
Amara duduk termenung sendirian di taman belakang sepeninggalnya Dimas pagi itu. Memikirkan segala perlakuan Dimas terhadapnya membuat dia pusing kepala. Dimas sering membuatnya melambung tinggi di atas awan. Namun juga tak jarang mengempaskannya ke dasar jurang.
Seperti halnya tadi. Ia sudah merasa terharu oleh sikap Dimas yang dengan tegas menahannya pergi. Tetapi kenapa setelahnya pria itu malah berkata akan melepaskan dia andai Amara membawa calonnya.
Langsung nyesek, kan? Sedangkan yang ia harapkan hanyalah pria yang bernama Dimas saja. Dan parahnya lagi, pria yang bernama Dimas itu begitu pandai memberinya sebuah harapan, sekaligus mematahkan harapan itu.
Herannya lagi, ia mau saja diperlakukan sedemikian rupa. Dimas cenderung mendominasinya dan pemaksa. Sementara dia, hanya wanita tak berdaya. Benar-benar perpaduan yang sempurna. Ia sudah berusaha semampunya beralasan agar Dimas mengizinkannya pergi, tetapi pria itu malah dengan begitu lihai membujuknya. Alhasil, kini ia masih tetap di sini walau tanpa kejelasan hubungan mereka.
Sebuah suara langkah kaki terdengar mendekat ke arahnya. Gadis itu menoleh, lalu bangkit saat melihat Eli datang menghampirinya.
"Amara. Bibi cari-cari ternyata di sini," ujar wanita paruh baya itu selagi mendekat.
"Lagi nggak ada kerjaan, Bi. Makannya melamun di sini," balas Amara setengah bercanda.
"Pagi-pagi jangan melamun. Pamali," tukas Eli, dan hanya dibalas senyuman canggung oleh Amara. "Ibu sudah datang, Amara. Beliau nyariin kamu."
"Hah?" Seketika Amara panik. "Datang ya, Bi? Kok nggak kasih kabar?"
"Ibu kan memang gitu. Suka ngasih kejutan, hehe," bisik Eli dengan nada gurauan.
Amara memaksa tersenyum meski hatinya dilanda gundah. Bagaimana ini? Mertuanya yang kini berubah sikap itu sudah tiba saat suaminya tidak ada. Ah, kenapa Amara merasakan aura tidak mengenakkan kali ini?
"Yuk sana. Udah ditungguin tuh," ajak Eli. Dan keduanya pun berjalan beriringan memasuki rumah.
"Apa kabar, Ma?" sapa Amara setelah menemui sosok sang mertua. Ia menyalami Amelia dan mencium punggung tangannya takzim. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan lebih muda dari usianya itu tengah duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.
"Kabar baik," jawab Amel singkat. Ia meletakkan ponselnya ke atas meja sebelum kemudian mengalihkan perhatiannya pada sang menantu dan kemudian balik bertanya. "Kamu sendiri apa kabar?"
"Alhamdulillah baik, Ma."
"Dimas bagaimana? Lagi di mana dia?" Meski sebenarnya Eli sudah mengatakan keberadaan Dimas ketika ia baru saja sampai, tetapi Amelia ingin mendengarnya sendiri dari bibir menantunya.
"Hari ini Mas Dimas mulai kerja lagi, Ma."
"Udah kerja? Kok bisa?" Amelia pura-pura terkejut mendengar penuturan Amara. Kini ia memasang wajah cemas untuk menyempurnakan sandiwaranya. "Bukannya dia belum sembuh benar, Amara? Nanti kalau sakit lagi bagaimana!"
Amara tak tau harus menjawab apa. Kini ia jadi merasa bersalah pada mertuanya.
"Buruan siap-siap, Amara. Sekarang juga kita berangkat ke kantor Dimas buat ngecek keadaannya."
__ADS_1
"Baik, Ma. Amara udah siap."
"Udah siap?" Amel mengamati penampilan Amara dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Dengan pakaian perawat seperti ini?" Amel menggeleng pelan lalu menghembuskan napas kasar. Ia kemudian bangkit dan mendekati menantunya yang berdiri di sisi kirinya.
"Yang bener aja, Amara. Kamu ini mau datangin suami ke kantornya, loh. Masa iya mau pakai baju perawat."
"Tapi kan Amara memang perawatnya Mas Dimas, Ma."
"Nggak ada protes. Buruan ganti baju sekarang," titahnya tanpa mau mendengarkan alasan Amara.
Sementara Amara sendiri hanya bisa patuh. Ia mengangguk lalu pamit untuk pergi ke kamar Dimas.
"Tunggu, Amara."
Amara yang sudah berbalik badan langsung berhenti saat Amel mencegahnya.
"Iya, Ma?"
Amel mengambil beberapa paper bag yang terletak di sofa sebelum kemudian menyodorkan pada menantunya.
