Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Di mana Naura?


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Mamad sudah memasuki gerbang rumah Dimas. Bi Eli, Euis serta beberapa asisten rumah tangga yang lain tampak berdiri di teras depan. Sepertinya mereka memang sengaja berada disana untuk menyambut kedatangan Dimas.


Mamad segera turun begitu dia mematikan mesin mobil guna membuka pintu belakang untuk Dimas. Dan pastinya sekaligus membantu lelaki itu turun. Namun Dimas justru menolaknya dengan halus.


"Saya bisa sendiri, Pak," ucapnya sembari berlalu pergi begitu saja.


"Mas Dimas, Bibi bantu ya," Eli yang menyambut Dimas langsung menawarkan bantuan. Ia hampir saja menggenggam lengan Dimas, namun mendadak urung saat sang majikan memberi isyarat melalui tangan untuk tidak menyentuhnya. Eli hanya mengangguk sopan dan membiarkan Dimas berlalu meninggalkannya.


Amara yang tengah melangkah mendekat pun menjadi sasaran empuk Eli dan Euis. Keduanya langsung menghadang saat Amara sudah dekat.


Amara sontak menghentikan langkah sambil menatap keduanya keheranan.


"Teteh kumaha ini, Teh? Kenapa Tuan Dimas teh sudah pulang. Bukannya seharusnya masih dirawat?" Euis bertanya dengan ekepresi wajah penasaran. Ia menatap Amara penuh kecemasan serta menuntut penjelasan.


"Dia yang maksa pulang Euis, Bi Eli. Jadi aku nggak bisa maksa untuk tetap dirawat di sana." Amara menjawab dengan suara lemah. Terlihat sekali gadis itu tengah berada dalam titik lelah.


Wajah murung Amara itu pun tak luput dari perhatian Euis. Gadis itu memicingkan mata, lalu mengamati wajah Amara dengan seksama. "Teh Amara nangis? Itu kenapa mata Teteh, sembap?" tanyanya dengan wajah penasaran.


"Iya lo, apa Mas Dimas mengamuk dan menyakitimu?" Bi Eli pula menimpali.


"Hah?" Amara sontak ternganga. Ia mengerjapkan matanya berulang-ulang lalu menyunggingkan senyum yang terlihat dipaksakan. "Ah ini, enggak kok, ini tadi mata aku kelilipan," dustanya memberikan alasan.


"Tapi seperti habis nangis," ganti Eli pula memperhatikan wajah Amara. Hal itu semakin membuat Amara salah tingkah.


"Iya!" sahut Euis memberi dukungan. "Masa yang kelilipan dua-duanya! Biasanya kan sebelah aja."


"Hahaha, ini kelilipannya nggak biasa, Euis. Jadi kena dua-duanya," tutur Amara sambil tertawa. Namun tawanya itu terlihat aneh bagi Euis dan Eli, hingga membuat keduanya saling menatap keheranan.


Melihat ekspresi Eli dan Euis yang terlihat menyangsikan tawanya, Amara lantas tersenyum kecut sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sepertinya alasan yang ia gunakan tidak berhasil menipu kenyataan yang sesungguhnya. Jadi percuma saja ia menutupinya dengan kebohongan.


Amara terseyum, lalu menatap dua orang wanita di depannya bergantian. "Kalian tidak perlu terlalu cemas dengan kondisi Tuan Dimas. Beliau merasa lebih baik dari sebelumnya, makanya tidak mau dirawat. Jadi tenang aja, ya," ucap Amara mengalihkan pembicaraan. Mimik wajahnya juga terlihat meyakinkan, hingga membuat dua wanita di depannya itu menghela napas lega.


"Alhamdulillah kalau begitu. Bibi merasa tenang, sekarang," tutur Eli dengan wajah berseri-seri. Tangannya refleks menggenggam jemari Amara. "Terima kasih ya Mara, ini berkat kamu pastinya."

__ADS_1


"Apa sih, Bi," Amara terkekeh sambil mengibas-ngibaskan tangannya. "Ini karena tekad Tuan Dimas yang begitu kuat ingin sembuh dari sakitnya. Aku hanya membantu sedikit saja."


"Hemm, kau selalu merendah, Mara," Eli menyebikkan bibirnya.


"Betul, eta Mak," timpal Euis sambil mengacungkan jempolnya.


"Enggak kok. Memang begini adanya," Amara pula membantah. "Masuk, yuk. Kakiku udah pegel berdiri terus," guraunya sambil tersenyum menatap keduanya.


"Ah iya, benar juga. Yuk masuk, Bibi sudah bikin pisang keju super lezat."


"Beneran Bi?" sahut Amara dengan bola mata berbinar senang. "Aku mauuu ,,,!"


"Sok, mangga. Euis mah udah puas. He he," timpal gadis berbaju tidur itu sambil mengusap perutnya.


"Awas ya, kalau aku nggak disisain," Amara mengarahkan tatapan penuh peringatan ke arah Euis, namun tentunya bukanlah peringatan yang sesungguhnya, melainkan hanya candaan semata.


"Tenang-tenang, masih banyak," sahut Eli menengahi. Lantas meraih jemari kedua gadis itu bersamaan. "Yuk masuk, keburu pisang kejunya dingin," ajaknya sambil menghela kedua gadis itu dengan kasih sayang.


Bertiga, para wanita itu melangkah santai menuju dapur, dan duduk di kursi mengelilingi meja dapur yang berbentuk bundar sambil menikmati pisang keju nikmat buatan Eli.


