
Dimas langsung lemas dan tak bergairah mendengar istrinya tak ada di rumah. Ia juga tak bersemangat melakukan aktivitas apa pun setelahnya. Jadi sulit tidur. Padahal sudah dua jam yang lalu ia naik ke ranjang dan hanya berguling ke kiri dan kanan.
Baru juga beberapa jam ditinggal Amara dinas malam ia sudah kelimpungan. Apalagi untuk beberapa hari ke depan? Lebih-lebih lagi seterusnya.
"Ini nggak bisa dibiarin. Ini nggak bisa dibiarin!"
Dimas langsung bangkit saat itu juga. Ia lantas melesat ke bilik tempat pakaian untuk mengganti piyama yang dipakainya dengan pakaian kasual ala anak muda. Tak lupa pula mengenakan jam tangan serta mengambil sebuah jaket warna hitam dari salah satu lemarinya.
Ketika sedang menuruni tangga, ia bertemu dengan Amelia yang rupanya sedang mengambil minuman dari dapur.
"Loh Dim, malam-malam begini mau kemana?" tegur wanita itu dengan ekspresi heran.
"Mau ke rumah sakit, Ma," jawab Dimas sekenanya.
"Mau ngapain? Mau datangin Amara?" Wanita itu kembali bertanya setengah menebak. Namun, ketika Dimas hanya diam seolah-olah mengiyakan, ia lantas menggeleng tak percaya. "Jangan ganggu istrimu kerja, Nak, dia punya tanggung jawab yang harus dilaksanakan."
"Dimas bukannya mau ganggu, Ma. Dimas cuma pengen ketemu." Dengan sikap tak mau tahunya, Dimas berlalu begitu saja. Ia bahkan tak mempedulikan nasihat mama kandungnya. Lantas, apa lagi yang bisa Amelia lakukan selain geleng kepala sembari menatap punggung lebar putranya.
"Dasar. Kalau sudah kena virus cinta ya gitu, tuh. Nggak bisa berjauhan."
***
Dimas sudah menghentikan mobilnya tepat di tempat parkir rumah sakit besar itu. Namun, seketika perasaan ragu mendadak datang dan batinnya seakan-akan meneriaki untuk pulang.
Dimas menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan untuk menetralkan perasaan.
"Ya Allah, gini amat sih punya istri perawat. Kerjanya di tempat yang bikin gue trauma masuk ke sana. Tapi gue nggak bisa jauh dari dia. Gimana dong?"
Setelah mengumpulkan keberanian, Dimas akhirnya memutuskan untuk masuk ke tempat itu dengan mantap.
Dimas sengaja menunggu hingga lewat tengah malam untuk masuk ke tempat itu. Demi apa? Tentu saja agar pengunjungnya sepi dan ia tak perlu mengantri.
Meski jantungnya berdebar kencang, tetapi ia berusaha tetap tenang saat masuk ke dalam. Ia melihat sekumpulan wanita berpakaian perawat tampak berbincang di dekat meja pendaftaran. Namun, sepertinya tidak ada sosok Amara di sana. Itu membuatnya ragu hingga nyaris menghentikan langkah. Kalau gadis itu tidak ada, usahanya akan sia-sia.
Akan tetapi, sesaat kemudian ia melihat sesosok muncul dari arah lain sambil membawa beberapa kertas di tangannya. Dimas pun tersenyum lega dan memantapkan langkahnya.
***
Amara menghampiri Kalina–kepala perawat dalam timnya–yang saat itu sedang berada di area meja pendaftaran untuk memberikan laporannya.
"Mbak, ini laporan beberapa pasien kita hari ini, dan semuanya udah aku kerjakan dengan rapi. Silakan dicek, Mbak," ujarnya ketika menyerahkan.
Kalina langsung menerima berkas itu dan memperhatikan isinya sekilas. "Oke. Makasih, ya," ucapnya pada Amara.
"Sama-sama, Mbak." Amara mengangguk. Ia masih berdiri di sana selagi Kalina memeriksa pekerjaannya. Namun, seketika perhatiannya dipaksa beralih pada sosok teman yang mendadak berseru penuh kekaguman.
"OMG, ganteng banget."
