
"Mas Dimas, udahan ya. Capek ...." Amara mengeluh setengah merengek. Gadis berjilbab itu menoleh kearah Dimas di belakangnya sambil menyeka keringat yang sejak tadi membasahi pelipis.
"Enggak!" tegas Dimas dengan sorot mata tajam. Pria itu tengah duduk santai sambil mengawasi Amara dengan kaki menyilang dan tangan terlipat di depan dada.
Amara memberengut kesal sambil menatap Dimas penuh peringatan. Namun percuma, lelaki itu bahkan mengacuhkan rengekannya.
"Kelarin dulu tugas lo itu, baru entar istirahat!" seru Dimas tanpa merubah posisinya.
"Enggak bisa, Mas. Susah ...!" keluh Amara lagi. Kali ini ia memasang wajah memelas. Berharap pria itu merasa iba dan membatalkan hukumannya.
"Enggak bisa gimana, sih? Cuma gambar kucing doang, apa susahnya? Tinggal kasih mata, hitung, kuping. Jangan lupa kasih kumis sama ekor yang panjang."
Enak bener dia bicara! Coba aja kamu sendiri yang melukis, bisa nggak? Amara membatin kesal masih dengan mata menatap Dimas.
"Hey, lo melototi gue!" bentak Dimas sambil menurunkan kaki seolah hendak bangkit dari duduknya.
Sontak saja hal itu membuat Amara gugup dan langsung menggelengkan kepalanya. "Enggak, Mas. Saya nggak melototi Mas Dimas," elaknya sambil mengibaskan tangan.
"Udah nggak usah banyak omong! Buruan lukis." Dimas menyeringai puas melihat Amara benar-brenar kesal. Ia berhasil membalaskan dendam.
Walaupun tak bisa membuat Amara memakan makanan kucing itu, setidaknya ia bisa membuat gadis Amara merasa tersiksa atas hukumannya. Gadis itu merengut, menghentakkan kaki lalu kembali mengusapkan kuasnya.
Hahaha, lukis aja terus sampai mampus! batin Dimas sambil terpingkal dalam hatinya.
Amara tetap berusaha melukis seperti yang Dimas inginkan. Namun setelah berkali-kali menuai kegagalan membuatnya lelah hingga menghentikan usaha dan menurunkan tangannya.
Amara kembali menatap Dimas dengan wajah lelah. "Mas, nggak bisa. Catnya luntur terus .... Gimana mau jadi lukisan kalau esnya mencair ...."
"Gue nggak mau tau! Siapa suruh lo ngasih gue makanan kucing!"
"Itu kan salah Mas Dimas sendiri! Sudah saya peringatkan tapi Mas Dimas tidak mau mengindahkan--"
"Hey! Pakai berkelit." Dimas bangkit dari tempatnya lalu melangkah mendekati Amara. Pria itu berkacak pinggang, lalu menunduk untuk menatap Amara yang posturnya lebih rendah dari dia. "Mau nyalahin gue, lo?" tanyanya dengan mata yang sengaja dilebarkan.
Amara langsung tertunduk dan menggeleng, meski wajahnya masih cemberut.
"Lo mau, hukumannya gue tambahin lagi?"
Lagi-lagi Amara geleng kepala.
__ADS_1
Dimas terseyum puas sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya masih mengawasi Amara yang masih menunduk. "Ya udah. Kalau gitu jangan nyerah!"
Amara sontak mengangkat wajahnya menatap Dimas seperti tak percaya. Semula ia pikir Dimas akan sadar dan membatalkan hukumannya. Tapi nyatanya apa! Pria itu malah menyuruhnya untuk tidak menyerah.
Sampai Mimi Peri lahiran juga lukisan ini nggak akan kelar! batin Amara memberontak.
Bayangkan saja, orang waras mana yang memberi hukuman perawatnya untuk melukis. Ya kalau media lukisan kanvas. Lah ini bongkahan es batu! Di bawah terik matahari pula! Tidak ada naungan.
Bukan hanya es batunya saja yang meleleh, tapi tubuh Amara juga. Gadis itu sudah mandi oleh keringat. Bahkan Dimas tak memberinya kesempatan untuk sekedar membersihkan wajah dari semburan maut makanan kucing tadi. Benar-benar menyebalkan! gerutu Amara lagi.
Ingin rasanya Amara menyiramkan sisa cat-cat itu ke wajah Dimas. Tapi apa daya, nyali saja ia tidak punya. Bagaimana bisa merealisasikannya!
