
Pada akhirnya, malam itu Dimas pun ikut makan bersama Amara. Bagaimanapun juga Amara adalah istrinya. Gadis itu telah menghabiskan waktu istirahat hanya untuk masak makanan kesukaannya. Kalau sudah begitu, ia akan merasa sangat berdosa jika membuat istrinya kecewa.
Ya, Dimas memang menangkap ekspresi kecewa dari wajah Amara. Ia pun lantas mengungkapkan permintaan untuk menghindari kejadian yang sama.
"Lain kali, kalau mau masak tanya-tanya gue dulu, ya. Udah makan apa belum. Kan kasihan kalau lo capek-capek masak eh ternyata guenya udah makan. Untung aja malam ini perut gue masih muat biarpun sekarang rada-rada begah."
Amara hanya menimpali kata-kata terakhir Dimas dengan cebikan. Namun, setelahnya ia tersenyum tulus guna mengapresiasi niat baik Dimas.
"Iya, Mas. Lain kali aku bakal tanya dulu sama kamu."
"Sebenarnya gue tuh cuma nggak mau ngerepotin lo doang, kali Mar. Status pernikahan kita cuma ada di surat nikah. Tapi untuk cinta memang kita nggak ada keterikatan. Jadi, alangkah baiknya kita saling menghargai sebagai teman, tapi jangan pernah libatkan hati dan perasaan."
Glek. Amara menelan ludah dengan susah payah. Tiba-tiba ia teringat akan permohonan mertuanya, dan perkataan Dimas baru saja sukses membuatnya berada dalam dilema.
"Iya, Mas. Aku tau. Percayalah, aku tadi masak itu bener-bener karena keinginanku sendiri." Amara berbicara dengan nada tegas. "Walaupun kita nggak saling cinta, tapi sejak ijab kabul terjadi, secara langsung ibadah pernikahan telah dimulai. Jadi aku mohon, jangan halangi aku untuk melakukan kewajiban sebagai istri yang baik, setidaknya selama enam bulan ini. Aku nggak peduli mau kamu menghargai jerih payahku atau enggak. Kamu ngerti maksudku, kan Mas?" pungkasnya mohon pengertian, lalu bergegas beranjak dari sana tanpa menunggu jawaban suaminya.
Sedangkan Dimas yang tak menyangka akan reaksi Amara hanya terbengong melihat kepergian istrinya. Namun, sesaat kemudian, barulah ia berucap lirih ketika sosok Amara menghilang dari pandangan.
"Iya, Mar. Gue ngerti."
***
"Dah, gue berangkat dulu, ya." Dimas melambaikan tangannya usai menurunkan si istri.
"Hati-hati ya, Mas," ujar Amara dengan senyuman manis seraya memegang selempang tas yang ia kenakan di bahu kanan.
"Pasti." Dimas mengangguk. Pria berkacamata hitam itu lantas melajukan mobilnya meninggalkan Amara.
Amara masih terpaku di tempatnya sembari menatap bagian belakang mobil yang bergerak menjauh itu. Ia menghela napas dalam, lalu merogoh ponselnya di dalam tas usai memastikan Dimas telah menghilang dari pandangan.
__ADS_1
Sejak sang mama memberi ultimatum pada Dimas untuk mengajak Amara bersamanya selain pergi bekerja, semenjak itu pulalah Dimas selalu berusaha mengajak Amara saat bepergian di luar jam kerja, atau setidaknya berusaha mengantar ke mana pun istrinya itu bepergian.
Seperti minggu pagi ini, Dimas menurunkan Amara di depan sebuah mall besar sebelum ia pergi menemui Naura. Itu pun atas permintaan Amara sendiri. Sebab gadis itu meyakinkan jika nanti Juan akan menjemputnya di sana.
Jelas itu hanya alibi gadis itu saja. Sebab, hingga detik ini ia sama sekali belum pernah menjalin pertemuan dengan sahabatnya itu meski hanya sekadar memberi pengakuan atas pernikahan instannya dengan Dimas. Tentu saja hal ini pun terjadi tanpa sepengetahuan Dimas, sebab pria itu selalu mengira jika Amara selalu melewatkan waktu luang bersama orang yang dicintainya.
