Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Ketahuan


__ADS_3

Dimas nyaris menyerah membujuk Amara. Gadis itu tampaknya masih enggan memaafkannya dan menerima jika kejadian semalam murni sebuah kesalahpahaman.


Amara masih betah diam. Tak menjawab pertanyaan Dimas, juga tak merespon segala perlakuan pria itu.


"Mar. Suami lo mau ngomong, jadi plis dengerin dulu."


Kalimat bernada marah itu terlontar dari bibir Dimas ketika ia dan Amara berpapasan di ruang tengah, tetapi yang membuatnya jengkel adalah sikap Amara yang memilih berbalik arah dan bukannya membalas sapaan dia. Terang saja Dimas kesal lantaran Amara seolah-olah begitu jijik melihat dirinya.


"Suami yang nggak menghargai istri, lebih tepatnya." Amara meralat ucapan Dimas dengan nada sinis setelah refleks menghentikan langkah. Kini ia terdiam, sengaja menunggu reaksi Dimas seperti apa tanpa sedikitpun niat berbalik badan.


"Serah, deh. Yang pasti udah gue jelasin berkali-kali kalau ini cuma salah paham doang. Bahkan biarpun gue ngomong sampai mulut ini berbusa juga lo nggak akan percaya."


"Lah itu tau." Amara menyahuti cepat dengan nada sinis sambil berbalik badan menghadap Dimas. "Terus ngapain masih buang waktu dan tenaga buat ngejelasin itu semua?"


Amara menjeda perkataannya ketika Naura tiba-tiba datang dan bergabung di antara dirinya dan Dimas. Wanita dengan dress merah muda panjang selutut itu tampak merasa bersalah ketika menatap dirinya.


"Aku cuma menilai dari apa yang aku lihat, Mas, Mbak. Tanpa mengurangi rasa hormat sedikit pun terhadap kalian, aku hanya ingin mengingatkan jika itu perbuatan maksiat yang dilarang keras oleh agama. Tapi jika kalian tidak terima karena ada penilaian aku yang salah, aku minta maaf."


Dimas sontak menahan saat Amara hendak beranjak. Ia tahu gadis itu masih kecewa, tapi pura-pura terlihat baik-baik saja dengan bersikap biasa.


"Jangan pergi dulu, Mar. Gue belum selesai ngomong." Kali ini Dimas berbicara dengan nada pelan dan terkesan memohon.


"Apa lagi sih, Mas?" tanya Amara dengan nada lelah.


"Lo nggak berniat laporin ini ke Mama, kan?"


"Nggak menutup kemungkinan jika kalian masih berbuat nekat," pungkas Amara dengan nada tegas setelah menghela napas, kemudian berlalu pergi dari sana.


Dimas dan Naura kompak terdiam sembari menatap punggung Amara yang bergerak menjauh. Sesaat kemudian Naura melirik ke arah Dimas dan menangkap dengan jelas bagaimana pria itu begitu kacau karena kemarahan Amara. Nah, di saat seperti inilah waktu yang tepat untuk ia bergerak. Memasang wajah sedih karena menjadi biang kerok atas perselisihan ini.


"Dimas ... ini semua salah aku. Aku penyebab perselisihan kalian terjadi .... Harusnya Amara marah sama aku, bukannya ke kamu."


"Udah ya, Ra. Nggak usah nyalahin diri sendiri kayak gitu. Sebenarnya Amara itu orangnya pemaaf, kok. Entar setelah emosinya mereda, aku yakin semuanya akan kembali seperti semula."


Naura tersenyum getir menanggapi perkataan Dimas. Dalam keadaan seperti ini, pria itu masih saja memuji-muji gadis itu. Benar-benar membuatnya muak.

__ADS_1


"Emm, Sayang," panggil Dimas pada Naura.


"Ya." Naura menyahut cepat sembari membalas tatapan Dimas.


"Pemotretan kamu udah hampir selesai, kan?"


"Emm, iya, sih. Memangnya kenapa?"


"Untuk kebaikan bersama, setelah selesai pemotretan kamu juga keluar dari sini, ya."


"Loh, kenapa gitu?" Naura mengerutkan kening selagi bertanya. Ekspresinya pun menunjukkan sikap tak terima, lalu kemudian berbicara dengan intonasi tinggi bernada kecewa. "Apa pikiran kamu juga sepicik Amara yang hanya menilai sesuatu dari apa yang dilihat saja? Aku nggak nyangka kamu separah itu, Dimas. Aku bener-bener kecewa."


"Naura." Dimas mencekal pergelangan tangan Naura untuk menahan gadis itu. Namun, ketika ia hendak membuka mulut untuk menjelaskan, harus urung ketika mendengar suara ketukan.


Secara bersamaan, Dimas dan Naura menoleh ke arah pintu. Keduanya lantas saling pandang dengan kening yang berkerut.


"Siapa yang datang pagi-pagi begini?" Dimas menggumam selagi menatap pintu lagi. Lalu kemudian ia memutuskan melangkah dan membukanya demi membunuh rasa penasaran.


Alangkah terkejutnya ketika sosok Amelia-lah yang berdiri di luar setelah pintu terbuka.


"Minggir." Amel berucap penuh penekanan. "Biarin Mama masuk."


"Ta–tapi Amara lagi mandi, Ma," tutur Dimas beralasan, bahkan dengan suara yang terbata. Terlihat sekali jika ia tak menyangka akan kedatangan mamanya.


