
Dimas membuka matanya saat meyakini jika Amara sudah tertidur dengan lelap. Hal itu terlihat dari napas gadis itu yang berembus dengan teratur.
Sementara dia, masih terjaga hingga jam menunjukkan pukul satu dini hari. Rasa pening yang mendadak menjalar membuatnya sama sekali tidak mengantuk malam ini. Yang ada hanya rasa takut Amara akan meninggalkannya lagi.
Melepaskan diri dari tangan Amara yang merangkul bahunya, Dimas bertukar posisi menjadi dirinya yang memeluk wanita itu.
Pelan-pelan ia memindahkan kepala Amara dan menempatkan tepat pada lengan kirinya, lalu kemudian memeluk dan mencium kening gadis itu dengan begitu lembut.
Entah mengapa, ia selalu ingin menjadi satu-satunya sosok pelindung gadis itu. ia ingin menjadi satu-satunya pria yang Amara cintai, dan pria yang bisa dibanggakan. Hanya dirinya. Bukan Juan atau pun yang lainnya.
Lihatlah dia, wajah teduh itu benar-benar menyejukkan. Setiap malam, Dimas bahkan betah berlama-lama memandangnya. Sesekali ia mengusap pipi mulus itu atau kadang menciumnya dengan sangat hati-hati. Sebab jika sampai Amara terusik hingga terjaga, maka rusaklah semuanya. Ia akan kembali menjelma menjadi pria dingin setiap kali Amara dalam keadaan sadar. Dimas benar-benar payah.
Tanpa sadar senyum Dimas mengembang bahagia. Gadis yang ia peluk itu benar-benar sangat lugu dan berhati bersih. Ia sama sekali tak berpikiran buruk jika pria yang setiap waktu menuntut perhatiannya itu menginginkan lebih.
Ya. Mungkin saja Amara tak pernah merasa apa yang selama ini ia rasa. Bagaimana beratnya menjadi pria normal yang selalu bersentuhan dengan lawan jenisnya yang didamba. Dimas benar-benar merasa tersiksa. Ia bersusah payah menahan diri untuk tidak menerkam Amara sebelum gadis itu siap. Ia harus menahan pusing serta hasrat yang bergelora setiap kali terjadi kontak fisik di antara mereka, baik yang disengaja maupun tidak.
Walaupun Dimas yakin jika Amara rela memberikan apa pun yang diinginkannya, tetapi ia tidak ingin Amara melakukan itu karena terpaksa. Amara mungkin rela menyerahkan raganya. Lantas, apakah begitu juga dengan hatinya? Ia bahkan merasa ragu jika Amara mencintainya mengingat Amara memiliki hati yang mulia. Gadis itu selalu baik pada siapa saja. Dan jangan sampai hanya dirinya yang besar kepala.
Sebuah hubungan pernikahan akan terjalin kekal dan bahagia jika pasangan itu saling jatuh cinta. Lantas bagaimana jika hanya dirinya yang mencinta? Dimas tak mau itu terjadi. Maka jalan satu-satunya adalah membuat Amara mencintainya.
Dimas memang sengaja menggunakan cara yang berbeda. Setidaknya, dirinya menjadi penghuni palung hati Amara yang terdalam meskipun dimulai dengan rasa benci. Lalu kemudian ia akan membuat gadis itu mencurahkan seluruh perhatian dengan sikap manjanya yang berlebihan. Sedikit menekan, memang. Namun, itulah jalan satu-satunya. Jika Amara sudah merasa terbiasa dengan hal ini, ia yakin kelak Amara akan merasakan ada sesuatu yang kurang jika sedetik saja berpisah dengan dia.
Keputusan Amara tadi benar-benar mengganggu pikirannya. Ia bahkan sengaja menyinggung nama Juan, tetapi ia belum bisa menyimpulkan sesuatu yang meyakinkan. Sebenarnya Juan itu pacar Amara atau bukan?
Ketika sibuk berperang batin tiba-tiba Amara bergerak merapatkan tubuhnya. Dimas terkejut dan seketika menegang. Namun, sesaat kemudian ia bernapas lega sebab Amara masih memejamkan matanya.
Ah sayangnya, kelegaan itu tak seirama dengan yang di bawah sana. Tanpa seizinnya si Junior mendadak bangun dan menegang. Ia meronta-ronta minta dikeluarkan untuk mencari lawan.
Sial.
Bagaimana tidak? Tangan Amara tanpa tahu malunya bergerilya di dada, ketiak dan berakhir memeluknya. Sementara wajahnya membenamkan diri ke dadanya seperti sedang mencari kehangatan. Bagaimana iman tidak goyah jika mendapatkan sentuhan selembut ini?
Jika ia tak lekas pergi maka keselamatan Amara akan terancam. Dimas tidak yakin bisa menahan diri lagi.
Kalau sudah begini siapa yang mau disalahkan? Amara yang lancang atau Dimas yang kurang ajar? Fix, si Junior lah yang tiba-tiba bangun seenaknya.
__ADS_1
Hati kadang nggak sinkron dengan pikiran. Ketika kata hatinya berteriak untuk pergi, tetapi akal pikirannya berseru untuk tetap di sana. Seolah-olah malaikat dan iblis tengah bersaing membisiknya. Yang satu menyuruhnya keluar demi keselamatan Amara, sementara satu lagi menahannya sekuat tenaga. Amara membutuhkan kehangatan. Kau jangan egois dengan pergi meninggalkannya sendirian.
Ternyata bisikan kedua yang lebih kuat. Tiba-tiba Dimas merasa berat hendak keluar. Ia takut akan mengusik tidur Amara jika ngotot melepaskan pelukannya.
