Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Hanya batu kali


__ADS_3

"Sarapan sudah siap, adik-adik ...! Mari kita sarapan!"


Segerombolan anak kecil yang tengah bermain di halaman sebuah panti asuhan itu kompak menoleh saat mendengar suara. Seperti mendengar aba-aba, mereka langsung berhambur menghampiri ke arah gadis berjilbab yang berdiri di teras panti itu dengan riang.


Rata-rata di antara mereka adalah anak-anak yang tak memiliki orang tua. Senyum bahagia bocah-bocah kecil itu cukup membuktikan jika mereka sangat senang dengan keberadaan gadis itu di sana.


"Yeyyy aku menang!" Seorang gadis kecil bersorak riang ketika jadi yang pertama mencapai teras. Tanpa segan, ia langsung memeluk gadis berjilbab itu dengan manja sebelum kemudian melayangkan sebuah tanya. "Hari ini menu sarapan kita apa, kak Amara?"


Masih mengurai senyum sembari menyambut para bocah yang langsung mengerumuninya, Amara kemudian berkata dengan nada tak kalah riang.


"Emmm ... kira-kira apa ya menu kita pagi ini? Ada yang bisa menebak?"


Para anak kecil itu saling pandang satu sama lainnya, kemudian mengembalikan pandangan pada Amara dan menggelengkan kepala.


"Apa pun menunya, kita yakin pasti enak, kok. Kak Amara kan jago masak!" Salah seorang anak laki-laki nyeletuk memuji Amara. Bahkan mendapat dukungan dari teman yang lainnya.


"Setuju!"


"Ah kalian bisa aja bikin Kakak besar kepala. Padahal nggak gitu, kok," kilah Amara merendah sembari menyebikkan bibirnya. "Ya udah, mendingan kita langsung ke ruang makan yuk. Santapan sarapannya udah panggil-panggil minta disikat tuh ...!"


"Hore ...!"

__ADS_1


Amara menggiring bocah-bocah itu ke tempat makan. Berbeda dengan beberapa hari lalu terkadang tampak murung ketika mengingat sesuatu hal, kini gadis itu tampak benar-benar riang karena hal kecil yang ia lakukan berdampak besar pada kebahagiaan anak-anak itu.


Dari sini ia mulai sadar jika tempatnya bukanlah di rumah Dimas, lelaki yang pernah menikahinya. Melainkan di sini, di panti asuhan, di mana dirinya begitu merasa berharga dan diterima dengan baik di sana.


Hari ini ia sengaja meminta izin untuk libur kerja karena sesuatu hal. Panti akan kedatangan tamu agung untuk memberikan donasinya secara langsung.


Hal ini memang tak biasa sebab sebelum-sebelumnya sang donatur hanya menugaskan anak buahnya sebagai perwakilan.


Terang saja pihak panti berusaha memberikan penyambutan yang baik pada orang spesial itu. Mereka bahkan menyiapkan hidangan spesial yang konon katanya adalah makanan favorit sang donatur.


"Rawon daging bikinan kamu enak sekali, Amara. Donatur panti ini pasti akan menyukainya." Ibu panti dengan jilbab lebar itu memuji Amara usai menyicipi masakan gadis itu. Sedangkan Amara hanya bisa tersenyum malu menanggapi pujian si ibu panti.


"Bukan memuji kok, Amara ... tapi ini fakta." Wanita itu tersenyum, kemudian berlalu usai mengusap lembut bahu Amara. Ada hal lain yang masih perlu ia kerjakan.


Amara mendudukkan dirinya di kursi meja makan sebelum kemudian menghela napas dalam setelah dirinya tinggal sendirian. Senyuman yang ia tunjukkan pada ibu panti tadi telah memudar. Wajah cantik itu murung sembari menatap semangkuk besar rawon daging hasil masakannya.


Setelah berusaha sekuat tenaga melupakan sosok Dimas dari benaknya, kini keadaan justru memaksanya kembali teringat pada pria itu. Entah kebetulan atau bagaimana, tiba-tiba ibu panti memintanya memasak rawon spesial untuk seseorang. Jelas saja ingatannya langsung berputar pada kenangan bersama Dimas mengingat jika rawon adalah makanan kesukaan pria itu.


Mau tak mau ia mengingat bagaimana getirnya terjebak dalam cinta bertepuk sebelah tangan. Sakitnya mendapat penolakan. Terlebih penolakan kata maaf. Beruntung, hingga detik ini Dimas tak tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya.


Berulang kali Amara merutuki kebodohannya. Bisa-bisanya ia jatuh cinta pada Dimas, sedang pria itu pernah menyampaikan serapah jika kelak ia akan patah hati jika sampai jatuh hati. Ternyata benar kan, ia benar-benar patah hati.

__ADS_1


Lagi pula, seperti tak memiliki cermin untuk berkaca, Amara bahkan lupa dirinya itu siapa. Hanya seorang perawat dengan gaji minim sebab baru saja menitik karir, sangat tidak sepadan dengan Dimas yang bergelimangan harta. Pria itu begitu berharga layaknya permata, sementara dia itu apa? Hanya batu kali yang tak memiliki nilai apa-apa.


Ia masih sibuk berkutat di dapur ketika mendengar hiruk pikuk penyambutan penghuni panti atas kedatangan sang donatur. Ia sama sekali tak penasaran atau ingin turut andil dalam penyambutan, Amara justru memilih tinggal di dapur untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk acara perjamuan.


"Amara, apa kau tidak ingin ikut menyambut tamu kita? Kudengar-dengar dia masih lajang dan sangat tampan." Laras, gadis berjilbab yang juga merupakan relawan panti berbicara dengan mata berbinar penuh puja. Namun, Amara sama sekali tak terpengaruh atas perkataan Laras itu. Ia hanya mengulum senyum sembari membereskan kekacauan dapur.


"Cocok untukmu yang masih lajang pula, Laras. Pergilah sambut beliau, biar aku yang menyelesaikan ini semua. Hanya tinggal sedikit, kok."


"Kau yakin, Mar?"


"Hu'um." Amara mengangguk mantap untuk meyakinkan. "Pergilah, Laras."


"Baiklah. Aku tinggal dulu, ya Mar."


Bersambung~


Pembaca tersayang, terima kasih telah mengikuti Amara sampai sekarang. Maaf aku belum bisa update banyak.


Selalu tinggalkan jejak kalian melalui like dan komentar ya. Dan beri Amara sebuah hadiah bila novel ini memang layak diapresiasi.


Terima kasih 🙏*

__ADS_1


__ADS_2