Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Nggak boleh bantah!


__ADS_3

Dimas tengah mondar-mandir di dalam kamar. Dua hari diacuhkan oleh Amara membuatnya seperti setengah gila. Kalang kabut seperti cacing kepanasan. Parahnya, hal itu membuat Dimas tak enak makan.


Kesal. Gelisah, dan gusar. Dimas bahkan merasa tak biasa melakukan aktifitas tanpa Amara.


"Apa gue cinta sama dia?" gumam Dimas sambil berpikir. Ia lantas berhenti dan diam sejenak. "Ah, gila aja! Mana mungkin gue cinta sama Amara! Gue cuma bergantung sama dia! Sekian waktu mendapatkan pelayanannya membuat gue jadi nggak biasa tanpa dia. Sebal. Mantra apa sih yang cewek itu pakai! Dan parahnya, dia sekarang sok-sok'an jual mahal. Memangnya dia siapa!"


Geram, Dimas membanting tubuhnya ke atas ranjang. Merebahkan diri dan berusaha memejamkan mata. Sialnya, ia sama sekali tak mengantuk.


"Ahhh ... nggak bisa nggak bisa!" serunya seraya bangun dan duduk. "Gue nggak bisa diginiin. Ini nggak bisa dibiarin begini. Gue harus minta maaf sama dia. Se-ka-rang! Gue udah nggak tahan."


Pria yang memakai kaus oblong dipasangkan dengan celana jeans selutut itu bangkit dan beranjak keluar. Menghampiri pintu kamar Amara yang tertutup rapat, ia lantas mengetuknya.


"Mar, Amara! Ini gue. Bukain pintu bentar, dong ...!" seru Dimas setelah mengentikan ketukan. Ia terdiam sejenak sambil menempelkan telinga pada daun pintu, berusaha mendengarkan suara di dalam. "Hening. Nggak ada suara. Apa dia nggak ada di dalam?" gumamnya kemudian.


Karena penasaran, Dimas lantas memegang tuas pintu lalu memutarnya hingga terbuka. Kepalanya menyembul ke dalam di sela pintu yang setengah terbuka, lalu mengedarkan pandangannya menyisir ruangan.


"Nggak ada orang ternyata."


***


Dimas yang berjalan ke arah luar, mendapati Euis tengah menonton TV di ruang tengah. Tanpa pikir panjang lagi, pria itu segera menghampiri gadis mungil yang tengah duduk di lantai sambil menyandarkan kepalanya pada sofa itu.


"Euis, lo lihat Amara, nggak?" tanya Dimas sungguh-sungguh seraya duduk di sofa yang posisinya di belakang Euis.


Euis menoleh ke belakang, menatap Dimas sejenak lantas kembali mengembalikan pandangan pada TV. "Nggak tau, Mas," balasnya sambil menggeleng pelan.


Yang membuat Dimas sebal, gadis itu mengabaikan keberadaannya dan lebih memilih fokus pada Televisi. Padahal yang ditonton juga cuma drakor!


"Euis ... gue serius nanya, ini. Lo pasti tau Amara di mana, bukan?" tanya pria itu penuh penekanan sambil mencondongkan tubuh ke arah Euis.


Euis menatap Dimas dengan wajah penuh sesal. Lantas dengan sendirinya beranjak dari lantai dan duduk di sofa.


Dimas berusaha sabar selagi mengamati gerak-gerik Euis, hingga gadis itu berada sejajar dengannya. "Lo tau, kan?" tanyanya lagi setengah mendesak.


"Tau." Euis menunduk. "Tapi Teh Amara melarang Euis memberitahu Mas Dimas."


Dimas terseyum. Sekian waktu memperkerjakan gadis itu di rumahnya, ia bahkan mengerti apa yang dimau gadis itu meski hanya dari mimik wajahnya.


Dimas segera merogoh dompet dari saku celananya, lalu mengeluarkan dua lembar uang pecahan seratus ribuan.


Memperlihatkan pada gadis di depannya itu seperti sedang mengiming-iming, Dimas kemudian bertanya, "Yakin, Amara ngelarang lo buat kasih tau gue?"


Airmuka Euis mendadak berubah ceria, sedangkan matanya berbinar senang kala menatap lembaran berwarna merah di tangan Dimas.


"Emm, tadi Teteh Bilang nggak masalah juga kalau mau kasih tau Mas Dimas. Katanya nggak dosa, kok."


