Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Lo ngetawain gue


__ADS_3

"Woy!"


Amara langsung berjingkat saat Dimas berseru. Terlebih remote control yang dipegang pria itu tadi benar-benar mendarat di pundaknya. Gadis itu sontak menoleh dengan wajah sangar sambil mengusap pundaknya yang kesakitan.


Buru-buru saja Amara memasang senyum secerah mentari saat lelaki itu justru menatapnya tajam. Namun bukan itu yang membuat Amara ketakutan. Tetapi toples besar berisi popcorn jagung yang diangkat Dimas itulah penyebabnya. Jangan sampai Dimas murka dan melemparkan itu ke arahnya.


Amara tak bisa bayangkan kalau sampai itu terjadi. Sudah barang tentu tubuhnya akan bermandikan popcorn. Dengan kepala berhelmkan toples, entah seperti apa bahagianya Dimas saat menertawakan dirinya.


"Kenapa Lo teriak-teriak! Bikin kaget orang, aja!" ketus Dimas masih dengan tatapan tajam. Lantas menurunkan toples itu sebelum kemudian menyantap isinya.


"Nggak kok, saya nggak teriak!" elak Amara sambil menggeleng cepat. Entah lupa atau bagaimana, ia bahkan tidak sadar jika teriakannya tadi sudah seperti petir yang tiba-tiba menggelegar.


Dimas menatap Amara terperangah seperti tak percaya. Lelaki itu menarik punggungnya dari sandaran sofa lalu mengamati Amara sambil menyipitkan mata. "Lo amnesia atau apa? Sampai-sampai lupa hampir aja bikin gendang telinga gue rusak."


"He-he, nggak sengaja. Maaf," ucap Amara sambil nyengir.


"Enak aja minta maaf. Maaf gue terlalu mahal. Jadi, gue nggak bisa kasih gratisan." Dimas berucap enteng, lantas melemparkan popcorn ke udara dan menangkapnya menggunakan mulut.


Amara berdecak sebal, lantas memalingkan wajah dengan pipi yang menggembung. "Nggak mau kasih maaf ya udah. Aku juga nggak salah," gumamnya pelan sambil memilah-milah kepingan DVD di depannya.


"Hey! Gue denger lo ngomong apa!" teriak Dimas sambil menatap punggung Amara penuh peringatan. Sedang yang ditatap hanya bisa meringis sambil menggigit bibir bawah, tak memiliki keberanian untuk menoleh.

__ADS_1


"Buruan pilihin! Lama amat milih film aksi doang."


Amara menoleh sebentar ke arah Dimas, lalu kembali menunduk. "Saran saya, Mas Dimas jangan nonton film action dulu," ucapnya sambil memilah-milah.


Dimas terhenyak di tempatnya, lalu menatap Amara dengan mimik tidak suka. "Apa hak lo larang-larang gue?"


Amara menoleh sambil memasang senyum manis. "Karena saya perawat anda," jawabnya dengan nada menggoda.


"Cih." Dimas terseyum meremehkan.


"Saya tidak akan biarkan Mas Dimas melakukan hal yang bisa membahayakan."


"Enggak." Amara menggeleng cepat.


"Halah, bilang aja lo takut gue tonjok. Iya kan!" Lagi-lagi tebakan Dimas tepat sasaran. Amara memang takut lelaki itu naik pitam dan menjadikan dirinya sebagai pelampiasan. Tapi perlukah hal itu dikatakan? Tentu saja tidak. Gadis itu hanya mendesah pelan lalu kembali fokus pada pekerjaannya.


Untuk sesaat keheningan pun mewarnai ruangan itu. Amara sibuk dengan kekesalannya, sementara Dimas sibuk memperhatikan Amara.


"Jadi menurut lo yang aman buat gue apa?" Pertanyaan Dimas membuat Amara langsung menoleh.


Amara berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Dimas. "Kalau film romantis aja, gimana?"

__ADS_1


"Ogah gue!" tolak Dimas mentah-mentah. "Pasti drama banget. Udah gitu pasti dipenuhi adegan banjir air mata. Benci gue ngeliatnya. Mending yang realita." Dimas beranjak dari duduknya lantas berjalan mendekati Amara.


Pria dengan rambut cepak itu duduk bersila, lantas membolak-balik kepingan DVD itu seolah sedang memilih.


"Kalau gitu film komedi aja. Gimana?" usul Amara. Lantas menunjukkan satu judul film dengan jenre romantis komedi. "Sudah pasti menghibur dan tanpa adegan banjir air mata tentunya," lanjutnya sambil menyunggingkan senyum riang.


Dimas mengambil kepingan itu dari tangan Amara untuk melihat gambar covernya. Ia kemudian manggut-manggut. "Boleh juga," ucapnya sambil tersenyum pada Amara. Lalu kembali mengamati kepingan itu. "Kebetulan gue juga lagi pengen ketawa." Memperlihatkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi, Dimas tampak terlihat begitu manis saat tersenyum lebar. Amara melihatnya, dan gadis itu ikut berbinar senang.


Bagaimana tidak senang jika pasiennya lambat laun menunjukkan perubahan yang signifikan. Perilaku Dimas pun sekarang jauh lebih baik terhadapnya. Ya-walaupun banyak menyebalkannya. Jika lelaki ini selalu terlihat bahagia, Amara bisa memastikan jika Dimas akan segera sembuh dari depresi dan traumatik yang di alaminya.


Keduanya tengah asik memilih sembari membereskan, memisahkan ratusan keping itu sesuai jenre film. Sesekali Amara berdiri untuk menyusunnya ke dalam rak, lantas kembali duduk untuk menyusun.


Saat pandangannya menemukan sesuatu, entah mengapa Amara tak bisa menahan diri untuk tertawa. Sambil membungkam mulutnya, ia berusaha keras agar tawanya tak meledak hingga menarik perhatian Dimas.


Siapa sangka, mata Dimas yang awas rupanya menangkap gelagat Amara yang memperlihatkan punggung bergetarnya saat membelakangi Dimas.


"Kenapa lo!" Teriakan Dimas mengagetkan Amara. Gadis itu menoleh seketika sambil membungkam mulut. Sementara wajah putihnya terlihat memerah. Terlihat sekali ia sedang menahan tawa.


Dimas sontak meraih dagu Amara dan mencengkeramnya. "Lo ngetawain gue? Apa yang lucu, hah!" tanya Dimas dengan gigi menggemertak.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2