
"Tapi ... lo harus bujuk mama biar kasih kita izin beli rumah. Bisa, kan?" bisik Dimas dengan nada nakal, tepat di telinga Amara.
Sontak saja Amara berjingkat dan menatap Dimas dengan ekspresi keheranan. Sedangkan pria itu justru nyengir kuda sambil memainkan kedua alisnya.
"Kok jadi aku yang ngomong, Mas? Yang anaknya mama itu siapa?"
"Gue." Dimas menunjuk dirinya sendiri ketika menjawab, dengan wajah lugu yang tidak dibuat-buat.
"Nah, berarti sudah jelas, kan? Mas Dimas yang harusnya ngomong sendiri ke mama. Bukannya aku!"
"Hey, dengerin dulu!" Dimas menahan Amara yang hendak kembali membaringkan tubuhnya. Ia menarik tangan gadis itu, lalu mendudukkan kembali ke sisinya seperti semula. "Dengerin dulu! Gue belum selesai ngomong."
"Hoaaaam." Amara membungkam mulutnya yang ternganga akibat menguap meski sebenarnya hanya pura-pura saja. "Aku udah ngantuk, Mas. Besok lagi aja kita berembuknya."
"Nggak bisa. Sekarang berembuk dulu, baru besoknya elo eksekusi."
"Kamu aja yang eksekusi. Aku sih ogah."
"Lah, kok gitu?"
"Masih nanya juga?" Geram karena Dimas masih juga belum paham akan maksudnya, Amara menyingsingkan lengan baju, beringsut dari duduk, lantas menghadap tepat ke arah Dimas. Kemudian gadis itu mulai berbicara.
"Jadi gini ya Mas Dimas, Sayang."
"Cie cie, lo manggil gue dengan sebutan sayang." Dasar Dimas. Amara tengah kesal, ia justru bercanda tidak jelas. Pria itu terkekeh sambil menunjuk wajah Amara.
"Ih, bukan gitu!" sentak Amara gusar. "Plis ya Mas, jangan bercanda! Ini kita lagi ngomongin hal serius."
"Oke, oke. Sekarang gue serius." Dimas menelan hasrat tawanya dan memasang wajah datar. Ia lantas bertopang dagu dengan siku bertumpu pada meja dan menatap Amara dengan antusias.
"Buruan ngomong. Gue udah siap dengerin, malah lo diam," ujar Dimas karena Amara hanya cemberut.
"Mas Dimas lebay. Biasa aja kali ngeliat akunya."
"Lebay gimana? Gue biasa aja tuh." Dimas menatap Amara dengan mata menyipit, lalu menuduhnya dengan ekspresi curiga. "Lo pasti deg-degan gegara gue lihatin ya? Ngaku!"
"Enggak. Cuma risih."
"Bohong."
"Enggak!"
"Gue nggak percaya."
"Plis ya, Mas!"
"Heh. Gue bukan cuplis!"
__ADS_1
"Hadeh."
***
Amel tengah menata meja makan saat Dimas muncul. Pemuda itu sudah terlihat rapi dan segar dengan jas semi formal warna navy yang menempel di badan.
"Pagi, Ma ...!" sapa pemuda itu dengan sikap ceria lalu duduk di kursinya.
"Pagi juga." Tak kalah ceria, Amel pun menyahut diiringi senyuman. Ia menaruh sendok yang dipegang ke atas piring, lantas memperhatikan putranya dengan mata menyipit seperti sedang menelisik.
"Kenapa Mama ngelihat akunya gitu banget?"
Rupanya Dimas sadar jika Amel memperhatikannya dengan sikap curiga. Pemuda itu tetap bersikap biasa, mengambil kerupuk udang di toples, lantas menggigitnya usai bertanya. Kraus ... kraus .... Suara kerupuk yang sedang Dimas kunyah. Ia bahkan tak mengubah sikap sekalipun pandangan sang mama sama sekali tak beranjak.
"Nggak pa-pa. Cuma, tumben aja nyapa Mama seceria tadi." Amel menjawab enteng pertanyaan Dimas. Ia lantas mengambil teko berisi air putih yang berada di tengah meja.
"Lah, bukannya tiap hari memang gini?"
"Hemm. Tapi bukan karena ada maunya, kan?"
"Uhuk!" Dimas terbatuk lantaran tersedak kerupuk. Kalimat bernada curiga sang mama benar-benar sukses menyentil hatinya. Bagaimana bisa mamanya tahu jika dia sedang ada maunya? Ah ya, lupa. Namanya juga orang tua. Pasti tahu betul bagaimana gelagat anaknya.
"Kalau makan pelan-pelan. Sampai tersedak gitu." Amel buru-buru menyodorkan gelas yang baru saja ia isi air putih dan langsung disambut oleh anaknya.
Tanpa pikir panjang Dimas langsung meneguknya setengah bagian. Lumayan melegakan. Ia taruh pula gelas itu ke atas meja di sisi kanannya.
"Hemm."
Dimas hanya seorang diri saat Amel meninggalkannya ke dapur guna mengambil sayur dan lauk. Ketika itulah senyum di wajahnya memudar. Pria itu menggeram, mengacak rambutnya kasar, lantas punggung lebarnya pun menyandar.
Muka pria itu kini terlihat kesal. Belum juga sempat menyampaikan keinginan, sang mama sudah curiga duluan, lantas apa reaksi mamanya nanti jika ia tiba-tiba ingin tinggal di rumah sendiri? Ah, pasti bakal dilarang dengan berbagai alasan. Inilah, itulah .... Yang ada nantinya dia bakal ceramah dua hari dua malam.