__ADS_1
"Iya ganteng banget." Yang lain pula menimpali.
"Astaga, ini bukannya udah lewat tengah malam ya? Itu manusia apa penampakan hantu?"
"Jelas manusia, lah. Tuh lihat, kakinya aja napak."
"Eh, tapi wajahnya kayak nggak asing, ya?
"Masa? Siapa sih?
"Ssstt. Diam, diam. Dia makin dekat." Yang lain lagi berbisik mengingatkan.
Terang saja reaksi teman-temannya itu mengundang rasa penasaran Amara, sehingga buru-buru saja mencari objek yang sepertinya begitu dipuja itu.
Seketika mata Amara membulat saking terkejutnya. Tangannya juga refleks membungkam mulut yang mendadak ternganga.
Mas Dimas? Mau apa dia ke sini?
Seperti biasa, pria itu terlihat segar dan tampan. Kali ini dengan balutan celana jeans dan jaket berukuran pas di badan untuk melapisi kaos polo warna putih yang dikenakannya. Ia menyingsing lengan jaketnya itu hingga memperlihatkan jam tangan mahalnya. Pantas saja para perawat itu tampak histeris melihat kemunculan sosok pria nyaris sempurna itu.
Seketika Amara bingung harus melakukan apa. Ingin kabur dan lari? Tapi untuk apa? Sedangkan Dimas bukanlah polisi yang harus ditakuti penjahat dan maling. Dan lagi dirinya juga bukan maling. Ingin menegurnya sebagai istri? Iya kalau dirinya diakui. Keputusan paling aman adalah pura-pura tidak kenal.
Oke. Kita tidak kenal, Mas.
"Permisi." Dimas memulai dengan menyapa ketika mencapai meja resepsionis. Nada bicaranya terdengar sopan. Bahkan dibubuhi senyuman manis.
"Ya Mas, ada yang bisa kami bantu?" Vira yang angkat bicara untuk menjawab sembari bangkit dan mendekat.
Meski tak berniat menegur Dimas duluan, tetapi Amara juga enggan beranjak dari sana sebab masih penasaran dengan motif Dimas datang ke sana. Jelas ia menangkap keanehan di sini lantaran ia paham betul Dimas trauma rumah sakit.
"Wah, mala rindu? Tapi kok datangnya ke rumah sakit, Mas? Nggak salah ya? Harusnya datangin yang tebar virus mala rindunya, tuh." Perawat lain ikut menimpali sambil tertawa. Jelas dia tidak tahu jika penebar virus mala rindu itu ada di sana juga. Sedangkan Dimas hanya senyum-senyum menanggapinya.
"Karena nggak ada pasien lain, jadi Mas bisa langsung diperiksa. Silahkan duduk, Mas." Vira bersiap mengambil tensimeter untuk mengukur tekanan darah Dimas. Namun, tiba-tiba Kalina berdiri dan mengambil alih tugas Vira.
"Sini, biar aku aja."
"Silahkan, Mbak." Mau tak mau Vira beranjak dari sana meski dalam hati menyimpan rasa dongkol pada Vira. Mentang-mentang memiliki kuasa sebagai kepala team, seenaknya saja Kalina mencomot bagiannya. Ia pun menepi di sisi Amara dan menatap gerak-gerik Kalina yang mulai memeriksa Dimas dengan tatapan sinis sambil bersedekap dada. "Dasar sok berkuasa."
Gunaman Vira itu bahkan bisa didengar oleh Amara. Ternyata, sebegitu dahsyatnya pesona seorang Dimas Sanjaya. Bahkan nyaris membuat sesama teman jadi menyimpan kebencian.
"Tekanan darahnya normal, ya Mas. Seratus tiga puluh per sembilan puluh," ujar Kalina setelah selesai mengecek tekanan darah Dimas.
"Masa, Mbak? Nggak salah ya? Tapi kok kepala rasanya pusing, badan panas dingin, dan jantung juga berdebar-debar." Bukannya menunjukkan kepuasan, Dimas malah pasang ekspresi tak percaya.
Lalu kemudian, Dimas kembali menambahkan.
