Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Paranoid


__ADS_3

"Wah, berdarah!" Dimas berucap sambil melebarkan bola matanya, bersikap seolah-olah luka yang Amara alami sangatlah serius. Tentu saja hal itu membuat Amara membelalak takut dan mendadak panik.


"Seriusan, Mas!"


"Iya!"


Ekspresi Amara mulai terlihat ngeri. "Serius kena paku? Ada pakunya nancep di situ?"


"Iya! Panjangnya satu jengkal! Sampai ngeluarin darah hampir dua ember, loh!"


"Hah!" Tubuh Amara langsung menegang dengan bola mata membulat sempurna.


Sesaat kemudian ia menangkup kepalanya sambil memejamkan mata hingga wajahnya memerah. "Aaa ... aku nggak mau kakiku infeksi! Aku nggak mau kakiku diamputasi!"


Amara histeris sampai hampir-hampir menangis. Membayangkan betapa ngerinya paku sepanjang satu jengkal menancap di kaki hingga mengeluarkan dua ember darah. Gilanya, ia percaya begitu saja perkataan Dimas tanpa lebih dulu memastikannya sendiri.


Tingkah Amara itu tak ayal membuat Dimas menjadi panik. Bukan karena lukanya, melainkan karena reaksinya yang berlebihan.


Bingung harus menggunakan cara apa untuk menyadarkan gadis itu jika ia hanya bercanda, Dimas pun memegangi pundak Amara dan memberinya sedikit guncangan.


"Mar, Amara. Woy!" Dimas menepuk-tepuk pelan pipi gadis itu untuk menyadarkan. "Gue cuma bercanda! Nggak ada darah di sini ...!"


Amara yang semula terpejam lambat laun mulai membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Dimas yang tengah tersenyum manis tepat di depan wajahnya, lantas memberanikan diri menatap ke bawah usai Dimas memberi instruksi melalui anggukan kepala.


Gadis itu terperangah usai mendapati di bawahnya kering tanpa darah, bertolak belakang dengan tadi yang sempat ia pikirkan. Ia pun menghela napas lega seraya mengusap dadanya.


"Alhamdulillah ...," desahnya penuh syukur.


"Tuh kan, nggak ada darah."


Mendengar perkataan Dimas, gadis itu langsung menatap pria itu dengan sorot tajam usai menyadari sesuatu hal.


"Jadi Mas Dimas tadi cuma ngerjain aku!" sungut gadis berjilbab itu kemudian.


"Hehehe, sorry." Dimas nyengir sambil mengacungkan dua jarinya.


"Aaa ... jahat banget! Aku beneran takut tau nggak!" Amara melancarkan bertubi-tubi pukulan ke lengan Dimas karena saking geramnya. Kali ini ia benar-benar kesal pada pria itu, bahkan meskipun ia bisa menendang hingga lelaki itu terjungkal masih tetap belum bisa membernya kepuasan.


Sayang, ingat akan penyakit pria ini membuat ia membatasi diri untuk melampiaskan kemarahan. Amara masih memiliki kewarasan untuk bisa memahami kondisi orang lain, meskipun orang itu semenjengkelkannya seperti Dimas.

__ADS_1


Entah apa yang diidamkan Nyonya Amel saat hamil dulu hingga melahirkan putra super menjengkelkan seperti Dimas. Namun begitu ingat akan kebaikan pria itu saat menghadapi geng Gladys kemarin pada akhirnya membuat kemarahan Amara sedikit mereda dan mengakhiri pukulan.


Namun anehnya, meski Dimas mengaduh kesakitan, tapi lelaki itu sama sekali tak mau menghindar, menghalau ataupun balas memukul Amara. Pria itu malah tetap di tempat, seolah-olah pasrah dan membiarkan Amara melampiaskan kemarahannya. Entah mengapa, Amara sendiri pun merasa tak habis pikir.


"Sudah, marahnya! Sudah puas, mukulnya!"


Amara hanya tertunduk diam saat Dimas bertanya dengan nada sedikit keras. Terdiam sejenak, lelaki itu kemudian meringis seraya memegangi bagian tubuh bekas pukulan Amara seolah-olah tengah merasakan kesakitan akibat dia.


"Gue yakin, habis ini badan gue memar semua. Lo pikir gue samsak yang bisa lo tinju seenak jidat! Gue manusia biasa yang gantengnya kayak artis Korea, berani bener lo ngerusak keindahan tubuh gue!"