Dimas menarik tangannya saat Euis hendak merebut uangnya, hingga membuat gadis mungil itu hanya berhasil menangkap udara saja.


"Amara pergi ke mana?" tegas Dimas dengan mimik penuh tanya.


"Duitnya dulu, baru Euis kasih tau." Euis berucap seraya menadahkan tangan kanannya.

__ADS_1


Tanpa keberatan, Dimas pun menyerahkan uangnya, sedangkan Euis, bergerak cepat menyambutnya.


"Alhamdulillah ... kalau rezeki memang nggak kemana, atuh." Euis terseyum senang lalu mengibas-ngibaskan uangnya seperti sedang memakai kipas. Saking senangnya, ia bahkan tak sadar jika sepasang mata di depannya tengah menatap ia setengah geram.


"Jadi ... Amara di mana, Euis ...?" tanya Dimas dengan nada lambat penuh penekanan.


"Anu Mas, Teh Amara mah lagi salat Dzuhur di kamarnya, hehe." Gadis itu berucap sambil nyengir.


"Nggak ada Euis ... gue udah nyari dia di kamarnya ...!" Kesal, Dimas menatap Euis dengan mata menyipit. "Jangan coba-coba nipu gue lo, ya--"


"Ini ada apa, to?" Suara Eli yang baru muncul di tempat itu membuat Dimas dan Euis serentak menoleh menatapnya. Wanita paruh baya itu berjalan mendekati sofa dan bergantian menatap dua manusia di depannya itu dengan wajah penasaran.


"Ehem," Dimas berdehem kecil sambil menurunkan tangannya yang sempat menuding Euis.


"Ini Mak, Mas Dimas nyariin Teteh Am--" Belum sempat menyelesaikan ucapannya, mulut Euis sudah lebih dulu dibungkam oleh Dimas.


"Iya Euis, gue percaya kok ... jangan cerita yang aneh-aneh, ya ...." Dengan tangan masih membungkam mulut Euis, Dimas berucap penuh penekanan. Meski bibirnya tersenyum, tapi tatapannya tersorot penuh peringatan, seolah-olah mengisyaratkan agar Euis tak mengatakan apapun pada Eli.


Euis mengerjap, menggelengkan kepala lalu meronta dan mendorong tangan Dimas hingga lepas. "Aih, Mas Dimas! Euis nggak bisa napas!" gerutu gadis itu sambil menatap Dimas kesal. Sedangkan Eli yang masih di tempatnya hanya diam memperhatikan.


"Ya elah, Euis. Gue kan cuma bercanda ...!" balas Dimas sambil tersenyum kecut lantas menonton bahu asisten rumah tangganya. "Dah, ah! Aku mau balik ke kamar aja. Euis susah diajak bercanda." Dimas bangkit dari duduknya. Melirik Eli sambil tersenyum, ia pun segera enyah dari sana untuk melarikan diri.


Eli dan Euis memperhatikan punggung Dimas yang menjauh hingga menghilang di balik pintu sebelum kemudian saling memandang.


"Ada apa, sih?" Masih belum mengerti, pada akhirnya Eli memilih bertanya pada Euis.


Tak menjawab dengan kata-kata, Euis hanya tersenyum sambil menunjukkan dua lembar uang yang baru didapatnya.


Tak terima, Euis langsung geleng kepala sambil melambaikan tangannya. "Enggak atuh, Mak, Euis nggak meras Mas Dimas!"


"Heh, anak kecil nggak boleh bohong." Eli mengacungkan telunjuknya ke arah Euis dengan tatapan penuh peringatan.


Gadis mungil itu tertunduk lesu sambil memberengut dan menyebikkan bibir.


***


Tok tok tok!


Dimas mengetuk pintu kamar Amara. Ia hampir saja membuka mulut untuk memanggil nama gadis si pemilik kamar, tapi tuas pintu kamar tiba-tiba mendadak berputar seperti sengaja diputar dari dalam. Benar saja, sedetik kemudian pintu itu terbuka.


Dimas mundur selangkah dan terseyum pada gadis berjilbab yang hanya menampakkan kepalanya saja. Sedangkan dari leher ke bawah bersembunyi di balik daun pintu.


"Ada apa?" Gadis itu bertanya ketus.


Sialan, berani betul dia pasang tampang sangar kayak gitu. Lupa, kalau yang bayar elo itu gue? batin Dimas.


"Gue mau jalan ke luar rumah. Lo harus antar gue." Dimas berucap penuh tuntutan, seolah-olah tak ingin mendengar penolakan.


