
"Kalau aku bilang tetap di sini itu artinya jangan pergi, Sayang! Kamu tau aku nggak mau dibantah, kan?" Gigi Dimas menggemertak saat berucap. Pandangannya juga terarah penuh tuntutan. Sehingga tubuh Amara hanya bisa membeku dengan tatapan bingung terhadapnya.
Belum habis kebingungan yang menyelimuti hati Amara, ia kembali dikejutkan oleh tindakan Dimas yang tiba-tiba menarik tangannya hingga gadis itu terjerembab di pangkuannya.
Mengabaikan pekikan Amara, Dimas bahkan tanpa izin melingkarkan tangan ke perut gadis itu dan menyandarkan dagu pada pundak Amara.
"Naura, bukankah kau tadi bilang ingin bicara? Ayo katakanlah."
Bahkan Dimas bisa dengan begitu santainya bertanya pada Naura dan kemudian mendesak. Bahkan sambil menciumi tengkuk Amara yang tertutup jilbab, tetapi pandangan matanya terarah pada Naura. Tidak tahukah dia jika gadis itu kini tengah mengepalkan tangan lantaran susah payah menahan rasa cemburunya?
Saat itu tubuh Amara mendadak terasa lemas, hingga ia tak mampu memberontak dan hanya bisa diam saja. Pelukan Dimas terasa begitu kuat. Tetapi tetap lembut dan hangat hingga membuatnya merasa nyaman. Tidak bisa dipercaya, Amara benar-benar menikmatinya.
"Naura." Dimas kembali memanggil gadis itu.
"I–iya Dimas." Naura terlihat kikuk saat menjawab.
"Kau tadi bilang ingin bicara, bukan? Katakanlah," ujar Dimas tenang.
Ketenangan Dimas itu rupanya berbanding terbalik dengan Naura yang tiba-tiba gelisah. Namun, gadis itu berusaha menutupinya dengan senyuman dipaksakan. Kembali ia berusaha menenangkan diri. Toh yang ada di antara mereka hanyalah seorang Amara. Gadis yang bahkan oleh Dimas tak diakui sebagai istrinya meski telah dinikahi. Kemudian, ia mulai memberanikan diri untuk bicara dengan sisa rasa malunya.
__ADS_1
"Dimas, aku tau kau masih mencintaiku. Kau sakit begini karena memikirkanku, bukan? Ayolah Dimas. Kembalilah kepadaku dan kita buka lembaran baru," ajaknya dengan wajah memelas, tetapi begitu berani dan tentunya sangat percaya diri mengingat begitu banyak kesalahannya terhadap Dimas yang sudah ia khianati.
Terang saja Dimas langsung tertawa mendengar celotehnya yang dinilai pria itu sangat tidak masuk akal.
"Kau terlalu percaya diri, Naura. Memangnya siapa yang sakit karena memikirkanmu?" tanya Dimas sambil pura-pura menahan tawa. "Kau lihat sendiri bagaimana keadaanku sekarang, bukan? Lihatlah. Aku sekarang bahkan sudah bahagia bersama istriku."
Dengan bangganya Dimas menunjukkan kemesraannya bersama Amara pada Naura. Namun, rupanya membuat gadis itu percaya bukanlah perkara gampang. Lebih-lebih melihat bagaimana ekspresi Amara yang terlihat kaku dan tegang, membuat Naura menggeleng tak percaya dengan senyuman getir di bibirnya.
"Kau tidak bisa membohongiku, Dimas," sahut Naura penuh keyakinan. "Aku tahu kalian hanya pura-pura. Ini hanya caramu mengelabuiku saja, kan? Dan kau Amara–" Naura mengalihkan pandangan kepada Amara yang hanya bisa membeku dalam pelukan Dimas, mantan pacarnya. "Kau ini hanya dimanfaatkan Dimas saja. Sadar, Amara. Kau ini bukanlah tipe wanita idaman seorang Dimas! Kau tidak berkelas. Sementara Dimas, ia dikelilingi wanita cantik, seksi dan kaya raya dalam hidupnya. Ia bahkan bisa dengan mudahnya memilih salah satu dari mereka untuk dijadikan selingkuhan!"
Lagi-lagi Dimas terbahak. Tawa remeh berpadu geram itu ia tujukan pada Naura yang sudah jelas-jelas merendahkan istrinya.