"Pakai salah satu dari ini, ya. Mama sengaja belikan ini buat kamu." Berbeda dengan tadi, kali ini nada bicara Amel terdengar lembut kepada Amara. Wanita dengan terusan warna hitam itu bahkan menyunggingkan senyum termanisnya.
"Ini beneran buat Amara semua, Ma?"
"Iya." Amelia mengangguk mantap. Ia juga terlihat begitu antusias. "Sebelum ke bandara Mama sengaja berburu ini. Pakai, ya. Dandan yang cantik."
Amara tersenyum bahagia, kemudian menganggukkan kepalanya.
"Baik, Ma."
***
Di tempat lain, Dimas yang merasa tak bersemangat di hari pertamanya bekerja tampak meninggalkan kursi kerjanya menuju jendela kaca besar di salah satu sisi ruang kerjanya yang menyuguhkan pemandangan luar dari ketinggian.
Sebelumnya, ia terlebih dulu melepaskan jas semi formal yang dipakai dan menaruh itu pada sandaran kursi kerja kebesarannya. Menyisakan kemeja slim fit warna biru tua, ia menggulung lengannya hingga sebatas bawah siku, kemudian menelusupkan jemari tangan pada kantung celana bahan warna hitam yang dikenakan sembari menatap ke arah luar.
Wajah gelisah itu tak hentinya merutuki diri yang telah terlanjur melakukan kesalahan di pagi hari tadi, dan hal itu masih mengganggu pikirannya hingga kini.
"Dasar bodoh!" Tanpa sadar Dimas mengumpat. Dan umpatan itu terdengar jelas oleh sosok lain yang berada satu ruangan dengan dia.
__ADS_1
"Lo bilang tadi apa, Dim? Gue bodoh?" Baskoro bertanya memastikan dengan jari telunjuk mengarah pada dirinya sendiri.
Dimas yang tak merasa mengumpat pada Baskoro sontak menoleh pada pria itu dan terkejut melihat wajah marah asistennya.
"Apaan sih? Bukan lo!" jawabnya asal.
"Bukan gue? Lo ngaco ya, Dim? Barusan gue denger sendiri, kok! Lo ngajak perang, hah! Ngatain orang bodoh seenaknya. Lo lupa siapa yang urus semuanya selagi lo sakit? Gue, Dim! Sakit, hati ini." Baskoro memegang dadanya dan memasang ekspresi wajah lebay. Sementara Dimas yang melihat itu hanya bisa menggeleng pelan sambil memutar bola mata malas.
"Gue tadi cuma ngomong dalam hati, Bas. Nggak nyangka ternyata lo bisa denger kata hati orang."
"Heh, mana ada orang ngomong dalam hati keluarnya kenceng begitu!" Baskoro bersungut-sungut tak terima sambil bangkit dari duduknya. Namun, melihat Dimas yang tak terpengaruh dan tetap tenang di tempatnya itu membuat dia mengerutkan kening sebelum kemudian melempar tanya.
"Lo kenapa sih? Ada masalah?"
"Dikit." Dimas menjawab singkat.
"Apaan sih? Baru hari pertama kerja juga, muka udah ditekuk-tekuk."
Dimas mengembuskan napas panjang sebelum memulai ceritanya. "Pagi tadi Amara pamit sama gue, Bas."
"Pamit?" Baskoro mengerutkan keningnya. "Pamit mo nikah atau mo ke mana?"
"Ya pamit mau keluar dari rumah, lah Bas!" sahut Dimas menjelaskan.
"Owalah. Lah terus?"
"Ya gue cegah sebisanya, lah."
"Hemm." Baskoro manggut-manggut seolah memahami perasaan Dimas. Ia kemudian duduk dan memperhatikan Dimas yang berjalan ke arah meja kerjanya.
"Lo tau nggak Bas gue tadi ngomong apa sama Amara?" Dimas mendudukkan tubuhnya pada kursi kerja dan mengamati ekspresi Baskoro yang seolah menunggunya melanjutkan cerita. "Masa gue bilang mau lepas dia kalau Amara bawa calon ke depan gue! Entar kalau Amara bawa calon suami beneran ke depan gue gimana, Bas?"
Bukannya prihatin melihat kesedihan teman, Baskoro justru terpingkal mendengar pengakuan Dimas. Terang saja Dimas merasa jengkel hingga bangkit dari kursi hendak mencekik leher sahabatnya.
"Diem nggak lo!" sungutnya sambil mencengkeram kerah Baskoro.
Namun, belum sempat Baskoro melakukan pembelaan, perhatian keduanya langsung teralihkan pada pintu ruangan yang mendadak dibuka dari luar.
Awalnya Dimas hendak marah pada sekretarisnya sebab membuka tanpa diketuk terlebih dahulu. Namun, setelah melihat siapa yang datang, ia langsung terperangah hingga mematung di tempatnya.
__ADS_1
"Bas, lo bisa cubit lengan gue?" Dimas menggumam tanpa memandang wajah Baskoro, bahkan tanpa berkedip dari objek yang dipandangnya. "Gue nggak lagi mimpi, kan Bas?"