
Amara terbangun ketika mendengar suara azan Subuh berkumandang. Lagi-lagi ia terperanjat. Sangat terkejut, sebab setiap kali membuka mata di pagi hari, posisi tidurnya sudah berbeda dengan saat awal menutup mata.
Untuk yang ke sekian kalinya ia dan Dimas bertukar posisi. Jika awalnya dia yang memeluk seperti meninabobokan Dimas, kini justru Dimas lah yang memeluknya seperti seorang suami melindungi istrinya.
Amara tak habis pikir, bagaimana bisa begini? Apakah tidurnya terlampau nyenyak sampai tak merasa berpindah posisi? Atau mungkin dirinya merasa kedinginan hingga merapat pada Dimas selayaknya mencari kehangatan? Jika benar demikian, bukankah ini sangat-sangat memalukan?
Namun, seketika kegelisahan Amara itu memudar berganti senyuman yang mengembang. Lihatlah wajah tampan itu. Selalu memabukkan dalam segala keadaan. Saat tidur pulas saja Dimas benar-benar terlihat rupawan. Sangat manis. Berbeda dengan ketika terjaga yang langsung menjelma seperti es batu di kutub utara.
Ah, tapi apa gunanya tampan jika dia tidak cinta? Kata-kata Dimas yang menyinggung nama Juan berhasil menyadarkan Amara jika pria itu sama sekali tidak menginginkannya.
Ia harus sadar diri dan mulai menata hati. Salah satunya adalah mengemas pakaiannya ke dalam koper untuk kemudian pergi dari sini.
Mas Dimas udah sembuh. Jadi dia tidak butuh aku lagi.
Namun, ada yang terasa sesak di dalam dada. Kenapa hatinya terasa sakit sekali? Tiba-tiba Amara merasa berat dan tidak rela. Akhir-akhir ini ia sudah terbiasa menjalani hidup bersama Dimas. Lantas, sanggupkah dia melanjutkan hidup jika hanya sendirian?
Ia akui, Dimas benar-benar ahli membuat hatinya porak-poranda. Setelah berhasil menguasai, mungkinkah ia akan dihempaskan begitu saja. Sejahat itukah Dimas? Tapi batinnya bersikeras menyangkal itu.
Tidak. Mas Dimas tidak salah. Akulah yang merelakan diri untuk ia manfaatkan. Entah karena apa. Sayangnya aku sendiri tidak tahu semua ini kulakukan dengan alasan apa.
Amara mengerjap kaget kala Dimas tiba-tiba melenguh dan menggeliat. Saat itulah ia mengambil kesempatan yang ada dengan melepaskan diri dari pelukannya. Ia bisa bernapas lega lantaran Dimas sama sekali tak terusik oleh gerakannya barusan.
Selanjutnya, ia buru-buru ke kamar mandi untuk membersikan diri sebelum kemudian menunaikan kewajiban beribadah. Tak lupa pula menyiapkan kebutuhan Dimas di hari pertama kerja dan mengecek hidangan sarapan suaminya di lantai bawah.
Ia sangat beruntung dan bersyukur. Sepagi ini Eli sudah menyiapkan hidangan sarapan untuk Dimas. Benar-benar wanita yang gesit dan cekatan.
"Bi, makasih banget udah masak buat Mas Dimas, ya. Makasih ... banget udah meringankan pekerjaan aku," ucapnya penuh haru. Sedangkan Eli tampak tersenyum tulus sembari mengusap lembut bahu kanannya.
"Ini udah tugas Bibi, Amara. Bibi tau kamu pasti capek nurutin keinginan bayi besar itu, hehe." Eli dan Amara sama-sama tertawa.
"Kalau gitu aku balik ke kamar lagi ya, Bi. Sebelum bayi besar itu ngomel-ngomel karena ditinggal lama," pamitnya kemudian.
"Sana gih. Yang sabar, ya."
Amara hanya tersenyum menanggapi godaan Eli. Ia pun kembali ke kamar dan mulai mengemas pakaiannya ke dalam koper.
__ADS_1
Sementara itu di atas ranjang, Dimas yang masih terlelap tiba-tiba menunjukkan pergerakan. Matanya masih terpejam rapat. Namun, tangannya sudah bergerilya meraba-raba ke sisi kirinya. Ia buru-buru membuka mata lantaran tak menemukan sosok yang ia cari di sana.
"Amara," panggilnya pelan sembari bangun dan duduk. Ia mengerjapkan mata, menatap tempat kosong di sampingnya, lantas mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
"Ke mana dia?" Ia menggumam heran. Biasanya Amara selalu ada saat ia membuka mata. Gadis itu selalu membangunkannya untuk beribadah meskipun tidak berjamaah. Lantas kenapa hari ini berbeda?
Demi membunuh rasa penasaran, Dimas segera turun dari ranjang dan melangkah menuju ruang walk in closed di kamarnya.
Benar saja. Sosok istrinya ada di sana, dan itu cukup membuatnya bernapas lega. Namun, keningnya kembali dibuat berkerut lantaran dilihatnya gadis berjilbab itu tengah memasukkan lipatan pakaian ke dalam koper.
