Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Aturan Baskoro


__ADS_3

Entah penyiksaan macam apa yang diberikan Baskoro terhadap Dimas. Sejak malam hari, pria itu benar-benar melarang Dimas menyentuh minuman serta makanan.


Baskoro benar-benar memantau Dimas dengan sangat ketat. Ia bahkan sampai menginap di rumah Dimas demi memastikan pria itu tidak melanggar aturannya.


Laparnya sih tak seberapa, tetapi hausnya itu. Dimas bahkan bisa merasakan mulai dehidrasi akibat banyak keluar keringat, sedangkan pasokan cairan ke tubuhnya tidak ada sama sekali.


Terlebih seharian ini aktivitas mereka banyak dilakukan di luar ruangan, berpindah-pindah lokasi, bahkan saat siang harinya mereka berada di atas sebuah gedung berlantai sembilan yang tengah dalam proses pengerjaan perusahaan konstruksi milik Papanya.


Siapa lagi yang merancang jadwal demikian jika bukan si Baskoro, sang asisten tersayang.


Melihat sebuah box minuman dingin yang memang disediakan untuk para pekerja, tanpa sadar Dimas mendekatinya. Rasa haus yang menyiksa membuatnya terlupa akan aturan gila yang dibuat sahabatnya. Namun, sebuah tangan tiba-tiba menahannya saat hendak mengambil botol air mineral dingin itu dari sana.


"No-no-no," ujar Baskoro sambil menggoyangkan jari telunjuknya.


"Sialan."


Dimas mendengkus kesal. Ia lantas menaruh kembali botol minuman yang begitu menyegarkan di matanya itu walau sebenarnya tidak rela.


"Bener-bener lo, ya. Kalau memang mau bunuh gue ngapain nggak langsung ditusuk aja, Bas! Lo bukan cuma ngerjain gue. Tapi juga nyiksa, tau nggak!" umpat Dimas dengan sisa tenaganya.


"Sorry, Dim. Gue bener-bener harus bikin lo sakit," elak Baskoro dengan alasannya.


"Ngapain harus bener-bener sakit juga sih, Bas. Pura-pura sakit aja kan bisa?"


Baskoro menggeleng mantap. "Nggak bisa, Dim. Lo pikir Amara itu perawat bodoh, hah? Dia pasti tau lah, mana yang cuma pura-pura sakit, dan mana yang benar-benar sakit."


"Tapi gue mulai dehidrasi, Bas. Plis kasih gue air walau cuma segelas," pinta Dimas dengan wajah memelas.


"Cih, segelas. Bahkan biarpun cuma setetes juga nggak bakalan gue kasih, kok. Malah bagus kan kalau lo udah dehidrasi. Berarti rencananya akan dimulai sebentar lagi."


Entah sahabat macam apa Baskoro itu. Melihat temannya tersiksa ia malah bersuka cita. Sembari tersenyum penuh kemenangan, ia mendekati Dimas sebelum kemudian mulai membujuk.


"Demi Amara, Dim. Lo pengen Amara merasa iba, kan? Biar Amara minta maaf dan kalian bisa balikan lagi. Nah, kalau lo tetap kelihatan kekar dan fresh seperti biasa, Amara nggak akan tersentuh hatinya. Lo pasti tau gimana sifat istri lo, kan?" tanya Baskoro sembari memainkan kedua alisnya. "Udah gosah ngeluh. Belajar pasrah dan nerima keadaan. Lo gue bikin sakit karena Amara itu seorang perawat. Coba aja kalau dia tukang urut, paling-paling juga kaki lo yang gue bikin terkilir."


"Dasar! Kalau tau bakal disiksa haus dan lapar gini mendingan semalam gue sahur. Biarpun harus tersiksa oleh peraturan aneh orang gila, tapi setidaknya gue dapat pahala puasa!" pungkas Dimas dengan nada kesal.


"Orang gila?" Baskoro bergumam setengah bertanya-tanya. Ia kemudian terdiam sejenak, berusaha menelaah apa maksud dari perkataan Dimas barusan. Sesaat kemudian ia membulatkan mata ketika menyadari sesuatu hal.


Menatap punggung Dimas yang bergerak menjauh meninggalkannya, ia lantas berteriak dengan kesal.


"Sialan lo, Dim! Lo ngatain gue gila!"


***


Baskoro melihat wajah Dimas mulai pucat ketika sore hari. Ia sengaja menyuruh pria malang itu tidur di jok belakang saat perjalanan pulang ke rumah Dimas.


Jujur, sebenarnya ia sangat kasihan melihat Dimas kehausan. Makanya ia membiarkan pria itu meneguk segelas air mineral untuk membasahi kerongkongan.

