Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Nggak Jadian


__ADS_3

Sekitar pukul tiga sore, mobil Dimas melaju dengan kecepatan sedang di bawah kendali Amara. Gadis itu terlihat lebih santai saat mengendara menuju arah pulang, berbanding terbalik dengan ketika berangkat yang terlihat masih tegang.


Dimas yang duduk di kursi penumpang, menoleh ke arah kanan. Seulas senyum mengembang di lengkung merahnya, ketika menatap sang perawat terlihat semringah.


Sejak keluar dari kantor Dimas tadi, keduanya memang belum terlibat sebuah percakapan sama sekali. Dimas sibuk memainkan ponselnya, sedangkan Amara sibuk menyetir dan memperhatikan jalan. Wajah gadis itu juga terlihat merona bahagia.


"Kenapa lo senyum-senyum?" Dimas berinsiatif mengajukan tanya untuk memecah keheningan. Pria berhidung mancung itu sengaja mematikan ponselnya demi memperhatikan ekspresi sang perawat.


Sadar jika tengah Dimas ajak bicara, Amara menatap Dimas sebentar kemudian tersenyum samar. "Ah, enggak kok," jawabnya singkat dengan nada menyangkal. Ia lantas kembali menatap lurus ke depan demi memperhatikan jalanan.


"Enggak gimana? Muka lo kelihatan banget kalau lagi bahagia!"


"Masa sih? Orang aku biasa aja."


"Iya, ya Allah."


Tak berniat menanggapi celoteh Dimas, Amara langsung pasang mimik datar demi menepis pemikiran Dimas. Ia memilih fokus pada kemudi dan membayangkan wajah Juan dalam diam.


Dalam hati ia memang membenarkan kata-kata Dimas tadi. Ia memang tengah bahagia usai berbicara dari hati ke hati bersama Juan. Semua itu memang terjadi atas campur tangan Dimas yang sok tahu tentang perasaannya.


Awalnya Amara merasa kesal karena Dimas dengan begitu lancang nyeletuk tidak jelas tentang semua yang telah terjadi. Tentang bagaimana perlakuan kekasih Juan terhadapnya, begitu juga dengan permintaan Mama Juan untuk menjauhi putranya. Terang saja, kata-kata Dimas itu mengundang tanya besar di hati Juan.


Semula Amara enggan mengakuinya. Namun, karena Juan terus saja mendesak, akhirnya mau tak mau ia pun mengungkapnya.


"Oke, aku bakal bicara jujur, tapi ... aku mau minta satu hal sama kamu." Amara mengajukan persyaratan pada Juan sebelum mengakui semuanya.


Perlu diketahui, saat itu keduanya berada di ruangan Juan hanya berdua. Dimas memang sengaja memberi kesempatan pada Amara untuk berbicara dari hati ke hati bersama Juan, dan memilih menunggu di kantin perusahaan.

__ADS_1


"Minta apa? Katakan Amara! Jangankan satu, berapapun permintaanmu pasti akan dikabulkan." Juan yang berjongkok di bawah kaki Amara berucap mantap seraya menggenggam jemari Amara. Ia bahkan tak bisa menutupi kebahagiaannya bisa kembali berbicara sedekat ini dengan gadis itu.


Amara yang duduk di sofa menatap mata Juan sekilas sebelum kemudian mengalihkan pandangan. "Ju, jangan gitu dong. Kelakuan kamu dengan duduk di bawah seperti ini bikin aku nggak nyaman tau, nggak." Ia berucap jujur dengan memasang mimik jengah. Sedangkan Juan malah tertawa menanggapi reaksi Amara.


"Ini karena aku sangat bahagia, Mar. Aku nggak mau kamu kabur lagi untuk yang kesekian kali." Juan tersenyum kecut usai mengatakannya.


"Tapi nggak gini juga, lah. Duduk di sofa sama-sama kan lebih enak."


"Oke, oke. Aku turuti mau kamu apa." Juan menyerah. Pria itu pun kemudian duduk menempati sofa kosong di sisi Amara. Namun, tangannya bahkan enggan melepaskan jemari gadis itu. "Udah, kan? Kamu lebih nyaman, kan? Nah, sekarang cerita," pintanya.


"Jangan pernah ribut-ribut lagi sama Mama kamu buat bela'in aku, ya. Beliau sangat sayang sama kamu."


