Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Mencintaimu dalam diam


__ADS_3

"Mas Dimas."


"Ya?" Dimas menghentikan kegiatannya saat tangan Amara menahan. Pria itu menundukkan kepala demi bisa menatap wajah sang istri dengan jelas. "Ada apa?"


"Ini maksudnya apa?" tanya Amara bingung.


"Kenapa masih nanya? Ya jelas buat lo, lah." Dimas melanjutkan memakaikan kalung itu setelah menjawab dengan nada santai. Setelah selesai, ia lantas mundur selangkah agar bisa melihat penampakan kalung itu di leher Amara yang tertutup jilbab. "Cocok," ujarnya penuh kepuasan. Lantas menurunkan jilbab Amara untuk menutupnya.


Amara menunduk dan sedikit mengangkat jilbab agar bisa menatap kalung itu. Tak ada ekspresi bahagia yang ia tunjukkan, melainkan sikap keterkejutan. Setelahnya, ia lantas mendongakkan kepala, memandang Dimas dengan ekspresi ragu.


"Tapi, Mas–"


"Gosah protes," potong Dimas dengan ekspresi penuh tuntutan. "Gue tau, lo suka kalung itu, kan?"


"Hah?"


Amara tergemap, sedangkan Dimas justru mengulas senyum penuh arti.


Beberapa jam lalu saat di toko perhiasan, Dimas yang tengah memilih kalung untuk Naura tak, sengaja melihat Amara tengah memaku pandangannya. Gadis itu menatap lama ke arah sebuah kalung berwarna perak dengan hiasan berlian pada liontinnya. Namun, saat ditanya maunya apa, gadis itu sontak mengalihkan pandangannya dan hanya berkata tak menginginkan apa-apa.


Sebagai pria yang sudah beberapa lama hidup seatap dengan Amara tentunya Dimas tahu betul watak gadis itu. Ia enggan menerima pemberian dari orang lain jika tanpa sesuatu alasan yang jelas. Terang saja ia harus putar otak agar bisa membelikan kalung itu tanpa Amara tahu.


Tepat sekali, ketika berjalan hendak pulang, ponsel Dimas mendadak berdering dan itu ia manfaatkan untuk berkelit. Di saat Amara berjalan menuju mobil itulah ia berlari kembali ke toko. Dengan napas terengah-engah, ia menanyakan pada penjaga toko yang tadi sempat melayani pembeliannya.


"Mbak, saya mau beli kalung yang itu," tunjuk Dimas pada sebuah kalung yang ia ingat betul kalung itulah yang tadi diperhatikan Amara.


"Yang ini, Pak?" tanya penjaga sambil menunjuk kalung yang sama.


"Benar." Dimas mengangguk yakin. "Cepetan, Mbak. Saya nggak bisa lama-lama," desak Dimas tak sabaran. Sambil sesekali menatap ke arah pintu keluar, tangannya ikut bergerak mengetuk meja etalase dengan sikap cemas. Khawatir jika Amara tiba-tiba datang.


"Baik, Pak." Penjaga toko mengambil kalung yang terpajang pada


dengan sikap hati-hati sebelum kemudian menunjukkannya pada Dimas.

__ADS_1


"Begini, Pak. Meski desain kalung ini terlihat sederhana, tapi untuk harganya kalung ini lebih mahal dari kalung yang Bapak beli di awal. Sebab kualitas berlian pada kalung ini lebih baik dari kung yang tadi. Apa Bapak yakin benar-benar ingin membeli ini, atau mungkin akan menggantinya dengan model lain?" jelas gadis itu sekaligus memberikan penawaran.


Tanpa pikir panjang, Dimas pun menjawab, "Saya maunya yang ini, Mbak. Berapa pun harganya tetap akan saya bayar."


"Baik, Pak. Mohon tunggu sebentar akan saya kemas."


Dimas sengaja menolak paper bag yang kedua dan memilih menyatukan kotak perhiasan Amara dengan Naura. Tentunya agar Amara tak curiga sebab ini adalah sebuah kejutan.


Ketika mendekati mobil pun ia memilih berjalan santai sambil pura-pura memainkan HP. Untuk apa lagi jika bukan demi menghindari kecurigaan Amara. Lupa memberikan kunci mobil pun juga bukanlah hal yang disengaja. Untuk yang ini memang dia benar-benar lupa.


Saat pandangannya bersirobok dengan Dimas, Amara hanya bisa menunduk sambil menggigit bibir bawah. Malu, sebab sudah tertangkap basah.


"Lo suka, kan?" tanya Dimas dengan nada hati-hati untuk memastikan.


Amara tak langsung menjawab. Jujur, ia memang sempat mengagumi kalung itu. Namun, ia bahkan sama sekali tak pernah memikirkan jika benda mahal itu kelak akan menjadi milik dia, apalagi sampai Dimas yang membelikannya.


"Tapi, Mas–" Amara mendongak dan menatap Dimas dengan sorot ragu. "Aku memang sempat memandangi kalung ini, tapi orang memandangi itu belum tentu menginginkan. Mas Dimas harus tau itu. Mas Dimas jangan salah paham. Aku tau, kalung ini harganya sangat mahal. Ini nggak cocok buat aku. Maaf, Mas ... aku nggak bisa terima ...."