__ADS_1


Akan tetapi yang membuatnya salut terhadap sahabatnya itu, ialah Dimas begitu gigih berusaha demi Amara, sampai-sampai mau bersikap patuh mengikuti anjuran darinya yang terkesan menyiksa.


Dari sinilah ia bisa menarik kesimpulan jika cinta Dimas terhadap Amara itu begitu besar. Tekad Dimas berhasil mematahkan prasangka bahwa Dimas mendekati Amara hanya sebagai pelarian semata.


Sekian lama mengenal sosok Dimas, tentunya ia sangat paham bagaimana tabiat asli sahabatnya itu. Dimas adalah tipe pria yang setia. Tidak seperti dirinya yang hingga kini masih menyukai kebebasan dan belum bisa berkomitmen pada satu wanita.


Memasuki halaman luas di rumah orang tua Dimas, ia memarkirkan mobilnya di pelataran tanpa mematikan mesinnya. Ia pun turun dari sana dan membuka pintu bagian belakang.


"Dim. Bangun. Kita udah nyampe rumah," ujarnya sembari mengguncang bahu Dimas. Ia menyentuh dahi Dimas dengan wajah cemas. Meski terlihat lemah, tetapi suhu badan Dimas masih normal seperti biasa.


Dimas yang merasa terusik pun perlahan membuka mata. Mata sayu itu bersirobok dengan Baskoro yang tengah berdiri di luar dengan posisi tubuh membungkuk ke arahnya. Pria itu tersenyum lembut saat menyambutnya terjaga dari tidur.


"Dim, lo masih kuat nggak? Apa kita ke rumah sakit sekarang? Atau kalau lo mau makan juga nggak pa-pa, kok. Makan yang banyak."


Entah mengapa Baskoro tiba-tiba menawarkan hal itu. Ia tahu Dimas memiliki riwayat penyakit asam lambung. Dan mendadak ia merasa menjadi sahabat paling jahat. Ia takut Dimas kembali merasakan itu.


Namun, Dimas yang akhir-akhir ini memang kurang berselera makan menolak mentah-mentah tawaran Baskoro. Ia hanya menggeleng lemah sembari meraih jas warna abu-abu yang tadi diletakkan di samping kanan.


"Gue cuma masih ngantuk, Bas. Habis ini gue mau lanjut tidur lagi," ujarnya lemah sembari turun dari mobil.


"Jangan lupa mandi dulu ya, Dim." Baskoro berpesan meskipun tak ditanggapi oleh Dimas.


Malam itu, Baskoro sengaja terjaga demi memantau kondisi Dimas. Sembari mengerjakan sebuah desain interior yang belum sempat Dimas selesaikan, sesekali ia melirik Dimas yang terlelap di atas ranjang dengan balutan selimut tebal sekujur badan. Ia menjaga Dimas layaknya bocah kecil yang butuh perhatian kendati umur mereka sepantaran.


Namun, tampaknya kondisi Dimas baik-baik saja dan tak ada yang perlu dikhawatirkan, hingga ia memutuskan untuk benar-benar tidur setelah jam menunjukkan pukul dua dini hari.


***


"Lah, kemana dia? Dim. Dimas!" Ia memanggil-manggil pria itu sembari bangkit dari tempatnya.


Dan ketika hendak mengetuk pintu toilet, kembali Baskoro berjingkat saat tiba-tiba pintu terbuka dari dalam dan memunculkan sosok Dimas yang mengenakan handuk kimono dengan rambut setengah basah dari baliknya.


"Lo udah mandi?" Pertanyaan retoris macam apa itu. Terang saja Dimas hanya diam sembari berlalu begitu saja. Panggilan alam yang tiba-tiba datang membuatnya terpaksa menunda menanyakan kondisi Dimas dan memilih masuk toilet untuk buang hajat.


Entah dirinya yang lambat bersiap-siap atau memang waktu yang berjalan cepat. Saat Baskoro turun ke lantai dasar, Pak Mamad sudah menyambutnya untuk memberitahu jika Dimas sudah menunggu di mobil sejak tadi.


Dan lagi-lagi niatnya menyuruh Dimas makan kembali batal kali ini. Sepertinya Dimas sendiri memang enggan untuk makan, dan ia berniat untuk mengajak pria itu makan nanti, di tempat yang Dimas sukai.


"Ngapain buru-buru amat sih berangkatnya?" tanyanya ketika sudah membuka pintu bagian kemudi dan mendapati Dimas sudah duduk di sisi kiri.


"Kenapa nggak sarapan dulu? Gue lihat Bi Eli udah masak enak loh. Sayang kan kalau dilewatkan," lanjutnya lagi.


"Gue lagi nggak selera." Dimas menjawab datar. "Lo kalau mau makan ya makan aja. Gue tunggu di sini."


