Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Mau aku bantu?


__ADS_3

Seolah-olah tak ingin melepaskan lagi, Dimas terus saja memeluk Amara dalam perjalanan pulang mereka. Saat itu juga ia langsung membawa Amara pulang. Mengabaikan keberadaan Naura beserta keadaannya.


Gadis itu masih beruntung sebab Dimas sama sekali tak menuntut pertanggungjawaban dalam bentuk apa pun. Tidak juga melampiaskan kemarahannya dengan menyakiti dia balik.


Tentunya semua itu berkat kebaikan hati Amara yang mengultimatum Dimas untuk tidak melakukan hal buruk apa pun terhadap Naura. Ia meyakinkan suaminya jika dirinya baik-baik saja.


Sesampainya di rumah, Dimas langsung memerintahkan kepada istrinya untuk segera mandi dan membuang pakaian berdarah itu. Bahkan kalau perlu membakarnya sekalian. Sampai kapan pun darah itu akan membuatnya terkenang oleh kejahatan Naura dan ketakutannya yang luar biasa. Ketakutan akan kehilangan istrinya.


Seakan-akan tak ingin ditinggal berlama-lama, diam-diam Dimas menerobos masuk ke dalam bilik walk in closed, tempat istrinya berada saat ini. Ia mendapati Amara yang hanya mengenakan jubah mandi tengah mengeringkan rambutnya panjangnya.


Posisinya yang berdiri membelakangi membuat gadis itu tidak menyadari kehadiran suaminya di sana. Sehingga ketika Dimas tiba-tiba memeluknya dari belakang, Amara langsung berjingkat karena saking terkejutnya.


Amara menghentikan kegiatannya, tetap diam dengan posisi semula. Seolah-olah membiarkan sang suami menikmati keharuman sampo di rambutnya.


Dari tempatnya berdiri, Amara bisa melihat pantulan dirinya dan Dimas melalui cermin besar di depan mereka. Dimas memeluknya begitu erat. Rasanya hangat. Sementara mata pria itu terpejam rapat dengan dagu bersandar pada pundaknya.


Agak lama keduanya terdiam dalam posisi seperti itu. Di saat Amara hanya bisa mematung, Dimas justru berulang kali melabuhkan kecupan hangatnya di pipi sang istri, di ceruk leher, pada puncak kepala, dan di mana-mana yang bisa dijangkaunya.


Amara bahkan masih sulit mempercayai apa yang terjadi. Tadi Dimas menangisinya seperti takut kehilangan. Bahkan panggilan 'elo gue' Dimas terhadapnya selama ini berubah menjadi 'aku dan kamu' sejak saat itu. Salahkah jika perasaannya menjadi berbunga-bunga lantaran merasa dicintai?


"Mas ... kau baik-baik saja?" Tangan Amara mengusap lembut pipi Dimas bersamaan dengan pertanyaan itu meluncur.


Dimas menjawabnya dengan anggukan kepala. Tanpa sedikitpun bergeser dari tempatnya, juga tanpa membuka matanya.


"Kalau begitu sudah dulu, ya. Aku mau lanjut keringin rambut lagi," ucap Amara, merujuk pada tangan Dimas yang masih betah melingkar di tubuhnya. Tindakan Dimas itu memang membatasi pergerakannya.


"Mau aku bantu?"


Pertanyaan Dimas itu membuat kening Amara berkerut, lalu gadis bertanya dengan polosnya.


"Bantu apa?"


"Keringkan rambut."


"Hmm?" Amara menggumam sambil melirik wajah suaminya. Gumamannya itu bernada meragukan.


Sementara Dimas yang menangkap keraguan dari bahasa tubuh istrinya itu hanya bisa mengulas senyum. Ia kemudian mendudukkan tubuh Amara pada kursi didepan meja rias, lalu mengambil hair dryer istrinya yang semula diletakkan di atas meja.


Amara tertawa tak percaya saat Dimas benar-benar melakukan itu. Menyalakan hair dryer lalu mengeringkan rambutnya. Bahkan Dimas terlihat begitu senang saat melakukannya.


"Gimana? Enak nggak?" tanya Dimas memastikan sambil menatap wajah istrinya dari pantulan cermin.


Amara mengangguk. Kemudian menjawab singkat sambil tersenyum. "Enak."


"Suka?"


"Suka," jawabnya pelan, antara malu bercampur senang.

__ADS_1


"Terima kasih."


