Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Cewek nggak ada ahlak


__ADS_3

Amara memberontak hingga Dimas melepaskan cengkeramannya. Ia berusaha meredam tawanya dan memberanikan diri menatap Dimas. "Saya baru tau, ternyata Mas Dimas penyuka drama korea dan film Bollywood, ya," ucapnya dengan nada seperti menggoda.


Dimas terkejut. Pria itu sontak menatap sesuatu di tangan Amara, dan langsung membelalakkan mata. "Hey itu bukan punya gue!" teriaknya panik dan langsung merebutnya dari Amara. "Ini koleksi nyokap gue, tau!"


Amara menatap Dimas dengan mata menyipit. "Kok Mas Dimas marah? Kalaupun DVD ini koleksi Mas Dimas sendiri, nggak apa-apa juga, kali. Kenapa harus malu-malu untuk mengakui," godanya sambil menghentakkan sikunya pada lengan Dimas, lantas mengatupkan bibirnya rapat-rapat seolah sedang menahan tawa.


Amara dengan wajah tanpa dosa masih saja mengamati kepingan yang lain, dan tentu saja dengan cover bergambar wanita cantik yang memperlihatkan pusarnya itu sembari tersenyum lebar.


Gadis itu seketika memekik tertahan sambil menoleh ke arah samping. Ia menggigit bibir bawahnya saat sebuah lengan kekar mencengkeram pergelangannya dengan kuat. Seketika mata Amara membeliak menatap wajah Dimas yang hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya.


Nyalang matanya yang merah begitu tajam menatap Amara seolah tengah menebarkan ancaman. Rahang tegas lelaki itu tampak mengeras, diiringi suara gigi yang menggemertak.


Tubuh Amara langsung bergetar hebat didera ketakutan yang teramat. Jantungnya berdebar cepat dan keringat dingin mulai bercucuran.


Meski sudah berusaha, nyatanya Amara tak bisa melepaskan tangannya dari cekalan lelaki yang tengah menatapnya penuh kebencian itu.


Entah apa yang merasuki pikiran Dimas hingga ia tanpa sadar mengangkat tangannya hendak melayangkan pukulan.


Amara sendiri sontak memejamkan mata. Jiwa ketakutannya langsung meneriakkan alarm peringatan untuk melindungi wajah dengan tangannya.


Jika memang Dimas akan melakukan kekerasan, Amara sudah pasti akan memekik kesakitan manakala Dimas benar-benar melayangkan pukulannya.


Namun hingga beberapa detik Amara memejamkan mata, ia bahkan tak merasakan apapun menyerang dirinya.


Lalu apa yang dilakukan Dimas selagi ia terpejam? Amara bahkan siap menerima apapun tindakan Dimas terhadapnya. Entahlah. Mungkin karena sudah terbiasa atau bagaimana.


Perlahan Amara membuka matanya dan memberanikan diri mendongak menatap lelaki di hadapannya. Siapa sangka, ternyata Dimas tengah memandangnya dengan seringai penuh kepuasan.


"Sekali lagi gue lihat elo tertawa meremehkan gue, lo bakalan gue bantai habis-habisan," desis Dimas penuh ancaman dengan jari telunjuk yang menuding tepat di depan mata Amara.

__ADS_1


***


Amara masih berdiri kaku. Matanya melirik sebal pada Dimas yang duduk pada sofa di depannya. Gadis yang masih menampakkan ekspresi kesal saat ia membuang muka memilih menonton layar datar di depannya.


Dimas yang terlihat acuh itu rupanya diam-diam memperhatikan perawatnya. Ia berdecak sambil menggeleng pelan, lantas melemparkan beberapa butir pop corn tepat mengenai kepala Amara hingga mengejutkan gadis itu.


"Nggak capek lo berdiri terus?"


Amara menggeleng pelan. "Nggak Mas," jawabnya pelan.


"Sampai besok, ya. Awas kalau nanti Lo sampai duduk." Dimas berucap pelan namun kental akan ancaman. Terlebih dengan jari telunjuknya yang tertuju tepat ke arah gadis itu.


"Hah? Sampai besok?" tanya Amara dengan nada tak percaya.


"Iya. Ini hukuman buat Lo!" Dimas yang masih memangku toplesnya menjawab ketus. Bahkan tanpa menatap gadis itu dan memilih fokus pada film yang sedang diputar.


Gila, apa! Bunuh saja saya sekalian! batin Amara sambil mengeratkan rahangnya. Entah sadar atau tidak, ia menatap Dimas dengan sorot mata tajam.