Heleh, alibi.
Rupanya bujukan setan tidak berhenti di situ saja. Selama ini Dimas tak pernah melihat seperti apa bentuk rambut istri sirinya. Sepanjang apa ya? Lurus atau keriting?
Tiba-tiba Dimas merasa penasaran bukan kepalang. Lebih-lebih lagi setan di sisi kiri terus saja berseru menyuruhnya untuk membuka. Apa yang harus dia lakukan?
Tiba-tiba Dimas menarik napas dalam dan mengembuskannya secara perlahan. Seketika itu juga ia memantapkan niat untuk membunuh rasa penasaran. Toh Amara istrinya. Ia tidak berdosa jika melakukannya. Begitu pula dengan Amara yang takkan berdosa karena menampakkan rambut pada mahramnya.
Akhirnya Dimas mulai menggerakkan tangannya. Menyentuh ujung jilbab Amara dan berniat membukanya. Sial. Jantungnya semakin berdebar-debar. Ini lebih menegangkan dari apa pun yang pernah ia perbuat. Rasanya seperti maling yang hendak mencuri telur dari induk yang tengah mengeraminya. Dimas bahkan berkeringat dingin dibuatnya.
Sambil menggigit bibir bawah, Dimas mulai menarik ujung jilbab Amara. Sangat pelan. Dan tanpa bersuara.
"Emmmhh."
Sial.
Amara menggeliat menyusul lenguhannya. Ia merasakan sesuatu yang tak nyaman hingga seketika membuka mata. Dan tara ....
Gadis itu berjingkat saking terkejutnya. Matanya langsung bersirobok dengan iris coklat milik Dimas yang masih terang benderang di depannya, dan seketika tubuh rampingnya itu pun melenting bangun dan terduduk.
"Mas Dimas belum tidur?"
Amara bertanya sembari mengucek matanya. Gadis itu tampak mengumpulkan kesadaran dengan sepenuhnya setelah tadi berhamburan selagi dirinya terlelap. Dan ketika dilihatnya posisi Dimas dan tempat bekas dirinya berbaring tadi, tiba-tiba kepanikan pun melandanya.
"Astaghfirullah, bisa-bisanya aku menjadikan lengan Mas Dimas sebagai bantal! Maafin aku ya, Mas ... maaf banget. Aku nggak sengaja ngelakuin itu karena tidurku pules banget. Pasti pegal banget ya tangannya? Aku bener-bener nggak sengaja. Maaf ...." Ia mengusap lengan kokoh Dimas itu selagi berucap seperti itu tadi. Ia benar-benar merasa tak enak hati.
Tanpa sepengetahuan Amara rupanya Dimas bernapas lega. Aneh kan. Ia yang kurang ajar tapi kenapa Amara yang merasa bersalah? Lihat sebegitu mulianya hati gadis itu. Ia bahkan tak pernah berprasangka buruk terhadap orang lain. Benar-benar lain dari pada yang lain.
"Enggak kok, nggak pa-pa. Kalau mau bantalan lengan lagi juga nggak masalah kok."
Ucapan serius Dimas itu diterima lain oleh Amara. Amara berpikir Dimas tengah marah dan mengujinya dengan cara seperti itu. Terang saja ia menggeleng dengan wajah cemberut penuh rasa bersalah.
__ADS_1
"Enggak, Mas. Maaf ... aku tau aku salah."
"Eh, siapa yang nyalahin lo?"
Amara lagi-lagi menggeleng. Setelah melihat mata Dimas yang masih segar bugar, barulah ia bertanya penasaran.
"Mas Dimas sama sekali belum tidur?"
Dimas menggeleng. "Belum."
"Pasti terganggu sama aku, ya?" tebak Amara masih dengan ekspresi merasa bersalah. Lantas Dimas harus jawab apa? Ngotot kasih penjelasan yang benar toh Amara nggak bakal percaya juga. Ya udah, cari aman aja.
"Iya. Dikit," jawabnya pelan sambil buang muka.
"Duh, maaf ya Mas. Gara-gara aku kamu jadi nggak bisa istirahat. Harusnya Mas Dimas tadi bangunin aku."
"Udah kok. Lo aja yang tidurnya pulas banget," sahut Dimas penuh percaya diri, dan hanya dibalas cengiran oleh Amara.
"Jadi sekarang gimana?" tanya gadis itu bingung harus melakukan apa.
"Ya tidur lah!" sahut Dimas kesal. Ia lantas berbaring kembali pada tempatnya, sementara Amara masih melongo menatapnya. "Heh, ngapain bengong?"
"Ya?" Amara tergagap.
"Buruan gantiin waktu istirahat gue yang kebuang sia-sia tadi! Lo penyebabnya, kan?" tuding Dimas pada Amara. Pria itu makin merasa menang lantaran Amara hanya mengangguk pasrah. "Kalau gitu malam ini gue minta pelayanan ekstra, dong. Nggak masalah, kan?"
"Hah, ekstra? Maksudnya?" Amara terperanjat. Beragam pikiran liar langsung hinggap di benaknya.
"Jangan ngeres dulu!" Seolah-olah Dimas tahu dengan apa yang dipikirkan gadis itu. "Cuma peluk gue kayak biasa."
"Owh." Amara bernapas lega, tetapi rupanya permintaan Dimas belum selesai sampai di situ saja.
"Tapi sambil puk-puk sayang sama ciumin kening gue sampai ketiduran," tambah Dimas dengan seringai liciknya.
Terang saja Amara langsung melotot tak percaya.
__ADS_1
"Hah!"