Tak ada pilihan lain. Amara kembali menyapukan kuasnya pada es batu yang selalu berair. Tentu saja dengan wajah yang ditekuk. Namun kali ini gerakannya asal dan semakin kasar. Bahkan sampai menimbulkan percikan, dan percikan air berwarna itu mengenai pakaian Dimas. Yang sudah barang pasti kembali memicu kemarahan pria itu.
"Lo sengaja, ya!"
"Enggak." Pertanyaan Dimas yang ngegas hanya dijawab santai oleh Amara.
Dimas hanya mendesah kasar sambil mengusap bercak noda di pakaiannya.
Sial. Andai saja aku punya senjata untuk melawan pria gila ini. Kalau saja aku tahu titik lemahnya, tentu bisa kupergunakan untuk mengancam dia. Tapi apa ya?
Amara berpikir keras selagi menyapukan kuasnya. Beberapa saat kemudian matanya berbinar senang saat menemukan ide di kepala. Sedikit gila sih, tapi tak apa. Menghadapi orang gila sepertinya aku perlu gila juga.
Dimas yang melihat hal itu tentu saja merasa aneh dengan gelagat Amara yang tiba-tiba. Ia kemudian membungkukkan badan dan mengamati Amara dengan seksama.
"Lo kenapa?" tanya Dimas dengan mimik wajah heran.
"Kepala saya pusing, Mas. Mata saya berkunang-kunang," jawab Amara dengan suara lemah. Ia memijat pelan pelipisnya. Seperti tak kuat menopang tubuh, tangannya bergerak meraih tepian meja dan menjadikannya tumpuan. Tak lama kemudian tubuhnya limbung dengan kedua mata yang terpejam rapat.
Syok, Dimas masih berdiri terpaku dengan mata membulat sempurna menatap Amara yang terkapar tanpa daya. Kejadian ini begitu tiba-tiba hingga ia tak mampu bergerak menangkapnya. Terlebih Amara tadi sengaja bergerak menyisih hingga jauh dari jangkauannya.
"Kenapa dia tiba-tiba pingsan? Bukankah tadi baik-baik saja?" gumam Dimas bertanya-tanya.
Entah mengapa dia merasa aneh dan sulit percaya. Ia lantas mendekat dan berdiri di sisi tubuh teronggok itu.
"Bangun woy! Lo mau ngerjain gue ya? Cih nggak mempan. Gue udah tau akal busuk, lo." Tak ada sahutan hingga Dimas berpikir untuk mengguncang tubuh Amara dengan ujung kakinya. "Mar bangun! Jangan modus lo, ya!"
Tetap saja tak ada sahutan. Bahkan tubuh Amara semakin terlihat lemah. Dimas berjongkok dengan satu lutut bertumpu pada lantai. Matanya mengamati tubuh Amara antara percaya dan tidak. Bisa saja 'kan, gadis ini mengerjainya demi untuk lepas dari hukuman. Tapi, kalau ternyata dia pingsan beneran bagaimana?
__ADS_1
Mendesah pelan, ia mengangkat tangan Amara lantas menekan denyut nadinya. Masih berdenyut. Dan sepertinya normal.
"Mar, Amara!" Dimas memanggil sambil menepuk pelan pipi gadis itu. Tak ada respon. Ia lantas memegang dahi Amara untuk mengukur suhu tubuhnya. Dimas berjingkat saat merasakan dahi itu benar-benar panas. Tentu saja panas, sebab mereka terpanggang di bawah terik matahari secara langsung.
"Mar, bangun! Lo nggak mati, kan?" Dimas mengguncang tubuh ramping itu berkali-kali. Tak ada respon dan ia mulai panik. Sial! Dia benar-benar pingsan. Jangan sampai mati Tuhan, jangan sampai mati. Aku bisa dipenjara kalau sampai ini terjadi.
Tanpa pikir panjang, ia segera mengangkat tubuh Amara dan merebahkannya di atas sebuah kursi di sisi kolam.
"Tunggu di sini, oke! Gue ambil minyak kayu putih dulu sebentar." Dimas lantas berlari cepat masuk ke dalam rumah usai pamit. Namun tanpa dia tahu, kelopak mata yang sejak tadi terpejam rapat itu perlahan terbuka sepeninggal dirinya.
