
Amara mendesah pelan. Sepasang bola mata beningnya masih setia menatap luar jendela. Sementara tangan kirinya, tak segan menyangga kepala yang memperlihatkan wajah lelah.
Juan yang berada di belakang kemudi menoleh perlahan ke arah kiri. Ia memandangi gadis yang kini telah menjadi kekasihnya itu dengan seksama. Sepanjang perjalanan menuju rumah Dimas, keduanya bahkan tak banyak terlibat obrolan panjang hingga setengah jam berlalu. Amara hanya tersenyum tipis menanggapi gurauannya, dan terkadang cuma menjawab tanya sekenanya.
Sesuai kesepakatan, Juan mengambil alih tanggung jawab Dimas untuk mengantar Amara pulang sesuai permintaan sang Mama. Sedangkan Dimas, pria itu justru memilih mengantar Naura sebab keduanya kini telah kembali menjalin cinta. Setengah jam lalu, mereka berempat berpisah di basement hotel dan bertolak bersamaan dengan arah tujuan yang berbeda.
"Mar," panggil Juan dengan nada hati-hat. Amara sontak menoleh, lantas menyunggingkan senyum pada sahabatnya.
"Ya?"
"Kok murung gitu? Kenapa? Kamu mikirin apa? Aku ada di sampingmu, Sayang, untuk apa masih dipikirin?"
"Juan!" Amara menggeram menanggapi rentetan tanya Juan yang menurutnya menyebalkan. Gadis itu memberengut, lalu bersedekap dada dengan mata melirik sinis pada sahabatnya. Meski tak dapat dipungkiri, panggilan sayang pria itu tadi sukses membuat hatinya berbunga-bunga.
Sementara Juan malah terpingkal. Entah mengapa, mimik muka Amara yang kesal itu justru terlihat menggemaskan di matanya.
"Kenapa ketawa? Apa yang lucu?"
"Kamu." Juan menjawab singkat, tetapi dengan nada yang menggoda.
"Hemm, i see. Muka aku mirip badut, kan? Bikin orang nggak bisa nahan untuk ketawa!" ketus Amara. Gadis itu lantas membuang muka.
"Hey, hey, kok ngambek gitu." Juan bergerak cepat meraih jemari Amara dan menggenggamnya lembut demi untuk meredam amarah gadis itu. Namun, karena respon Amara terhadapnya kurang baik, ia lantas menepikan mobil, bertanya lembut dengan mata memandang lekat-lekat untuk menunjukkan keseriusan.
"Mar ngomong dong, kamu kesel kenapa?"
"Juan kenapa malah berhenti?" Tanya dibalas tanya. Bukannya menjawab pertanyaan Juan, Amara justru heran oleh tindakan Juan yang tiba-tiba menghentikan kendaraan.
"Biar bisa ngobrol serius sama kamu."
"Iya, tapi 'kan bisa sambil jalan ...!"
"Nanti kamu mikirnya aku nggak fokus karena nggak bisa tatap bola mata kamu. Nggak peka karena lebih pentingkan nyetir dari pada lihat wajah kamu ... makanya, aku berhenti untuk menunjukkan keseriusan aku."
"Ih, Juan ... nggak gitu juga, kali."
__ADS_1
"Terus?"
Amara diam sejenak usai berucap dengan nada tinggi. Ia memandangi wajah Juan dengan seksama. Pria itu menatapnya tanpa berkedip. Tepatnya menunggu dia berbicara dengan penasaran.
Melihat bagaimana Juan tetap memperlakukannya dengan sabar, kekesalan Amara mendadak sirna. Hatinya melunak. Pria itu masih seperti yang dulu. Sikapnya selalu lembut. Pandangannya teduh, dan selalu berupaya memberikan kenyamanan. Kalau sudah begini ia bisa apa, selain membalas tatapan sang sahabat dengan binar haru biru.
