cantik itu agar bisa saling pandang.


"Kemarin kau sudah meninggalkanku sendirian di hotel, untuk sekarang ... bisakah aku meminta sesuatu sebagai gantinya?"


Sebenarnya Dimas ingin langsung menjawab, akan tetapi karena rasa kantuknya begitu hebat, tiba-tiba saja ia menguap.

__ADS_1


"Sayang ...." Dengan mata yang dipaksakan tetap terbuka, Dimas berusaha memberi pengertian pada Naura. "Apa pun yang kau minta pasti akan kuberikan. Apa pun itu. Tapi ... tidak sekarang, ya. Aku sudah ngantuk berat. Mata udah bener-bener minta tidur, nggak bisa dipaksa untuk terjaga. Lagian, Amara juga udah tidur, Sayang. Aku nggak mau dia kebangun dan salah paham lihat kebersamaan kita."


Naura mendesah pelan. Ia terpaksa menelan mentah-mentah keinginannya yang bahkan belum sempat ia katakan. Ia tahu betul jika Dimas pria yang baik dan penyayang. Sekalipun segala permintaannya sudah pasti akan dipenuhi, tapi tetap saja kali ini ia tak bisa memaksa.


"Ya udah. Kamu tidur, gih. Biar besok pas bangun tidur badan kamu kembali segar."


Naura sama sekali tak menunjukkan sikap kecewa atas penolakan Dimas. Ia bahkan menyunggingkan senyuman semanis gula dan perhatian sehangat senja. Ah, bisa dipastikan Dimas makin sayang terhadapnya.


"Makasih, Sayang. Yuk, aku antar kamu ke kamar."


Naura tak menolak saat Dimas membantunya berdiri dan menggandeng tangan membawanya ke kamar. Ia bersikap patuh selayaknya istri pada suami. Tanpa peduli jika ada sebuah hati yang ternyata diam-diam tersakiti.


Ketika membimbing Naura naik ranjang dan menutupi tubuh gadis itu dengan selimut tebal, mata Dimas tiba-tiba terpaku pada sosok yang tengah meringkuk di sisi Naura.


Ya, Amara terlihat kedinginan lantaran selimutnya tersingkap lepas dari badan. Dimas menyadari suhu AC kamar itu terlalu dingin, sedangkan ia ingat betul jika Amara tak terlalu menyukai ruangan dingin dan lembab. Gadis itu bisa demam, atau parahnya lagi bisa terserang flu dengan seketika.


Tanpa sadar, tangan Dimas refleks menutupi tubuh Amara dengan selimut. Ia memperlakukan Amara yang tengah terpejam layaknya bocah yang perlu di jaga, bahkan sampai tak menyadari tatapan tak suka dari Naura.


"Ekhem!" Naura berdeham kencang seolah-olah sengaja menyadarkan Dimas. Berhasil, Dimas sontak menoleh padanya dan bersikap layaknya maling yang tertangkap basah.


Meski Naura berbicara dengan nada pelan, tetapi Dimas bisa menangkap dengan jelas jika kalimat itu terlontar dengan nada menyindir yang kental. Pria itu segera mengangguk dan membentang jarak dari Amara.


"Iya, Sayang. Aku tidur di kamar, ya." Dimas tersenyum, lalu berbalik badan dan melangkah hendak keluar. Namun, ketika sampai di ambang pintu, ia sontak menghentikan langkah ketika merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Kenapa, Sayang. Ada yang tertinggal?" tanya Naura sambil menyipitkan mata. Ia mengawasi gerak-gerik Dimas yang tampaknya masih berat untuk beranjak. Benar saja, pria itu berbalik badan lalu berjalan mendekat padanya.


Tanpa sadar, bibir Naura mengembangkan senyum kemenangan. Ia menatap Dimas dengan penuh puja dan berpikir pria itu akan menciumnya sebagai salam perpisahan malam ini. Namun, senyum itu seketika lindap seiring tangan Dimas yang bergerak meraih remote AC di atas nakas.


"Sayang, suhu AC-nya dinaikin ya. Kasihan Amara kedinginan. Dia nggak bisa tidur dengan suhu sedingin ini. Nggak pa-pa, kan?"


