Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Jangan buat aku hancur


__ADS_3

Hai hai guys. Sebelum baca kelanjutan Dimas dan Amara boleh simak iklan lewat ini sebentar ya 😁


Buat nemenin rebahan kalian, aku ada bawa dua cerita baru nih. Di aplikasi ini juga kok. Mohon mampir dan beri dukungan berupa like, komentar biar aku semangat update yah. Jangan lupa jadikan favorit biar ada notifikasi saat update nanti.


Terima kasih 😗😗💞




.


.


.


Happy reading 💖


"Kejutan ...!"


Riuh ramai suara seruan, menyambut senang kedatangan Amara. Terompet ditiup serentak bersamaan dengan lampu kafe yang menyala. Lalu kemudian, dari atas sana, limpahan kelopak mawar berjatuhan tepat menerpa tubuh gadis berpakaian perawat itu.


Telapak tangan Amara refleks membungkam mulutnya yang ternganga. Matanya membelalak tak percaya. Bagaimana bisa dua keluarga yang belum saling mengenal itu bisa berada di satu tempat yang sama?


Bukankah hari ini tak ada perayaan spesial untuk dirinya? Tidak sedang berulang tahun, juga tidak sedang mendapatkan sebuah pencapaian yang perlu mendapatkan apresiasi semacam ini.


Di depan sana, tengah berkumpul semua orang yang ia sayang. Paman dan bibinya sebagai pengganti sang orang tua yang telah lama tak berjumpa. Miranda sang sepupu dan orang tua Dimas yang sudah seperti orang tuanya. Bahkan para kerabat dekat serta semua asisten rumah tangga di kediaman mertuanya juga turut hadir di sana.


Tak terlihat ada batasan. Tak ada perbedaan kasta. Mereka berbaur jadi satu dengan pakaian indah seperti sedang berpesta.


Kendati bingung, tetapi Amara tak bisa menutupi rasa harunya. Tanpa sadar matanya berkaca-kaca saat sang bibi melangkah mendekati. Hingga tak bisa menahan diri lagi, ia pun berhambur memeluk wanita paruh baya itu tanpa memperdulikan rasa malu. Malu karena seperti bocah kecil yang baru berpisah lama dengan ibunya. Isak tangis bahagia tak urung lolos dari bibirnya.


"Bibi ...." Amara tercekat. Tak ada kata yang bisa bisa terucap. Hanya tangis yang mewakili perasaannya. Gadis itu sesenggukan.


"Bibi merindukanmu, Nak." Wanita itu memejamkan mata penuh perasaan, lalu mengusap punggung Amara dengan penuh sayang. Ia mengurai pelukan setelah beberapa lama membiarkan Amara menangis di bahunya, menumpahkan rindu yang membara.


Ia tersenyum lembut sambil mengusap wajah basah keponakannya. "Kau semakin dewasa, Sayang. Kau semakin cantik," pujinya tulus.


Amara berusaha menghentikan tangisnya dengan susah payah. Lalu kemudian sebuah kalimat meluncur dari bibirnya dengan nada yang bergetar. "Maaf, karena akhir-akhir ini Amara belum sempat silaturahmi sama Paman dan Bibi."


"Tidak apa-apa. Bibi tahu kamu sibuk, Nak." Bibi kembali mengusap wajah basah Amara sebab gadis itu masih saja menitikkan air mata. "Sudah, jangan nangis lagi. Ini hari bahagia kamu, Sayang."


Hari bahagia? Amara mengerutkan keningnya. Ia menatap sang bibi yang terus saja tersenyum itu dengan wajah heran, lalu kembali menatap sekitar dan baru menyadari sosok Dimas tidak ada di sana. Pria yang paling ia cinta tidak turut hadir di momen yang langka.


Tidak masalah. Mas Dimas sangat sibuk. Pasti dia tidak punya banyak waktu untuk hal remeh semacam ini. Amara terus mensugesti dirinya dengan pikiran positif meski hati merasa kecewa. Hingga sebuah suara ketukan sepatu pantofel pada lantai marmer yang terdengar dari arah belakang membuatnya langsung berbalik badan.


Ia terkejut melihat sosok Dimas muncul dari sana. Pria itu memang selalu terlihat fresh dalam kondisi apa pun. Senyuman manis yang terkembang. Stelan jas rapi serta rambut yang ditata dengan pomade, kian menyempurnakan penampilan. Lebih-lebih lagi ia datang dengan buket bunga besar dalam dekapan.


Tiba-tiba instrumental music romantis mengalun indah mengiringi langkah Dimas. Tak ada kata yang terucap saat mata beradu pandang. Hanya perasaan cinta terurai lewat bahasa kalbu yang bisu.


Mengulas senyum, Dimas berhenti tepat dihadapan Amara lalu menyapanya dengan mesra.


"Hai, Cinta. Apa kabar? Kau menangis?"