"Maaf ...." Amara berucap lirih usai menundukkan pandangan penuh penyesalan.
"Kamu nggak salah." Juan membalas cepat. Nadanya juga penuh pengertian. "Hanya ada sesuatu yang sedang dipikirkan, bukan?" Ia kemudian bertanya setengah menebak.
Tebakan Juan itu benar-benar tepat sasaran. Amara sontak mendongak. Menatap Juan dengan mimik polosnya, ia lantas menganggukkan kepala.
"Mau cerita?"
"Hu'um." Amara mengangguk cepat.
"Cerita aja. Aku bakal dengerin."
Bagi Amara, kata-kata Juan laksana kain sutera yang membelai kulitnya dengan perlahan. Memberikan sensasi lembut dan nyaman. Bagaimana mungkin ia bisa melepaskan diri dari Juan jika kenyataannya ia masih bergantung pada pemuda itu. Dia tak butuh lagi perhatian dari ribuan orang sekitar jika sudah bersama Juan. Bersama pria itu, ia bisa mencurahkan segala keluh kesah. Bahkan hanya dengan perhatian kecil semacam ini saja beban hidupnya tiba-tiba terasa ringan. Amara tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.
"Ya," balas Juan.
"Salahkah jika aku merasa tak rela Mas Dimas kembali pada Naura?"
"Kau cemburu?" Juan membalas pertanyaan Amara dengan kalimat tanya pula. Pria itu tetap terlihat tenang. Tak ada gurat kecewa, marah ataupun cemburu yang tampak di wajahnya.
Akan tetapi, pertanyaan bernada menelitinya itu ditanggapi berbeda oleh Amara. Gadis itu setengah tersentak, lalu melakukan penyangkalan mentah-mentah dan kemudian menjelaskan analisanya.
"Ih, bukan! Kau pikir aku siapanya dia sampai-sampai harus cemburu?" Amara diam sejenak. Ia lantas berusaha menjelaskan setelah melihat Juan mengedikkan bahunya seolah-olah meragukan. "Juan ... aku sudah berbulan-bulan merawat Mas Dimas. Selama itu pula aku berusaha susah payah untuk membuatnya kembali seperti semula. Merawat dia bukanlah perkara gampang. Aku banyak mendapatkan perlakuan kasar, tekanan mental. Tapi bukan itu poin pentingnya, sebab meski demikian aku benar-benar merasa ikhlas. Aku hanya menunjukkan seberapa hebat pengaruh dari kecelakaan yang Mas Dimas alami. Dan selama Mas Dimas berjuang untuk sembuh itu, Naura sama sekali tidak datang untuk memberikan dukungannya. Dia seperti menghilang. Menurutmu, sebagai manusia biasa, apakah pantas jika kini Naura tiba-tiba hadir, membujuk Mas Dimas untuk kembali menerima dia, dan memperkenalkan diri sebagai kekasih di hadapan orang banyak seolah-olah sebelumnya tak terjadi apa-apa?"
Amara menatap Juan lekat-lekat. Menanti pria itu menunjukkan tanggapan. Ia sengaja memberi penekanan pada kalimat terakhirnya sebagai bentuk kekecewaan pada sesama wanita yang menurutnya tak beretika.
"Bukankah kau melihat sendiri bagaimana Dimas terlihat begitu bahagia?" Bukan tanpa alasan Juan bertanya demikian. Sepanjang pesta berjalan, ia tak henti meneliti orang-orang yang ada di sekitar, terutama Dimas yang memang akhir-akhir ini dekat dengan Amara. Namun, ia menangkap perasaan Dimas masih terlihat normal kendati sangat perhatian pada Amara. Ia bisa membaca jika sikap baik yang Dimas tunjukkan pada sahabatnya itu hanya sebatas rasa terima kasih.
