Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Sarapan bertiga


__ADS_3

Naura sontak menaruh piring berisi sayur yang dipegangnya itu ke atas meja, lalu dengan langkah ringan ia berhambur memeluk Dimas tanpa rasa canggung sedikitpun.


"Kau sudah bangun, Sayang? Lihatlah. Aku buatkan makanan yang spesial buat kamu. Aku jamin, pasti kamu belum pernah makan makanan seenak buatanku. Ayolah, Sayang." Naura menarik lengan Dimas dan membawa pria itu mendekat ke meja makan.


Dengan tangan kanannya, Naura mengambil sesendok sayur dan menyuapkan pada mulut Dimas.


"Gimana. Enak, kan?" tanyanya saat Dimas tengah mengunyah.


"Emm, ini enak banget, Sayang. Kamu pinter, deh." Dimas berucap sambil mencubit gemas hidung Naura.


"Pasti, dong. Pacar siapa, dulu?" timpal Naura dengan bangganya.


"Pacarku, dong." Dimas pula tak kalah bangga saat berkata.


Tingkah romantis dua sejoli itu tak luput dari perhatian Amara. Terang saja. Gadis itu memang ada di sana. Melihat dengan sangat jelas bagaimana kemesraan keduanya. Ralat. Tepatnya, suaminya dengan wanita yang masih menjadi kekasih suaminya. Ah, ribet ya.


Seperti dunia milik berdua, Dimas dan Naura bahkan tak menganggap keberadaannya. Ah, mendadak Amara merasa dirinya seperti makhluk tak kasat mata saja. Ada, tapi tak terlihat. Lebih-lebih dianggap. Benar-benar menyebalkan. Alhasil, ia hanya bisa pura-pura mengelap kompor saja demi menghalau rasa jengah yang tiba-tiba singgah.


"Sayang, kau tahu, aku sengaja bangun sepagi ini demi untuk masak buat kamu. Aku sudah masak nasi, bikin lauk dan juga masak sayur. Pas kamu bangun, semuanya udah beres, deh."


Dimas hanya bisa tersenyum bangga menanggapi celoteh kekasihnya.


"Makan lagi, ya. Pakai nasi biar kamu rada gendutan. Kamu sekarang kurus banget, Sayang, seperti nggak keurus. Pasti kamu jarang makan karena nggak ada yang masakin, ya?"


"Sayang ...."


Dimas memanggil Naura penuh penekanan untuk menghentikan omongan gadis itu yang dinilainya tidak pantas.


"Kamu ngomong apa, sih?" tanya Dimas sebelum kemudian melanjutkan perkataan. "Yang kurus tuh, siapa ... orang aku sekarang malah gendutan, kok."

__ADS_1


Dimas bicara sambil menunjukkan tubuh berototnya dengan bangga.


"Nih, ya. Akhir-akhir ini aku malah lagi doyan-doyannya makan, kali. Sejak jadi perawatku, Amara selalu merhatiin semua asupan gizi untuk tubuhku. Kamu lihat, sekarang aku lebih bugar dari sebelumnya, kan? Amara juga masakannya enak, kok. Jadi, kamu nggak perlu khawatir soal aku, ya."


Terang saja, kata-kata Dimas tadi layaknya angin segar bagi Amara. Gadis yang berdiri membelakangi itu tanpa sadar senyum-senyum sendiri karena saking bahagianya.


Bertolak belakang dengan Naura yang terlihat kecewa. Pasalnya sang kekasih justru memuji-muji wanita lain di depan dia. Apalagi ia melihat Dimas dua kali menoleh ke arah Amara saat dua kali pula pria itu menyebutkan namanya.


Kendati yang dipuji adalah istri Dimas sendiri, tetap saja ia cemburu, sebab hingga detik ini ia merasa Dimas hanya miliknya seorang. Status Amara memanglah istri. Namun, tidak demikian dengan hati. Dialah pemilik hati Dimas yang sesungguhnya. Bukan Amara.


"Sayang, sarapannya nanti aja, ya. Aku mau mandi dulu sebentar. Lihat nih, masih muka bantal. Kamu juga belum mandi, kan?" tebak Dimas karena Naura masih mengenakan piyamanya.


"Hehe iya. Aku juga belum mandi, Sayang." Naura nyengir hingga menampakkan deretan gigi putihnya yang berjajar rapi.


"Okay, bye." Dimas mencubit gemas pipi Naura sebelum berniat pergi dari sana. Namun, baru juga beranjak selangkah, gadis itu sudah menahan dia dengan menarik tangannya.