Amara mengerutkan keningnya ketika tiba-tiba Dimas berucap demikian. Aneh. Dia yang membantunya keringkan rambut, kenapa malah dia yang bilang terima kasih?


Amara menatap Dimas dari pantulan cermin. Memperhatikan pria itu dengan seksama. Ia menyadari, sejak peristiwa tadi sikap Dimas kini berubah seratus persen terhadapnya. Ia merasakan sikap Dimas terhadapnya semakin lembut saja. Ia juga merasa disayang dan perlakuan Dimas itu terlihat tulus kepadanya. Pria itu bahkan mengeringkan rambutnya dengan sepenuh hati.


Lantas untuk apa ungkapan terima kasih itu?


"Terima kasih untuk apa, Mas?" Amara akhirnya bertanya dengan nada tak mengerti. "Aku kan nggak ngelakuin apa-apa. Malahan Mas Dimas yang udah bantu keringkan rambut aku. Harusnya kan aku yang bilang terima kasih sama Mas Dimas."


"Dasar bocah polos." Dimas tertawa kecil usai mengatai istrinya seperti itu. "Maksud aku, terima kasih selalu jadi yang terbaik buat aku, Sayang." Dimas memperjelas maksud perkataannya.


Namun, karena dia terlalu fokus pada kegiatannya, Dimas tak menyadari jika panggilan sayangnya barusan itu membuat Amara membelalakkan mata.


Sayang? Dia panggil aku dengan sebutan sayang? Aku tidak sedang terlihat seperti bayi yang sangat menggemaskan, bukan?


"Yang, kenapa diam?"


Lagi, Amara membelalak. Ia refleks mengarahkan tatapan matanya ke arah cermin dan mendapati pandangan Dimas juga tengah terarah kepadanya. Namun, bedanya tatapan Dimas terkesan menuntut penjelasan. Sehingga membuat dirinya yang tengah melongo itu tersadar dan menjawab dengan tergagap.


"Ah, enggak kok. Enggak pa-pa."


Dimas tersenyum lembut, lalu kembali melanjutkan kegiatannya. Mengerikan rambut panjang istrinya.


"Jadi, kapan kamu mau resign dari tempat kerja?"


"Memangnya harus?" lirih Amara memastikan. Dan Dimas menjawabnya dengan anggukan mantap. "Kenapa begitu?"


"Karena kau istriku." Dimas menjawab cepat kemudian pertegas alasannya. "Salahkah jika aku ingin menjadi satu-satunya orang yang selalu kau sentuh?"


Amara menghela napas. Salahkah jika ia berpikir Dimas tengah menunjukkan kecemburuannya? Apakah begini cara dia menunjukkan kepemilikan? Semacam ingin menguasai. Istrinya hanya miliknya seorang.


"Sudah, jangan terlalu dijadikan beban. Aku tidak memintamu untuk resign sekarang, kok." Tampaknya Dimas tidak ingin membuat Amara tertekan. Ia sempat melihat ketegangan di wajah istrinya dan itu membuatnya ikut merasa tidak nyaman.


Dimas mematikan hair dryer, menaruhnya ke atas meja, lalu menyisir rambut istrinya dengan pelan hingga rapi.


"Sudah selesai." Ia mengecup puncak kepala Amara sebagai tanda jika tugasnya telah selesai.


"Terima kasih," ucap Amara sambil mengurai senyuman di bibirnya.


Bulan merangkak naik pertanda malam kian meninggi. Keduanya memutuskan untuk beristirahat dengan tidur berpelukan seperti biasa.


***


Pukul lima sore, Amara mengakhiri pekerjaannya hari ini dengan menyerahkan laporan tentang pasiennya pada perawat shift malam. Ia berjalan menuju lobi rumah sakit, kemudian merasa heran mendapati Pak Mamad ada di sana.


"Loh, Pak Mamad kok ada di sini?"

__ADS_1


"Iya, Mbak. Mas Dimas yang minta saya buat jemput Mbak Amara. Beliau sedang sibuk, jadi nggak bisa jemput sendiri."


"Owh, gitu." Amara mengangguk paham. Ia kemudian masuk ke mobil setelah Mamad membukakan pintu untuk penumpang. "Terima kasih sudah jemput saya ya, Pak."


"Sama-sama, Mbak. Itu kan memang sudah tugas saya kalau Mas Dimas berhalangan."


Mamad kemudian melajukan mobil itu meninggalkan rumah sakit. Amara duduk bersandar dengan pandangan terarah ke samping kiri. Menerawang jauh ke luar jendela.