"Tapi itu berlaku ketika saya ada di samping dia, Mbak. Tapi sayangnya dia lagi nggak ada. Dan itulah yang bikin badan saya lemas, nggak bergairah, dan nggak semangat ngerjain apa pun."
__ADS_1
Kini Dimas melirik ke arah Amara. Sengaja memang. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Amara.
"Wah, ternyata begini ya reaksi tubuh orang yang terserang mala rindu? Dahsyat sekali, ya." Vira terbahak setelahnya.
"Jadi, kemana dia kok sekarang lagi nggak ada?" Vira kembali bertanya, merujuk seseorang yang Dimas maksud dengan sebutan 'dia' itu. "Apa kalian putus? Atau dia sedang pergi ke suatu tempat? Oh iya, mohon maaf sebelumnya. Apa Anda sudah menikah?"
Jelas pertanyaan itu sama sekali tidak berhubungan dengan suatu penyakit. Tetapi Vira ingin mengorek lebih dalam mengenai status Dimas. Dan tanpa Kalina tahu di belakang sana Vira tersenyum meremehkan.
"Dasar."
"Saya sudah punya istri, Mbak. Tapi dia sedang dinas malam untuk yang pertama. Apa Mbak bisa bayangkan menjadi saya?"
Seketika Kalina tersenyum getir. "Owh, udah nikah ya, Mas? Udah sold out berarti ya? Pasti banyak wanita yang patah hati, ini." Kata-kata Kalina seolah-olah mewakili yang lainnya. Mereka yang awalnya berebut perhatian kini tampak kecewa.
Namun, tentu saja itu berbeda dengan Amara. Meskipun tak menunjukkan secara gamblang, ia cukup bersorak hore dalam hati saja. Dimas mengakui pernikahan mereka meski tanpa menyebut nama istrinya.
Saat tengah menginterogasi Dimas mengenai keluhannya, tiba-tiba terdengar suara telepon berdering dan seorang perawat dengan sigap mengangkatnya.
"Mbak, pasien ruang VIP mengalami masalah dengan selang infusnya." Perawat itu kemudian melapor setelah menaruh gagang teleponnya.
Mata Kalina memindai satu persatu perawat yang ia bimbing, dan ... stop. Pandangannya berhenti pada sosok Amara.
"Mar, coba kamu cek ke kamar itu, ya. Jangan sampai dia marah-marah lagi."
"Baik, Mbak." Amara mengangguk patuh. Ia menyempatkan diri melirik Dimas sebelum beranjak dari sana.
Dengan sikap tenang diam-diam Dimas memperhatikan langkah Amara.
"Perawat itu namanya Amara, ya Mbak?" Tiba-tiba Dimas bertanya pada Kalina.
"Iya Mas. Memangnya kenapa?" Kalina menjawab sekaligus bertanya. Lalu kemudian teman perawat lainnya berujar seperti memberi peringatan pada Dimas.
"Yang itu udah punya suami, Mas. Jangan dilirik lagi. Bahaya."
Dimas langsung menyimpul senyum. "Oh ya? Boleh tau suaminya orang mana?"
"Ya kalau kami tau sih bakalan saya kasih tau, Mas. Dia aja nggak pernah cerita mengenai suaminya."
"Kenapa?" Dimas mengalihkan pandangannya pada perawat yang menjawab, kemudian ia kembali bertanya penasaran.
"Nggak tau Mas. Mungkin malu." Salah satu dari mereka menjawab dengan begitu percaya dirinya. Lalu ketika teman sebelahnya memperingatkan dengan sorot mata dan sikutan, barulah ia membungkam mulutnya dengan tangan.
"Jangan sembarangan kalau ngomong. Itu hak dia," kata gadis itu.
"Sorry."
Dari sini Dimas mulai tahu sedikit banyak tentang kegiatan Amara di tempat kerjanya, bagaimana kepribadiannya dan hubungan pertemanan istrinya.
__ADS_1
Seketika itu juga ia menatap Kalina dan berbicara serius pada wanita itu hingga membuat Kalina membulatkan bola mata.
"Mbak, saya ingin menginap di sini dengan pelayanan metode perawat primer. Bisa kan, siapkan satu kamar Suite VIP untuk seminggu ke depan?"