Diam-diam Naura menggemertakkan giginya penuh kejengkelan. Jelas sekali jika Dimas mulai menaruh simpati pada Amara kendati pria itu tak mengakui akan adanya perasaan cinta. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus terlihat tak cemburu di depan Dimas, apalagi pada Amara yang jelas-jelas bukanlah gadis tipe Dimas.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Aku ngerti kok. Lebih baik aku kegerahan daripada Amara jatuh sakit," ujarnya dengan senyuman yang dipaksakan.


Naura mendengkus kesal ketika Dimas sudah pergi meninggalkan kamar Amara. Ia melirik sinis ke sisi kiri, di mana Amara masih terlelap di sana. Antara benci dan cemburu, tiba-tiba ia merasa posisinya sebagai kekasih Dimas sudah tak aman lagi karena gadis itu.


Ini bukanlah kali pertama Dimas menunjukkan perhatiannya pada Amara. Pria itu bahkan sudah berulang kali mengungkapkan segala perilaku baik Amara di depan Naura. Begitu menggebu-gebu dengan sorot mata penuh puja yang terang saja menimbulkan perasaan cemburu di benak Naura. Wanita mana yang akan tahan jika sang kekasih memuji wanita lain saat sedang bersama?


Seketika Naura bangkit dari pembaringan. Gadis itu berpikir perlu melakukan sesuatu sebelum terlambat. Maka, dengan langkah cepat, ia berjalan keluar kamar dan menaiki tangga menuju lantai dua.


Dimas yang baru selesai mandi langsung membuka pintu kamar begitu mendengar suara ketukan. Pria yang hanya mengenakan piyama mandi itu tampak terkejut melihat Naura datang.


"Sayang, ada apa?" tanyanya heran.


"Sayang ... aku boleh pinjam handphone kamu sebentar?" tanya Naura setelah diam sesaat untuk mencari alasan agar bisa masuk ke dalam.


"O, handphone? Ada di nakas, Sayang. Sebentar ya, aku ambilkan." Tanpa berpikiran buruk sama sekali, Dimas berniat mengambilkan ponselnya. Ia tidak sadar jika ternyata Naura mengikutinya di belakang.


Dimas yang sudah mendapatkan ponselnya segera berbalik badan, berniat untuk memberikannya pada Naura. Namun, tanpa dia sangka, Naura justru mendorongnya dengan sekuat tenaga hingga ia terjerembab dan terlentang di atas ranjang.


Seolah-olah tak ingin membuang kesempatan, Naura bergegas menyusul dan menindih Dimas dengan sikap agresif.


"Naura, apa yang kamu lakukan?"


Masih dikuasai rasa bingung, Dimas bertanya dengan ekspresi heran. Ia masih berusaha mengendalikan diri untuk tidak marah meski dirasanya sikap Naura kali ini sudah sangat keterlaluan.


"Aku ingin memilikimu seutuhnya, Dimas. Nikahilah aku secepatnya. Menunggu hingga kau menceraikan Amara bagiku terlalu lama. Apa kau rela jika ada orang lain yang mendahuluimu?"


Dimas terperangah mendengar penuturan Naura. Ia bukannya tidak mau. Namun, baginya menikah itu bukanlah hal sepele yang bisa dilakukan kapan saja tanpa persiapan. Ia bahkan sudah pernah merasakan itu dengan Amara, dan hal yang dilakukannya dengan terpaksa itu membuatnya merasa tak nyaman hingga sekarang. Sekalipun mempelainya adalah Naura, ia sama sekali tak berniat memiliki istri dua. Lebih-lebih Naura adalah gadis yang dibenci orang tuanya.


Dan ketika itulah Amara muncul dengan penuh kemarahan. Menegur ia dan Naura dengan wajah merah padam. Bahkan sama sekali tak mau percaya meski Dimas mengatakan yang sebenarnya.


Ketika Amara pergi, Dimas berniat mengejar untuk meluruskan kesalahpahaman. Namun, tiba-tiba Naura menahannya dengan satu alasan.

__ADS_1


"Percuma juga kamu kejar, Dimas. Saat ini Amara sedang marah. Wanita biasanya sulit menerima alasan ketika sedang marah. Biarkan dia menenangkan diri dulu, dan nanti aku akan coba bicara sama dia."


Mau tak mau Dimas patuh dan menyerahkan semuanya pada Naura. Ia berpikir kata-kata Naura ada benarnya. Mungkin karena sama-sama wanita, Naura lebih memahami perasaan Amara.


__ADS_2