
Dimas mengepalkan kedua tangannya tanpa sadar. Kedua matanya juga menatap dengan nyalang. Entah mengapa ia tak suka dengan kedekatan yang terjalin antara Juan dengan Amara. Lebih-lebih lagi dengan sikap Juan yang terkesan berlebihan.
Sial. Dasar bedebah tengil. Untuk apa juga dia tiba-tiba datang? Untuk memamerkan kedekatannya dengan Amara? Mau menyombongkan dirinya?
"Mau pulang bareng?"
Dimas mendengar Juan bertanya demikian pada istrinya. Ia makin bertambah geram. Namun, seketika itu juga ia merasa lega sebab Amara langsung menolaknya.
"Nggak bisa Juan, aku nggak bisa pulang."
"Loh, kenapa?" Juan bertanya heran.
"Mas Dimas sakit, aku harus merawatnya sampai dia sembuh," jawab Amara, dan itu sukses membuat Juan sedikit melebarkan matanya.
"Benarkah?"
Dasar pembohong! Aku yang sebesar ini mana mungkin tak terlihat olehnya sejak tadi! geram Dimas dalam hati.
"Iya. Apa kau mau membesuknya?"
Dimas mendengar Amara berkata demikian pada Juan, dan pria itu mengangguk sebelum keduanya berjalan mendekat beriringan.
"Dim, lo sakit?" Juan bertanya selagi berjalan menghampiri Dimas. Namun, herannya pria itu memasang tampang lugu seperti tak tahu menahu.
Terang saja Dimas kesal. Ia bahkan menjawab pertanyaan retoris Juan itu dengan kalimat menjengkelkan.
"Enggak. Gue lagi tamasya."
Jawaban ngaco Dimas itu sontak saja membuat Baskoro terbahak. Namun, buru-buru saja ia mengatupkan bibirnya lantaran mendapat tatapan tajam dari orang yang ia tertawakan.
"Pantesan aja. Lo kelihatan segar bugar gitu. Nggak ada pucat-pucatnya," timpal Juan dengan nada yang tak kalah menjengkelkan.
Kini pria itu duduk di bibir ranjang sembari menatapnya dengan senyum mengejek.
"Apa lo udah kehabisan destinasi pariwisata yang seru sampai-sampai milih tamasya di rumah saki?" Juan berdecak sambil menggelengkan kepalanya. "Dimas, Dimas. Kok sampai segitunya sih? Tapi kok ya cuma segini aja? Nggak nanggung, kah? Kenapa nggak ambil paket yang lebih ekstrim aja sekalian? Melakukan operasi pembedahan misalnya?"
Dimas benar-benar ingin menonjok muka Juan andai tidak ada Amara di sana. Bisa-bisanya dia bicara demikian? Mau memancing kemarahan? Lebih-lebih lagi dengan sikap sok patuhnya, yang baru mau berhenti berceloteh memojokkannya setelah mendapatkan peringatan dari Amara.
"Juan kamu ngomong apa sih? Mas Dimas itu sakit beneran!"
Juan memang langsung bungkam setelah Amara memperingatkannya. Tapi rupanya itu hanya sebentar. Sebab setelah menatap Amara sejenak sembari mengulum senyum, ia pun kembali berceloteh saat pandangannya kembali terpancang pada sosok Dimas.
"Kamu yakin dia sakit beneran, Mar? Bukannya cuma pura-pura sakit, ya?"
Bertanya pada Amara tapi tatapannya terarah pada Dimas. Dengan sorot penuh tuduhan pula. Bagaimana Dimas tidak kesal?
"Heh, maksud lo apaan!" Dimas tak bisa menahan diri untuk tetap diam. Ia beringsut maju, tangannya sudah siap mencengkeram kerah jas Juan andai Amara tak bergerak menahannya.
__ADS_1
"Mas Dimas tenang!" Amara memekik sambil memegangi tangan Dimas, kemudian ia beralih menegur Juan. "Juan kamu apa-apanya sih? Mendingan kamu pulang kalau udah nggak ada kepentingan!"
Amara kelihatan tidak main-main saat mengusir Juan. Namun, meski demikian, Dimas sedikitpun tidak merasa bangga mendapatkan pembelaan dari istrinya. Ia sudah terlanjur kesal oleh kata-kata Juan terhadapnya.
