
Tim perawat dengan pakaian serba hijau bergegas menyiapkan brankar setelah seorang pria bertubuh tegap berteriak minta pertolongan usai turun dari mobilnya. Tak butuh waktu lama, mereka lantas mengeluarkan sesosok pria yang lemas tak sadarkan diri dari dalam mobil Mercedes Benz A-class warna hitam itu.
Ya, Baskoro langsung melarikan Dimas ke rumah sakit sebab pria itu pingsan beberapa saat lalu.
"Dok, cepat tolong sahabat saya. Lakukan yang terbaik untuk dia dan jangan biarkan dia kenapa-kenapa!" ujar Baskoro dengan napas terengah-engah akibat ikut berlari mengikuti brankar yang membawa Dimas menuju ruang IGD. Wajahnya terlihat tidak tenang, tegang, cemas dan panik.
"Baik, Pak. Pasti akan kami tangani dengan baik. Selagi kami memeriksa, mohon Bapak tunggu di luar saja demi kenyamanan bersama, ya," pinta seorang perawat wanita dengan ramah sembari mengarahkan Baskoro untuk duduk di kursi ruang tunggu.
"Baik, Sus. Tapi tolong selamatkan dia. Saya takut dia kenapa-kenapa."
"Kami mengerti, Pak. Kalau begitu saya permisi."
Baskoro mengangguk lemah. Ia lantas berjalan menuju kursi kemudian mengempaskan tubuhnya yang mendadak lemas di sana.
"Sorry, Dim. Gara-gara gue lo jadi sakit gini."
***
Sementara itu, Amara yang tengah bekerja seperti biasanya terlihat acuh ketika melihat situasi gaduh. Dengan tangan mendorong troli peralatan medis, matanya mengamati para perawat pria yang tengah sibuk.
"Kenapa bawa-bawa brankar? Ada kecelakaan kah?" tanyanya pada sesama perawat yang berjalan beriringan dengan dia.
Pandangan sang teman langsung terarah mengikuti pandangannya demi memastikan. Dan kemudian gadis itu berucap setelah mendapatkan jawaban.
"Kayaknya sih bukan kecelakaan, deh. Tapi orang pingsan dan butuh pertolongan."
"Owh." Amara mengangguk paham. Keduanya lantas memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan.
Namun, ada sesuatu hal yang janggal hingga memaksa Amara untuk menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Sosok Baskoro yang berada di antara perawat yang berlarian dengan wajah panik itu menjadi pusat perhatiannya.
"Itu kan Baskoro. Lalu siapa yang sakit?" Ia bertanya-tanya setengah menggumam. Dan seketika itu, perasaan tak nyaman langsung datang tanpa diundang. "Din, tolong kamu bawa trolinya, ya. Ada sesuatu hal yang perlu aku pastikan."
Tanpa pikir panjang, Amara langsung berlari meninggalkan Dinda untuk menyusul rombongan perawat. Mengabaikan panggilan gadis itu yang langsung penasaran oleh perbuatannya.
Ya Allah, semoga yang hamba takutkan ini tidak terjadi. Jangan dia ya Allah, kumohon jangan dia.
Amara menghentikan langkah tak jauh dari pintu IGD rumah sakit itu. Di sana, ia melihat Baskoro tengah terlibat pembicaraan serius dengan tim dokter.
Wajah Baskoro terlihat panik. Namun tak lama kemudian dia terlihat pasrah saat diminta menunggu di luar selagi pasien mendapatkan tindakan.
Kaki Amara mendadak lemas mendengar Baskoro bergumam.
"Sorry, Dim. Gara-gara gue lo jadi sakit gini."
Hati Amara seketika berdesir perih. Ia nyaris limbung akibat kaki yang tak kuat menopang badan.
Ada apa dengan kamu, Mas?
Aneh memang. Pada pria yang tak menganggapnya ada Amara masih saja mengkhawatirkan. Ia bahkan rela terluka asal Dimas bahagia. Namun nyatanya apa? Kini pria itu tergolek lemah dan itu benar-benar membuatnya luka.
Dengan sisa tenaga, ia menguatkan diri menghampiri Baskoro untuk menanyakan kejelasannya. Tak peduli pandangan buruk pria itu nanti terhadapnya. Bagaimana pun juga, sedikit banyak Baskoro pasti tahu bagaimana kisah pelik kehidupannya dengan Dimas beberapa waktu lalu.
"Mas Baskoro ...," lirih Amara dengan mata berkaca-kaca.
