
Amara tertunduk sambil menggigit bibirnya. Ia menatap Dimas takut-takut, sebelum kemudian berucap, "Maaf Mas, aku nggak bisa dandan," dutanya.
Tak percaya begitu saja, Dimas tersenyum remeh. "Bohong lo ya. Masa cewek nggak bisa dandan," protesnya meragukan.
"Ya, kalau cuma pakai bedak doang sih, bisa. Tapi kayaknya nggak perlu, deh. Bukannya aku nggak masuk ke tempat acara? Mendingan aku tungguin Mas Dimas di mobil aja, ya?" tanya Amara dengan nada memastikan, sekaligus meminta persetujuan.
"Nggak bisa gitu, dong! Masa lo nunggu di mobil!"
"Nggak papa, Mas. Tugasku kan cuma mastiin keadaan Mas Dimas baik-baik aja."
"Kalau aku bilang nggak bisa ya nggak bisa! Susah banget sih dikasih tau." Dimas mendesah kasar. Ia kemudian menilik jam di pergelangan tangan. "Masih ada waktu. Buruan sana dandan yang cantik. Gue tunggu, loh. Sana-sana." Tanpa peringatan, ia menghela tubuh Amara untuk masuk ke dalam kamar, lalu menutupnya dari luar.
Dimas baru saja beranjak dua langkah dari sana, akan tetapi pintu terdengar dibuka menyusul suara Amara yang terdengar memanggilnya.
Terpaksa, pria yang sudah rapi dengan balutan jas serba putih itu menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. Sejurus kemudian, ia berdecak heran melihat kepala Amara yang menyembul ke luar.
"Astaga ini bocah. Apa lagi, hah!" geramnya sambil berbalik badan.
Keluar dari kamar dengan wajah takut-takut, Amara pun mengutarakan isi hatinya dengan sangat hati-hati.
"Aku ... a–aku ...."
"Apa!" desak Dimas tak sabaran.
"Aku ... nggak ada baju pesta, hehe," cengir Amara hingga menunjukkan deretan gigi putihnya.
***
Setengah tergopoh Amara mengikuti langkah Dimas di depannya. Tak ada yang bisa dilakukan selain pasrah mengikuti ke mana pun pria itu membawanya. Kali ini, mobil Dimas berhenti di sebuah salon kecantikan dan butik ternama.
Saat pintu masuk terbuka, sesosok wanita cantik tampak menyambut Dimas dan Amara dengan sangat ramah dan senyum yang mengembang.
__ADS_1
"Selamat sore, selamat datang di salon Permata. Ada yang bisa saya bantu?"
Tak langsung menjawab, Dimas justru mendekat dan melirik Amara sejenak sebelum kemudian kembali menatap sang resepsionis salon dengan wajah condong ke depan.
"Mbak, saya bisa minta tolong, kan? Kira-kira muka kayak gini bisa direparasi, nggak?" tanyanya sambil menunjuk wajah Amara. Sontak saja gadis itu mendelik tak percaya.
"Kok direparasi, sih Mas! Memangnya wajah aku ini rusak sampai perlu direparasi!" Amara menggeram kesal.
Alih-alih meralat ucapan, Dimas justru menempelkan telunjuknya pada bibir, mengisyaratkan agar Amara diam.
Resepsionis itu berusaha tersenyum ramah meski dalam hati ingin terpingkal. Ia menatap Amara sebentar sebelum kemudian kembali menatap Dimas.
"Owh, maksud Bapak di-make over, begitu?" tanyanya untuk memastikan.
"Ya, apa pun itu lah, Mbak. Saya mau dia agak mendingan dari sekarang. Biar nggak malu-maluin diajak ke kondangan," tutur Dimas dengan songongnya.
Jangan ditanya wajah Amara seperti apa. Wajah gadis dengan pakaian perawat itu tampak merah padam. Sementara tangannya terkepal kuat, siap menghujamkan pukulan ke arah Dimas andai mereka hanya berdua.
"Ow, silahkan mau pilih paket yang mana? Ada beberapa pilihan treatment untuk wajah, rambut dan tubuh. Atau mungkin ingin perawatan kuku, kami juga melayani manikur dan pedikur." Wanita cantik berambut sebahu itu mulai menawarkan.
Tak ingin berlama-lama, Dimas memilih mempercayakan semua pada pihak salon.