"Entah dapat berita dari mana jika aku sakit, tapi kau sudah salah memahami berita itu, Naura. Aku memang sakit. Tapi itu bukanlah imbas dari kandasnya hubungan kita, apa lagi cuma karena memikirkanmu!" Dimas mengutarakan kalimat terakhirnya dengan penuh penekanan.
"Asal kamu tahu, Naura ... sakitku ini adalah Amara penyebabnya. Gadis yang bahkan sama sekali tak pernah kau perhitungkan keberadaannya."
Dalam diamnya, ternyata Amara terbelalak mendengar namanya Dimas sebut. Ia sontak melirik ke belakang dan langsung bersirobok dengan sepasang netra Dimas yang kebetulan saat itu juga tengah menatapnya dari belakang.
"Dia menghilang begitu saja. Tanpa kabar, tanpa berita. Aku kehilangan jejak dia. Dan aku bingung harus mencari ke mana. Apa kau pernah menyadari jika bagiku derajatmu itu bahkan sangat jauh lebih rendah di bawah dia?"
__ADS_1
Amara makin tak bisa berkata-kata. Bingung siapa yang harus ia percaya. Ia hanya bisa menyelami sepasang netra Dimas untuk mencari kejujuran di sana.
Ah, rupanya Dimas benar-benar sangat ahli dalam bersandiwara, hingga tak ada sedikitpun celah untuk Amara menemukan kebohongan di matanya. Perlukah ia tersanjung? Tentu saja tidak. Jelas-jelas Dimas hanya bersandiwara dan memanfaatkan raganya saja.
"Kau bohong, Dimas." Naura yang keras kepala benar-benar tak mudah untuk percaya. Ia sekuat tenaga menepis fakta walau pemandangan di depan mata sudah menunjukkan hal sebenarnya. Entah karena merasa berat atau tak ingin tersaingi oleh Amara hingga membuatnya sulit percaya. Ia akui ia memang keras kepala.
Jujur, keadaannya kini sudah sangat mengenaskan. Kata-kata Dimas sukses membuat hatinya porak-poranda. Tapi batinnya masih saja meneriakkan untuk tidak mudah menyerah. Dimas hanya marah padanya dan tengah berupaya melancarkan aksi balas dendam. Ia hanya perlu sabar sebab kelak pria itu akan kembali kepadanya.
"Naura, Naura. Ternyata selain sangat terlalu percaya diri dan pandai merendahkan orang, kau itu juga sangat bebal dan menyebalkan ya!" maki Dimas karena sudah saking geramnya. "Jujur. Aku benar-benar menyesal pernah berhubungan lama dengan kamu. Buang-buang waktu, tenaga dan pikiran. Aku bahkan tak memperhitungkan berapa banyak nominal yang pernah aku gelontorkan! Demi Tuhan, kalau untuk uang aku sangat ikhlas. Anggap saja itu sedekah untuk orang yang tidak mampu agar dia dapat hidayah. Tapi yang membuatku sangatlah menyesal karena aku terlambat menyadari jika hanya dimanfaat–"
"Dimas!" potong Naura dengan teriakan histeris. Matanya berkaca-kaca dan sebentar lagi lahar panas itu akan meleleh tanpa bisa dibendung. Gadis itu sudah tak kuat mendengar penghinaan dari orang yang dicintainya. Ia sungguh-sungguh tak menyangka Dimas akan memperlakukan dirinya sedemikian rupa.
"Apa!" tanya Dimas dengan songongnya.
"Kamu kejam, Dimas! Bahkan setelah semua yang kualami, kau masih tega berbuat demikian?" Naura mulai terisak. "Aku sudah hancur sehancur-hancurnya, Dimas. Aku keguguran dan tidak bisa lagi melahirkan putra lantaran rahimku sudah diangkat. Dan kau masih tega mencampakkan?"
Rupanya aksi memprovokasi Naura itu sukses besar. Reaksi tenang yang Dimas tunjukkan berbanding terbalik dengan Amara. Wajah gadis itu seketika memucat. Ia terbelalak. Apa tadi yang barusan ia dengar? Keguguran? Tak bisa melahirkan anak lantaran rahim Naura diangkat? Sebenarnya apa yang terjadi? Benarkah Dimas yang menghamili Naura lalu kemudian mencelakainya hingga rahim gadis itu diangkat? Jika benar-benar demikian berarti Dimas adalah pria jahat. Sudah dapat enaknya tapi malah mencampakkan begitu saja.
Tapi ... benarkah demikian? Sepertinya Mas Dimas bukanlah tipe pria seperti itu. Batin Amara berperang.
__ADS_1