
Selalu rindu dan tak bisa berjauhan dari seseorang adalah ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta. Itulah yang sedang dirasakan Dimas sekarang ini kepada Amara. Ia kelimpungan saat gadis itu jauh dari dirinya.
Berbekal informasi dari perawat yang ia tanyai, Dimas berjalan santai menuju ruang VIP yang diduga tengah disinggahi Amara, istrinya. Ruangan itu terletak di lantai enam gedung rumah sakit tempat istrinya bekerja dan sekarang ia berada tepat di depan pintunya.
Dimas sengaja menahan diri untuk tidak segera masuk dan bertahan berdiri saja di tempatnya. Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, ia bisa melihat seluruh aktivitas istrinya di dalam sana.
Sesungguhnya tidak ada niatan di hatinya untuk mengganggu Amara atau semacamnya. Kedatangannya murni karena rindu sekaligus dalam rangka kejutan balasan dari kedatangan Amara ke kantornya beberapa waktu lalu. Dimas tak bisa pungkiri jika waktu itu ia sangat bahagia dengan kedatangan Amara yang tidak pernah disangkanya. Tentunya kali ini ia berharap Amara akan merasakan kebahagiaan seperti dirinya pula.
Awalnya Dimas masih bisa menyunggingkan senyum ketika dilihatnya Amara terlihat profesional ketika menyapa dan berinteraksi dengan pasiennya. Ia meyakini jika Amara melakukan itu pada semua pasiennya sebab sebelumnya Dimas pernah merasakan juga.
Namun, keningnya jadi berkerut setelah lama-kelamaan merasakan ada yang tidak beres dari pasien istrinya di dalam sana.
Dari tampilan luar, ia bisa menilai jika pasien itu seumuran saja dengan dirinya. Masih muda dan berkulit putih. Satu hal lagi yang membuatnya merasa terancam. Paras pria itu yang terlihat tampan walaupun sebenarnya ia ingin muntah mengakuinya.
Perlukah ia merasa tersaingi? Jika melihat dari segi finansial, pria itu juga sepertinya bukan dari kalangan bawah. Hal itu terlihat dari kamar yang ditempatinya saat ini meskipun berada di ruangan kelas dua, satu level di bawah kamar yang dipesannya. Ah, sepertinya tidak perlu. Setidaknya ia masih menang kalau soal urusan kamar. Masih ada yang bisa dia banggakan. Dan lagi ... ia juga menang dalam urusan status jika mengenai hubungan dengan Amara. Aman, kan?
Dimas masih bisa menahan diri ketika pria itu mengajak Amara berdebat masalah selang infusnya. Namun, ketika pria itu semakin tak tahu diri dengan meminta Amara memeriksa matanya, Dimas mendadak jadi geram. Puncaknya ketika pria asing tidak jelas itu mengajak Amara bicara dengan jarak yang begitu dekat. Mata mereka saling pandang begitu lekat, bahkan Dimas bisa pastikan mereka bertukar udara ketika bernapas.
Hilang kendali, Dimas tanpa sadar menendang pintu di depannya hingga terbuka lebar dan mengangetkan yang di dalam.
"Apa-apaan ini!"
Dengan penuh amarah ia masuk ke dalam. Lupa jika dirinya tengah mengintip diam-diam di luar. Lupa juga jika istrinya sekarang sedang berkerja dan dia tidak punya kuasa apa-apa.
__ADS_1
"Mas Dimas?" Mata Amara membelalak dan gadis itu sontak bergerak menjauhi Aldo demi menahan suaminya mendekat. Ia bisa merasakan aura negatif muncul bersamaan dengan kehadiran Dimas di kamar itu.
"Ngapain lo pegang-pegang wajah dia!" tuding Dimas ke arah Aldo yang masih berbaring santai di tempatnya.
Amara mengalihkan pandangan pada Aldo sebentar sebelum kemudian mengembalikan pandangannya pada Dimas. "Dia sedang sakit, Mas. Aku tadi lagi periksa keadaan dia! Wajar kan kalau aku pegang-pegang?" jawab Amara berusaha menjelaskan untuk meredam emosi Dimas. Namun, usahanya sia-sia sebab Dimas justru tersenyum meragukan.
"Sakit, lo bilang?" Dimas mendekatkan wajahnya pada Amara dengan tatapan menyangsikan. Lalu sesaat kemudian ia tertawa pedar seperti merendahkan Amara yang ditipu mentah-mentah oleh Aldo.
Sambil tersenyum mencemooh dan mengangkat alisnya, Dimas kembali melanjutkan bicara.
"Iya, gue percaya kalau dia itu sakit. Tapi sakit jiwa tepatnya!"
"Mas Dimas!" Amara berseru dengan nada mengingatkan. "Ini rumah sakit, Mas. Kumohon jangan bikin keributan di sini, ya. Yuk keluar sekarang."