__ADS_1


Tersenyum kecut, Amara menggeleng sambil mengusap air matanya. "Tidak. Aku hanya sedang merasa bahagia," jawabnya agar Dimas tidak khawatir.


"Untukmu." Dimas menyodorkan bunganya pada Amara.


Amara menatap Dimas dan bunga itu bergantian sebelum kemudian menerimanya.


"Terima kasih, Mas. Bunganya cantik sekali."


Tersenyum, Dimas mengeluarkan sebuah kotak beludru dari saku jasnya lalu tiba-tiba menekuk satu lututnya bertumpu pada lantai dengan tangan menyodorkan sebuah cincin ke arah Amara. Tindakan Dimas yang di luar dugaan itu terang saja membuat Amara ternganga tak percaya.


"Amara ... maukah kau menikah denganku? Berkomitmen dan berjuang bersamaku? Menjalani hidup bersama selamanya, saling menjaga tanpa ada batasan waktu. Menerima apa adanya dan susah senang bersama-sama sampai akhir hayat kita?"


Bergeming, Amara sampai tak bisa berkata-kata mendengar pertanyaan beruntun dari seorang Dimas Sanjaya. Pria itu masih tetap pada posisinya. Bertekuk lutut dan menatapnya penuh harap.


Apakah ini berarti pria itu melamarnya?


Apa mungkin semua ini ulah Dimas? Mengumpulkan semua orang untuk menjadi saksi peristiwa sakral. Mungkinkah dia adalah sutradara di balik semua skenario yang tercipta?


Amara akui, malam ini Dimas sukses membuat hatinya menghangat untuk yang kesekian kalinya. Salahkah jika ia jadi merasa berbunga-bunga?


Namun, di balik itu semua ada perasaan takut yang tiba-tiba datang mengganggu pikiran. Bagaimana jika ini tidak nyata? Hanya mimpi, mungkin. Ia takut jika tiba-tiba dirinya terbangun. Di saat hati serasa terbang melayang tiba-tiba dihempaskan ke dasar jurang terdalam.


Salahkah jika ia sedikit berburuk sangka? Bukannya tidak yakin. Hanya saja, ia merasa perlu berjaga-jaga.


Amara merasa belakangan ini terlalu bahagia di saat sudah terbiasa dengan luka. Sehingga saat kenyamanan itu bertubi-tubi datang, ia khawatir akan terlena dan limbung karena sulit menjaga keseimbangan ketika badai besar tiba-tiba datang menghantam.


"Mau ...! Mau ...! Mau ...! Mau ...!"


Untuk kesekian kalinya bulir-bulir bening kembali berjatuhan tanpa diminta. Mungkinkah karena terlalu bahagia hingga ia meneteskan air mata?


Seketika Dimas bangkit dan memandang Amara yang tengah membungkam mulutnya dengan telapak tangan. Ia tak percaya, gadis itu menitikkan air mata. Beragam tanya kemudian muncul di benaknya.


Apakah itu merupakan air mata kesedihan?


Mungkinkah Amara akan menolaknya? Ia tahu betul Amara adalah gadis yang baik. Bahkan terlalu baik hingga tak mampu menolak dengan perkataan sehingga air mata yang berbicara?


Jantung Dimas berdebar kian kencang. Untuk muncul dan menyatakan cinta seperti ini saja ia membutuhkan keberanian dan tenaga ekstra. Ia benar-benar tak bisa bayangkan jika kali ini harus mendapatkan penolakan.


Ia sudah bersusah payah merancang semuanya. Menghubungi keluarga Amara dan meminta mereka datang kemari. Bukanlah perkara gampang untuk menemukan alamat paman bibinya dalam waktu yang singkat. Terlebih hal ini ia rahasiakan dari Amara.


Beruntung, Juan bersedia membantunya dengan suka cita. Sayangnya, pria itu tidak turut hadir lantaran terkapar di rumah sakit. Mungkin karena kelelahan hingga membuat kesehatannya menurun dan membutuhkan perawatan.


"Amara," panggil Dimas masih dengan tatapan penuh harap. Bahkan kali ini ditambah dengan kecemasan mendapat penolakan. Akan tetapi, Dimas begitu pandai menguasai situasi hingga dalam keadaan tak menentu pun ia tetap terlihat tenang dan santai.


"Aku sangat mencintaimu, Amara. Aku memang bukan pria terbaik di dunia. Tapi aku akan berusaha membuatmu bahagia." Dimas kembali meyakinkan Amara sebab berpikir gadis itu meragukan cintanya.


Namun, faktanya bukanlah itu yang membuat Amara tak kunjung memberikan jawabannya. Wanita mana yang hatinya tidak meleleh dilamar seperti itu?


"Kau tahu, Amara. Aku sudah memendam rasa ini begitu lama. Aku menahannya sekuat tenaga. Aku pernah kehilanganmu dan tak ingin mengulangi itu. Apa kau meragukan cinta yang kupunya? Perlukah aku membuktikannya agar kau percaya?"


