Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Terima kasih, Ma


__ADS_3

Amara membuka satu persatu paper bag yang diberikan Amelia setelah sampai di kamar. Ada beberapa stel pakaian, perlengkapan makeup dan aksesoris lengkap dari brand ternama.


Seketika ia merasa trenyuh luar biasa. Ternyata Amelia tak seburuk yang ia kira. Wanita itu bahkan memberikan yang terbaik untuknya. Padahal apa yang telah dilakukannya? Dia bahkan tak bisa diandalkan sebagai orang yang mendapatkan mandat.


Mendadak matanya memanas. Ia hampir menitikkan air mata. Rasa haru dan malu bercampur jadi satu.


Tak guna terus-terusan merutuki diri. Amelia sedang menunggunya saat ini, dan Amara mesti gegas bersiap diri. Ia sangat menghargai wanita itu hingga sedikit pun tak ingin membuatnya kecewa lagi.


Setelah melihat-lihat pakaian yang diberikan Amelia, Amara pun akhirnya menjatuhkan sebuah pilihan.


Tak butuh waktu lama baginya untuk bertukar pakaian dan merias diri. Ia tak ingin membuat mertuanya menunggu lebih lama lagi. Setelah selesai ia bergegas turun, lalu menemui Amelia yang masih tetap berada di tempatnya semula.


"Kamu sudah selesai?" Amel menyadari kedatangan Amara dan menatapnya seperti tak percaya.


Amara tersenyum lalu menganggukkan kepala. "Udah Ma."


"Cepet banget."


Entah itu sebuah pujian atau justru bentuk protes. Amelia menyeruput tehnya, menaruh kembali cangkir itu lantas bangkit dan mendekati Amara.


"Kamu cantik banget, Amara." Amelia memuji dan mengamati penampilan Amara penuh kekaguman. Ia tersenyum sangat manis, tangannya lalu bergerak merapikan posisi jilbab dan kerah long coat yang dikenakan menantunya.


"Ini berkat barang-barang yang Mama berikan, Ma."


"Ah, kamu selalu merendah." Amel menyahut cepat sambil menepuk pelan bahu Amara. "Lihatlah dirimu. Kamu benar-benar cantik, Amara. Pakai apa pun pasti cocok. Kamu tau, Mama tuh suka gemes kalau lihat barang-barang lucu. Pengennya mau Mama borong, haha."


Amara hanya tersenyum menanggapi sikap antusias mertuanya.


"Mama pengen banget ajak kamu jalan-jalan sambil belanja, Amara. Nggak pa-pa kan, kalau nanti kita hang out sama-sama?"


Amara mengangguk. "Iya, Ma. Nggak pa-pa."


"Bagus. Tidak memiliki anak perempuan benar-benar bikin Mama kesepian, Amara. Mama sering belanja sendirian. Nyalon juga sendirian." Amel sejenak menghentikan ucapan dan mendesah pelan.


"Dimas suka nggak mau Mama ajak nge-mall. Apalagi papanya. Kadang Mama suka iri sama teman-teman yang punya anak gadis. Mereka bisa bertukar pikiran mengenai fashion dan juga masakan yang enak-enak sama anak gadisnya. Sementara Mama? Yang ada tiap hari cuma ngomel-ngomel sama Dimas. Dia nggak begitu peka sama Mama."


"Mungkin karena Mas Dimas nya lagi sibuk aja, Ma."

__ADS_1


"Bisa jadi." Amelia tersenyum menyetujui perkataan Amara, lalu kemudian ia tertawa menyadari sikap kekanakannya. "Ah, lagian Mama juga sih yang aneh-aneh. Masa iya shoping doang minta antar sama Dimas. Ya jelas kabur, lah dia." Amelia tergelak sebelum kembali menambahkan.


"Dimas itu tipe pria gila kerja sebenarnya. Dia lebih baik kerja dari pada keluyuran nggak jelas. Tapi percayalah, dia itu sangat setia, Amara. Dia tidak akan mungkin mengkhianati orang yang dicintainya."


Entah apa maksud perkataan Amel itu, tetapi menurut Amara kata-kata itu tidak cocok ditujukan kepada dia.


Sadarlah, Ma. Bukan Amara wanita yang anak Mama inginkan.


Amara hanya tersenyum tanpa bisa berkata apa-apa. Dalam hati ia merasa kasihan andai Amel terus saja menaruh harap pada hubungannya dengan Dimas. Ia takut wanita itu akan kembali merasa kecewa jika tahu kenyataan sebenarnya.


"Berangkat yuk. Mama udah nggak sabar mau lihat gimana reaksi Dimas."


***


Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, mobil yang membawa Amara dan Amelia memasuki halaman sebuah gedung tinggi dan berhenti di depan lobi.


Amel bergegas turun dan mengisyaratkan Amara untuk segera turun pula. Ia memperhatikan sikap menantunya yang sejak tadi banyak diam seperti ada yang sedang dipikirkan.


"Kamu baik-baik aja?" Amel bertanya untuk memastikan keadaan menantunya. Ia memegang bahu Amara dan menatap gadis itu penuh kecemasan.


"Amara baik-baik aja kok, Ma."