"Ya nggak seru lah kalau makannya sendiri," tolak Baskoro beralasan. Memandang Dimas yang tengah menatap luar jendela sembari bersedekap dada, ia tak bisa menahan diri untuk menyentuh dahi pria itu menggunakan terlempapnya. Dan Baskoro terkejut.


"OMG. Panas amat." Baskoro menarik tangannya dan membulatkan bola mata. "Dim, lo demam. Ke rumah sakit sekarang ya."

__ADS_1


Dimas menggeleng cepat. "Apa pun yang terjadi jangan bawa gue ke rumah sakit. Gue trauma sama tempat itu."


"Eh nggak bisa gitu dong. Orang sakit itu butuh penanganan."


"Kalau gue bilang nggak mau ya nggak mau! Nurut aja kenapa sih!"


Baskoro tak berani berkata lagi saat Dimas berucap dengan nada tinggi. Ia melihat keseriusan di mata pria itu. Sejak kecelakaan waktu lalu, Dimas memang seperti alergi terhadap rumah sakit. Saat mengantar Amara kerja ia hanya sebatas tempat parkir saja.


Baskoro mendapatkan satu lagi bukti betapa besarnya cinta Dimas terhadap Amara. Meskipun merasakan trauma yang mendalam, tetapi Dimas berusaha meredam demi bisa mengantar Amara ke tempat kerjanya.


Tak ingin lagi memancing kemarahan seorang Dimas Sanjaya, Baskoro memilih menjalankan mobil yang memang sejak tadi sudah menyala mesinnya. Tak ada obrolan yang terjadi sepanjang perjalanan. Ia memilih fokus pada jalan sembari sesekali melirik Dimas yang sejak berangkat tadi terus saja memejamkan mata.


"Dim, lo yakin hari ini bakalan tetep kerja?" tanya Baskoro pada Dimas setelah mobil berhenti di basement kantor. "Muka lo pucat banget. Mendingan lo istirahat aja, biar gue yang handle semuanya. Tuh, kan ... kan."


Baskoro semakin khawatir saat Dimas memejamkan mata sembari memegangi perutnya. Namun, sesaat kemudian Dimas membuka mata dan kembali bersikap seperti biasa.


"Nggak pa-pa. Gue cuma ngerasa mual dikit."


"Mual?"


Dimas tak menanggapi pertanyaan Baskoro. Selalu saja begitu. Ia memilih turun dari mobil dan melangkah lebih dulu. Sementara Baskoro buru-buru menyusulnya sebab keadaan Dimas sepertinya semakin mengkhawatirkan.


Hingga jam sebelas siang mereka masih bekerja meskipun Dimas lagi-lagi menolak untuk makan. Hanya saja, kali ini berada di dalam ruang kerja Dimas dengan suhu dingin dan ber-AC. Setidaknya Baskoro tak perlu khawatir Dimas akan kelimpungan seperti hari kemarin karena terlalu panas dan tanpa asupan makanan. Tapi tetap saja wajah pucat Dimas itu membuatnya cemas, takut jika pria itu benar-benar sakit, atau bahkan lebih fatal.


"Dim, makan yuk. Gue takut lo sakit," ajaknya pada Dimas ketika melihat pria itu menyandarkan tubuhnya pada kursi putar.


Dimas yang semula memejamkan mata sambil memijat pelipisnya langsung membuka mata dan menatap Baskoro dengan kening yang berkerut.


"Lo itu aneh, Bas. Katanya mau bikin gue sakit, tapi kenapa sekarang malah lo nyuruh gue makan karena takut gue benar-benar sakit?" Meski merasa lemas tapi Dimas berusaha untuk tertawa.


"Iya, iya, gue salah ngomong." Tiba-tiba Baskoro menyadari kesalahannya. "Nggak perlu dengan benar-benar sakit juga buat narik perhatian Amara. Iya kalau dia bener-bener perhatian. Kalau ternyata dia nggak peka gimana? Lo jangan sakit ya, Dim."


Telat Bas. Karena gue udah bener-bener sakit sekarang. Kayaknya gue udah nggak tahan lagi, Bas.


"Eh lo mau ke mana?" tanya Baskoro saat Dimas tiba-tiba bangkit dan hendak beranjak.


"Mau keluar sebentar. Nyari udara segar."


"Perlu gue temenin?" Baskoro ikut bangkit dan menunjukkan keseriusan.


"Nggak perlu. Gue bisa sendiri."


Tak ada yang bisa Baskoro lakukan selain membiarkan Dimas sendirian dan ia melanjutkan pekerjaan.


Namun, beberapa menit berselang, ia dibuat panik oleh berita mengejutkan yang dibawa bawahannya.


"Pak gawat, Pak. Pak Dimas pingsan di depan lift!"

__ADS_1


__ADS_2