Ya, Amara membuka matanya. Gadis itu sedikit mengangkat kepala untuk menoleh ke arah pintu masuk. Sesaat kemudian ia tertawa cekikikan setelah berhasil meyakinkan Dimas jika ia benar-benar pingsan. Gadis itu menghela napas dalam karena senang bukan kepalang.
"Akhirnya, aku bisa bernaung juga, Ya Allah. Sejuknya," desah Amara sambil mengibas-kibaskan tangannya seperti memakai kipas. Matanya juga terpejam samar, merasakan sejuknya angin yang menerpa.
Ia kembali menoleh ke arah pintu untuk berjaga-jaga. "Dasar pria kasar. Melihat wanita lemah tersungkur pingsan bukannya ditolong, malah digulingkan pakai kaki," gerutunya kesal.
Suara derap langkah yang terdengar mendekat membuat Amara bergegas bersiap-siap. Ia kembali pada posisi semula, persis seperti sebelum Dimas meninggalkannya. Tentu saja dengan memejamkan mata.
Dimas lari tergopoh dari dalam. Lantas berjongkok di sisi Amara dengan wajah penuh kecemasan. Ia segera menumpahkan minyak kayu putih lantas menempelkannya pada ujung hidung Amara. Tak lupa juga di pelipis, telapak tangan, bahkan seluruh telapak kaki. Dimas juga menggosok telapak tangan Amara untuk menyadarkan gadis itu. Namun nihil, Amara tak menunjukkan tanda-tanda siuman juga.
"Mar! Bangun dong! Jangan bikin gue panik!" Dimas menepuk pipi Amara untuk menyadarkan. Percuma. Gadis itu tak sadar juga.
"Apa gue panggil dokter aja, ya? Biar ni bocah disuntik sadar atau kejut jantung, gitu. Eh, enggak-enggak. Entar dokter malah curiga, lagi. Disangkanya gue nyiksa, padahal kan enggak. Sialan. Kenapa gue jadi pusing gini, sih!"
Dimas mendesah kasar lalu duduk di tepi kursi, tepat di sisi tubuh Amara. Ia menoleh dan menatap wajah perawatnya. "Padahal semenit lagi, Amara. Semenit lagi lo gue bebasin dari hukuman. Tapi kenapa lo nya udah nggak tahan, sih! Gue baru aja mau narik hukuman, lo ...."
Sungguh Amara ingin tertawa terpingkal-pingkal mendengar racauan Dimas yang mirip seperti rengekan anak kecil itu. Sesaat kemudian ia merasakan tubuh Dimas bangkit dari duduk.
Entah pergi kemana laki-laki itu. Yang jelas, tak lama kemudian ia kembali, dan Amara merasakan sesuatu yang basah dan dingin menerpa wajahnya. Tentu saja Amara terkejut hingga tubuhnya sedikit berjingkat. Rupanya Dimas memercikkan air putih untuk menyadarkan.
Entah apa yang sedang dipikirkan lelaki itu, yang jelas Amara tak merasakan pergerakan ataukah pergerakan apapun. Namun sesaat kemudian ia merasakan seseorang memegangi jemarinya.
"Mar, tunggu ya, gue cari bala bantuan dulu." Terdengar suara langkah kaki yang menjauh usai Dimas mengucapkan kalimat itu. Yang jelas hal itu kembali membuat perut Amara merasa kaku karena berusaha menahan tawa.
Hahaha, senangnya telah berhasil memberi dia pelajaran. Memangnya kamu doang yang bisa menuntut balas? Aku juga dong. Bahagianya melihat dia didera kepanikan .... Amara cekikikan dalam hati.
Tak lama kemudian, derap langkah Dimas kembali terdengar. Amara sudah tak sabar melihat bala bantuan apa yang berhasil Dimas dapatkan. Mungkinkah Euis? Atau barang kali Bi Eli?
Keadaan pun hening setelah Dimas kembali. Tanpa peringatan apapun, byuurr! Air dingin seember penuh tumpah dan membasahi tubuh Amara. Sontak saja gadis itu gelagapan dan langsung melenting bangun dari pembaringan.
__ADS_1
Ia sudah hampir saja mengeluarkan jurus bacot setajam pedang Etalibun, tapi lidahnya langsung kelu saat mendapati Dimas tengah berdiri dengan menenteng ember kosong di tangan. Sementara bibirnya menyunggingkan seringai iblis yang begitu mengerikan.
Bersambung