Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Sadar Diri


__ADS_3

Amara memutuskan untuk mengaji sebentar setelah menyelesaikan salat tahajud di sepertiga malam. Ia memang sulit tidur saat hatinya merasa tidak tenang dan selalu menenangkan hatinya dengan cara seperti itu.


Lirih ia melantunkan ayat-ayat suci agar tidak menimbulkan kebisingan hingga mengusik tidur Dimas. Setelah itu ia menutup kembali Mushaf dan melepaskan mukena untuk kemudian menyimpannya.


Sebelum kembali ke sofa, ia lebih dulu memastikan keadaan Dimas. Pria itu masih terlelap dalam tidurnya. Mungkin efek dari obat pereda pusing yang ia berikan semalam.


Baru juga hendak merebahkan tubuh, Amara langsung beranjak saat mendengar dehaman Dimas. Ia buru-buru menghampiri suaminya sembari merapikan jilbab yang sedikit berantakan.


"Mas Dimas perlu apa? Masih pusing? Masih mual? Atau sakit perut?" cecarnya dengan pertanyaan sembari tanpa izin menyentuh dahi Dimas untuk mengukur suhu tubuh pria itu.


Sementara Dimas hanya menggeleng menanggapi kecemasan wanita itu. Wajahnya masih terlihat pucat dan bibirnya tampak kering.


"Gue nggak pa-pa, Mar. Gue cuma haus," jawabnya lemah.


"Mas Dimas haus?" Amara buru-buru mengambil gelas berisi air putih di atas nakas lalu kemudian menyerahkannya pada Dimas.


Pria itu pelan-pelan berusaha bangun, dibantu oleh Amara pula dan kemudian meneguk air putih itu hingga tandas.


Ia masih dalam posisi yang sama saat memperhatikan Amara yang tengah mengembalikan gelas kosong tadi pada nakas sebelum kemudian kembali menatapnya dengan raut kecemasan.


"Mas Dimas butuh sesuatu yang lain?"


Pertanyaan Amara itu benar-benar membuat Dimas merasa diperhatikan dan disayangi. Ya Tuhan. Andai saja sejak awal dia sudah mengungkapkan cintanya pada Amara, pasti sekarang ia sudah bisa menjamah gadis di depannya itu dengan bebasnya.


"Nggak ada." Hanya itu yang bisa Dimas katakan. Selebihnya ia hanya bisa membaringkan tubuhnya lagi dan berpura-pura tidur saja. Namun, sialnya Amara justru tetap berdiri di sana. Sambil memandanginya pula.


"Ngapain lo masih di situ? Lihat-lihat gue pula. Memangnya lo nggak ngantuk? Nggak pengen balik tidur?" tanyanya kemudian dengan sikap kurang nyaman. Dimas bahkan sengaja menatap Amara dengan ekspresi menyelidik.


"Aku perlu pastikan Mas Dimas tidur sebelum aku tidur," balas Amara jujur.


"Nggak perlu kayak gitu, Mar. Nggak ada yang minta lo seperti itu."


"Tapi ini aku yang mau, Mas," sahut Amara cepat. Dan itu memang tulus dari hatinya.


Dimas menghela napas sebelum kemudian kembali bertanya.

__ADS_1


"Memangnya lo nggak capek berdiri terus?"


"Dikit, kok Mas. Nggak masalah," jawab Amara apa adanya. Sebab jika dia mengatakan tidak, itu artinya bohong. Kakinya tak akan kuat jika berdiri terlalu lama.


Tiba-tiba Dimas menyibak selimutnya, membuat Amara seketika menatap dengan wajah heran.


"Buruan duduk di sini. Tapi pijitin kaki gue," titah Dimas sambil melirik pada kakinya.


Sementara Amara masih tertegun bingung, ia buru-buru menutupnya tanpa menunggu jawaban Amara. Yang membuat Amara panik lagi, Dimas bahkan membubuhkan kalimat ancaman ketika dirinya berucap.


"Ya udah kalau nggak mau. Gue juga nggak bakalan maksa orang yang nggak bener-bener mau ngerawat gue, kok."


"Eh, siapa yang bilang nggak mau?" Amara buru-buru menahan tangan Dimas yang hendak kembali berselimut. "Aku mau mijitin kok. Kenapa Mas Dimas jadi baperan gitu?"


"Cih, baperan." Dimas mengulang sepenggal kata dari kalimat Amara dengan nada meremehkan. Tetapi Amara tak berniat menimpali. Ia justru menyibukkan diri dengan memijat kaki Dimas dengan benar agar pria itu merasa nyaman. Hanya sebatas kaki bagian bawah. Tidak lebih.


Jika ditanya seperti apa perasaan Amara sekarang ini, maka jawabannya adalah bahagia. Ya. Sesederhana itu bahagianya. Bisa dekat dan merawat suaminya meski hanya berkedok sebagai perawat.


Tak apa. Ia cukup sadar diri. Tak pernah terbesit di benaknya untuk mencintai, tetapi juga tak ingin menjauhi. Dia hanya berusaha memantaskan diri sebagai tempat mencurahkan segala resah, tanpa sedikitpun berani berharap lebih dari itu.


Selama memijat Dimas, Amara sama sekali tak mendengar pria itu berbicara. Dimas hanya diam dengan pandangan menerawang. Entah mengapa ia merasa Dimas yang sekarang sudah berbeda dengan Dimas yang sebelumnya ia kenal. Mungkin itu hanya perasaannya saja, atau memang benar adanya.


"Cukup. Gue mau ke kamar kecil."