"Mar. Lo ngapain di situ?" Dimas bertanya sembari mendekat. Jangan tanya bagaimana perasaannya. Jujur, sangat kacau. Tapi dia berusaha agar tetap terlihat tenang.
Sementara Amara yang tengah sibuk dengan kegiatannya itu tampak terkejut. Ia benar-benar tak menyangka Dimas sudah bangun dan mendatanginya di sana. Pria berbalut piyama warna putih itu menatapnya heran sembari mendekat.
Amara berusaha menguasai diri dari keterkejutan. Ia langsung menghentikan kegiatannya dan mendekati pria itu dengan sikap rikuh.
"A–aku lagi packing baju, Mas."
"Iya, gue udah liat. Tapi buat apaan?" sahut Dimas cepat. Wajah bantal itu kini mulai terlihat resah.
Hati Dimas berdenyut nyeri. Seperti yang sudah dia duga, Amara benar-benar pamit kepadanya. Sekarang ia harus pakai alasan apa untuk menahannya? Sedikit saja salah berucap, ia khawatir Amara akan salah paham dan merusak semuanya. Tapi dengan dirinya diam saja, ia takut Amara akan benar-benar pergi sekarang juga.
Ya Tuhan, aku harus apa?
"Terus lo mau pergi ke mana? Ke rumah kita?"
Amara menggeleng dan itu sukses membuat Dimas merasa kecewa. Ia berpikir Amara akan tinggal di tempat lain. Di rumah Juan mungkin. Jelas itu menyinggung perasaannya lantaran Amara dan Juan belum sah menikah. Mau ditaruh di mana muka dia jika Amara nekat melakukan itu?
"Aku mau kembali ke panti asuhan, Mas."
"Panti asuhan yang waktu itu?" tanya Dimas kemudian. Ada sedikit kelegaan dari nada bicaranya.
Sedangkan Amara tampak mengangguk. Ia membenarkan pertanyaan Dimas itu.
"Kenapa nggak di rumah kita aja, sih Mar? Ngapain harus tinggal di panti?" Entah atas alasan apa Dimas memprotes keputusan Amara tersebut. Walau ia merasa lega Amara tidak berniat pulang ke rumah Juan, tetapi Amara tidak harus tinggal di panti asuhan juga, kan? Ingin rasanya ia melarang, tetapi bingung mesti dengan alasan apa?
__ADS_1
"Karena mereka sudah seperti keluarga aku, Mas."
"Alasan yang nggak masuk akal," ujar Dimas meragukan. Sedetik kemudian ia menggelengkan kepala sembari berucap tegas. "Enggak nggak. Gue nggak akan kasih izin."
"Loh, kenapa?" Amara menautkan alisnya mendengar larangan Dimas yang tak beralasan. Memang apa salahnya tinggal di panti? Toh ia bahagia berada di sana. Ia seperti memiliki keluarga yang senasib sepenanggungan.
Lantaran merasa tidak nyaman, ia kemudian berjalan semakin mendekati Dimas. Menatap pria itu seperti sedang mengiba, ia lantas berucap lirih seperti memohon. "Aku harus kembali ke sana, Mas. Mereka butuh aku."
"Jadi lo pikir gue nggak butuh, lo gitu?" Dimas menaikkan nada bicaranya. Kali ini ia benar-benar tidak bisa menutupi kekesalan.
Sementara Amara menggeleng sebagai bentuk penyangkalan, Dimas menatap manik bening gadis itu dalam-dalam sebelum mengurai pertanyaan.
"Sekarang gue tanya. Lo di sana sebagai apa? Cuma relawan, kan? Bukan staf! Jadi lo nggak wajib untuk selalu ada di sana!"
"Maaas, aku mohon jangan salah paham!" Amara menyela sembari meraih tangan Dimas dan memeganginya dengan erat. Ia berpikir Dimas telah salah paham, maka buru-buru meluruskan. "Aku cuma–"
"Gue nggak bisa terima apa pun alasan lo, Amara."
Amara terdiam saat Dimas memotong ucapannya. Malahan ia terhenyak oleh kata-kata pria itu setelahnya yang dengan tanpa izin mengeluarkan semua pakaiannya dari koper dan mengembalikannya ke tempat semula.
"Lo itu sebatang kara, Mar, sedangkan gue itu masih suami lo. Gue nggak akan biarin lo hidup sendirian di luar sana."
Demi apa pun, Amara sangat terharu mendengar Dimas bicara seperti itu. Ia bahkan hampir menitikkan air mata. Ia nyaris yakin jika Dimas mencintainya.
Namun, kata-kata Dimas selanjutnya benar-benar sukses mematahkan pemikirannya.
"Sampai kapan pun elo akan tetap berada dalam pengawasan gue, Mar. Kecuali–"
"Kecuali apa, Mas?" Jelas saja Amara penasaran. Pria itu sengaja menggantung ucapannya dan menunjukkan wajah muramnya.
"Kecuali lo bawa calon suami ke depan gue."
Seketika Amara merasa terpukul. Ia telah salah sangka.
Plis, berhenti berharap Amara. Mas Dimas itu hanya peduli. Bukannya ada hati. Sadar Amara.
__ADS_1