Karena alasan itulah ia memutuskan untuk bersikap baik pada Dimas dan membuang jauh-jauh perasaan cemburunya. Sebab, menurutnya Dimas juga memiliki peran besar dalam menjaga Amara. Juan bisa memahami, perlakuan kasar Dimas waktu lalu bukanlah dilakukan dengan kesadaran penuh. Pria itu sakit, dan tindakan kasar itu hanya sebuah reaksi alami untuk membentengi diri dari orang asing.
__ADS_1
Justru Juan melihat Dimas tampak menggebu-gebu saat bersama Naura. Ia bisa melihat sendiri bagaimana Dimas tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya.
"Iya, aku tau Mas Dimas terlihat bahagia ... tapi entah mengapa aku merasa Mas Dimas hanya dimanfaatkan saja." Amara memberengut usai berkata demikian.
Tak tahu harus berbuat apa, Juan hanya bisa menggenggam tangan Amara untuk menenangkan.
"Mar, saat pertama merawat Dimas, tujuan utamamu apa?" Juan bertanya hati-hati sembari meremas lembut jemari Amara.
"Agar dia sembuh dan kembali menjalani hidup seperti sedia kala."
"Nah, bukankah itu yang sedang Dimas lakukan?" Melihat Amara hanya bergeming seperti sedang berpikir, ia kembali melanjutkan perkataan. "Jika memang itu adalah tujuanmu, bukankah lebih bagus jika kau turut bahagia dan mendoakan yang terbaik? Apa kau lupa, kau telah memberiku pelajaran tentang banyak hal. Salah satunya untuk tidak berpikiran buruk pada seseorang, dan memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Ya mungkin saja, Dimas ini memiliki hati seluas samudera dan dada selapangan sepak bola hingga ikhlas memaafkan Naura. Berpikiran positif itu lebih baik, kan?"
"Astaghfirullah." Amara sontak beristighfar sembari membungkam mulutnya menggunakan telapak tangan. Ekspresinya seketika berubah kelam. Sorot matanya memperlihatkan penyesalan. Perkataan Juan barusan berhasil membuat ia sadar akan prasangka buruknya.
Amara lantas mendongakkan kepala, menatap ke atas dengan mata berkaca-kaca.
"Ampuni hamba, ya Allah. Jauhkanlah hamba dari sifat-sifat tercela," lirihnya dengan memohon.
Sementara Juan yang sama sekali tak mengalihkan pandangan dari Amara tampak tersenyum lega. Pria itu kemudian menggenggam jemari Amara, lantas menyahuti, "Aamiin ...."
Menatap Juan yang begitu pengertian, kedua sudut bibir Amara terangkat bersamaan hingga membentuk sebuah senyuman.
"Juan, makasih karena kamu nggak pernah lelah buat ngingatin aku. Makasih karena kamu selalu jadi sahabat terbaikku," ucapnya dengan tatapan mengharu biru.
"Sama-sama." Juan tersenyum sembari mengusap lembut jemari Amara. Melihat suasana hati gadis itu tampak lebih baik dari sebelumnya, tangan Juan bergerak ke arah saku jas bagian dalam, di mana sebuah kotak cincin tersimpan di sana. Ia ingin mengutarakan perasaan yang selama ini selalu tertunda.
Namun, belum juga niatan itu terlaksana tiba-tiba Amara mengguncang lengannya. Sontak saja Juan kembali memasukkan kotak yang baru ia pegang.
"Juan jalan, yuk. Sudah cukup lama kita berhenti di sini. Aku takut ada orang yang salah paham dan menuduh kita berbuat macam-macam," ujar Amara setengah gelisah.
Mata Juan lantas mengamati area sekeliling, kemudian kembali pada Amara.
"Benar juga. Melihat kita berada di dalam mobil hanya berdua orang-orang bisa menuduh kita yang tidak-tidak, kan."
"Makanya," balas Amara.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Juan menyalakan mesin mobil dan bergegas meninggalkan tempat itu. Terpaksa, acara mengutarakan cinta harus ditunda untuk kesekian kalinya.