Gadis itu menghela napas dalam. Hari ini ia belum bisa mengabulkan permintaan suaminya dengan mengundurkan diri dari tempatnya bekerja. Ia masih merasa berat melepaskan apa yang telah diraihnya dengan susah payah. Karena bagi Amara, pekerjaan itu merupakan separuh hidupnya. Tidak segampang itu melepaskan begitu saja. Ia masih butuh waktu sebentar sembari menikmati masa-masa terakhir bekerja.


Baru Amara sadari, mobil yang dikemudikan Mamad tidak melaju ke arah rumah Dimas, melainkan melewati jalan lain.


Amara menegakkan punggungnya lalu bertanya heran pada sang sopir.


"Pak, kita mau ke mana? Ini bukan jalan pulang, kan?"


"Benar, Mbak. Saya mau mampir ke sebuah tempat untuk membeli sesuatu. Nggak lama kok, Mbak."


"Owh." Amara mengangguk paham. Kemudian kembali menyandarkan tubuhnya lalu memejamkan mata. Memikirkan permintaan Dimas benar-benar menguras energinya.


Tak lama kemudian, Mamad menepikan mobil itu di suatu tempat. Sebelum mematikan mesin mobilnya, ia menoleh ke belakang dan mendapati Amara masih terpejam. Rupanya gadis itu ketiduran. Ia harus memastikan Amara masuk ke dalam sana, maka ia merasa perlu membangunkan istri bosnya.


"Mbak, bangun Mbak. Kita sudah sampai."


Amara yang terusik tampak mengerjapkan mata untuk menyesuaikan cahaya yang masuk menyapa netranya. Ia mengarahkan pandangan ke sekeliling, kemudian menyadari rupanya mobil berhenti di tempat parkir sebuah gedung.


"Turun yuk, Mbak. Saya mau minta tolong Mbak Amara untuk ngantar saya."


"Memangnya Pak Mamad nggak berani masuk sendirian?" Amara malah bertanya. Jujur, ia merasa tingkah laku sopir suaminya ini tidak biasa. Akan tetapi ia menghalau pikiran aneh itu semua dan mengikuti keinginan Mamad.


Mamad terus membimbingnya masuk ke dalam hingga sampai di rooftop. Akhirnya Amara menyadari jika tempat itu merupakan sebuah kafe, terlihat dari beberapa set meja kursi yang tertata rapi. Namun, ia masih belum mengerti apa alasan Mamad membawanya kemari.


"Di sebelah sana, Mbak." Mamad menunjuk ke ujung rooftop. Pandangan Amara mengikutinya lalu gadis itu mengangguk paham.


Sembari berjalan santai, pandangan Amara menyisir ke sekeliling sambil menilai kenyamanan tempat itu. Dari segi tempat, kafe yang berada di lantai tertinggi sebuah gedung itu benar-benar memanjakan mata dengan pemandangan indah malam hari di ibu kota. Dengan mengusung konsep garden cafe yang asri, dijamin pengunjung akan betah berlama-lama berada di sini.


Sedangkan untuk urusan harga, Amara bisa memastikan seseorang perlu merogoh koceknya agak dalam. Sebab tempat-tempat semacam ini biasanya perlu reservasi terlebih dahulu.


Tiba-tiba Amara mengerutkan keningnya ketika melihat sekumpulan orang di depan sana. Sepertinya sedang ada acara keluarga, tetapi anehnya minim pencahayaan. Mungkinkah mereka sengaja mematikan lampunya agar suasana kekeluargaan semakin terasa? Dalam hati Amara berdecak heran.


"Pak, kita mau ke mana sih?"


"Di sana, Mbak. Sebentar lagi sampai." Anehnya Mamad kembali menunjukan arah depan. Di tempat orang-orang yang berkumpul dalam remang-remang.


Meskipun merasa aneh, tapi Amara memutuskan untuk tidak banyak bertanya. Toh ia hanya menemani Mamad. Namun, posisi mereka yang semakin mendekat membuatnya kian bertanya-tanya.


Belum juga terjawab rasa penasarannya tiba-tiba Amara dikejutkan dengan suara beberapa terompet yang berbunyi nyaring secara bersamaan. Bersamaan dengan itu pula lampu menyala terang benderang disusul suara seruan yang terdengar nyaring dan riang.

__ADS_1


"Kejutan!!!"


__ADS_2