Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Tujuh kucing


__ADS_3

Entah sudah berapa lama Dimas berkutat dengan laptopnya. Bahkan hingga matahari hampir berada di atas kepala, pria yang berperawakan tinggi itu masih duduk di halaman belakang rumahnya yang sejuk. Tentu saja sejuk, sebab ia berada di bawah payung besar sebuah meja di samping kolam renang. Wajahnya tampak serius memeriksa laporan-laporan bisnis properti yang dijalankan keluarganya.


Memang sejak sakit, Dimas belum pernah menyentuh laptop itu. Keluarga mempercayakan semua pada sang asisten serta paman Dimas yang juga bergerak di bisnis yang sama. Sedang sang ayah tetap mengurusnya dari kejauhan, meski beliau sendiri tengah menjalani pengobatan.


Dimas terseyum puas. Bisnis keluarganya tetap berjalan dengan aman sebab dipegang oleh tangan yang tepat.


Di saat yang bersamaan, dari ekor matanya Dimas melihat sekelebat bayangan seseorang dari arah pintu belakang. Sontak ia menoleh untuk memastikan, dan benar saja, memang ada orang yang tengah berlalu di sana.


Rupanya Amara lah yang tengah berjalan menuju taman sisi kanan. Entah apa maunya gadis itu, sudah tahu matahari begitu terik, ia malah sengaja berpanas-panasan. Dengan tangan merentang dan mata yang memejam seperti sedang menantang matahari, bisa dipastikan gadis itu tak menyadari keberadaan Dimas di sisi kolam.


Rupanya dia sudah keluar dari kamar. Baguslah. Berarti dia sudah mendingan, meskipun belum mengenakan pakaian dinasnya.


Entah beberapa menit Amara diam dalam posisinya, hingga kemudian buru-buru berlari mencari tempat yang teduh. Gadis itu lantas berjongkok dengan wajah meringis sambil memijat-mijat kepalanya. Entahlah, mungkin Amara menemukan banyak kunang-kunang mengelilingi kepalanya.


Di saat itulah, sehelai kain yang sebelumnya melayang-layang di udara, mendarat bebas menimpa gadis itu. Amara yang sedang memejamkan mata langsung terperanjat dan celingukan mencari keberadaan seseorang di sekitarnya walau tak menemukan siapa-siapa. Gila aja, masa iya dia berpikir seseorang telah menyelimutinya di siang bolong panas-panas begini.


Dari kejauhan, Dimas tampak menghela napas lega. "Untung aja yang melayang tadi bukan bokser gue. Apa jadinya kalau dalaman itu sampai nimpuk muka Amara? Bisa kambuh lagi flu dia." Dimas menggumam pelan tanpa sadar. Lalu sejenak kemudian ia berjingkat seolah-olah baru saja tersadarkan. "Eh enak aja, bokser gue kan wangi! Nggak mungkin juga bikin orang jadi flu."


Dimas kembali memperhatikan Amara. Gadis itu mengamati sesuatu di tangannya. Disinyalir, kain tipis motif bunga-bunga itu adalah miliknya. Terang saja ia langsung menatap ke arah jemuran dan terperangah melihat kain-kain berterbangan. Terpaksa, ia beranjak dari tempatnya. Membungkuk untuk memunguti sebagian jemuran yang telah berjatuhan.


Meski terlihat kesal, tapi Dimas tak mendengar gadis itu menggerutu ataupun mengumpat. Amara bahkan dengan sabar memilah-milah pakaian kering, lantas memasukkannya satu per satu ke dalam keranjang bersih.

__ADS_1


Memiringkan kepala, Dimas terseyum memperhatikan sang perawat tengah berjiinjit-jinjit. Berusaha meraih jemuran paling atas, Amara nampak kesulitan, sebab jilbabnya yang dijemur itu berkibar-kibar.


"Eh, tunggu--" Dimas mendadak panik melihat deretan boksernya yang hampir kena giliran. "Nggak bisa. Ini nggak bisa dibiarin. Jangan sampai Amara pegang bokser gue ya Allah, plis .... Ini bisa berabe. Mau di taruh di mana muka gue yang cakep ini ...," gumam Dimas dengan mimik wajah miris. Ia semakin gusar dan gelisah. "Satu, dua tiga ...." Dimas menghitung jumlah boksernya dengan jari. "Buset, nggak tanggung-tanggung. Ada tujuh, loh. Sial. Gimana coba? Mikir, mikir. Cari ide."