Baskoro yang tengah menunduk sembari menangkub wajah seketika mendongak mendengar suara yang tak asing lagi bagi dia.
"Amara?"
__ADS_1
"Mas Dimas kenapa, Mas? Ada apa dengan dia?" Tanpa basa-basi lagi Amara bertanya. Ia menatap Baskoro dengan penuh harap. Sama sekali tak bisa menyembunyikan kekhawatiran hingga nyaris menitikkan air mata.
Namun, yang terjadi benar-benar sesuai dugaan Amara. Baskoro bukannya langsung menjawab pertanyaan istri Dimas itu, malahan langsung membuang muka sembari melepas senyum yang terkesan meremehkan.
"Ngapain kamu pura-pura peduli? Padahal kamu seneng kan, Dimas celaka begini!"
"Demi Allah aku nggak gitu, Mas. Aku bener-bener khawatir dengan keadaan Mas Dimas."
Baskoro tak menangkap kebohongan dari ekspresi sedih yang Amara tunjukkan. Kini gadis itu benar-benar menitikkan air mata, sedangkan jemarinya sepertinya tanpa sadar saling meremas akibat tak tahu mesti melakukan apa.
Sebenarnya Baskoro merasa kasihan. Namun, ia berpikir jika ini adalah momen tepat untuk melancarkan rencana dengan membuat Amara semakin merasa bersalah. Maka bisa dipastikan, dengan begitu Amara akan melakukan apa saja demi mendapatkan maaf Dimas.
"Khawatir katamu?" Baskoro menatap Amara dengan wajah sinis. "Kenapa harus khawatir? Atas dasar apa? Apa karena kamu ini seorang perawat yang memang sifatmu nggak tegaan sama semua pasien, atau karena merasa kamu masih menjadi istri Dimas? Ah, kalau merasa sebagai istri kayaknya nggak mungkin dih ya, toh kamu sudah meninggalkan rumah padahal jelas-jelas kamu yang bersalah. Pantes nggak sih, seorang wanita seperti itu? Mestinya kamu bujuk Dimas sampai dia mau memaafkan! Bukannya malah pergi meninggalkan rumah!"
"Tapi Mas, Mas Dimas sendiri lah yang pergi dulu ninggalin aku," sahut Amara berusaha menjelaskan. "Aku juga bukannya tanpa usaha. Aku udah beberapa kali minta maaf, tapi Mas Dimas nggak mau memaafkan. Malahan dia nunjukin gimana hubungannya dengan Mbak Naura yang semakin menghangat. Sebagai orang ketiga aku bisa apa, Mas? Aku cukup tahu diri sebagai orang yang nggak dibutuhkan lagi. Aku memutuskan pergi karena yakin Mas Dimas udah bahagia dengan Mbak Naura! Dan sekarang jika aku khawatir dengan keadaan Mas Dimas, apakah itu salah? Kekhawatiran ini muncul karena aku sama sekali nggak memiliki sifat dendam, Mas. Asal Mas Baskoro tau, Mas Dimas itu pernah menempati satu ruang di hatiku, dan nggak mudah buat aku menggeser dia gitu aja."
Saat Baskoro hendak menjawab, tiba-tiba terdengar derap langkah sebuah sepatu hak tinggi yang mendekat dan memaksa keduanya menoleh ke sumber suara.
"Baskoro. Apa yang terjadi dengan Dimas?" Amelia bertanya dengan wajah panik sembari menatap Baskoro yang langsung berdiri. Dan ketika ia melihat sesosok wanita tak asing yang berdiri bersama Baskoro, ia pun menyebut nama gadis itu dengan ekspresi yang tak bersahabat.
"Amara? Ngapain kamu di sini?"
Bersambung~~
Hai readers tersayang, maaf karena aku baru muncul setelah beberapa lama nggak ada kabar ya. Bukan karena mau gantungin cerita, tapi kesehatan lagi bener-bener minta dijaga. Kalau boleh milih, aku pengen namatin ini cerita dalam satu malam biar bisa melanjutkan cerita yang lainnya.
Namun, apalah daya otakku lagi nggak bisa diajak kerja.
Intinya, aku sayang kalian dan inginnya mempersembahkan yang terbaik buat kalian.
__ADS_1
Itu aja ya guys, yang pasti aku rindu komentar dan jempol kalian.
jangan lupa juga hadiah atau vote nya jika memang ini patut untuk diapresiasi 🙏