Amara tersenyum lembut menanggapi kekhawatiran berlebihan mertuanya. "Amara nggak sakit kok, Ma. Cuma, sedikit tegang."


Sangat wajar jika Amara merasa tegang. Ia mengalami perlakuan tidak mengenakkan terakhir kali datang kemari. Salahkah jika ia berpikir Dimas akan begitu lagi dengan kedatangannya kali ini?


"Kenapa harus tegang? Santai aja Amara. Dimas pasti suka lihat kedatangan kita. Percaya deh sama Mama."


Apalagi yang bisa Amara lakukan selain tersenyum? Patuh pada mertuanya dan berusaha percaya dengan apa yang wanita itu katakan. Bukankah keberadaan Amelia di sana itu akan sangat menguntungkannya? Dimas takkan mungkin berbuat macam-macam. Jadi apa lagi yang perlu ia takutkan?


Dua wanita itu akhirnya keluar dari lift yang mengantar mereka menuju lantai sepuluh, lantai tepat di mana Dimas berada.


Seorang gadis cantik dengan pakaian formal dan rok span panjang selutut menghampiri dan menyambut mereka dengan ramah.


"Selamat datang, Nyonya. Hai, Amara."


Selama ini gadis bernama Faby itu hanya tahu Amara adalah perawatnya Dimas, atasannya. Begitu pula dengan karyawan yang lainnya. Selama ini hanya sosok Naura lah yang mereka kenal sebagai kekasih Dimas. Wajah cantik Naura memang sangat familiar di kantor itu. Apa lagi jika bukan karena Naura seorang selebritis dan sering mendatangi Dimas di sana.

__ADS_1


"Dimas-nya ada?" Amel yang langsung melayangkan tanya ketika mata Faby sibuk mengamati penampilan menantunya seperti kagum. Gadis itu sontak mengalihkan pandangan ke arahnya dan menjawab dengan begitu sopan.


"Ada, Nyonya. Beliau sedang bersama Pak Baskoro di dalam ruangannya. Mari saya antar."


Semakin mendekati ruangan Dimas, jantung Amara pun kian berdebar-debar. Badannya juga terasa panas dingin. Namun, di depan mertuanya ia berusaha bersikap setenang mungkin.


Faby langsung membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Gadis itu tersenyum, lalu mempersilahkan ia dan Amelia untuk masuk.


"Terima kasih." Amel mengambil posisi di depan, memimpinnya masuk ke dalam.


Ya Tuhan. Amara merasakan kakinya kian berat saja. Lebih-lebih saat matanya menangkap sosok yang tak asing di dalam sana, gadis itu seperti tak memiliki daya hingga berhenti dan memaku tubuh di tempatnya.


"Mama?" Dimas tak bisa menutupi keterkejutannya. Untuk sejenak pria itu terperangah. Namun, tak berapa lama ia mampu menguasai diri dan melepaskan cengkraman tangannya pada kerah Baskoro untuk kemudian menghampiri mamanya.


"Lagi ngapain kalian, heum?"


Dimas tak menanggapi gurauan mamanya ketika mengomentari adegan yang baru tertangkap mata. Ia lebih memilih meraih tangan sang mama untuk kemudian mencium punggung tangannya.


"Kok nggak bilang-bilang mau balik?" tanya Dimas masih dengan ekspresi tak percaya.


"Apa Mama harus bilang dulu kalau mau pulang? Enggak kan?"


Dimas tersenyum, lalu memeluk sang mama. Kemudian ia pun berbisik. "Makasih buat kejutannya, Ma. Dimas suka."


Amel mengurai pelukan mereka dan tersenyum menatap putranya. Ia tahu ucapan terima kasih Dimas itu merujuk ke arah mana. Tentu saja karena gadis yang dibawanya.


"Sama-sama," balas Amel sambil mengusap pipi putranya. Wanita itu lantas mengalihkan perhatian pada Baskoro yang tengah berdiri sambil merapikan pakaiannya. "Hai, Bas, apa kabar?"


"Baik, Tante. Tante sendiri apa kabar?"


"Baik juga."


Keduanya pun terlibat obrolan.


Lantas, apa kabar dengan Amara?


Ya, gadis itu masih mematung di tempatnya. Ia masih diam. Sedikit pun tak bergerak. Tetapi senyumnya mengembang ikut bahagia melihat kedekatan Dimas dengan mamanya. Lantas, apa kabar jantungnya saat kini giliran dia yang mendapat giliran menjadi pusat perhatian Dimas?

__ADS_1


Iris coklat itu menatapnya tegas. Memperhatikan penampilannya dari ujung kaki hingga kepala lalu menyunggingkan senyum yang tak bisa diartikannya.


Ia semakin gugup kala pria bertubuh tegap itu berjalan santai untuk mendekat. Dimas mengenakan kemeja slim fit warna biru tua dan menggulung lengannya hingga sebatas bawah siku. Memperlihatkan bentuk perut dan dada yang ramping dan berotot. Dan ketika pria itu berhenti di depannya sambil tersenyum, bersedekap dada dan memiringkan kepala, ia hanya bisa menelan salivanya.


__ADS_2