Amara yang tadinya iba, bahkan merasa bersalah karena telah memukul Dimas langsung memutar bola malas karena sikap narsis pria itu. Meski tidak ada yang bisa menyangkal ketampanannya, tapi tidak perlu dikatakan juga, kan. Jatuhnya menyombongkan diri, dan itu tidak baik.


Namun Amara tahu, lelaki itu melakukannya hanya untuk menghiburnya saja. Maka dari itu sekarang ia menarik sudut bibir hingga membentuk sebuah senyuman agar pria itu merasa senang.


"Nah, gitu dong, senyum. Jadi, muka lo yang biasa aja ini jadi kelihatan nggak jelek-jelek amat, lah," goda Dimas seraya menggerakkan telunjuknya membentuk lingkaran ke arah wajah Amara.


"Ih, aku nggak jelek-jelek amat, tau!" sungut Amara dengan mimik sebal. Baru juga menyesal telah membuat pria itu kesakitan, Dimas kembali berulah dan membuat Amara kesal.


"Lagian, mana ada orang sampai diamputasi gara-gara kena kerikil kecil. Orang darahnya juga cuma keluar dikit. Bercak doang. Tapi lo segitu takutnya. Kenapa, sih? Lo parno, ya?"


Mendesah pelan, Amara kemudian menganggukkan kepala.


"Bukan parno sama darahnya! Tapi takut sama ketusuk pakunya." Amara menyebikkan bibir usai menjawab.


"Lah, paling ketusuk pakunya dikit doang. Mana mungkin sampai diamputasi!"


"Ih, Mas Dimas nggak tau aja. Aku pernah ngerawat pasien yang kakinya diamputasi. Padahal penyebabnya cuma ketusuk paku. Tapi pakunya karatan, sih."


"Itu karena dia punya penyakit diabetes! Memang lo punya penyakit itu sampai segitu takutnya?" tanya Dimas sambil mengedikkan dagunya.


Amara mengarahkan bola matanya ke samping seperti sedang berpikir, selanjutnya gadis itu menjawab sambil nyengir.


"Hehe, enggak." Gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Nah, apa yang perlu ditakutkan coba!"


"Hey, nggak nyadar apa kalau Mas Dimas yang bikin aku ketakutan? Pasti sengaja, kan!" sungut Amara kemudian.


Gadis itu kemudian menyebik. "Lagian, telapak kakiku memang sakit."

__ADS_1


"Luka dikit gini aja udah kesakitan. Lembek banget sih, lo!"


"Biarin."


"Memangnya lo nggak pernah terluka sampai-sampai luka segitu aja kesakitan?"


"Pernah, waktu kecil dulu. Jatuh dari sepeda sampai lutut aku berdarah."


"Alah, cuma lutut. Itu udah biasa!" sahut Dimas. Yang seketika membuat Amara membelalak.


"Memang Mas Dimas sering punya luka waktu kecil?" tanya Amara penuh rasa ingin tahu.


"Bukan cuma sering! Tapi pake banget."


"Sering banget?" tanya Amara usai mengartikan ucapan Dimas.


"Iya. Jatuh dari sepeda. Jatuh dari motor. Bahkan kecelakaan mobil."


"Oh iya benar." Amara terkekeh mengingat sebab apa kini ia berada di sisi Dimas jika bukan karena kecelakaan yang dialami pria itu.


"Yang paling parah ya kecelakaan mobil kemarin itu. Sampai bangkai mobil gue nggak berbentuk, tau nggak! Gara-gara dia. ****** memang tuh orang."


Pandangan Amara mengikuti Dimas yang berpindah duduk ke sisinya.


"Yang ****** siapa?" tanya gadis itu penasaran.


Dimas mendengkus kesal, lalu menoleh buang muka. "Lo nggak perlu tau."


"Ya, udah kalau gitu," tutur Amara sambil berpaling dan bersedekap dada. Keduanya pun saling membelakangi dalam diam.


Untuk beberapa lama keduanya terdiam, hingga Amara beringsut dan memutar tubuh menghadap pada Dimas.


"Mas, boleh lihat, nggak?" tanya gadis itu.


Dimas menoleh, lalu menautkan alisnya. "Lihat apa?" tanyanya penuh curiga. Sesaat kemudian ia seperti tersadar pada sesuatu hal dan seketika bergerak menyilangkan tangan menutupi bagian depan tubuhnya.


"Eh, jangan macam-macam Lo, ya! Gue orangnya polos dan masih perjaka! Jangan sembarangan, lo!"


Sontak saja kesalahpahaman Dimas itu membuat Amara membelalakkan mata.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2