"Hadehhh ... gimana cara ngomongnya, ya." Sekali lagi Dimas mengacak rambutnya. "Ini gara-gara Amara. Coba aja dia mau ngomong sama mama. Pasti langsung dapat izin tanpa harus dengerin tausiyah."
Pikiran Dimas kembali teringat pada peristiwa tadi malam. Setelah berdebat nggak jelas, akhirnya ia dan Amara kembali akur dan mulai bicara serius.
"Bagaimanapun juga Mas Dimas itu anak kandung mama. Aku cuma menantu sementara yang baru netas kemarin lusa. Masa iya mau ngelunjak dengan tiba-tiba minta rumah. Nggak ada akhlak banget, kan? Mau ditaruh di mana muka aku, Mas ...? Harusnya kamu ngertiin, dong. Atau ... jangan-jangan, kamu sengaja ingin menggiring opini mama supaya mikir buruk tentang aku?"
"Heh mana ada!" Dimas sontak mengelak saat Amara menuduhnya. Jelas ia mengelak, sebab memang tak pernah berpikiran hingga sedemikian rupa.
"Terus?"
"Alasan gue, lo itu menantu kesayangan mama satu-satunya. Mama itu, kalau udah suka, pasti bakal kasih apa pun yang diminta. Mama itu bisa jadi orang royal, sekaligus pelit juga, tapi tergantung sama siapa. Lo udah lihat sendiri waktu itu, kan. Wajah Mama yang seimut kucing langsung garang kayak macan begitu ngomongin Naura?"
"Ah iya, benar juga ya." Amara manggut-manggut paham oleh perkataan Dimas barusan.
"Nah, itu lo ngerti."
__ADS_1
"Ngerti, sih. Tapi aku tetep nggak mau minta izin sama mama kamu."
"Hadehhh. Sialan lo, Mar. Gue kira lo berubah pikiran."
Dimas pasang tampang kesal sedangkan Amara nyengir kuda.
"Maaf, Mas. Aku nggak akan lakuin hal yang nggak bisa kulakuin sekalipun kamu maksa. Tapi aku mau kok, bantuin kamu ngomong. Ya sebisanya aja."
"Oke. Deal."
"Dimas, barusan kamu ngomong sama siapa?" Amel yang muncul dari arah dapur tiba-tiba nanya sambil celingukan. Rupanya dia dengar saat tadi Dimas menggumam. Dan wanita itu sukses menarik Dimas dari lamunan.
"Nggak ada tuh, Ma. Mama salah denger, kali."
"Masa? Tapi perasaan Mama itu suara kamu, deh."
Dimas yang hendak menyahuti, sontak bungkam saat melihat sosok Amara muncul sambil membawa mangkuk besar. Buru-buru ia bangkit guna menyambut mangkuk Amara dan mengambil alih membawa, bersikap layaknya suami siaga.
Awalnya Amara hanya melongo sambil menatap Dimas bingung, tetapi saat tahu jika Amel tengah mengamati, sontak saja ia mengulas senyum. Lagi pula tak ada salahnya, kan? Bukankah bikin orang lain bahagia itu merupakan suatu ibadah dan kelak dapat pahala?
Empat orang keluarga inti sudah duduk bersama di meja makan. Suara denting sendok makan yang beradu dengan piring sudah terdengar sejak tadi. Sesekali terdengar obrolan ringan antara Dimas dengan orang tuanya, sedangkan Amara hanya tersenyum menanggapi. Tepatnya senyum sungkan, sebab gadis itu belum terbiasa.
Amara meringis saat merasakan sesuatu berat melindas kakinya di bawah meja. Sontak saja ia melirik sinis ke arah Dimas sebab yakin benar jika pria itulah pelakunya.
Pria itu justru mengedipkan mata, seolah-olah memberi kode melalui bahasa isyarat. Paham akan maksud Dimas, Amara justru menggelengkan kepala serta menggerakkan bibir yang seolah-olah berkata tidak. Jelas saja Dimas merasa geram karena menilai Amara susah diajak kerja sama.
Sebuah senyuman tiba-tiba terbit di wajah Dimas. Sebuah ide Brilian mendadak muncul di otaknya yang cerdas.
"Ma."
"Ya?"
"Dimas mau ngomong."
Amel dan suaminya menghentikan makan, lalu saling pandang dengan heran. Sesaat kemudian mereka tertawa bersamaan.
"Bukannya dari tadi kita udah saling ngomong, ya?" tanya Amel kemudian.
"Tapi ini omongannya beda, Ma," sahut Dimas meyakinkan.
"Hemm. Sepertinya serius sekali. Ada apa ini?" Amel menaruh sendok dan garpunya. Menyatukan kedua tangan sebagai tumpuan dagu, ia lantas memperhatikan putranya dengan antusias.
"Dimas boleh beli rumah, kan Ma?" tanya Dimas hati-hati.
"Rumah?" ulang Amel dengan nada memastikan. Takutnya kalau-kalau ia salah dengar.
"Iya, Ma. Rumah." Dimas mengangguk pasti. Ia menoleh Amara sejenak sebelum kemudian menambahkan. "Amara yang minta, Ma. Boleh, kan? Aaa!" Dimas memekik saat merasakan pahanya dicubit.
__ADS_1