"Iya, aku janji nggak bakalan ribut lagi. Tapi kalau kelakuannya udah kelewatan harus diperingatkan, Mar. Nggak bisa didiamkan! Dia pasti udah datang ke rumah sakit dan minta kamu jauhi aku, kan?" tebak Juan. Ia menatap mata Amara lekat-lekat.


Melihat aura kemarahan memancar dari kedua netra Juan, Amara jadi berpikir ribuan kali untuk mengatakan. Ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi andai kata benar-benar mengakui. Tak ingin hal itu terjadi, gegas ia mengalihkan pembicaraan demi meredam emosi Juan.


"Ju, kamu sekarang jarang makan, ya? Kok agak kurusan?" tanyanya sambil memperhatikan tubuh Juan.


Senyum Amara yang semula terlihat ceria mendadak berubah masam. "Iya, iya. Aku serius," lirihnya dengan bibir mengerucut dan kepala menunduk.


Tanpa Amara sadari, Juan yang semula memasang mimik kesal mendadak mengulas senyum. Entah bagaimana bisa pria itu terlihat bahagia hanya karena melihat ekspresinya yang menggemaskan. Tentu saja karena inilah yang begitu pria itu rindukan. Dan pria itu kembali memasang ekspresi marah begitu Amara menatapnya.


"Intinya cuma satu. Mama sama pacar kamu sangat sayang sama kamu–"


"Mantan pacar, Amara!" ralat Juan. "Aku udah putus sama Gladys.


"Oke, oke, apapun itu lah." Amara mendesah kesal sebelum kemudian melanjutkan kata. "Intinya mereka sangat sayang sama kamu. Udah gitu aja! Aku nggak mau bahas panjang lebar yang bikin mood kamu jadi berantakan."

__ADS_1


"Nggak bisa gitu, Mar!" tegas Juan tak terima.


"Bisa, Juan. Udahlah .... Bisa bicara seperti ini sama kamu aja aku udah seneng banget. Plis, jangan rusak momen kita ini dengan hal-hal nggak penting. Lagian aku udah lupa semuanya tentang peristiwa saat itu. Sampai-sampai aku nggak tau apa yang mau aku ceritakan. Beneran." Amara mengacungkan kedua jarinya untuk meyakinkan.


"Halah, alasan," sangkal Juan.


"Juan, plis." Amara menangkubkan kedua tangannya di depan dada dengan wajah mengiba. Terang saja Juan jadi tak tega. Pada akhirnya pria itu mengalah dan menuruti keinginan sahabatnya. Keduanya pun berbincang panjang lebar tanpa sedikitpun mengungkit hal itu.


"Harusnya lo berterima kasih sama gue karena udah bikin lo sama Juan pada akhirnya jadian juga. Kalau perlu kasih apresiasi apa kek, gitu," tutur Dimas penuh percaya diri.


Perkataan Dimas barusan sukses menarik Amara dari lamunan. Gadis itu menoleh pada Dimas sebentar kemudian memanyunkan bibirnya. "Kasih apresiasi buat apa? Orang aku sama Juan nggak jadian, kok," elaknya.


"Nggak jadian!" Dimas membelalak. "Sudah dikasih waktu luamma begitu Juan masih belum nembak kamu juga!"


"Gimana mau nembak, orang aku bilang selamanya kita akan bersahabat, kok."


"Sial. Aku bela-belain perut kembung kebanyakan ngopi di kantin ternyata nggak membuahkan hasil? Amara, Amara. Mau lo apa sih!" Dimas menjitak kepala Amara karena saking geramnya. "Kalau saling cinta ngapain juga cuma bertahan jadi sahabat! Nyakitin diri doang tau, nggak!"


"Jadi aku harus gimana ...?" lirih Amara sambil mengusap kepalanya dengan ekspresi takut-takut.


"Ya kalau Juan nyatain cinta terima aja! Simpel, kan." Dimas mendesah kasar, lalu mengembalikan pandangan ke arah depan.


Tepat ketika itu, mereka hampir melewati sebuah restoran tempat dia biasa makan sebelum Amara datang. Gegas ia menginstruksikan pada perawatnya untuk mampir di sana.


"Kiri, kiri. Kita mampir makan dulu!" titahnya masih dengan wajah tak bersahabat.


Amara yang patuh pun segera menganggukkan kepala. Gadis itu dengan lihai memutar stir mobil ke kiri dan mulai memarkirkan mobil dengan hati-hati.

__ADS_1


"Gara-gara jadi mak comblang gagal bikin gue pengen makan orang tau nggak!" gerutu Dimas sambil berlalu meninggalkan Amara.


Bersambung


__ADS_2