Saat Dimas menoleh, kecupan dari Naura langsung menyambut bibirnya. Ia hanya membeku, sedangkan Naura justru tersenyum malu-malu. Seketika suasana terasa hening dan kaku akibat adegan tak diduga-duga Naura itu.


"Selamat mandi, Sayang," ucap Naura memecah keheningan. Dimas sontak mengangguk, lalu kemudian beranjak pergi setelah menyempatkan diri memperhatikan Amara yang hanya bergeming di tempatnya.


***


Suasana meja makan pagi itu berbeda dari biasanya. Kehadiran Naura benar-benar sukses mengubahnya. Peran Amara yang selama ini melayani Dimas tergantikan oleh dia. Gadis itu terlihat Luwes dan lihai. Mungkin karena sudah terbiasa.


Bagus, lah. Aku tak perlu repot-repot mengajarinya lagi. Amara membatin. Selama sarapan ia tak banyak bicara. Hanya sesekali menjawab saat Dimas atau Naura melemparkan pertanyaan. Itu pun sekadarnya saja.


Ia memilih menyibukkan diri dengan mengamati layar ponselnya untuk sekadar mengusir canggung. Biar cuma geser-geser beranda sosial media yang penting kelihatan sibuk. Itu lebih baik dari pada melihat kemesraan suami sendiri bersama wanita lain. Walaupun kemesraan Dimas dan Naura tidak merujuk ke hal vulgar, tapi tetap saja itu terlarang.


Dimas yang diam-diam memperhatikan Amara, menangkap gadis itu tengah tersenyum sambil menatap layar ponselnya. Jujur, ia penasaran, sebenarnya apa yang membuat gadis itu senang.

__ADS_1


"Mar, rencana lo hari ini apa?" Tiba-tiba Dimas nyeletuk bertanya.


Amara yang tengah menunduk itu sontak saja mengangkat pandangannya. Sambil menatap Dimas, ia pun menjawab, "Mau ke rumah sakit, Mas. Barusan aku baca pesan dari sana kalau hari ini aku mulai masuk kerja."


"Wow, selamat ya," ucap Dimas dengan pandangan berbinar senang.


Amara tersenyum, lalu menganggukkan kepala. "Makasih," ucapnya.


"Rumah sakit mana itu, Mar?" Naura yang sebelumnya hanya diam memperhatikan, akhirnya ikut angkat bertanya. Wajahnya terlihat tulus.


"Rumah sakit Medika Farma, Mbak. Deket aja, kok."


"Medika Farma?" ulang Naura dengan ekspresi antusias. Binar matanya juga menunjukkan kekaguman. "Itu rumah sakit besar, loh Mar. Kamu keren bisa kerja di sana! Beneran," pujinya dengan sikap bangga.


"Ah, biasa aja kok, Mbak," jawab Amara merendah. Ia hanya tersenyum tipis menanggapi pujian Naura.


"Dulu aku pernah punya cita-cita jadi dokter, loh Mar. Tapi waktu tes aku nggak masuk. Maklum, lah. Aku takut darah, haha."


Amara sontak tertawa membayangkan cerita Naura, terlepas ceritanya itu sebuah kebenaran atau hanya sekadar guyonan belaka. Ia tak berpikir macam-macam selain hanya ingin menghargai usaha Naura yang berusaha mencairkan suasana.


"Berangkat nanti gue antar sekalian, ya."


Amara sontak melongo saat Dimas bicara padanya. Sejenak, ia memperhatikan Dimas dan Naura bergantian sebelum kemudian kembali menatap Dimas. Walau Naura menunjukkan senyum yang seolah-olah menunjukkan sikap tidak keberatan, tetapi tetap saja ia merasa tak enak hati. Buru-buru saja ia menolak dengan halus demi kenyamanan bersama.


"Nggak usah, Mas. Rumah sakitnya deket, kok, aku berangkat sendiri aja. Malahan rencananya aku mau jalan kaki tiap hari biar sehat."


"Apaan sih, Mar. Masa iya jalan kaki mau berangkat kerja. Iya kalau masih sendiri sih nggak pa-pa. Tapi ini lo udah punya suami, Mar."


Entah demi apa Dimas berkata demikian di depan Naura. Pria itu bahkan sama sekali tak melupakan kodratnya sebagai suami meski tak ada hati.

__ADS_1


Ah, hati terlanjur berbunga-bunga hingga tanpa sadar Amara menganggukkan kepalanya.


"Iya deh, Mas."


__ADS_2