Dimas memijat kepalanya yang mendadak pening. "Gimana dong ...?" Brak! Tangan pria itu menggebrak meja, lalu tubuhnya sontak berdiri. "Woy!" Dimas berteriak sangat kencang, sampai-sampai menghentikan tangan Amara yang hendak meraih jemuran.


Amara tercengang. Dari tempatnya, gadis itu tampak mengerjap-kerjap. Seolah-olah baru sadar ada orang lain yang berada di sana.


"Ambilin gue minum, dong! Haus, nih." Dimas sengaja memberi perintah untuk mengalihkan perhatian.


Mendesah pelan, Amara lantas berkacak pinggang sambil membalas tatapan Dimas. Bukannya patuh dan bergegas melakukan perintah seperti biasanya, gadis itu justru terkesan mengacuhkan perintah pasiennya. "Mas Dimas punya kaki, kan?"


Tercengang, Dimas menatap Amara seolah-olah tak percaya. "Hey, maksud lo apaan?"


"Berani ngelawan gue, lo!" Dimas berteriak cepat. Setidaknya hal ini berhasil mengurungkan niat Amara. Gadis itu sepertinya tak menyadari apa yang akan diambilnya, sebab terlalu fokus pada kekesalannya.


Menurunkan tangan, Amara kembali menatap Dimas. "Siapa yang melawan? Mas Dimas nggak lihat saya lagi angkat jemuran!"


"Iya, gue tau!" Oh my God. Bokser gue! jerit Dimas dalam hati. Tujuh biji! Mana udah deket banget, lagi! Sumpah, reputasi gue bisa ancur kalau sampai Amara lihat bokser gue. Hadiah dari nyokap waktu balik dari Amerika. Jangan mentang-mentang dia suka kucing, lantas beliin gue bokser bergambar kucing. Unyu, sih. Nyokap bilang harganya mahal sampai jutaan. Makannya harus dipakai biar nggak mubazir. Tapikan nggak lucu kalau bikin gue malah malu. Perasaan, gue biasa aja waktu Euis ngerawat bokser kucing gue, tapi giliran Amara, kenapa gue malunya setengah mati, ya? Aneh.


"Angkat jemuran bisa nanti! Lo nggak tau, kalau gue nggak minum bisa mati!" Ayo dong Mara, buruan pergi, plis ....

__ADS_1


"Nggak bisa, Mas!" Amara tetep keukeuh.


"Gue timpuk dari sini lo, mau!" Dimas mengangkat botol mineral kosong untuk mengancam.


"Timpuk aja! Aku nggak takut!"


"Dasar bebal!" Maki Dimas kesal.


Amara tetap pada pendiriannya. Gadis itu membalas tatapan tajam Dimas dengan tatapan tajam pula. Namun meski begitu, tangannya tetap bergerak meraba-raba kain jemuran. Alhasil, bokser kucing itu pun masuk ke keranjang tanpa perlu dilihat oleh Amara. Bahkan tertindih oleh pakaian lainnya.


Dimas yang sudah panik setengah mati tampak menghela napas lega. Biar saja gadis itu masih marah, yang penting tujuh ekor kucingnya terselamatkan.


Mengangkat keranjang dan menempatkan di pinggangnya, Amara lantas melangkah dengan kaki yang sengaja dientak-hentakkan. Sedangkan matanya masih menatap Dimas penuh peringatan.


"Apa, lo!" ketus Dimas sambil mengedikkan dagunya. "Masih kesel sama gue?"


Tak menjawab, Amara memilih membuang muka.


"Awas lo kena azab. Nggak bisa pegang amanah dengan baik, sih ...!" Sambil bersedekap dada, Dimas berucap santai tapi penuh makna tersirat. Ia sengaja menyindir Amara menggunakan amanat ibunya, yang secara nyata menjadi kelemahan Amara.


Terlihat, adis itu berhenti sejenak dan hanya menatap tanpa bisa berkata-kata. Ia pasti akan mengalah jika menyangkut mengenai itu.

__ADS_1


Pria itu menyeringai puas sambil mengekori langkah Amara melalui pandangan hingga tubuh ramping itu menghilang di balik pintu. Tawa penuh kemenangan pun menggema sepeninggalnya Amara di kolam itu. Ia lalu terduduk lega di kursi. Namun masih ada satu hal yang mengganjal di hatinya. "Kalau nanti Amara mengobok-obok isi keranjang itu, bagaimana?"


Bersambung


__ADS_2