Bagaimana Dimas tidak geram, coba? Andai ia tidak ingat mereka sedang berada di rumah sakit dengan status pria itu sebagai seorang pasien, mungkin Dimas sudah menghajar Aldo habis-habisan.
Aldo terlihat menikmati kekesalannya dan begitu bangga karena dibela oleh Amara. Sedangkan nasibnya? Mungkin Amara menuding dirinya sedang cemburu buta saja.
"Lihat dia, Amara. Mana ada orang sakit yang kelihatan sehat bugar kayak gitu! Dan, apa tadi dia bilang? Sakit mata?" Dimas kemudian mendecih. "Cih, itu hanya alibinya! Dia cuma pengen deket-deket sama lo, Mar!"
"Mas! Dia itu pasien di sini. Tolong, Mas Dimas jangan mengganggu kenyamanan tempat ini, ya." Amara tak bisa berkata-kata lagi selain memperingatkan suaminya. Ia memohon sampai menarik-narik lengan Dimas layaknya bocah yang memohon pada ayahnya.
"Gue nggak rela lo sentuh-sentuh dia." Tiba-tiba Dimas nyeletuk seperti itu setelah beberapa saat terdiam.
__ADS_1
Amara sendiri tak bisa berkata-kata. Ia justru menatap lekat manik Dimas yang juga tengah menatapnya begitu dalam, seolah-olah wanita itu tengah menyelami arti kata-kata Dimas melalui pandangan matanya.
Awalnya Amara pikir Dimas berkata demikian hanya karena bercanda dan ingin mengganggu dirinya saja. Namun, setelah melihat ekspresi memohon serta tatapan penuh tuntutan suaminya, Amara jadi merasa dicintai dan dicemburui. Salahkah jika dia jadi berbunga-bunga karenanya?
"Tapi Mas ... aku ini perawat. Masa iya nggak boleh sentuh-sentuh orang waktu kerja?" Amara buru-buru beralasan demi mengusir rasa bahagia yang tidak semestinya. Bisa saja kan, Dimas hanya ingin mengerjainya dan mengacaukan pikirannya saja. Dan Amara akui tujuan pria itu sukses sejak pertama kali menapakkan kaki di rumah sakit ini.
"Asal bukan pasien seperti dia, Amara! Dia itu cuma modus!" Tangan Dimas menuding Aldo walau pandangannya sama sekali tak beralih dari Amara.
Amara memandang pada Aldo sebentar sambil mengangguk sopan dan tersenyum masam demi menjaga perasaan pria itu, lalu setelahnya menatap tajam pada Dimas lalu menarik tangan pria itu dan menariknya untuk keluar.
"Mas Dimas kenapa jadi gini, sih?" tanya Amara setelah sampai di luar. Keduanya kini berdiri di samping tembok dengan posisi saling berhadapan dan dengan mata saling pandang. "Maksud Mas Dimas apa dengan tiba-tiba datang dan nyaris bikin onar?"
"Bikin onar, lo bilang?" Dimas bertanya dengan nada rendah tapi penuh penekanan. Namun, sesaat kemudian ia melanjutkan perkataannya dengan nada tinggi dan penuh emosi dan dengan telunjuk menuding ke arah pintu. "Dia yang bikin onar, Amara! Dia godain lo di kamar rumah sakit! Di mana etika dia sebagai pasien!"
"Mas, dia cuma bercanda, dan dia sudah terbiasa melakukannya! Bukan cuma sama aku, loh Mas. Dua begitu sama semua perawat dan juga dokter wanita yang memeriksanya! Dia itu humoris dan suka bercanda. Sedangkan kami, sudah menjalani sumpah jabatan dan akan profesional bekerja tanpa bawa perasaan! Dari sini Mas Dimas sudah paham?" Amara melayangkan tanya setelah menjelaskan panjang lebar dengan berapi-api, tetapi sepertinya itu masih juga belum berhasil membuat Dimas terpuaskan.
"Tetep aja nggak ada etika." Dimas mendengkus kesal sambil memalingkan wajahnya. "Harusnya dia nggak perlu godain lo juga, kan! Dia perlu tau kalau lo itu punya suami!"
"Maksudnya?" Tiba-tiba Amara menatap Dimas sambil menyipitkan mata. "Mas ...."
Dimas langsung menatap Amara saat wanita itu memanggilnya dengan penuh kelembutan.
"Jadi ceritanya Mas Dimas cemburu, nih?"
__ADS_1
Dimas sontak menyadari kebodohannya yang tak bisa mengendalikan diri. Jadinya begini, kan. Amara menatapnya sambil senyum-senyum menggoda. Bahkan menjebaknya dengan pertanyaan yang sulit ia jawab. Sekarang dia harus bilang apa?