"Maaf. Nggak bisa." Amara sudah hendak menutup pintu kamarnya, tapi sudah lebih dulu dicegah oleh Dimas.


"Harus bisa. Nggak boleh bantah!"

__ADS_1


Amara mendesah pelan. "Bentar. Saya siap-siap dulu."


Yes! Sepertinya jurus memaksa, itu terkadang juga perlu dilakukan. Batin Dimas girang.


***


Euis berjalan dengan langkah gontai hendak menuju kamar Dimas. Namun langkahnya mendadak terhenti saat melihat sosok jangkung majikannya itu tengah bersandar pada tembok sambil bersedekap dada dengan kaki yang menyilang.


Gadis itu mengucek-kucek matanya seperti tak percaya. Kamar Mas Dimas kan di sana. Terus kenapa malah berdirinya di sana? batinnya sambil menunjuk pintu kamar Dimas dan Amara bergantian.


Dimas yang menyadari kehadiran Euis segera mengedikkan dagu sambil memainkan alisnya seolah-olah sedang menanyakan maksud kedatangan gadis itu.


Sambil cemberut, Euis mendekat dengan langkah berat, sementara Dimas yang masih dalam posisinya tampak menatap Euis dengan wajah heran.


"Kenapa cemberut? Diputusin pacar? Apa uang sakunya masih kurang?" tanya Dimas Dengan wajah penasaran.


Euis hanya menanggapi setiap pertanyaan Dimas dengan gelengan kepala sambil menunduk.


Bingung, Dimas memiringkan kepalanya, lantas menatap Euis yang tingginya dua jengkal lebih pendek dari dia. "Terus kenapa?"


Tanpa kata, Euis lantas menyodorkan dua lembar uang tadi. Jangan tanya seperti apa mimik wajahnya sekarang.


Makin bingung, Dimas melepaskan lipatan tangannya lalu berdiri tegak. "Itu buat apaan?" tanyanya heran sambil menelusupkan jemari ke saku celana.


"Mau balikin." Euis berucap lirih. "Kata Emak ini duit meras. Nggak halal. Nggak berkah." Gadis itu memberengut penuh sesal.


"Lo mau dihalalin?" Dimas kembali melipat tangannya dan menatap Euis penuh selidik. "Ajak aja pacar lo ke penghulu. Kalau udah dinikahin kan jadinya halal."


"Ish, Mas Dimas teh ngeledek saya!" gerutu Euis, lalu menepuk bahu Dimas dengan geram saat lelaki itu justru terkekeh menggodanya. "Nih, terima. Euis nggak jadi minta." Sambil cemberut, Euis bersikeras menyerahkan uangnya.


"Ogah." Dimas menyebik sambil buang muka.


"Ihh ...! Mas Dimas mau Euis banyak dosa!"


"Bodo amat. Dosa masing-masing yang tanggung. Yang penting gue ikhlas, ngasihnya."


Euis terkesiap. Matanya pun mengerjap-kerjap. "Maksud Mas Dimas?


"Buat jajan lo, kayak biasanya. Gue ikhlas ...," imbuh Dimas untuk mempertegas, lalu mengusap puncak kepala Euis dan mengacak rambutnya.


Mata gadis itu langsung berbinar. Wajah cemberutnya pun kini bersinar. "Jadi ini halal? Alhamdulillah ...! Thank you so much atuh Mas Dimas ...." Euis berucap riang, lantas berbalik badan dan pergi meninggalkan Dimas sambil berseru, "Emak ...! Sekarang sudah halal, atuh Mak!"


Sambil berkacak pinggang, Dimas terseyum memperhatikan tingkah Euis yang menggelikan hingga gadis itu tak nampak lagi. Di saat yang bersamaan, pintu kamar Amara terbuka dan menampakkan sosok gadis itu yang mengenakan pakaian dinasnya yang sontak membuat langsung menoleh.


Sialnya, senyuman itu masih terpatri di bibir Dimas hingga membuat kening Amara berkerut bingung.


Sial, pasti Amara pikir gue senyum-senyum sama dia. Padahal enggak, kan?


"Ehem," Dimas berdehem kecil lantas memasang wajah datar. "Sudah siap?" tanyanya kemudian.


"Sudah," balas Amara sambil mengangguk samar. Gadis itu kemudian melangkah mengikuti Dimas yang sudah lebih dulu meninggalkannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2