"Iya, iya Mar. Aku juga mau pulang kok. Tapi aku kesel aja sama pria pesakitan ini!" Juan menunjuk wajah Dimas dengan ekspresi kesal selagi dirinya menyebutkan kata pesakitan. Terang saja Dimas membelalak mendengar dirinya disebut pesakitan. "Jadi pria kok lemah banget. Terlalu gampang nyerah dan nggak ada sedikitpun niatan untuk berjuang. Asal jangan nyesel aja kalau miliknya keburu diembat orang!"
"Juan kamu ngomong apa sih? Udah pulang sana pulang. Jangan bikin keributan kalau kamu nggak pengen aku panggilkan satpam!"
"Iya, iya aku pulang."
***
"Pokoknya gue nggak mau tau. Lo urus kepulangan gue sekarang, atau gue minggat sendirian!" ancam Dimas pada Baskoro sepeninggalnya Juan dari sana.
Seketika Baskoro dan Amara yang ada di sana hanya saling pandang dengan ekspresi penuh tanya, sebelum kemudian kembali menatap Dimas dengan heran.
"Tapi Dim–"
"Nggak ada tapi-tapi!" potong Dimas saat Baskoro hendak memprotes.
Kali ini Dimas terlihat tidak main-main dengan perkataannya. Pria itu bahkan hendak melepaskan selang infusnya sendirian. Namun, Amara buru-buru mencegahnya.
"Biar aku bantu ya, Mas." Tak ada yang bisa Amara lakukan selain itu. Melalui bahasa isyarat, Amara dan Baskoro sudah sepakat untuk menuruti keinginan Dimas demi kebaikan pria itu sendiri.
"Nggak perlu! Gue bisa sendiri!" tolak Dimas dengan sikap angkuhnya. Namun, Amara tak menghiraukan penolakan Dimas itu. Ia tetap melanjutkan niatannya membantu. Toh, Dimas sendiri terlihat pasrah walaupun awalnya pura-pura tak mau disentuh.
"Kan aku punya tanggung jawab merawat Mas Dimas," jawab Amara dengan ramah. Bibirnya juga menyunggingkan senyum walaupun tak memandang Dimas secara langsung.
"Asal lo tau aja, ya! Sebenarnya gue nggak minta lo ngerawat gue!" kali ini Dimas berucap dengan nada sinis. Tapi, yakin itu dari hati? Tidak. Justru Dimas acap kali merasakan sesal setiap kali berucap kasar. Beruntung, rasa sesalnya sedikit terobati dengan senyuman hangat yang selalu Amara tunjukkan.
"Iya, iya aku tau. Aku yang maksa buat merawat Mas Dimas. Jadi nggak usah merasa nggak enak hati, ya."
"Cih. Siapa juga yang merasa nggak enak hati! Gue malah lebih suka perawat lain yang ngerawat gue!"
Sudah sakit, tapi masih angkuh. Dasar Dimas. Tetapi kali ini Amara memilih bungkam dan meninggalkan pria itu untuk membuang sampah bekas infus ke dalam bak sampah.
Persiapan pulang dilakukan secepat kilat. Baskoro membantu Amara berkemas untuk mempersingkat waktu, melihat bagaimana sikap Dimas yang terus-menerus minta pulang.
Sejujurnya tubuh Dimas masih terasa sangat lemas. Namun, perkataan pedas Juan tadi layaknya sebuah cemeti yang mencambuk tubuhnya.
Dasar lemah. Begitulah kiranya kata-kata Juan yang paling ia ingat. Pria itu menyebalkan, bukan? Sudah tau orang sakit, masih pula dibilang lemah. Dan Dimas yang memiliki sikap gengsian terang saja tidak terima. Ia tak mau terlihat lemah di mata siapa saja. Apalagi di mata Amara.
Dimas benar-benar kesal lantaran Juan sengaja membuatnya naik pitam. Mulai dari kata-katanya, bahasa tubuhnya, dan seringai licik Juan saat pria itu saat hendak meninggalkan ruangan, benar-benar menunjukkan sikap menantang.