"Mama bilang minggir, ya minggir!" bentak Amel seraya menyingkirkan Dimas yang menghalangi jalannya.


Rupanya kemarahan Amel tak cukup sampai di situ saja. Seperti sudah menemukan apa yang sedang dicari, wanita paruh baya dengan rambut dicepol rapi itu menatap tajam penuh ancaman ke arah Naura yang tengah terperangah.


"Dasar wanita tak tahu diri. Apa kau ini tak punya malu, hah! Masih saja mendekati Dimas yang sudah jelas-jelas milik Amara!"


"Mama!" Dimas bertindak cepat menahan Amelia yang hendak melayangkan pukulan ke arah Naura. Amel terlihat berang, sementara Naura yang ketakutan refleks bergerak melindungi wajahnya dengan tangan sembari memejamkan mata.


"Ma, kendalikan diri Mama!" pinta Dimas sembari membawa Amel menjauhi Naura.


"Kau minta supaya Mama mengendalikan diri, Dimas?" Amel mengulangi perkataan Dimas dengan nada tak percaya dan dengan sikap terperangah. Ia lantas mengempaskan tangan Dimas lantas menuding putranya itu dengan jari telunjuknya. "Justru kau yang keterlaluan, Dimas! Kau membawa wanita lain ke dalam rumahmu sendiri. Apa maksudnya, hah!"

__ADS_1


"Naura hanya ingin menginap untuk sementara, Ma, nggak ada maksud lain!"


"Halah, alasan!" sangkal Amel dengan geram. "Itu hanya alibi dia saja. Padahal dia memiliki niatan buruk untuk memisahkan kamu dengan Amara! Mama mohon sadarlah, Dimas! Karena cinta, kamu jadi buta. Kamu bahkan nggak sadar dia telah memperbudak kamu hingga sedemikian rupa!"


"Ma! Jaga bicara Mama!" Dimas menyela dengan nada tinggi seolah-olah tak tahan belahan jiwanya dihujat seperti ini. Ia melihat sendiri bagaimana Amel menghina dan menyudutkan Naura, menuding-nuding gadis itu dengan begitu geramnya. Terang saja ia tak terima, sebab semua ini bukanlah semata-mata kesalahan Naura.


Lagi-lagi Amelia terperangah oleh sikap Dimas. Ia terdiam. Napasnya memburu. Sedangkan matanya tampak berkaca-kaca saat menatap sang putra.


"Kau bahkan sudah berani membentak Mama," lirihnya bergetar menahan isak. Jiwanya sebagai seorang ibu benar-benar merasa terguncang.


Dimas sendiri pun seolah tercekat. Kepalanya menggeleng lemah penuh sesal. Jujur, ia tak berniat membentak sang mama. Itu hanya sifat alami sebagai manusia ketika merasa tak terima orang yang dicintainya disakiti.


Saat itulah, Amara yang mendengar keributan sontak keluar dari kamar setelah menyelesaikan salat Duha. Ia melihat ke sekitar dengan ekspresi kebingungan, lantas membulatkan bola mata karena saking terkejutnya saat melihat Amelia.


"Mama ...," lirih Amara dengan ekspresi tak percaya.


Seketika Dimas mengalihkan pandangannya pada Amara, lantas menghampiri gadis itu dengan pasang wajah sangar. Tanpa peringatan, diraihnya lengan Amara dan ia cengkeram dengan kasar.


"Pasti lo kan yang ngadu ke Mama! Maksud lo apa ngadu domba seorang anak dengan ibunya! Mau jadi pahlawan kesiangan? Iya!"


Amara hanya menggeleng dengan sikap bingung menanggapi rentetan tuduhan yang dilayangkan Dimas barusan. Dirinya saja baru keluar kamar, tapi tiba-tiba Dimas sudah menodongnya dengan tuduhan tidak benar.


"Gosah pura-pura bingung! Ngaku, lo!" desak Dimas lagi.


"Demi Allah, Mas. Aku nggak ngerti apa-apa!" balas Amara jujur.


"Kenapa kamu malah memarahi putri Mama? Dia nggak salah apa-apa! Kamu lupa kalau mata Mama di mana-mana, yang bahkan bisa melihat semua perbuatan buruk yang kau lakukan di belakang Mama!" Amel yang tak terima Dimas membentak Amara akhirnya angkat bicara melakukan pembelaan. Sontak saja Dimas melepaskan tangan Amara dan mengusap wajahnya dengan gusar.


Amelia mengalihkan pandangan pada Naura yang masih mematung di sana, lantas berbicara dengan nada keras.


"Kau! Untuk apa masih di sini? Cepat kemasi barang-barangmu dan pergi dari sini! Dimas sudah tidak membutuhkanmu lagi."


Naura sontak mengepalkan tangannya. Ia berusaha keras menahan amarah yang memenuhi rongga dada. Beruntung yang menghinanya habis-habisan adalah ibu kandung Dimas.


Andai saja bukan dia, ia ingin mengumpat, mencakar wajah cantiknya, bahkan menjambak rambut hitam yang selalu tertata rapi itu hingga tanggal dari kepala. Namun, sayangnya saat ini ia tak bisa berbuat apa-apa selain pergi ke kamar dan mengemasi barang-barang sebelum kemudian pergi dengan membawa amarah di dalam dada.

__ADS_1


__ADS_2