"Dengan Nyonya Amara?"
"Iya, benar."
Amara mengiayakan saat sopir taksi online yang dipesannya beberapa saat lalu tiba dan menyapa. Ia lantas naik, dan duduk di kursi penumpang.
"Ke panti asuhan Kasih Bunda, ya Pak," ucapnya pada sang sopir.
"Baik, Nyonya." Pria paruh baya itu menjawab.
Senyum bahagia anak-anak yatim-piatu itu ampuh menjadi pengobat lara Amara atas rindu pada almarhum kedua orang tuanya.
Seperti biasa, ia akan membawa hadiah untuk anak-anak itu berupa makanan, alat tulis, pakaian, ataupun hal lain yang dibutuhkan.
Anak-anak kecil itu menyambutnya dengan suka cita, dan melepas kepulangannya dengan menyertai doa. Tak ada hal lain yang membuat Amara bahagia selain melihat tawa mereka.
Dimas selalu mengirimkan uang dengan nominal besar ke rekeningnya sebagai bentuk nafkah lahir, dan begitulah cara Amara memanfaatkan sebagian dari rezekinya.
Saat sedang menggelar acara barbeque dengan anak-anak itu di taman panti, Amara yang tengah memanggang sosis merasakan ponselnya berdering. Ia bergegas merogohnya dari dalam tas untuk melihat siapa yang menghubunginya.
"Juan?" lirihnya ketika melihat nama itu tersemat di layar ponselnya.
Untuk sesaat, Amara hanya bisa terpaku menatap layar gawai itu. Entah mengapa, dadanya mendadak terasa sesak. Matanya mulai berkaca-kaca. Jujur, ia sangat merindukan Juan. Kendati rasa cintanya tak pernah pudar, tetapi ia sadar kini keadaan telah berbeda. Ia bukan lagi Amara yang dulu. Statusnya kini adalah istri orang, walaupun pernikahan terjadi tanpa dasar cinta.
__ADS_1
Belum siap bicara apa pun dengan Juan, ia memilih mengabaikan panggilan. Gegas saja ia masukkan ponsel yang masih berdering itu ke dalam tas dan bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa.
"Loh, Kak, kok teleponnya nggak diangkat?" tanya seorang anak perempuan yang ternyata sejak tadi memperhatikan Amara.
Amara tersenyum menanggapi gadis itu, lalu membungkukkan badan untuk mensejajarkan tinggi mereka.
"Cuma telepon dari nomor tidak dikenal, Sayang. Nggak penting, kok," jelasnya dengan ramah sekalipun itu hanyalah bocah kecil.
"Owh, gitu ya?"
"Iya. Sekarang masak lagi, yuk? Nadia bisa bantuin Kakak, nggak?"
"Tentu."
"Tolong jagain sosis ini sebentar, ya. Kakak mau masuk ke dalam buat ambil piring."
"Okay."
Gadis itu sontak mengangguk dan tersenyum, lalu bersikap patuh dan menjaga sosis itu dengan penuh suka cita.
Saat Amara beranjak dari sana, tiba-tiba ia merasakan seseorang mencekal pergelangan tangannya dari arah belakang. Awalnya ia tak merasa curiga saat merasakan ada seseorang yang mengikutinya di belakang sebab berpikir jika itu adalah anak-anak yang ingin ikut masuk ke dalam.
Namun, saat dirinya menoleh ke belakang, barulah ia terkejut saat menyadari yang memegangi tangannya adalah seseorang di luar dugaan.
"Juan?" Amara tercekat. Dan senyum di wajahnya seketika lindap.
"Mar! Kenapa kamu giniin aku? Kenapa kamu seperti menghindar? Teleponku nggak pernah dijawab. Pesanku juga cuma kamu balas singkat. Kamu selalu nolak diajak ketemuan. Salah aku apa Amara, salah aku apa!"
Amara hanya terdiam saat Juan memberondongnya dengan pertanyaan. Tubuhnya membeku meski Juan mengguncang bahunya seolah-olah menyadarkan. Dan ia hanya bisa menangis saat pria itu membawanya ke dalam pelukan.
__ADS_1