Ini semua karena Baskoro! Coba saja dia tidak menyuruhku sakit dan melemparku ke rumah sakit. Mungkin Juan tak akan pernah mengataiku pria lemah seperti tadi!
"Ngapain lo ikutan naik mobil gue!" Dimas membentak Amara saat gadis itu hendak masuk mobilnya.
__ADS_1
Namun, Amara tak terlihat marah. Ia tetap melanjutkan niatannya dan menjawab Dimas dengan nada santai.
"Aku cuma mau mastiin Mas Dimas baik-baik aja."
Dimas hanya mendengkus kesal. Setelah itu ia pun membuang muka sembari bersedekap dada.
Karena kejadian ini Amara jadi mengingat peristiwa silam, di saat awal mula ia menjadi perawat Dimas.
Pada akhirnya, semua kembali pada titik awal, di mana Dimas seperti tidak mengenal Amara, dan Amara harus bekerja keras untuk menarik simpati pria itu.
Sedih. Amara benar-benar merasa sedih. Bagaimana mungkin sepasang suami istri yang berjarak begitu dekat tetapi seperti tak terikat. Bahkan ia harus memposisikan diri sebagai perawat jika ingin merawat sang suami.
Tak ada percakapan selama perjalanan. Dimas yang duduk di jok belakang memilih menatap ke luar jendela demi menghindari memandang wanita di sampingnya.
Dalam diamnya ternyata Dimas memikirkan sesuatu hal. Entah mengapa perkataan Juan tadi seperti memiliki makna tersirat.
Jadi pria kok lemah banget. Terlalu gampang nyerah dan nggak ada sedikitpun niatan untuk berjuang. Asal jangan nyesel aja kalau miliknya keburu diembat orang!
Entah mengapa Dimas merasa itu adalah kalimat sindiran tentang Amara. Ia tahu bagaimana watak Juan. Pria itu sebenarnya baik walau terkadang juga angkuh. Dan bisa jadi itu adalah kata-kata memotivasi yang sengaja ia utarakan dengan cara yang berbeda.
Jika benar begitu, berarti Juan dan Amara nggak ada hubungan apa-apa, kan?
Dimas langsung menoleh ke arah Amara, di saat gadis itu tengah sibuk melamun sembari menatap ke arah luar. Seperti menyadari jika dirinya tengah diperhatikan, Amara langsung menoleh Dimas dan mengangkat alisnya sebagai bahasa isyarat.
"Mas Dimas butuh sesuatu?"
Dimas terkesiap dan langsung membuang muka. Ia agak kikuk kedapatan memperhatikan gadis di sampingnya.
"Nggak ada," jawabnya asal.
Amara mengulum senyum melihat tingkah Dimas.
"Owh, nggak ada. Terus kenapa tadi lihatin aku?"
Dimas mendengkus sebelum menjawab.
"Gue ini punya mata, Mar. Memangnya salah kalau gue lagi lihatin toko di pinggir jalan? Gosah gr deh!" Dimas berkilah. Kemudian ia kembali membuang muka.
"Iyain aja lah, Mar. Yang penting dia bahagia, hahaha!" seloroh Baskoro yang duduk di belakang kemudi sambil tertawa, dan itu sukses membuat Dimas yang duduk di belakangnya mendelik ke arah dia. Namun, Baskoro merasa beruntung, setidaknya kali ini ia aman dari pukulan pria itu.
Sementara Amara sendiri hanya bisa menahan tawa lantaran menjaga perasaan Dimas yang semakin terlihat kesal.
Beberapa saat kemudian, mobil yang dikemudikan Baskoro itu memasuki gerbang rumah Dimas dan berhenti di pelataran.
Amara buru-buru turun agar bisa membantu Dimas. Sayangnya, ia kesabarannya harus kembali diuji lantaran pria itu menolak bantuannya mentah-mentah diiringi kalimat kasar seperti sebelum-sebelumnya.
Namun rupanya belum cukup sampai di sini mulut pria itu menyakiti hati. Amara masih bisa menahan diri selama hanya sebatas kata kasar yang Dimas ucapkan. Tetapi jika sudah sampai tahap pengusiran?
__ADS_1
"Bas, antar dia pulang dan beri honor lebih buat dia. Sekalian juga bilang sama kalau gue baik-baik aja tanpa dia!"