"Gini aja lah, Mbak. Karena saya nggak tau apa-apa tentang perawatan wanita, saya percayakan semuanya sama Mbak. Saya nitip ini bocah. Sekalian sama baju pesta yang cocok sama dia. Berapa pun saya bayar." Dimas berucap mantap untuk meyakinkan.
Tentu saja resepsionis itu percaya dan mengangguk senang. Wanita muda itu tentu saja bisa menilai mana orang yang benar-benar tak tahu dengan yang pura-pura tak tahu. Jika dilihat dari segi penampilan, Dimas jelas-jelas pria tajir dengan pakaian mahal dan turun dari mobil mewah. Tentunya juga dia adalah pria terpelajar.
Sang resepsionis bahkan bisa membaca hanya dengan bahasa tubuh Dimas yang jelas-jelas menunjukkan tengah menggoda Amara melalui tingkah pura-pura bodohnya.
Jauh sebelum Amara datang, salon kecantikan bagi Dimas adalah tempat yang sudah tak asing. Berkat Naura lah ia sering berdiam diri di sana demi menemani sang pujaan hati mempercantik diri.
"Setengah jam harus sudah selesai, ya Mbak," ujar Dimas sebelum pergi. Pria itu memilih keluar salon selagi Amara dirias.
__ADS_1
"Nggak sampai setengah jam juga selesai, kok Mas. Mbaknya kan sudah cantik, jadi cuma tinggal poles-poles dikit," ujar seorang make-up artist yang mendapat tugas merias Amara.
"Tapi saya nggak mau kalau dipolesnya pakai cat, Mbak." Dimas memperingatkan dengan ekspresi serius. Tentu saja hal itu mengundang tawa sang MUA
"Ya nggak lah, Mas. Kita di sini juga nggak sedia cat, kok."
"Bagus, deh," pungkas Dimas. Ia kemudian berlalu usai menunjukkan seringainya pada Amara.
Setengah jam pun berlalu. Mobil Dimas memasuki halaman salon saat hari mulai petang. Pria itu bergegas masuk untuk menjemput Amara sebab tak ingin membuang waktu mengingat acara sebentar lagi dimulai.
Tak melihat keberadaan Amara, ia memutuskan menempati sebuah sofa di ruang tunggu.
"Katanya nggak nyampe setengah jam udah selesai, nyatanya udah setengah jam lewat semenit Amara belum keluar juga," gumamnya dengan pandangan menyisir ke sekeliling.
"Mas yang tadi sudah datang, ya." Sang resepsionis muncul dengan senyum yang mengembang, hingga mau tak mau Dimas pun menyunggingkan senyum balasan.
"Belum selesai, ya Mbak?" tanya Dimas memastikan.
"Sudah kok. Malah dari tadi," jawab wanita itu.
"Lah, terus orangnya mana?" Dimas lantas celingukan.
"Tuh," tunjuk sang resepsionis, yang langsung diikuti oleh pandangan Dimas ke arahnya.
Decit suara high heels yang beradu dengan lantai marmer mengiringi langkah kaki seorang gadis. Dengan balutan dress model mermaid warna hitam, Amara berjalan anggun keluar dari ruangan.
Berbeda dari biasanya, gadis itu terlihat begitu cantik dan memesona. Gaun yang terbuat dari bahan mix velvet itu itu terlihat sangat indah. Dengan paduan detail brokat impor yang menghiasi bagian atas hingga sebatas lutut, serta hiasan serupa biji-biji mutiara yang melingkar di bagian pergelangan dan juga lututnya, Amara bak bidadari tanpa sayap.
Dimas masih tertegun di tempatnya. Pandangannya mencari-cari Amara, tetapi yang muncul justru gadis cantik dengan tampilan yang begitu elegan. Sebenarnya ia ingin abai, tatapi gadis itu justru tersenyum padanya hingga mau tak mau ia menatapnya dengan kening berkerut.
Berhenti tepat di depan Dimas, Amara menatap pria yang masih terpaku. Netra keduanya bersirobok dengan ekspresi yang sulit diartikan. Hening membentang hingga beberapa detik berlalu, sebelum akhirnya Amara mengoyaknya dengan panggilan, hingga Dimas membulatkan mata seketika.
__ADS_1
"Mas Dimas kok bengong?"