"Mau aku bantu?"Melihat Dimas bangkit, Amara buru-buru menawarkan sembari turun dari ranjang. Namun, alih-alih mengiyakan, bibir Dimas justru tersenyum miring dengan kepala menggeleng pelan. Setelahnya ia berlalu begitu saja tanpa sepatah kata meski langkahnya masih lemah.


Ketika matahari mulai memunculkan semburatnya, Amara meminta Dimas berjemur di balkon sementara dirinya menyiapkan sarapan di bawah. Pria itu patuh meski tanpa sepatah kata yang terucap. Dimas juga menolak Amara memapahnya. Meski berjalan tertatih lantaran tubuh lemas dan kepala yang rasanya seperti berputar-putar karena saking pusingnya, ia tetap berjalan sendirian.


Suasana rumah yang awalnya masih kondusif, tiba-tiba saja gaduh setelah mobil Lexus LX 570 warna hitam memasuki pelataran dan menurunkan dua penumpangnya.


"Dimas! Dimas!" Suara Amelia yang baru masuk rumah terdengar menggelegar di penjuru ruangan. Ia terus melangkah saat tidak menemukan sang putra di ruang tamu, bahkan mengabaikan keberadaan Euis yang menyapanya dengan ekspresi terkejut. Dan sasarannya adalah kamar pribadi milik pemuda itu.


"Dimas!"


Tak ada sahutan, Amelia berhenti di depan pintu sejenak sembari mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Matanya berbinar saat mendapati pintu balkon terbuka lebar dan menebak jika putranya ada di sana.

__ADS_1


Benar saja. Saat Amelia mendatangi, rupanya Dimas tengah merebahkan tubuhnya pada kursi santai sembari menatapnya. Ia pun segera mendekati.


"Dimas. Bukannya kamu masih sakit, Nak? Tapi kenapa sekarang sudah pulang?" tanya wanita itu sedih bercampur kesal. Terlihat dari keningnya yang menampakkan kerutan. Tetapi masih bersikap lembut dengan menangkub wajah putranya penuh sayang.


"Kok Mama udah pulang aja? Katanya ke Singapura sampai besok lusa?" Alih-alih menjawab pertanyaan sang mama, Dimas justru malah balik bertanya.


Amelia menghela napas sebelum menjawab tanya Dimas.


"Mama sengaja cepat pulang karena nggak tega tinggalin kamu sendirian, Dimas. Dan kamu juga Amara! Ngapain kamu bolehin Dimas pulang? Sebagai perawat harusnya kamu tau, Dimas itu masih sakit dan butuh perawatan!" Amara yang baru datang pun tak luput dari amukan Amelia. Wanita paruh baya itu menatap menantunya dengan sinis.


Sesaat Amara hanya terdiam tanpa berani memberikan penjelasan. Ia terlanjur merasa bersalah sebab telah membuat Amelia kecewa.


"Kenapa diam aja? Apa kamu sanggup bertanggung jawab andai terjadi hal buruk terhadap Dimas!"


"Ma, jangan nyalahin Amara kayak gitu! Dia nggak salah Ma!"


Hal di luar dugaan terjadi di depan Amara. Tiba-tiba saja Dimas menyela dengan kalimat pembelaan terhadap gadis itu. Dengan nada tinggi pula. Terang saja hal itu mengundang decak heran Amelia yang mendapatkan tentangan.


"Gimana Mama nggak nyalahin dia, Dimas? Dia yang sanggup bertanggung jawab penuh atas kesembuhan kamu, tapi kenapa malah membiarkan kamu pulang! Pokoknya Mama nggak akan maafkan dia kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk sama kamu."


"Ma, aku minta supaya Mama jangan berlebihan. Aku beneran nggak pa-pa–"


Belum juga sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba kepala Dimas terasa pusing bukan kepalang hingga ia tanpa sadar meringis dan memijat pelipisnya dengan posisi setengah membungkuk.


"Tuh kan, kan. Kamu itu nggak baik-baik aja, Dimas!" ujar Amel memperingatkan.


Ekspresi kesakitan Dimas itu terang saja membuat Amara dan Amel kompak khawatir. Bahkan Amara yang sejak tadi hanya diam dan berdiri sontak saja menaruh nampan yang ia pegang lalu kemudian mendekati suaminya.


"Mas Dimas baik-baik aja, kan?" ujarnya memastikan. Namun, niat baiknya itu justru ditanggapi buruk oleh Amel.


"Apa-apaan kamu?" Amel menepis tangan Amara yang hendak menyentuh Dimas dengan sengitnya. "Sudah tau Dimas kesakitan gitu masih bilang nggak pa-pa. Gimana, sih?"


"Maaf, Ma. Bukan gitu maksud Amara," balas Amara penuh sesal. Ia langsung mundur selangkah dan mengurungkan niatnya untuk memeriksa keadaan Dimas. Namun, sekali lagi hal yang tak terduga pun terjadi.


"Ma! Aku minta Mama keluar dari kamar aku sekarang juga." Tiba-tiba Dimas menyela. Tetapi ia berucap tanpa memandang muka. Dimas justru menunduk sambil memejamkan mata. Tangannya masih menekan kening yang terasa pening.

__ADS_1


"Kamu ngusir Mama, Dimas?" Amel menggeleng seperti tak percaya. Ia terperangah melihat kelakuan putranya.


"Bukan cuma Mama, tapi Amara juga." Dimas membuka matanya, lantas mata sayu itu menatap Amelia seperti memohon. "Plis ngertiin aku, Ma. Aku butuh ketenangan, bukannya keributan. Aku mohon pengertian Mama."


__ADS_2