"Punya." Euis menyahut cepat dengan penuh keyakinan.


"Fotonya ada tidak?" Amara langsung bertanya begitu antusias.


Euis yang sedang mengunyah pisang, buru-buru menelannya. Ia lantas menatap Amara dengan wajah penasaran sebelum kemudian melayangkan pertanyaan. "Amara kok tiba-tiba nanyakan pacar Mas Dimas? Ada apa to?"


Melihat kepanikan di wajah Eli, Amara langsung terseyum sambil membelai bahu Eli untuk menenangkan. "Nggak apa-apa Bi, saya cuma mau pinjam fotonya, aja." jawabnya kemudian. "Karena orangnya nggak ada, jadi saya butuh fotonya."


"Fotonya ada di laci nakas Mas Dimas, Teh," sahut Euis. "Teteh ambil saja disana. Pacar Mas Dimas teh namanya Naura. Orangnya meni geulis pisan," puji Euis dengan mata yang berbinar.


"Percuma cantik, kalau tidak mau nengok pacarnya yang lagi sakit!" sindir Eli sembari melirik sengit pada Euis.


"Ih Emak, mungkin saja Non Naura teh tidak tau kalau Mas Dimas kecelakaan!"

__ADS_1


"Tidak mungkin tidak tahu Euis ...! Kekasih yang baik itu pasti selalu ada di samping pasangan, dalam suka maupun duka. Bukan seperti ini! Kekasihnya kecelakaan parah, malah Non Naura tidak muncul sama sekali."


Amara yang tak tahu apa-apa hanya menyimak obrolan tegang dua wanita itu. Namun sepertinya ia tertarik untuk mengetahui lebih dalam mengenai kisah percintaan Dimas. Bagaimanapun juga hal itu sangat penting untuk kesembuhan lelaki itu secara menyeluruh.


"Tapi hingga sebelum Tuan Dimas kecelakaan, mereka masih berhubungan baik, kan Bi?" tanya Amara kemudian dengan wajah penasaran.


"Setahu Bibi si gitu, tapi Bibi juga tiba-tiba ragu. Sebab sejak Mas Dimas kecelakaan Non Naura tidak pernah datang untuk menjenguk."


"Apa Nyonya tidak berusaha mencari tau keberadaan Naura? Padahal itu penting untuk kesembuahan Tuan Dimas Bi! Apa Bibi tau, kalimat yang Tuan Dimas ucapkan pada saat dia labil dan mulai mengamuk?" Amara bertanya setengah menegaskan dengan nada yang meninggi. "Dia tak akan melepaskan wanita yang dicintainya, Bi ...! Bukankah itu berarti ada masalah di antara mereka?"


Eli tampak diam sembari berpikir, begitu juga dengan Euis yang tiba-tiba tertegun setelah mendengar ucapan Amara. Kedua wanita beda usia itu lantas saling menatap, seolah-olah baru tersadar akan sesuatu hal.


"Sebelumnya memang Nyonya tidak suka Mas Dimas berhubungan dengan Non Naura." Eli akhirnya buka suara. "Mungkin itu sebabnya Non Naura tidak berani muncul. Dan Nyonya juga tidak menghubungi Non Naura."


"Padahal Non Naura teh orangnya sangat baik. Tapi kenapa ya, Nyonya teh tidak suka?" Euis berucap dengan wajah penuh sesal.


"Mungkin Nyonya punya pemikiran sendiri, Euis." Amara menjawab sembari tersenyum. "Aku mau mandi dulu ya, mumpung Tuan Dimas sedang stabil. Sekalian aku mau shalat maghrib juga," pamit Amara kemudian.


"Iya Amara, kamu kelihatan lelah sekali. Seharian ini dua kali bolak-balik rumah sakit." Ucap Eli dengan pandangan iba pada Amara.


"Sudah tugas aku kok Bi," Amara tersenyum sembari bangkit, sebelum kemudian mengayunkan langkahnya meninggalkan dua wanita itu.


"Mak, apa mungkin Non Naura teh selingkuh?" bisik Euis di telinga Eli sepeninggalnya Amara dari tempat itu. Namun Eli bukannya menjawab, wanita itu malah melirik sinis pada Euis setengah memperingatkan.


"Anak kecil nggak boleh tau urusan orang tua. OTW!" ucap Eli sembari bangkit dari duduknya. Euis sendiri mengamati Eli yang berlalu meninggalkannya sambil melongo penasaran.


"OTW kemana atuh mak? Euis ikut!" Euis pun tergopoh menyusul Eli dan meraih tangan wanita paruh baya itu untuk menghentikan langkahnya.


"OTW! Ojo takon wae!" tegas Eli penuh penekanan di setiap kata yang ia ucapkan. Lalu kembali melangkah pergi.


Euis masih bengong di tempatnya sambil berusaha menelaah arti dari perkataan Eli. Dan gadis itu langsung tersentak begitu menyadarinya. "Ya Allah Mak! Itu teh ternyata singkatan! Emak teh nipu Euis ...!" seru gadis itu kesal sembari menyebikkan bibir menatap Eli.


Sementara Eli yang sudah berjalan keluar dapur malah tertawa puas. Ia kemudian menghentikan langkah dan berkata, "Buruan shalat Maghrib, nanti keburu telat!"

__ADS_1


"Iya, Emak," balas Euis dengan nada lemah.


Bersambung


__ADS_2