Spontan Amara menggelengkan kepala sebelum kemudian tertunduk dalam. "Enggak kok, Mas. Saya bukan melototin Mas Dimas. Ini cuma reaksi kaget aja. Saya--" Amara menata memandang Dimas sejenak sebelum kemudian kembali menunduk. "Saya nggak mungkin kuat berdiri sampai besok."


Mendengar itu, pria yang memiliki lesung di pipi sebelah kiri itu tersenyum miring penuh kemenangan. "Ya kalau nggak tahan ngapain masih berdiri? Duduk, kek! Atau kalau perlu nungging biar nggak capek. Ngapain juga masih berdiri mematung kayak gitu."


Amara tampak bergeming. Ekor matanya bergerak melirik Dimas yang tengah menepuk sofa kosong di sebelah, seolah mengisyaratkan agar ia segera menempatinya.


Tak ingin benar-benar berdiri sampai pagi, Amara segera melangkah dan menempatkan bokongnya di sana tanpa pikir panjang. Ia tersenyum canggung saat pandangannya bertemu dengan Dimas.


Dimas lantas meletakkan toples popcornnya itu tepat di tengah-tengah. Ia mengisyaratkan dengan mata agar Amara memakannya bersama-sama.


Keadaan kembali hening saat keduanya tampak fokus pada layar hingga beberapa lama. Amara terlihat begitu antusias menonton film pilihannya, sementara ekspresi lain tampak ditunjukkan oleh Dimas. Pria itu berkali-kali mendesah pelan, lantas menatap layar itu dengan wajah malas. Malah terkadang menguap ngantuk karena saking bosannya.

__ADS_1


Amara yang duduk sambil bertopang dagu dengan siku bertumpu pada paha itu begitu menjiwai tiap adegan yang tersaji di depannya.


Gadis itu mendadak gemas saat melihat bayi lucu sang anak tokoh utama seolah ingin mencubit pipinya. Sesaat kemudian geregetan saat si wanita ke tiga datang hendak merebut tokoh utama. Hingga mengepalkan tangan seolah ingin menonjoknya.


Dimas hanya mendesah pelan dan menatap Amara sambil geleng kepala. "Dasar cewek aneh," makinya pelan. Hingga tak bisa didengar oleh Amara yang tengah melototi layar yang menyajikan gambar pria tampan sambil kraus-kraus mengunyah popcorn. Ia lantas meraih ponselnya dan membuka akun sosial medianya, dari pada nanti jadi gila karena dipaksa menonton film yang tidak ia suka.


Tawa Amara pun bergema saat adegan konyol dan jenaka tersaji dari layar, sampai-sampai membuat Dimas berjingkat karena saking terkejutnya. Dimas melongo, menatap heran pada Amara. Entah apa yang jenaka dari film itu sampai-sampai membuat gadis itu terpingkal hingga guling-guling di atas sofa. Bahkan kakinya tanpa sadar menendang bokong Dimas.


Lagi-lagi Dimas hanya bisa menggemertakkan gigi sambil geleng kepala. Mau negur juga takut dosa. Masa iya orang lagi enak-enak bahagia ditabok biar sadar. Kan nggak lucu.


Dimas hanya bisa diam sambil terus mengawasi tingkah konyol Amara. Hingga gadis itu tersadar dan kemudian terseyum kikuk ke padanya. Dengan wajah merona merah, Amara bangkit dari sofa lantas duduk dengan gaya cantik sambil memalingkan wajahnya.


Entah apa yang di lakukan ia di sana. Mungkin lagi melet, atau bahkan sedang komat-kamit. Yang jelas, ia sedang susah payah untuk menyembunyikan muka dari rasa malu tingkat dewa.


Percuma! Gue udah liat kebusukan Lo, haha! Pakai gaya-gaya jaga image di depan gue," batin Dimas dalam hati.


Sekali lagi suasana kaku kembali membentang. Amara sibuk merutuki dirinya sementara Dimas sibuk mengamati Amara sambil terpingkal dalam harinya.


Hahaha, rasain lo. Nggak ada muka kan, sekarang. Siapa suruh, jadi cewek nggak ada ahlak.


"Ehem!"


Bersambung


Hari ini up dua bab ya guys,


happy reading, jangan lupa tinggalin like, komentar dan voting kalau suka. sekedar untuk apresiasi buat saya🤭✌️ terima kasih buat yang udah kasih ya, love you full deh.


Guys, tolong kasih rate bintang lima dong, rate ku tiba-tiba anjlok, aku sedih😭😭😭

__ADS_1


hibur aku ya, biar seneng dan lancar update lagi


__ADS_2