Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Sini aku bantu (Bonchap)


__ADS_3

Rangkaian acara akad nikah dan resepsi telah terlewati. Kini saatnya pengantin dan semua yang hadir mengistirahatkan diri. Amara dan Dimas meninggalkan ballroom hotel dan pergi ke kamar tipe presidential suite pada hotel yang sama diantar oleh anggota keluarga keduanya.


Mula-mula Dimas mempersilahkan istrinya untuk membersihkan diri lebih dulu sepeninggalnya yang lain dari sana. Ia memutuskan duduk di sofa setelah menanggalkan jas pengantin yang melekat di tubuhnya. Dimas mengaktifkan ponselnya yang seharian sengaja dimatikan, dan membalas satu persatu pesan ucapan yang masuk selagi menunggu istrinya selesai di kamar mandi.


Namun, ada sesuatu yang tak terpikirkan oleh Dimas saat itu. Ialah bagaimana istrinya di dalam sana.


Tanpa Dimas duga, rupanya di dalam kamar mandi Amara kesulitan melepaskan gaun pengantinnya. Wanita itu sudah melepaskan atribut yang melekat di kepala sekaligus menyisir rambutnya hingga rapi. Akan tetapi, ia kesulitan membuka resleting yang terletak di bagian belakang punggungnya sendirian. Amara nyaris putus asa dan berpikir membutuhkan bantuan seseorang sekarang juga.


Yang jadi masalah, semua keluarganya termasuk Miranda dan Melissa sudah pergi dari kamarnya sejak tadi. Hanya ada Dimas, satu-satunya orang yang berada di kamar itu saat ini.


Meskipun telah menikah sejak lama, tetapi mereka belum pernah melakukan apa-apa. Amara bahkan tidak yakin bisa meminta tolong pada Dimas untuk membantunya. Malu dong. Bagaimana nanti pandangan Dimas terhadapnya? Nanti malah dikira dirinya yang mau minta duluan. Ia tak mungkin mau menjatuhkan harga dirinya sendiri sebagai wanita.


Amara mendesah kasar sambil mondar-mandir selagi berpikir. Otaknya mendadak tumpul. Ia sempat berinsiatif untuk menelpon Miranda, tetapi sayangnya ponsel dia berada di dalam tas yang ia taruh di nakas kamar. Untuk mengambilnya ke sana pastinya akan melewati Dimas. Dan sudah barang tentu pria itu pasti akan menanyakan padanya.


Suara ketukan pintu sukses membuat Amara yang sedang tegang itu berjingkat. Lalu suara renyah Dimas pun menyusul terdengar.


"Sayang. Kamu nggak ketiduran, kan? Kok nggak ada suara?" Nada bertanya Dimas terdengar cemas dari luar. Namun, buru-buru saja Amara menjawabnya demi menghalau kekhawatiran suaminya.


"Enggak, Sayang. Aku lagi nyisir rambut!"

__ADS_1


Bohong. Yang ada saat ini Amara tengah panik bukan kepalang. Salah sendiri ia terlalu pemalu. Sampai-sampai meminta tolong pada suaminya saja ia perlu berpikir ribuan kali.


"Okay. Jangan lama-lama ya, Sayang." Suara Dimas terdengar kembali.


"Enggak lama kok, Sayang." Amara menggigit bibir bawahnya. Sejak kapan ia begitu luwes memanggil Dimas dengan sebutan sayang?


Amara melangkah mengendap-endap mendekati pintu. Ia ingin memastikan suaminya masih berasa di balik pintu atau tidak. Akan tetapi sepertinya Dimas sudah beranjak sebab hanya keheningan yang tercipta.


Amara sedikit bernapas lega. Setidaknya ia bisa berpikir sebentar karena suaminya tidak mendesaknya untuk keluar ataupun menerobos masuk karena tak sabar. Ah, ia makin jatuh cinta saja. Pria itu benar-benar orang yang penyabar.


Namun, seketika Amara membulatkan matanya saat menyadari suatu hal. Ia sudah terlalu lama berada di dalam kamar mandi. Bagaimana jika Dimas kebelet tapi berusaha menahannya mati-matian lantaran tidak enak hati kepadanya. Ah dia jadi merasa jahat sekali. Seharusnya tak perlu seperti ini kan. Ia sendiri yang mempersulit diri.


Fix. Amara mengangguk mantap. Ia harus memutuskan urat malu untuk sementara waktu. Sepertinya minta tolong pada Dimas itu memang perlu. Itu pun kalau dia tidak ingin semalaman tidur di kamar mandi.


Amara tampak menundukkan kepala, mengangkat sedikit bagian bawah gaunnya, lalu menatapnya sambil menggigit bibir bawah.


"Loh, kok gaunnya nggak dilepas, Sayang?" Dimas bertanya sambil mengubah posisi duduknya menjadi tegak. Ia meletakkan ponselnya ke atas meja dan memfokuskan perhatiannya pada sang istri. "Kenapa? Kamu kesulitan lepasinnya?"


Tepat sekali. Melihat kegelisahan di wajah Amara, seperti Dimas mengerti apa yang dipikirkan istrinya. Benar saja. Amara langsung mengangguk dengan wajah bersemu malu.

__ADS_1


"Pantes nggak ada suara. Ternyata kamu nggak bisa buka?" Dimas terkekeh lalu bangkit dari duduknya. Ia melangkah santai menghampiri istrinya yang masih memaku tubuh di ambang pintu.


"Sini aku bantu, ya," ujarnya kemudian, menawarkan. Tanpa pikir panjang, ia mengitari tubuh Amara dan berdiri tepat di belakang gadis itu. Tangannya hendak menyentuh resleting gaun Amara tetapi urung sebab Amara mendadak balik badan. Lagi-lagi Dimas mengernyit heran.


"Loh, kenapa, Sayang?"


Amara menundukkan kepala, lalu menggigit bibirnya. "Malu," lirih gadis itu kemudian.


Dimas sontak mengangkat alisnya mendengar pengakuan Amara. Malu? Ada-ada saja. Mereka sudah sah sebagai istri di mata agama dan hukum. Untuk apa harus malu-malu lagi?


Dimas memandangi Amara dengan seksama. Gadis itu terlihat gelisah dan tak tenang. Seketika ia pun menyadari penyakit malu yang dimiliki istrinya itu memang belum ada obatnya. Ia pun menyiasatinya dengan sedikit bujukan agar istrinya merasa tenang.


"Kenapa harus malu, Sayang? Aku janji nggak bakal lihat kok. Nih, aku buka sambil nengok ya. Sambil merem juga deh kalau perlu."


"Jangan bohong, ya," ujar Amara dengan wajah memberengut.


"Enggak. Aku janji." Dimas mengacungkan dua jarinya untuk meyakinkan.


Meskipun agak ragu, tetapi Amara tetap mengangguk percaya sebelum kemudian perlahan memutar tubuhnya.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺


Hai hai ... aku bawa bonchap nih😁


__ADS_2