"Nggak cocok gimana, Amara. Orang kalungnya jadi cantik gitu kok setelah lo pakai. Udah, jangan dilepas!" titah Dimassambil memegang tangan istrinya. "Siapa yang bilang juga ini kalung mahal? Ini tuh murah, kali. Siapa aja bisa beli," sangkalnya dengan ekspresi meyakinkan. Matanya menatap Amara lekat-lekat demi membangun kepercayaan gadis itu.


"Bohong." Amara tak langsung percaya begitu saja.


Dimas terkekeh.


"Siapa yang bohong sih, Mar. Swear," ujarnya sambil mengacungkan dua jari, telunjuk dan jari tengah.


Ya. Dimas memang tak bohong. Bagi dia, uang lima puluh juta tak berarti apa-apa jika bisa membuat wanita itu bahagia.


"Udah, gosah mikir macam-macam. Ini hadiah buat lo karena udah jadi istri yang baik buat gue. Terima kasih, sebab lo selalu ngertiin gue. Lo gadis yang baik, dan gue yakin kelak lo bakal dapatkan pria yang baik pula."


Aaaah, perkataan Dimas barusan benar-benar membuat Amara terharu. Gadis itu bahkan nyaris menitikkan air mata. Dimas memang cowok yang acuh tak acuh. Namun, dibalik sikapnya itu ia memiliki hati yang tulus.


Amara bahkan tak bisa berkata-kata saat pria itu menangkub bahunya. Memandang matanya lekat-lekat, lalu berbicara pelan dengan tubuh setengah membungkuk untuk mensejajarkan tinggi mereka. Ahh, jantung Amara bahkan nyaris melompat karena bekerja dua kali lebih cepat.

__ADS_1


"Tapi, Mas ... Mbak Naura?"


"Ngapain peduliin dia?" Dimas tertawa kecil sambil melepas bahu Amara kemudian berdiri tegak. "Yang suami lo kan gue. Jadi Naura sama sekali nggak ada hak ngelarang gue kasih apa pun itu ke elo. Ya gue memang cinta sama dia. Tapi gue masih jadi suami lo. Seharusnya yang lebih gue utamain itu lo, bukan dia. Tapi ya mau gimana lagi, namanya juga cinta. Itu yang jadi penghalang besar buat gue bersikap adil sama lo. Sorry, ya. Selama ini gue selalu utamain Naura ketimbang lo."


Lagi-lagi kata-kata Dimas membuat Amara trenyuh. Seketika mata beningnya berkaca-kaca dan nyaris meneteskan air mata. Namun, ia buru-buru mengulas senyum dan mengalihkan pandangannya demi menghalau sisi melankolis yang mendadak muncul.


"Mas Dimas ngomong apaan, sih? Aku tuh nggak ada hak sama sekali untuk menuntut keadilan. Aku nyadar kok, aku cuma orang ketiga di antara kalian," ujarnya tak enak hati. Ah, lagi-lagi Amara dibuat dilema.


"Terima kasih, ya Mar. Lo emang yang paling ngerti. Di saat orang lain mungkin berpikir gue ini gila karena menerima Naura untuk kedua kalinya, lo justru ngedukung gue dengan segenap jiwa raga. Asal lo tau, Mar, gue ini tipe pria setia yang nggak gampang berpindah cinta. Gue berusaha terima kesalahan Naura sebab gue sayang dia. Mungkin orang lain berpikir gue ini picik. Tapi, sikap gue ini beralasan, Mar. Bukankah manusia itu perlu mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan?"


Amara menganggukkan kepala, mengiakan perkataan Dimas. Seulas senyum pun terbit di bibir ranumnya. Namun, andai Dimas tahu, senyuman itu hanyalah topeng penutup kegetiran hatinya.


Benar. Ia sakit hati oleh kejujuran Dimas. Namun, ia sadar jika disakiti dengan kejujuran itu lebih baik daripada disayang dengan kebohongan.


"Sejauh ini, aku selalu berusaha memprioritaskan Naura demi menjaga perasaannya. Gue nentang Mama Papa yang nggak setuju gue sama dia. Gue ingin dia yakin akan cinta ini supaya dia nggak pergi untuk yang kedua kalinya."


Seketika Dimas tertawa getir merutuki kebodohannya. Kemudian ia kembali tersenyum selagi menatap Amara, dan dengan nada pelan, ia lantas bertanya pada istrinya.


"Lo pasti mikir gue ini pria bodoh, bukan?"


Amara sontak menggeleng cepat.


"Enggak. Jika Mas Dimas sendiri tau alasannya, mungkin Mas Dimas hanyalah pria malang yang diperbudak oleh cinta."


Lagi-lagi Dimas tertawa getir. Kata-kata Amara berhasil menyentil hatinya. Namun, ia sama sekali tak sakit hati. Mungkin perkataan Amara memang ada benarnya.


Untuk mengapresiasi sikap jujur Amara, ia tanpa canggung tersenyum begitu manis, lantas mengusap pipi merona si istri dengan penuh kelembutan.


"Terima kasih untuk kejujuran lo, Mar," ucapnya tulus. Sejurus kemudian, ia pun berbalik badan dan beranjak pergi usai berpamitan. "Gue berangkat dulu, ya. Berangkat memperjuangkan cinta."


"Hati-hati, Mas," ujar Amara sembari menatap punggung lebar yang bergerak menjauh itu.


Jika kau pandai dalam menjaga perasaan, maka aku paling hebat dalam menyembunyikan perasaan, mencintaimu dalam diam. Selama masih menjadi istrimu, aku akan bertahan dengan segenap jiwa ... sekalipun kau tak pernah anggap aku ada.

__ADS_1


__ADS_2