Amara menggeleng cepat sebagai bentuk penyangkalan. Raut wajahnya menunjukkan ketidakberdayaan.


"Mas ... bukan begitu maksud aku."

__ADS_1


"Lalu?"


"Aku hanya ...." Tak bisa melanjutkan kata-katanya, Amara menggigit bibir bawah.


Sikap Amara itu mengundang heran semua yang ada di sana hingga tertegun menatapnya.


Sadar menjadi pusat perhatian, Amara buru-buru melanjutkan demi menghindari kesalahpahaman.


"Aku hanya ingin kami memikirkannya dengan benar agar tidak ada penyesalan, Mas. Aku hanya gadis biasa yang tidak memiliki orang tua–"


"Itu sebabnya aku menghujanimu dengan begitu banyak cinta," sahut Dimas.


"Aku tidak sebaik yang kau pikirkan."


"Semua manusia pasti memiliki kekurangan, Amara. Tujuan menikah adalah saling menyempurnakan."


Begitu seterusnya. Dimas selalu bisa membalas perkataan Amara hingga gadis itu kehabisan kata-kata.


"Jangan tolak aku, Amara. Jangan buat aku hancur."


Permohonan Dimas itu membuat Amara iba. Seharusnya Dimas tak perlu sampai sebegitunya. Toh Amara mencintai Dimas melebihi cintanya terhadap apa pun ciptaan Tuhan. Hanya saja, Amara butuh keyakinan diri agar tidak bahagia di atas penderitaan orang lain.


Hening. Tak ada yang berani bersuara di tempat itu. Bahkan para orang tua memilih diam menyerahkan keputusan pada Amara meski keinginan untuk menikahkan dua anak Adam itu begitu menggebu.


"Aku mencintai Mas Dimas melebihi apa pun juga di muka bumi ini." Akhirnya Amara angkat bicara tentang bagaimana perasaannya. Nadanya bergetar di sela air mata yang berjatuhan. Terang saja, pengakuan Amara itu membuat Dimas berbinar senang.


"Apa Amara? Apa yang kudengar barusan ini tidak salah?" Refleks Dimas menangkub bahu Amara dan memberikan sedikit guncangan seolah-olah tengah mendesak. Di antara derai air mata Amara menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Apa itu artinya ... kau menerima cintaku?" Dimas yang tak sabaran kembali mendesak. Ia menatap Amara kian lekat.


Rupanya bukan hanya Dimas saja yang sudah tidak sabaran. Semua yang ada di sana pun menunggu-nunggu jawaban Amara.


Hingga saat Amara kembali menganggukkan kepala dengan wajah bersemu malu, Dimas spontan berseru penuh syukur sambil menengadahkan kepalanya. "Alhamdulillah ya Allah ...!"


Sorak sorai penuh kebahagiaan serentak terdengar. Para orang tua bahkan sampai berpelukan karena saking bahagianya.


Mengabaikan keberadaan orang-orang di sekitarnya, Dimas memandangi Amara penuh cinta dengan mata berkaca-kaca.


"Terima kasih." Dimas menangkub kedua sisi pipi Amara untuk kemudian menciumnya dengan mesra. Bertubi-tubi. Tak ada yang luput dari sentuhan bibir Dimas. Bahkan mata basah Amara juga.


Kini Dimas tak perlu canggung lagi menunjukkan cintanya. Mencurahkan kasih sayangnya. Hingga tak ada lagi kesempatan bagi kesedihan untuk menyelinap masuk ke dalam hati istri tercintanya.


"Ehem." Suara dehaman sukses mengejutkan keduanya. Amara dan Dimas sontak mengurai pelukan ketika sosok ramping dengan balutan dress cantik berdiri di antara mereka.


"Miranda ...." Amara menyebut nama gadis itu bersamaan dengan Miranda yang bergerak cepat memeluknya.


"Selamat, sepupuku sayang. Aku ikut bahagia buat kamu."


"Terima kasih, Miranda. Ini berkat doamu juga." Amara memejamkan mata penuh perasaan. Antara rindu, haru dan bahagia melebur jadi satu.


Dimas sendiri masih tetap berada di sana. Memandang istrinya sambil tersenyum senang seolah-olah memberikan kesempatan pada dua saudara sepupu itu untuk sejenak melepas rindu.


Dari Juan, sedikit banyak ia tahu mengenai Miranda. Dulu hubungan Amara dan Miranda sempat memburuk lantaran sifat dengki Miranda sendiri. Namun, seiring berjalannya waktu, pertambahan usia membuat gadis itu sadar dan bersikap lebih dewasa. Sayangnya, karena kesibukannya sebagai seorang dokter pada rumah sakit yang berbeda membuat Amara dan Miranda kesulitan mengatur pertemuan.

__ADS_1


__ADS_2