
Amara mengemasi peralatan kesehatannya ketika acara bakti sosial telah usai. Kendati merasa lelah, ia juga merasa puas sebab acara yang diadakan di tempat terbuka itu berjalan dengan lancar.
"Masuk yuk. Bentar lagi makan bersama," ajak salah satu temannya sebab sebagian besar dari mereka telah berada di dalam sebuah puskesmas untuk jamuan makan siang. Makan siang yang terlambat tepatnya.
"Kamu duluan, ya. Aku mau ngabarin suamiku dulu sebentar." Amara menolak halus.
"Oke."
Amara memang mengambil ponselnya dari dalam tas setelahnya. Namun, belum sempat mengaktifkan benda pipih itu, seorang bocah laki-laki berumur sekitar sepuluh tahun menghampirinya dengan wajah panik dan napas terengah-engah. Sepertinya anak itu baru saja berlari untuk sampai ke sana.
"Kakak perawat tolongin saya, Kak. Kakak saya terluka di sana." Bocah itu bicara sambil menuding ke arah suatu tempat.
"Adek, tenang dulu, ya. Bisa ceritakan pelan-pelan sama Kakak?" Amara menggenggam kembali ponselnya lalu bertekuk lutut untuk mensejajarkan tinggi mereka.
"Cepet tolongin kakak saya, Kak. Dia terluka. Ini darurat." Bocah itu mendesak.
"Oke, oke." Amara mengangguk meyakinkan. "Tapi sebelum itu Kakak perlu memastikan apa lukanya sangat parah? Jika memang parah, sebaiknya kita ke sana dengan membawa ambulans. Supaya kakaknya bisa ditindaklanjuti dengan cepat. Adek tenang, ya. Di sini banyak tenaga medis profesional dan peralatan yang memadai, kok. Kakak panggil teman Kakak dulu, ya."
"Jangan, Kak!" Bocah itu mencegah. "Nanti kelamaan dan kakak saya bisa kehabisan darah. Lebih baik Kakak perawat periksa kakak saya dulu lalu panggil ambulans jika perlu ditindaklanjuti."
"Oke."
__ADS_1
Amara akhirnya mengalah tanpa sedikitpun merasa curiga. Ia lantas bergegas mengikuti langkah cepat bocah tadi tanpa melupakan peralatan medisnya.
"Masih lama ya, Dek? Apa tempatnya sangat jauh?" Amara akhirnya bertanya penasaran lantaran sudah berjalan sekian ratus meter, tetapi mereka belum juga sampai di tempat yang bocah itu maksudkan.
"Di situ Kak. Kakak saya di sana." Bocah itu terus menunjuk arah yang sama.
Sebenarnya telinga Amara bisa mendengarkan suara riuh ramai dari kejauhan. Namun, ia begitu fokus pada bocah kecil itu dan mencari sosok kakaknya yang konon katanya terluka, sehingga tak memikirkan hal lainnya ketika itu.
Tiba-tiba di ujung jalan Amara melihat keramaian orang-orang yang sepertinya berlari semakin mendekat. Sejenak Amara terpaku selagi mengamati kejadian itu.
Ingatannya berkelana pada peristiwa saat perjalanannya pagi tadi. Ketika lewat, tak jauh dari sana memang terjadi demo besar. Tidak salah lagi. Pasti telah terjadi kericuhan. Amara juga bisa melihat jika mereka membekali diri dengan persenjataan.
"Adek, kita harus berlindung. Ini bahaya!" Amara meraih pergelangan bocah itu lalu menariknya untuk bersembunyi.
Namun, sayangnya bocah itu malah melepaskan tangannya dari genggaman Amara lalu terjatuh ke jalan raya. Amara terkejut kehilangan sesuatu yang digandengnya, lebih-lebih saat menoleh, ia mendapati bocah itu tengah menangis dengan kencang.
Khawatir terjadi apa-apa, buru-buru saja ia berbalik dan menghampiri bocah itu dan berjongkok.
"Dek maafin Kakak, ya. Kakak nggak sengaja," ucapnya dengan wajah panik. Ia pun berusaha menenangkan walaupun bocah itu sama sekali tidak ia kenal. "Sakit banget ya. Nanti pasti Kakak obati, tapi yang paling penting untuk sekarang, kita berlindung dulu."
"Sakit Kak! Huaaaa!" Bocah itu masih saja menangis. Bahkan menolak keras saat Amara ingin membantunya bangkit.
__ADS_1
"Tahan, Dek. Kita harus segera pergi!"
"Nggak mau! Pokoknya obati sekarang!" Anak itu terus saja menangis sambil memegangi kaki kanannya.
Amara sendiri tampak mengerutkan keningnya selagi memeriksa. Ia kemudian memperhatikan bocah itu dengan seksama. Ia merasa heran, mengapa anak dengan stelan kaos warna merah itu menangis begitu kencang sedangkan kakinya saja tidak terluka.
Belum habis rasa heran di benak Amara, ia kembali dibuat panik oleh rombongan para pendemo yang sudah semakin dekat.
"Ayo ikut Kakak." Tak ada pilihan lain. Amara harus memaksa bocah itu untuk menyingkir dari sana. Alih-alih mengikutinya, bocah itu malah kembali melepaskan diri dan mendorong Amara sebelum kabur.
Rasa bingung dan terkejut melebur jadi satu. Amara terhuyung hingga nyaris limbung. Bocah kecil itu terus saja berlari meskipun telah ia teriaki. Postur tubuh yang mungil dan gerakan lincah membuat anak itu bisa dengan mudah menerobos para pendemo yang sedang ricuh dengan pihak keamanan, sehingga dalam sekejap saja sosok bocah itu menghilang di antara puluhan orang.
Kini Amara yang kebingungan di sana. Berada di antara dua kubu yang saling menyerang. Dalam keadaan seperti itu ia bahkan tak menyangka ada seseorang yang tengah mengarahkan kamera ponsel ke arahnya sambil tertawa terbahak-bahak melalui sambungan video call.
Dialah Naura. Gadis itu bahagia puas bisa membuat Dimas panik bukan kepalang. Ia terlalu hanyut dalam kemenangan sampai-sampai lupa keadaan sekitar. Ia lupa menjaga dirinya sendiri hingga tak menyadari sebuah batu besar melayang di udara sebelum mendarat tepat di kepalanya.
Hantaman keras itu sukses membuatnya kesakitan dan pusing bukan kepalang. Matanya juga berkunang-kunang. Seketika tangannya terdorong untuk menyentuh bagian belakang kepala, di mana benda keras itu mendarat tepat di sana. Ia merasakan sesuatu yang hangat di sana serta bau anyir.
Antara takut dan penasaran, Naura memberanikan diri untuk melihat jemarinya. Bercak darah masih segar yang menempel di sana membuat tubuh gadis itu sontak bergetar. Matanya membelalak. Seketika tubuhnya melemas, sebelum kemudian tumbang tersungkur ke jalan.
Lantas, di manakah keberadaan Amara sekarang?
__ADS_1